
“Kamu sudah kembali?”
“Ya. Aku kembali.”
Gadis itu tersenyum senang seraya menatap kedatangan sosok yang sejak seminggu ini di rindukan.
Siapa yang tidak menyangka kalau Aretha akan datang ke mansion Stone yang berada di Singapore.
“Don’t move,” kata Xandra seraya menghentikan langkah Aretha yang hendak menghampirinya.
Wanita berambut panjang itu mengernyit kening seraya menatap gadis cantik yang duduk di kursi roda.
Aretha terdiam sejenak dengan kedua tangan yang memeluk rantang berisi makan siang untuk Xandra.
“Heh, heh… Xan…”
“I say, don’t move, Aretha! I’m, ok,” kata Xandra seraya menghentikan Aretha untuk tidak mendekat.
Xandra mencoba mengangkat satu persatu kakinya untuk maju kedepan setelah di mana gadis itu masih duduk di kursi roda, kemudian Xandra mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan menunjuk pada Aretha.
“Ya Tuhan… Xandra…” ucap Aretha, terkejut.
Aretha mengatupkan bibirnya seiring menatap Xandra yang bangkit dan mulai berjalan ke arahnya.
Meski jalannya begitu pelan dan seperti robot, ketahuilah ada perasaan senang melihat keadaan Xandra saat ini.
Aaron yang hendak pamit pada sang putri pun ikut terkejut melihat Xandra yang berjalan menghampiri wanita kampung tersebut.
“Hati-hati Xandra,” ucap Aretha turut cemas.
“Ya, aku akan hati-hati, Aretha,” jawab Xandra seraya menatap ke bawah diiringi kernyitan di wajah menahan sakit.
Tetapi, bagaimanapun sakit gadis itu ingin menunjukan proses selama ini dirinya ikut terapi.
Aaron ikut mendekat di mana pria senja itu pun menatap Ken yang tidak jauh berada di lokasi untuk ikut waspada. Takutnya putrinya terjatuh.
“See, Aretha. Aku bisa berjalan lagi.”
“Ya, Xandra. Tetap fokus dan hati-hati,” seru Aretha turut cemas. Disimpannya kotak makan yang Aretha bawa dan meletakkannya di rerumputan.
Baik Ken dan juga Aaron yang berada di belakang pun turut waspada.
“Hati-hati dan focus.”
“Ya. Akhirnya aku bisa jalan lagi kan, Aretha?”
“Ya. Aku sangat senang melihatnya Xandra,” ucap Aretha sungguh-sungguh
Kedua mata Aretha basah begitupun juga Aaron dan si kembar Xandria yang turut merekam kejadian yang luar biasa ini.
“Sebelumnya aku tidak pernah menunjukkan kalau aku sudah bisa berjalan sekalipun pada Daddyku sendiri.
“Hanya kamu orang yang pertama kali aku tunjukan kalau aku bisa kembali berjalan,” ucap Xandra diiringi senyuman bahagia.
Ternyata kerja kerasnya tidak sia-sia dan ini berkat Aretha yang selalu memberikan semangat padanya.
Aretha menyeka air matanya yang berjatuhan, hatinya mudah tersentuh apa lagi Aretha tidak menyangka kalau Xandra begitu terlihat senang dengan kedatangannya bahkan gadis itu memberitahukan kalau dia sudah bisa berjalan lagi.
Sesenang itu gadis itu padanya. Tetapi, kenapa tidak dengan kakaknya yang begitu membencinya.
“Haahh…”
Bola mata Aretha membulat lebar diiringi kedua tangan yang sigap menangkap tubuh gadis itu yang hendak terjatuh beberapa langkah lagi.
Bobot tubuh Xandra yang lebih besar darinya membuat Aretha kehilangan kesimbangan dan keduanya memejamkan mata ketika hendak terjatuh ke rerumputan.
Beruntungnya, seseorang menangkap tubuh Aretha agar kedua wanita itu tidak terjatuh.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya seseorang tersebut membuat Aretha begitu juga dengan Xandra tercengang.
“Ka-kamu?”
“Kakak…” seru Xandria bukan Xandra.
Seseorang itu pria yang memberikan Xandra senyuman namun dibalas dengan dengusan.
Tetapi, tidak dengan pria tersebut yang memberikan senyuman hangat pada sang empu yang nampak terkejut dengan kedatangannya.
“Aku bantu kamu duduk, Dek.”
“Ck! Gue bukan Adek, loh!” gerutu Xandra diringi tatapan sinis.
__ADS_1
Aaron tersenyum lebar dan menatap ketiga orang di hadapannya termasuk dengan wanita kampung itu yang tampak meringis seraya memegangi bagian perutnya.
“Kau Adek yang menyebalkan!” decak si pria seraya mendudukan Xandra di kursi roda.
“Jangan memaksa diri kalau kamu belum kuat.”
“Ck! Aku tidak butuh saranmu.”
“Kamu tidak apa-apa, Nak?” Aaron mendekati Aretha yang masih memegangi perutnya.
“Apa perutmu sakit? Kita ke rumah sakit,” ajak Aaron.
Aretha menggeleng pelan diiringi senyuman tipis pada Mr Stone.
“Kamu tidak apa-apa, Re?”
Aretha berikan gelengan pada pria yang tidak lain Darren. Sungguh tidak percaya kalau Darren sudah sembuh dan kini berada di hadapannya.
Aretha memeluk Darren erat dan dibalas oleh pria itu yang sama-sama memeluknya erat. “Aku merindukan kamu, Retha.”
“Aku sangat senang bahkan aku sangat lega melihatmu, Ren.”
Aretha melepaskan pelukannya dan menatap Darren dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aretha tidak menyangka kalau Darren sudah sembuh dalam waktu hampir 3 bulan ini. Sungguh luar bisa cepat proses kesembuhan pria itu.
“Haish, aku tanya apa kamu jawab apa,” ujar Darren seraya mengusap pipi Aretha.
“Hai, lo,” seru Xandra menatap tidak terima.
Bahkan tadi ia lah yang sangat senang dengan kedatangan Aretha. Tetapi, kenapa jadi pria menyebalkan itu.
Aretha berjalan mendekat setelah menepuk pundak Darren karena dia ingin bertemu lebih dulu dengan Xandra.
“Aku merindukanmu, Aretha,” ungkap gadis berambut pendek seraya menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk Aretha.
“Aku pun merindukanmu, Xandra,” balas Aretha seraya menyambut pelukan hangat dari adik iparnya.
Sayangnya, Xandra tidak tahu kalau Aretha sudah menikah dengan kakaknya.
“Aku senang melihatmu sudah bisa berjalan lagi.”
“Ya, itu karena kamu.”
Wajah Xandra berbinar ceria lalu berikan anggukan. “Sebentar aku ambilkan tempat makanku. Kita makan di dalam.”
“Hei, ajaklah aku. Jauh-jauh aku datang untuk bertemu denganmu Retha.”
Xandra mendengus kesal diiringi tatapan tajam, sementara Xandria terkekeh menatap dua orang di depannya itu memang sudah lama tidak pernah akur.
“Tuan. Apa anda mau makan siang bersama?” tanya Aretha berikan pria senja atau ayah mertuanya ajakan makan siang bersama.
“Apa kamu membawa makanan banyak?” balik Aaron bertanya.
Aretha mengangguk pelan. “Tentunya banyak,” tunjuk Aretha pada Ken yang membawa paper bag coklat beberapa masakan kesukaan Xandra dan Xandria.
Rencananya, Aretha ingin mengajak Ken untuk makan bersama tetapi bila ada Mr Stone di kediamannya tentunya pria itu tidaklah mau.
Aretha meletakan beberapa kotak makan di atas meja yang sudah ditunggu-tunggu oleh ketiga orang yang bersiap duduk di meja makan hendak menyantap masakan Aretha yang lezat.
“Apa Tuan akan makan bersama?” tanya Aretha pandangi ayah mertua nya.
“Jangan panggil Tuan. Panggil saja aku Daddy seperti kedua putriku,” ucap Aaron tulus, karena sang istri begitu menyayangi wanita kampung.
Apa lagi keinginan sang istri ingin menjadikan Aretha menantu keluarga Stone.
“Maaf, Tuan. Saya tidak en—”
“Hai, Kak. Mommyku akan marah kalau Kakak tidak memanggil Daddyku dengan panggilan Daddy,” ujar Xandria.
“Saya mau makanan yang kamu masak itu dibungkus aja, Aretha. Saya mau makan dengan istriku di rumah sakit,” ucap Aaron diiringi senyuman.
Aroma masakan Aretha yang begitu harum menusuk indra penciumannya begitu juga membuat Aaron harus menelan salivanya dalam-dalam.
Masakan Aretha tentunya lezat karena kedua putrinya itu begitu mengidolakan masakan wanita kampung itu.
Aretha menatap Aaron sejenak, mendengarkan Anditha sakit membuat wanita itu ikut khawatir.
“Nyonya sakit apa, Tuan?”
“Daddy dan Mommy, Kak,” seru Xandria protes.
__ADS_1
“Ah. Ya, maksudku itu.”
“Mommy sudah lama di rawat di rumah sakit, Kak. Kecelakaan,” gumam Xandria seraya melahap cumi saus padang kesukaannya.
Aretha berikan dua kotak masakannya pada Aaron. “Apa anda suka pedas, Tuan?”
“Daddy, Aretha,” kata Aaron diiringi tawa.
“Ah, saya belum terbiasa. Maafkanlah,” ucap Aretha, masih canggung memanggil Tuan besarnya itu dengan panggilan Daddy.
“Saya suka pedas.”
“Syukurlah. Satu kotak yang ini beef teriyaki dan satunya oseng udang agak pedas.”
“Wuuh, itu makanan kesukaan Daddy. Terima kasih banyak. Nasinya banyak kan, Nak?”
Aretha mengangguk pelan, membenarkan kalau hal itu.
“Ya, sudah kalau begitu Daddy berangkat.”
“Tunggu sebentar, Tuan. Eh, Daddy.”
“Ya.”
Aretha menarik nafas dalam-dalam seraya memberanikan diri untuk berbicara dengan ayah mertua nya.
“Bolehkan aku menjenguk Nyonya Anditha. Maksudku kapan-kapan.”
Aaron berikan senyuman lebar lalu mengangguk pelan. “Kamu boleh menjenguk istriku.”
“Bareng sama aku saja nanti, Kak,” ujar Xandria yang dianggukan Aretha menatap senang.
“Daddy berangkat dulu dan terima kasih makan siangnya.”
“Sama-sama, Dad,” ucap Aretha diiringi senyuman bahagia.
Alangkah senangnya keluarga Stone bisa menerima wanita miskin seperti dirinya.
Tetapi, bagaimana kalau mereka tahu Aretha telah menikah dengan putra sulung dan juga kebangganya. Apa mereka mau menerimanya?
“Ehm… ini sangat lezat sekali, Mom.”
“Iyah. Beef teriyakinya juga enak. Daddy mu bawa makanan selezat ini beli di restoran mana?”
Anshell yang duduk di samping Andhita pun menggendikan bahu tidak tahu.
Daddynya itu hanya masuk ke dalam kamar inap Anditha dan meletakan kotak makanan lalu keluar bertemu dokter.
“Undang oseng nya juara banget Mom. Lezat sekali.”
Menurut Anshell makanan yang dibawa Aaron benar luar biasa lezatnya sampai nafsu makannya bertambah, setelah beberapa bulan ini Anshell tidak enak makan.
Memikirkan segala masalah dan kali ini benar-benar hidangan lezat sekalipun hanya dua menu namun aroma dan juga rasa sekelas masakan chef.
“Mommy nasinya mau nambah lagi nggak?”
“Nggak, Mommy ini sudah dua piring kekenyangan malahan,” ujar Anditha seraya menyimpan piring bekas makan.
“Sayang…”
Aaron menyipitkan bola matanya menatap pandangan di depan. Pria senja itu berjalan cepat menuju sofa depan.
“Kau habiskan udang kesukaan Daddy, Shell?”
Si pelaku cengengesan diiringi anggukan kecil. “Lezat sekali Dad. Beli di restoran mana?”
Aaron geleng-geleng pelan diiringi dengusan. “Siapa yang memintamu untuk makan udang milik Daddy.
“Astaga kau keterlaluan Anshell kenapa kamu tidak menyisakan satu pun untuk Daddymu ini, hah?”
“Sini biar Anshell pesanin buat Daddy. Kayak gini juga Daddy ribut!” decak Anshell seraya meraih ponselnya dan satu tangannya mengambil gelas minuman.
“Ck! restoran mana pun tidak ada yang memasak sewangi dan selezat itu.”
“Emangnya Daddy dari siapa masakan lezat itu?”
“Dari calon mantu kesayangan Mommy tentunya.”
Uhuk….
“Lalisa?”
__ADS_1
Yuk guys bantu thor coment, like dan berikan hadiah iklanya. Dukungan kalian semua membuat Thor semakin rajin lagi update. Terima kasih