
Anshell mendengus pelan seraya membuat gestur menatap jam tangan. Sudah lima belas menit dia berdiri menunggu gadis kampung itu berpamitan pada keluarga dan juga saudaranya.
Yang membuat Anshell kesal itu Aretha memeluk begitu lama wanita senja di depannya yang diiringi tangisan kecil.
“Hai…”
Agita mengayunkan langkahnya mendekat pada pria tampan yang tak lepas menatap sang kakak.
Anshell menoleh sekilas dan kembali pandangi dua wanita di depannya.
“Bolehkah aku bicara?”
“Silahkan, katakanlah.”
Agita menatap pria tampan yang berdiri di sampingnya dengan helaan nafas panjang.
“Apakah kamu sudah lama mengenal Kakakku, Aretha?”
Dua orang yang berdiri pun, sama. Memandangi Aretha yang terlihat ketakutan kehilangan sang nenek.
“Sudah!”
“Kakakku baru beberapa bulan di kota. Apa secepat itu kamu kenal dengan Kakaku?” tanya Agita menyelidik.
Bolehkan sedikit saja bocah ingusan itu mengintrogasi Kakak iparnya.
Aretha sama sekali tidak bercerita perihal pria yang menikah kakaknya dan menurut Agita pria di sampingnya ini begitu hebat melawan Juragan Karto.
Yang Agita pikir, pria tampan yang rupawan di sampingnya itu tertera dari keluarga berada.
Dengan satu kata yang terucap bisa membungkam mulut Juragan Karto sang penguasa di kampung ini.
Hingga pada akhirnya, dengan besar hati Juragan Karto kalah dengan pria tampan yang secara resmi menikahi kakaknya.
“Mungkin Tuhan sudah mempertemukan kita. Aku bertemu Kakakmu malam di mana kami berpesta.
“Bukannya kamu sudah tahu bukan kronologi kenapa Kakakmu ada di Jakarta dan ada di Party sahabat sekaligus saudaraku itu?
Agita manggut-manggut tahu, setelah Nek Lastri mengatakan kalau beliau jatuh pingsan hingga serangan jantung karena mendengar Aretha dijual pada majikannya untuk menjadi wanita malam dan ternyata pria itulah yang membawa sang Kakak sekaligus menyelamatkannya.
“Jadi kamu orangnya?”
Anshell menoleh sekilas lalu berikan senyuman tipis dengan ekspresi datar.
Anshell sudah pada mode awal, dia tidak ingin lemah terhadap Aretha dan juga keluarganya.
Tujuannya kali ini dia ingin membuat Aretha menderita dari lebih dari sakit hati atas luka lama yang kini terbuka.
Aretha putri dari pembunuh.
Agita menarik nafas pelan. “Terima kasih untuk semuanya, terutama untukmu yang sudah menyelamatkan Kakakku untuk kedua kalinya dari pria jahat yang ingin menghancurkan Kakakku,” ucap Agita.
Apa perkataan itu sindiran?
__ADS_1
Tentu tidak. Agita tidak tahu hal itu. Namun, kenapa perkataan bocah ingusan itu seolah sindiran keras dimana Anshell sendiri pun bukanlah orang baik.
Niat dan hatinya kali ini sudah bulat untuk membalas kan dendam yang selama ini dipendam atas kejahatan kedua orang tua mereka.
“Aku yakin Ka Aretha tidak akan pernah merepotkanmu, nanti. Dia bukan tipe wanita gila harta sekalipun aku tahu kamu orang kaya.
“Dia bukan tipe wanita yang menyusahkan dan manja karena aku tahu Kakaku itu wanita pekerja keras yang selama ini menghidupi kami berdua.
“Bersyukurlah kamu akan hal itu semua.”
Agita menarik napas pelan. “Aku hanya meminta padamu, jaga dan lindungi Kakakku.”
Agita menatap sejenak untuk melihat ekspresi lelaki itu.
“Dia orang satu-satunya keluargaku yang aku sayangi setelah nenekku.”
“Bila suatu saat dia bersedih dan menangis, tolong kuatkan dia dan peluklah karena dia tidak sekuat yang kita lihat.”
Agita menengadahkan kepalanya pandangi kakak iparnya.
“Dari ekspresi dan senyuman Ka Aretha aku tahu, dia tidak bahagia dengan pernikahan ini sekalipun dia menikah dengan pria tampan dan kaya raya sepertimu!”
Tidak ada jawaban sama sekali yang Agita dengar dari kakak iparnya, yang Agita hanya bisa lihat pria itu terus menatapnya Aretha.
“Berjanjilah padaku kamu akan selalu membahagiakan Kakak.”
Agita mengulurkan tangannya. “Tak perlu kamu membahagiakan dia dengan uangmu, cukup pakai hatimu itu sudah membuat dia senang.”
“Maukah kamu berjanji padaku?”
“Hm,” jawab Anshell dengan deheman.
Tidak sama sekali mengikatkan jari kelingkingnya membuat janji dengan adik iparnya.
Anshell tidak bisa berjanji akan semua yang dikatakan Agita. Niat menikahi Aretha itu hanya ingin melihat gadis kampung itu menderita.
“Kalau kamu membuat Ka Aretha menangis dan mengecewakannya. Aku orang pertama yang akan menghajarmu. Ingat itu!” kata Agita seraya ancaman bagi pria di sampingnya.
Sekalipun dia bocah ingusan berusia enam belas tahun, tentunya dia tahu ketidak bahagian yang terpancar dari wajah kakaknya menikah dengan pria itu.
Aretha mengangkat pandangannya ketika Agita memeluknya, ingin dia tanya pada sang adik yang entah berbicara apa pada Anshell. Namu, Aretha urungkan niatnya.
“Kaka pamit pulang ke kota lagi. Kamu di sini sekolah yang bener dan jaga Nenek buat Kakak, oke?”
“Siap Ka,” ucap Agita seraya memberi hormat pada Aretha.
Dua wanita itu pun tertawa pelan dan kembali berpelukan.
“Ingatkan Nenek jangan ke kebun lagi, aku sudah suruh Bi Ani buat kekebun karena mulai sekarang kalian harus duduk manis dan menikmati hidup.”
Aretha menarik napas lega, sedikitnya. Urusannya dengan Juragan Karto sudah selesai.
“Kaka akan mengirimkan uang untuk kalian,” ucap Aretha seraya mengusap puncak kepala Agita.
__ADS_1
“Jangan khawatirkan Nenek, Ka. Agita akan menjaga Nenek dengan baik.”
Aretha mengangguk tahu adiknya akan menjaga Neneknya.
“Sepertinya Kaka harus sudah jalan deh.” Dagu Agita menunjukkan pada pria tampan yang nampak gelisah melihat jam tangannya sejak tadi.
“Suami tampanmu itu sepertinya sudah tidak sabar ingin cepat sampai ke kota, dia terlihat seperti orang sibuk yang tidak mau membuang waktunya yang berharga.”
“Ah, kamu benar. Kakak iparmu memang orang sibuk… Kalau begitu Retha pamit pulang ya, Nek. Kalau Aretha libur panjang Aretha pulang ke sini.”
“Ya, Nduk. Nggak usah cemaskan Nenek di kampung, fokusmu kini pada suamimu. Ingat Nak, sekarang statusmu itu bukan gadis lagi.
“Kamu sudah punya suami. Taatlah dan menurutlah perintah suami karena surgamu kini ada pada suamimu.” Nek Lastri memberi pesan pada cucunya.
“Ya, Nek. Aretha pulang.”
Dengan berat hati Aretha melepaskan genggaman tangan Nek Lastri dan diikuti pria itu mengayunkan langkahnya ke depan setelah tahu Aretha sudah siap untuk pulang.
Anshell berpamitan pada Nek Lastri dimana pria itu menunjukan pada wanita senja kalau dia akan menjaga Aretha.
Tentunya Anshell akan menjaganya karena awal dari balas dendam itu belum terwujud.
Aretha sudah berada di dalam mobil SUV hitam sang suami yang sejak sejam lalu sudah membelah jalanan Kota Sukabumi yang terik dan menyengat.
Sepanjang perjalanan, Aretha hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke samping.
Dia lebih memilih menatap jalan dari pada berbicara pada Anshell. Sudahlah, berbicara pun kini percuma.
Anshell bukan Anshell yang Aretha kenal lagi dan pria itu pun sepertinya tidak tertarik mendengarkan perkataan karena pria itu sudah dengan sangat setia menatap iPad yang dipegang selama sejam ini.
“Paster?” gumam Aretha pelan.
Gadis itu langsung menoleh pada sang suami di sampingnya. “Kok kita ke Pasteur, An?”
Anshell menarik napas, lalu menutup iPadnya. Aretha hafal dengan jalan ini sekalipun mobil Anshell belum sampai di gerbang tol.
“An…” panggil Aretha pelan.
“Kita mau kemana?”
“Pulang! Mau kemana lagi, hmm? Apa kamu pikir kita akan pergi honeymoon seperti pasangan pengantin lainnya?” seru Anshell dengan nada keras.
Aretha memundurkan punggungnya, berusaha menahan air matanya dengan perkataan Anshell yang keras.
“Kita menikah kontrak dan tidak ada honeymoon!”
“Aku sama sekali tidak kepikiran ke situ. Arah Jakarta itu kesana bukan ke sini,” tunjuk Aretha ke belakang.
Anshell mendengus pelan. “Kita naik private jet biar cepat sampai.
“ Aku ada janji dengan Lalisa di Singapore begitu juga kamu yang akan langsung menjalani serangkaian tes donor ginjal di Singapore juga.
“Jadi kamu sudah paham sampai di sini! Tidak ada waktu lagi untuk kamu duduk manis menikmati jadi istri Anshell Stone.
__ADS_1
“Kamu harus segera memberikan ginjal itu, apa sampai sini kamu paham?!”