CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Apa Kamu Hamil?


__ADS_3

Suara muntahan dari arah depan membuat sang empu langsung menoleh.


Dia melihat Aretha membungkukkan tubuhnya dan menepuk dadanya dengan suara ciri khas orang muntah pun masih kunjung terdengar.


‘Ya Tuhan, dia itu merepotkan sekali,’ batin Anshell seraya beranjak bangun dari duduknya.


Satu jam berada di atas yacht dan saling berjauhan mendengarkan suara berisik itu membuat Anshell merasa terganggu.


“Belum juga aku garap, sudah muntah-muntah duluan saja, kau!” omel Anshell diiringi hembusan nafas kasar.


Anshell berdiri di samping Aretha, pria itu bukannya membantu malah berkacak pinggang menatap Aretha yang kepayah terus mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.


Bajunya tipis, sejak tadi gadis kampung itu duduk manis sambil menikmati indahnya pemandangan lautan biru dan juga gunung-gunung di depan matanya.


Namun, dia tidak mempedulikan angina laut yang menerpa tubuh kecilnya.


“Aku minta maaf sudah mengganggumu dan juga mengotori yacht pribadimu.


“Nanti, aku bersihkan,” kata Aretha seraya membungkuk dan kembali muntah.


“Gimana nggak masuk angina hah? Sarapan pagi cuman roti dua ribuaan.”


Ya, Anshell melihat istri kontraknya itu menyantap sarapan paginya dengan satu roti bercap harga dua ribu rupiah dan air tea hangat.


Anehnya, di rumahnya banyak makanan tapi gadis kampung nan bodoh itu malah lebih menyantap roti murahan.


“Di pesawat sudah di siapkan makan siang dan cemilan banyak, kau menolaknya dan malah memilih minum,” omel Anshell.


Aretha menahan air matanya, dia tidak ingin menangis terus kena omel Anshell terus.


Pria itu bukan menolong memijat punggungnya atau mengambilkan air hangat.


Yang pria itu lakukan menarik kemeja tipis Aretha dengan dengusan kesal.


“Bajumu ini tipis gimana angina laut nggak masuk dan nggak buat kamu masuk angin terus muntah-muntah hah?”


Aretha langsung menarik pakaiannya, dia malas berdebat dengan Anshell.


Kepulangannya ke kampung pun mendadak dia hanya membawa beberapa pakaian. Mana ingat dia membawa jaket mengingat di kota cuacanya begitu panas.


Aretha pikir akan pulang ke kota dan bukan malah berada di Labuan Bajo untuk honeymoon dengan pria menyebalkan di sampingnya.


“Biar saya yang membersihkan, Nona,” ujar Ken cepat datang dan meminta seorang anak buahnya untuk membersihkan muntahan tersebut.


“Apa anda membawa jaket?” tanya Ken, ketika menuntun Aretha untuk masuk ke dalam membiarkan tuannya terus mengomel di belakang.


Aretha berikan gelengan pelan, dia sama sekali tidak membawa jaket. Ken merasa iba, dia pun menyampirkan jaketnya dan meletakan di punggung Aretha.


Sayangnya, Anshell langsung menepis dan membuang jaket kulit tersebut hingga hanyut ke lautan yang membawa yacht pribadinya menuju ke salah satu hotel milik Anshell dan Jordan.


“Astaga, Tuan. Itu jaket kulit buaya asli. Harganya mahal kenapa anda membuangnya?”


“Ambilah kalau itu mahal,” kata Anshell seraya mendorong tubuh Ken menjauh dari Aretha.


Gadis kampung itu tidak kuat lagi, dia pun kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya air saja.


 Dengan sigapnya Anshell mengusap punggung Aretha membantu gadis itu untuk mengeluarkan cairan bening itu.


“Apa kau hamil, hmm?” tanya Anshell pelan.

__ADS_1


“Jaga bicaramu, An!”


Anshell menu dudukan Aretha di kursi sembari memberikan minyak hangat padanya, sebelah tangannya masih mengusap punggung Aretha dengan lembut.


Aretha tertegun sejenak ketika melihat pria itu tersenyum tipis, senyuman tampan yang beberapa hari ini dia rindukan sebelum pria itu membencinya.


“Bagaimana kamu nggak muntah.”


 Aretha menatap Anshell sejenak. Mendengarkan panggilan kamu membuat Aretha merasa Anshellnya kembali.


“Sarapan pagi kamu saja tadi cuman roti dan juga tea hangat. Padahal di rumah kamu itu banyak makanan, lho Re…”


Aretha mengerjapkan matanya lambat, panggilan ‘Re’membuat hatinya ingin menangis.


Dia merindukan Anshell yang dia kenal seorang pria yang baik padanya bukan pria yang menakutkan dan si pahit lidah.


‘Apa sihir Lalisa hilang?’ batin Aretha pandangi Anshell.


“Padahal makan siang di pesawat itu lezat lho dan cemilannya juga banyak.


“Tapi, kenapa nggak mau makan, hmm?”


Anshell memberikan tea hangat yang dibawa oleh seorang crew yacht untuk gadis itu meminumnya.


“Sebenarnya kamu kenapa sampai nggak makan makanan lezat, bukannya kamu orang tidak pemilih makanan?”


“Atau kamu sedang diet?” sambung Anshell.


Gadis kampung itu bukan menjawab, tetapi Aretha hanya diam menatap Anshell dengan kedua mata yang basah.


Mendengarkan suara lembut Anshell memanggilnya dan perlakukan Anshell ini membuat hatinya tersentuh


Aretha ingin menangis di dalam pelukan pria itu dan membisikan kalimat ‘Aku tidak sekuat yang kamu pikir, Shell.’ Ingin sekali dia berdamai dengan pria itu dan melupakan masa lalu bahwa dia anak seorang pembunuh.


Tetapi, kenyataan itu sulit. Pria itu pastinya akan kembali berbuat sesuka hatinya.


‘Ingat Aretha. Air matamu itu membuat Anshell puas. Pria itu lebih suka melihat kamu menderita daripada bahagia,’ kata hati Aretha.


“Tolong bawakan minyak hangat dan juga jaket tebal saya di bawah,” pinta Anshell yang dianggukan oleh salah satu anak buahnya.


“Uwekkk….”


Aretha kembali muntah lagi hingga tubuhnya lemas sudah dan duduk di lantai dingin.


“Ini fix deh, Re. Kayaknya kamu itu hamil,” kata Anshell kembali membantu Aretha memijat leher belakangnya.


“Kita istirahat di kamar bawah yuk, tanganmu dingin banget tubuhmu juga lemas,” ujar Anshell melihat Aretha kini keringat dingin.


Gadis itu menggeleng pelan, dia tidak mau pindah ke kamar. Aretha takut kalau Anshell berbuat hal yang tidak-tidak sekalipun pria itu adalah suaminya.


“Kayaknya nggak usah ke kamar bawah deh, Tuan.”


Ken yang berdiri dengan tubuh yang basah pun menunjukan beberapa menit lagi yacht mereka akan tiba di sebuah hotel bintang lima miliknya.


“Nanggung, nanti saja istirahatnya, Nona Aretha masih kuat kan?” tanya Ken yang dianggukan Aretha cepat.


Anshell pandangi orang kepercayaannya.


 “Kau jadi ambil jaket itu?”

__ADS_1


“Ya, lah. Sayang, ini jaket mahal kesayangan saya,” ujarnya.


Yacht mewah itu akhirnya mendarat, Anshell dengan sigap menggendong tubuh Aretha yang kurus dan ringan itu berjalan menuju hotel yang cukup jauh dari tempat Yacht itu berada.


Sepanjang menuju lobby hotel tersebut, Aretha hanya diam memandangi wajah tampan sang suami.


Sangat tampan, bahkan hatinya ingin sekali menggapai cinta Anshell.


Tetapi, dia kembali teringat kalau pengaruh Lalisa itu sangat kuat di hati pria itu, sampai-sampai demi Lalisanya pria itu melakukan berbagai cara sekalipun itu menyakiti hatinya.


Ken membuka pintu kamar president suite milik Anshell yang tak pernah disewakan oleh tamu sekalipun tamu itu mampu membayar mahal.


Ruangan ini hanya khusus untuknya dan juga keluarganya bila ingin berlibur.


“Jangan terus memandangku seperti itu, aku sadar kok. Aku ini tampan.


“Jadi kamu beruntung dinikahi oleh pria tampan sepertiku ini,” gumam Anshell seraya merebahkan tubuh kurus Aretha,


Tak luput senyuman manis yang tercetak di wajah tampannya yang kedua mata Aretha tangkap.


“Tubuhmu dingin sekali, Retha.”


Aretha hanya diam tidak menjawab, namun kedua matanya tak lepas memandangi Anshell.


Ya, dia memang beruntung dinikahi oleh pangeran setampan Anshell Damarion Stone.


Tetapi, mengingat tuduhan Anshell padanya membuat dia yakin bila pria itu hilang akalnya kembali, Anshell akan melakukan hal yang kejam lagi seperti yang sudah-sudah.


“Minumlah, ini air jahe, Ken sudah meminta pada orang dapur dan sebentar lagi makanan pun diantar ke ruangan kita.”


Sekali lagi Aretha hanya diam memikirkan sikap Anshell yang aneh mendadak baik seperti ini.


‘Kita, Kamu dan Retha, itu hal yang aneh bagiku ketika kamu menjawab hatimu sudah mati ketika dendam itu muncul saat kamu mengetahui kalau aku anak pembunuh,’ batinnya bergumam.


Aretha duduk minum tea jahe tersebut dan menyesapnya perlahan.


“Terima kasih, An,” ucapnya.


“Hm, sama-sama,” jawab Anshell diiringi senyuman.


Bola mata Aretha mendelik ketika Anshell mendekat dan kedua tangannya sudah berada di tubuhnya.


“Mau apa?”


“Emangnya kamu pikir aku mau apa?”


Hembusan nafas hangat yang menerpa wajah Aretha membuat wanita itu memejamkan matanya sejenak, aroma mint yang keluar dari mulut Anshell membuat nafas Aretha pendek.


Apa lagi kedua tangan kekar itu menyibakan kemeja tipisnya. Dadanya bergemuruh panas seraya dia memandangi manik mata indah yang selama ini dia rindukan itu.


“Apa kamu berpikir kita akan membuat anak, hmm?”


Aretha hanya mendelik sebagai jawaban dan pria duduk begitu dekat itu hanya tersenyum.


“Aku hanya ingin memberikan minyak hangat di perutmu Retha, agar tubuhmu tidak dingin seperti ini,” bisik Anshell seraya menatap ekspresi Aretha yang tegang.


“Apa kamu mau aku hangatkan tubuhmu?”


__ADS_1


__ADS_2