CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Nasehat Ken!


__ADS_3

“Ah—ini sakit sekali.” Aretha merintih.


Tubuhnya bergerak gelisah seraya kedua tangannya memegangi perutnya. Jangan ditanya bagaimana remuk tubuhnya yang amat luar biasa sakit yang tidak terkira.


Air matanya berjatuhan. Gadis itu menangis dalam diam dengan tangan menekan perutnya.


“Hiks… Ya Tuhan. Ini sakit sekali.”


Padahal Aretha bisa berteriak keras untuk meminta tolong pada Anshell yang sudah lebih dulu bangun. Pria itu sudah membersihkan diri di dalam kamar mandi dan lagi lagi, tanpa memperdulikan dirinya.


Untuk bangun pun Aretha kesulitan. Bagian bawahnya perih. Suaranya pun serak ketika walau hanya untuk memanggil Anshell untuk meminta pertolongan.


Semalam dia menangis hingga pada akhirnya terlelap. Iblis itu benar-benar membuatnya menderita seperti ucapannya.


Aretha memilih diam, berusaha sekeras mungkin menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Mungkin dia akan mati dengan rasa kesakitan yang melandanya.


Ya, Aretha memilih mati karena hidupnya untuk apa?


Semuanya percuma.


Tak lama, pintu itu pun terbuka muncul Anshell. Pria berdiri diambang pintu dengan sebelah tangan yang mengeringkan rambutnya yang basah.


Sejak dia keluar, kedua matanya tak lepas memandangi Aretha yang masih berada di atas tempat tidur. Gadis itu bergerak gelisah dengan posisi yang memungutnya.


Anshell mengayunkan kakinya berjalan mendekat tempat tidurnya. Aretha menangis diiringi rintihan kesakitan.


“Kamu kenapa, hmm? Mau drama lagi?” tanya Anshell.


Sama sekali pria itu tidak punya rasa iba sedikit pun. Wajah datarnya sama sekali pria itu tidak peka dan tidak merasa bersalah atas perbuatan semalam.


“Aku tanya. Kamu kenapa menangis, hah?”


Aretha terisak menundukan kepalanya. “Jawab, Aretha!” bentak Anshell.


“Sakit, An—”


Anshell menyibakan selimut berwarna putih itu. kedua bola matanya terbelalak ketika melihat bagian bawah Aretha yang polos berlumuran darah sehingga menggenangi sprei.


Meski sempat terkejut, pria itu dengan santai berjalan ke arah kopernya. Anshell mengambil satu kotak berisi alat-alat medis dan juga kotak obat-obatan yang selalu dia bawa kemana-mana.


“Aku akan memberikan obat melalui suntikan menghentikan pendarahan,” kata Anshell seraya bersiap dengan satu jarum suntiknya yang sudah terisi obat di dalamnya.


Aretha mengalami pendarahan dan itu karena ulah semalam yang tak kunjung henti menggauli istrinya dikala hassrattnya tak kunjung henti ingin menghujaam sang istri.


Jujur, tubuh Aretha membuatnya tak ingin henti. Anshell sudah candu pada tubuh sang istri yang selama ini menjaga kesuciannya.


Anshell mengambil air hangat untuk membersihkan tubuh Aretha lalu membersihkan bagian tubuh yang terdapat darah di bagian Alanna.


Padahal pria itu tidak perlu melakukan hal seperti ini mengingat dia masih benci pada Aretha yang diam-diam bersama dengan Darren.


Tapi sekali lagi, wanita yang meringis kesakitan itu adalah istrinya. Dia tidak bisa mengabaikan wanita itu toh itu pun perbuatannya sampai Aretha seperti ini.


Setelah tubuh Aretha bersih, dia pun membantu Aretha yang terus menolak tidak ingin dibantu menggunakan piyamanya.


Anshell mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang seraya melihat Aretha yang sudah rapi dan terlihat melamun.


“Duduklah dulu di ruang tengah sambil sarapan. Aku sudah minta Ken untuk pemanggilan housekeeping untuk merapikannya dan menggantikannya yang baru,” kata Anshell.


Ketika tangan Anshell menyentuh kulitnya, tubuh Aretha reflex bergemetaran seperti tadi ketika pria itu memberikan suntikan obat.


“Aku bisa sendiri!” kata Aretha menolak untuk digendong.


Anshell mendengus pelan, pria itu memejamkan kedua matanya sejenak dan membiarkan Aretha berjalan seperti kura-kura itu di depannya.

__ADS_1


Anshell tidak sabar melihat Aretha yang terlihat meringis walau hanya satu langkah saja. Dia kesal dan langsung menggendong Aretha dari arah belakang.


Jeritan keras Aretha dengan tubuh yang meronta membuat Anshell termangu menatap wanita di depannya itu. hampir saja tubuh Aretha terlepas ketika dia tidak cepat sadar untuk memegang tubuh sang istri.


“Kamu kenapa, Re?”


Aretha menutupi wajahnya dengan kedua tangan dengan tubuh yang menekuk. Wanita itu tidak menjawab namun terisak dengan tubuh yang bergemetar hebat.


“Lepaskan aku—”


“Kamu akan jatuh bila aku lepaskan, Re?” jawab Anshell menatap Aretha bingung.


Aretha kembali terisak. “Aku mohon. Turunkan aku,” kata Aretha dengan bibir yang bergemetar.


Anshell tidak peduli dengan permohonan wanita itu, sekalipun tubuh Aretha bergemetar dan menangis.


Anshell tidak melepaskan gendongannya dan akhirnya pria itu membawa Aretha untuk duduk di balkon ruangan tengah.


Aretha langsung beringsut dan menutupi wajahnya dengan kedua tanganya. Wanita itu tidak ingin melihat Anshell.


Ya, setiap dia menyentuh tubuh Aretha. Wanita itu bergemetar hebat, saat dia membersihkan semua darah di tubuhnya pun wanita itu hanya menggigit bibir bawahnya sekalipun suara isakan terdengar oleh telinga nya.


“Re, makan yuk. Isi perutmu dulu biar nggak sakit.”


Anshell duduk di samping sofa pajang itu. Wanita itu hanya diam seraya menutupi wajahnya.


Aretha tidak menjawab yang dilakukan wanita itu hanya duduk menutupi wajahnya.


“Re….” Anshell menyentuh bahu Aretha.


Pandangannya semakin menjadi ketika tubuh Aretha kembali bergemetar.


“Tinggalkan aku. Nanti aku akan memakannya,” kata Aretha. Nada suaranya yang terdengar serak nampun juga terdengar wanita itu ketakutan.


Aretha kembali diam. “Re. Jangan gigit bibirmu. Itu sudah berdarah,” kata Anshell.


Entah kenapa dia mendadak sedih melihat keadaan Aretha. Wanita itu tidak mau di sentuh dan juga tidak mau melihatnya. Kini Aretha terlihat menyiksa dirinya sendiri.


“Re…”


“Jangan sentuh aku, An. Aku mohon pergilah!” pinta Aretha.


Ken yang baru saja tiba di dalam kamar Anshell pun langsung menghampiri pengantin baru yang berada di balkon.


“Ada apa kamu memanggilku, Shell.”


“Panggilan housekeeping untuk membersihkan dan menggantikan kamar tidurku!”


“Oh…” jawab Ken pendek, kedua matanya menengok ke depan di mana Aretha duduk dengan memeluk kedua lututnya.


“Kenapa?” tanya Ken, kepo.


Anshell menghela nafas panjang. “Entahlah. Lagi ngambek nggak mau lihat aku.”


Ken tertawa pelan. “Cie pengantin baru bawaanya ngambek melolo. Kamu jangan kasar-kasar sama dia. Jujur, aku kasihan melihatnya, Shell.”


Ya, Ken sudah seperti teman bagi Anshell sekalipun tugas pria itu adalah mencari semua yang dia tahu. Tidak masalah perusahaan dan hal lainnya pun Ken selalu ikut turun tangan membantu Anshell.


“Jangan sakiti istrimu, wanita seperti dia itu jarang ada.”


“Tau apa kamu?”


“Haish. Kamu akan menyesal kalau sampai membuat luka pada hatinya sekalipun kamu punya dendam yang besar pada orang tuanya karena kasus pembunuhan itu.

__ADS_1


"Tetapi, bukan pada anaknya lah kamu membalaskan dendamnya.


“Dia tidak tahu apa-apa, Shell!”


Ken menepuk pundak Anshell. “Aku tidak butuh nasehatmu, Ken!”


“Ah, ya. Kamu tidak akan pernah mau mendengarkannya karena hatimu selalu dikuasai dendam saat ini.


"Tapi, suatu waktu perkataan ku ini akan membuatmu menyesal kalau kamu nggak mulai dari sekarang memendam semua dendam itu padanya.”


“Ya, sudah. Aku akan menghubungi housekeeping.”


“Dan minta orang hotel untuk belikan aku kasur yang empuk!” pinta Anshell seraya menatap Aretha yang sudah mulai menyuapkan sarapan paginya sekalipun oat.


“Emangnya kenapa dengan kasurnya?”


“Kurang empuk. Aku nggak suka!” kata Anshell bohong.


Padahal kasur itu basah karena darah Alea dan juga air ketika Anshell menyeka langsung di atas tempat tidur.


“Ah baiklah aku akan meminta menghubungi manager hotel!” jawab Ken.


“Siapkan pesawat nanti sore. Aku akan pulang ke Singapore. Aku tidak bisa lama-lama tinggal di sini untuk menghabiskan honeymoon sialan ini!” kata Anshell membuat kening Ken mengerut.


“Emangnya kenapa dengan honeymoon ini?”


Anshell diam seraya menatap kesal pada Ken. “Tidak usah banyak bicara kamu. Lakukan saja!”


Anshell beranjak pergi dan menghampiri Aretha yang makan dengan memandangi pemandangan laut dan gunung di depannya.


Anshell berdiri tepat di depan Aretha. Wanita itu menundukan wajahnya sekalipun dia tahu Anshell berada di depannya.


“Sore ini kita akan pulang ke Singapore. Aku tidak mau di sini karena itu buang-buang waktuku!” tegasnya.


Aretha hanya diam seraya menghentikan kunyahan sendok ke lima nya.


“Nanti malam kamu harus mengikuti medical check up untuk menjalankan beberapa tes donor itu!”


Sekali lagi, Aretha hanya diam tanpa menjawab.


“Kamu harus banyak makan. Kamu harus sehat dan jangan mengecewakanku!” tegas Anshell lagi dengan tatapan bengis sekalipun Aretha tidak melihatnya.


Wanita itu menarik napas panjang lalu meletakan mangkuk tersebut di meja sofa. Aretha dengan santai menyesap tea herbal.


“Lalu bila hasil donor itu tidak cocok bagaimana? Apa aku harus mengembalikan uangmu itu dan terbebas darimu—membatalkan pernikahan kiat?” kata Aretha, serak.


Dia belum siap melihat Anshell. Entah kenapa bila melihat wajah itu, bayangan semalam membuatnya ketakutan.


Anshell mendengus pelan. “Maka aku sendiri yang akan membunuhmu, Aretha! Aku sendiri yang akan mengambil semua organ tubuhmu itu setelah itu—”


Tubuh Aretha kembali bergemetar. “Aku akan mengawetkan jasadmu dan aku akan pajang tubuhmu di kamarku agar suatu saat nanti ketika keluargamu mencarimu aku akan menunjukkannya.”


Air matanya kembali berderai. “Pada keluargamu bagaimana anaknya berkorban hanya demi uang lima milyar dan juga sebagai pembalasan dendamku pada keluarga pembunuh sepertimu!” ungkap Anshell keras.


“Shell. Berapa ukuran kasur di dalam kamarmu?” teriak Ken ketika menghubungi anak buahnya untuk membelikan kasur yang lebih empuk.


Tatapan mata tajam Anshell membuat Ken mendengus kesal. Pria itu akhirnya berjalan menghampiri kamar Anshell. Ketika baru saja membuka, bola mata Ken membulat lebar-lebar.


Beberapa pakaian bercecaran di mana-mana. Tempat tidurnya pun sudah tidak berbentuk lagi yang lebih mengejutkan noda merah di atas sprei merah yang begitu banyak.


“Gila! Bagaimana malam pertamanya sampai banyak darah seperti ini?” batin Ken.


Dia teringat dengan Aretha yang mendadak diam. Mungkinkan Anshell…

__ADS_1


“Shell kau apakan anak orang, hah?”


__ADS_2