
“Mana Kakakmu!”
“Ya Tuhan, juragan ini nggak punya sopan santun ya bila bertamu. Datang bukanya salam ini malah tanya kakak saya.”
“Nggak ada!” jawab Agita, galak.
Ya, harus galak pada pria tua macam Juragan Karto. Pria tua itu bukan memberikan contoh yang baik pada bocah ingusan sepertinya mengingat pria tua itu punya nama besar di kampung.
Orang satu ini datang bukan mengucapkan sama ini malam ngajak berantem.
Kebetulan pula bukan, Agita yang tengah kesal dan juga hatinya panas ketika pria kota itu datang, kenapa tidak dilampiaskan pada tiga pria tua di depannya.
“Ck! Bocah ingusan! Siap-siap kamu jadi istri saya yang keenam belas!” seru Juragan Karto tidak terima.
Agita berkacak pinggang, menatap judek plus galak pada tiga pria tua.
“Saya tidak sudi menikah dengan pria tua macam anda. Sudah bau tanah doyan nya sama bocah yang harusnya jadi anak anda!
“Saya lebih baik mati daripada harus menikah sama aki-aki kayak kamu!”
“Haish, berdebat sama bocah songong kayak kamu itu buang waktu saya yang berharga.”
“Saya nggak punya pintu gerbang dan jalanan di belakang anda juga luas, silahkan saja anda pergi dari rumah saya.
“Saya juga sama, nggak punya waktu buat melayani anda!”
Kedua tangan Juragan Karto terkepal dan menatap marah pada bocah sma yang tidak ada takutnya. “Ck! Miskin aja belagu, kamu!”
“Lebih baik saya belagu dari pada anda lintah darat. Anda itu kayak karena banyak makan duit orang miskin. Ingat, Juragan.
“Harta itu cuman titipan! Sampai Tuhan murka detik ini juga juragan bisa lebih miskin dari saya!”
“Sialan ini bocah,” umpat Juragan Karto, murka.
Kalah berdebat dengan Agita, Juragan Karto berikan kode pada dua ajudannya untuk memberikan peringatan pada bocah ingusan berlidah tajam itu.
Pria itu terlalu lelah meladeni ocehan Agita yang pandai membalikan perkatanya.
Dua ajudan tua itu mengangguk lalu berjalan ke depan dengan dua tangan terkepal dan siap memberikan bocah itu peringatan kecil.
Jangan di sangka, Agita di depan sudah memberi ancang-ancang hendak melawan.
Kata, siapa bocah yang selalu di sangka menyebalkan itu tidak bisa melawan.
Agita diam-diam bisa bela diri, bocah yang dikatai ingusan itu punya gelar sabuk hitam beladiri taekwondo.
Di depan sana, Dygta berdiri. Pria itu merasa tidurnya terganggu karena suara cempreng yang sudah tahu sumbernya itu ada di….
“Haish, itu wanita nggak ada anggun-anggunya,” desah Dygta seraya berjalan cepat. Sebelum peperangan dunia antar tetangga di mulai.
Pria muda itu langsung menghadang dua orang yang hendak adu jotos. “Et, tunggu.”
__ADS_1
“Haish. Lo ngapain sih sok jadi pahlawan kesiangan hah?”
Dygta mendesah pelan seraya pandangi Agita lalu bergantian dengan dua pria tua bertubuh besar lalu satu lagi pada pria tua berbaju putih.
“Bisa kita bicarakan baik-baik di sini?”
“Nggak bisa! Saya datang ke sini itu cuman ini ketemu sama kakaknya, bukan sama bocah ingusan kayak dia.”
Juragan Karto menatap rumah bututnya, tubuhnya ke samping kiri dan kanan mencari keberadaan calon istrinya itu.
“Mana Aretha. Saya ini mau bicara!
“Nggak ada Ka Aretha sudah pulang ke kota,” jawab Agita bohong.
Pria tua itu meludah ke samping. “Jangan bohong kamu!”
Aretha yang baru saja menikmati rebahan sebentar di kasur keras itu pun merasa terganggu.
Baru saja dia memejamkan kedua matanya kini dia harus mendengarkan suara ribut di dalamnya.
“Astaga… bisakah Agita nggak bikin rusuh orang?” batin Alea seraya bangun.
Alea berjalan sembari menguap dan mengucek kedua matanya. “Itu dia kakakmu,” seru Juragan Karto.
Mata Aretha memang belum membuka sempurna, tetapi dari bayangan kecil itu dan juga suaranya Aretha sudah tahu siapa yang membuat kerusuhan di siang hari ini.
“Juragan Karto.”
“Mau menjenguk Nenek saya yang sakit?” tanya Aretha, berbasa basi sekalipun dia tahu itu hal yang mustahil bagi pria tersohor itu.
Kedatangan ke sini tentunya karena duit.
“Maaf, Juragan. Bukannya awal bulan itu masih lama ya? Kenapa anda sudah datang ke sini dan sudah nagih lagi?”
Juragan Karto selangkah maju sekalipun di hadang oleh bocah ingusan di depannya.
“Saya tahu. Tapi saya minta dua hari ini juga dilunasi hutang-hutangmu! Saya butuh dana banyak buat kampanye jadi camat.”
“Mana bisa!” seru Aretha cepat.
Kini kedua matanya sudah jelas menatap pria tua di depannya.
“Saya nggak mau tahu. Saya lagi kepepet buat tim gol saya.”
“Astaga. Emangnya juragan pikir saya di kota itu ternak tuyul sampai harus bayar lima milyar kurang dalam dua hari?” seru Aretha.
“Tapi saya nggak mau tahu, Aretha. Uang lima milyar itu harus dibayar dalam waktu dua hari!”
Aretha menarik napas panjang. “Ya, sudah saya akan bayar uang 5 milyar kurang dalam waktu dua hari.
“Asal Juragan bersedia saja saya jadi tumbal pesugihan saya. Mau?”
__ADS_1
Dygta terkekeh begitu juga Agita sedangkan pria tua itu berwajah masam.
“Saya sudah cicil bulan kemari dua puluh lima juta loh, apa nggak bisa saya cicilannya bulan besoknya lagi?”
Konon kata mitos kalau orang yang sudah uzur itu balik lagi ke anak-anak. Apa salah satu contohnya yang di depan?
Mana bisa uang yang sudah masuk hampir empat puluh juta itu tidak dihitung juga?
Sia-sia dong selama ini bayar hutang kalau hutangnya nggak turun malah terus naik.
“Maaf Juragan saya capek dan lelah ini. Sudah juragan saya cicil hutang juga benar.
“Nggak usah ngadi-ngadi. Saya akan cicil hutang anda, bulan depan saya akan bayar lima puluh juta!” kata Aretha dengan santainya.
Padahal setengah pun dia tidak punya. Apalagi hari ini Aretha nggak masuk kantor otomatis gajinya akan dipotong.
Sepertinya, Aretha harus kembali ke Club Madam Olive buat cari tambahan uang genap bulan depan lima puluh juta.
“Ya Tuhan, ini bibir kenapa yah,” ucap Aretha dalam hati.
“Saya nggak mau di cicil. Saya maunya kamu, Aretha!” kata pria tua itu seraya berikan senyuman manis.
Aretha membuang nafas. “Maksud Juragan apa?”
“Saya akan lupakan hutang paman Dany kalau kamu mau jadi istri saya.
“Saya juga akan biayai pengobatan Nenek kamu yang punya penyakit jantung dan saya janji akan menyekolahkan adikmu itu,” bujuk rayu Juragan Karto.
Pria tua itu sudah tidak sabar ingin mencicipi madu kembang desa di kampungnya.
“Maaf Juragan saya nggak bisa!”
Wajah juragan Karto memerah. “Ya, sudah kalau kamu nggak mau.
“Saya minta 5 milyar dibayar dalam waktu dua hari dan kamu nggak boleh pergi ke kota lagi.
“Saya tahu kamu nggak bisa bayar hutang si Dany!” tegasnya, sudah tidak ada lagi waktu tenggang dan juga tidak ada lagi kesempatan.
Pokoknya yang ada di pikirannya pria tua itu ingin menikah lagi.
“Mat, siapin pesta yang meriah dan mewah tiga hari lagi. Undangan tolong disiapkan Mat.
“Orgen tunggal jangan lupa, undang tiga desa di sini karena saya mau hajatan gede-gedean tujuh hari tujuh malam.
“Feeling saya tidak akan meleset kalau tiga hari lagi adalah hari pernikahan saya sama kembang desa kampung ini!” kata Juragan Karto tersenyum senang seraya berikan kerlingan mata pada Aretha.
Aretha mendengus pelan pandangi pria tua.
“Saya tunggu dua hari ini Aretha! Kalau kamu nggak bisa bayar besoknya saya nikahin kamu!”
Mampir baca karya temanku yuk
__ADS_1