CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Istri Selembar Kertas!


__ADS_3

Senja mulai menyapa sepasang pengantin baru yang terlelap dengan saling berpelukan.


Sayup-sayup sinar jingga itu menerpa wajah Anshell membuat pria itu membuka kedua matanya perlahan.


Pria itu tersenyum lebar, lalu perlahan mengangkat tangannya yang menjadi sandaran sang istri terlelap.


“Syukurlah, dia tidak demam,” gumam Anshell dalam hati ketika punggung tangannya dengan sigap mendarat pelan di keningnya.


Kejadian Aretha muntah-muntah dan takutnya berbuntut sakit sekalipun wajah sang istri kini pucat, Anshell tidak ingin hal itu terjadi. Aretha harus tetap sehat-sehat.


“Aku mandi dulu, nanti aku kembali lagi, Re,” ucap Anshell seraya menarik selimut agar menutupi tubuh Aretha hingga ke batas dada.


Sekali lagi Anshell pandangi wajah pucat Aretha sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.


‘Bila boleh aku jujur, Re. Ada sesucil namamu di hatiku. Tapi—'


Anshell menajamkan pandangannya menatap Aretha lebih dekat lagi.


‘Aku tidak bisa melupakan kejadian itu begitu saja, dan hal itu yang membuat aku semakin membencimu hingga menyisakan dendam yang begitu besar padamu.


‘Sungguh bayangan itu menyiksaku, Re.’


‘Bayangan itu selalu menghantuiku, bagaimana orang tuamu membunuh kakekku dengan kejam dan juga ibumu yang membunuh adikku dengan cara menenggelamkan membuat amarah yang selama ini aku pendam meledak.


‘Belum cukup dengan dua orang tercintaku meninggal, kedua orang tuamu hampir saja membuatku kehilangan kedua orang tuaku. 


‘Itulah alasanku kenapa aku begitu membencimu ketika bayangan menyakitkan itu muncul, Re. 


‘Hati ini berselimut dendam dan selalu menginginkan kamu menderita, Re.’


‘I hate you, but I—'


Suara dering ponsel dengan nada yang nyaring membuat Aretha terbangun. Itu ponsel bututnya yang berbunyi.


Aretha membuka kedua matanya sejenak lalu memejamkan lagi. Aretha masih berpikir akan siapa yang menghubunginya.


‘Apa itu Agita? Atau Dygta?’ batin Aretha seraya kembali membuka kedua matanya.


Hal yang dilakukan sebelum dia mengambil benda yang terus berbunyi, Aretha menatap langit kamar hotel tempat dia berada seraya mengingat dimana tasnya berada.


Seingatnya tas itu dibawa Anshell dan entah dimana pria itu meletakkannya. Buru-buru dia turun lalu mengambil ponsel bututnya itu.


Sebuah panggilan video call dari nomor tak dikenal membuat Aretha terdiam sejenak.


“Kok nggak diangkat?”


 Anshell baru saja keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi.


Aretha hanya menelan ludah melihat wajah Anshell yang segar dan juga tubuh pria itu yang—basah.


“Kenapa dilihatin saja?” tanya pria itu lagi.


Aretha menahan nafas, saat Anshell duduk di sampingnya dengan jarak yang dekat.


 Aroma mint yang baru saja menerpa wajahnya pun membuat Aretha menahan nafas sejenak.


“Sini, biar aku saja yang angkat kalau kamu ragu,” ujar Anshell menyambar ponsel butut milik sang istri.


Di gesernya tombol hijau itu kesamping dan menampakan wajah seorang pria di dalam layar yang retak terkejut.


Pria di dalam ponsel butut Aretha tampak terkejut dengan mata yang melotot.


“Wow… Sungguh aku terkejut sekali dengan penampilan kalian berdua?”


Tepatnya bukan hanya penampilan saja, tetapi juga bagaimana kedua orang di layar perseginya itu sama-sama saling bersitatap bingung.


Tapi, bila melihat keduanya nampak akur dan damai kayak gini kan Pria yang tidak lain Jordan pun senang melihatnya.


“Kenapa kamu harus terkejut seperti itu, hah?”


Jordan menarik napas sejenak sebelum dia bicara dengan Anshell dan juga Aretha.


 “Pertama, aku kaget ketika number yang aku hubungi yang menerima langsung suaminya.”


“Apa sebegitu cemasnya kamu pada sang istri ketika siapa yang menghubunginya melalui panggilan video call?”


Anshell mendengus pelan seraya menatap kesal pada wajah menyebalkan di layar retak tersebut.


“Ada apa kau menelepon Aretha hah?”


“Kalian habis berapa ronde?”

__ADS_1


Jordan bukan menjawab, namun memberikan  lagi pertanyaan.


Anshell dengan jubah mandi dan rambut yang basah dan satunya dengan wajah yang pucat bahkan terlihat baru bangun tidur, itu adalah sebuah tanda hubungan yang baik.


“Ck! Kau bukannya menjawab malah balik bertanya.”


“Ah, kenapa jadi anda yang galak, sih? Bapak kalau galak kaya gini itu karena terlalu posesif atau jatah di ranjjang kuang, hmm?” goda Jordan diiringi tawa.


“Sial, lo, Jo. Kalau gue sampai ketemu lo, gue akan buat perhitungan sama lo nanti.”


“Ish, takut!” jawab Jordan yang diiringi ekspresi ketakutan.


“Sudah mana Aretha, aku mau bicara, Shell.”


Jordan meminta pada sahabatnya agar ponselnya itu diberikan pada sang pemilik karena tujuan dia menghubungi Aretha karena ingin bicara bukan berbicara dengan sahabatnya yang terlihat masih marah.


Anshell memberikan ponsel tersebut pada Aretha.


Wajah pucat Aretha pun kini terlihat jelas di layar perseginya membuat Jordan turut cemas.


“Kamu habis di siksa sama Anshell sampai habis-habisan dan wajahmu sampai pucat begitu, Tha?”


Aretha mendengus pelan mendengarkan pertanyaan Jordan.


 “Apa sahabatku itu nggak henti minta jatah terus menurut sampai kamu nggak di kasih waktu buat istirahat?” tanyanya lagi, karena sang lawan hanya diam dan terlihat mendengus.


“Wajahmu pucat banget, Tha.”


“Apaan sih, nggak jelas banget deh kamu. Aku ingin masuk angina karena nggak bawa jaket jadi kayak gini.”


“Haish, kenapa juga kamu nggak persedian bawa jaket.


“Masa iya, bulan madu kamu malah masuk angina sih, harusnya kan masuk angin karena benihnya Anshell,” canda Jordan.


“Nggak lucu!” jawab Aretha, kesal.


“Jangan sakit, Tha. Nggak asik kalau bulan madu kalian yang sudah dijadwalkan akan pergi tempat-tempat yang indah di Labuan Bajo masa iya sakit.”


“Nanti aku minum obat!”


“Tapi, kok aku jadi khawatir berlebihan ya sama kamu.”


 Pria itu hanya terlupa padahal sudah jelas dia menyindir sepasang pengantin baru.


“Padahal kan kamu berangkat dan satu kamar sama Prof Anshell Damarion Stone, Sp. Jp.


“Harusnya nggak usah panik juga kalau kamu sakit karena Dokter Anshell pasti akan menjagamu dan membuatmu tetap sehat selama tiga hari kedepan,” ujar Jordan diiringi tawa.


Anshell mendengus pelan sementara Aretha menoleh ke samping pandangi Anshell yang terlihat kesal.


“Oh, ya. Ada apa kamu menghubungiku, Jo?”


Ya, lebih baik menanyakan tujuan pria itu dari pada berbasa-basi yang nggak jelas.


“Ah—jadi terlupa kan, aku. Apa kamu senang dengan hadiah pernikahanmu ini?”


“Oh—ya. Aku juga terlupa untuk mengucapkan terima kasih padamu, Jo. Terima kasih banyak walaupun ya, aku lebih suka kembali pulang ke rumah.”


Entah rumah siapa, bila boleh jujur Aretha lebih senang tinggal dengan Beby dan juga keluarganya.


Ah, ngomong-ngomong tentang sahabatnya itu. kira-kira Dygta menceritakan pernikahannya dengan Anshell atau tidak.


Aretha tidak kebayangan bagaimana ekspresi Bebby yang tidak setuju ketika terakhir kali wanita itu mendengar kalau Anshell hampir membunuh saudaranya sendiri keren salah paham.


“Tapi aku memberikan beberapa hadiah lain, pasti kamu belum membuka nya ya?”


Anshell menggendong Aretha untuk keluar dari dalam kamar dan menunjukkan beberapa hadiah yang tertata rapi diatas meja sofa.


Aretha mendelik saat melihat beberapa hadiah yang diberikan Jordan.


“Itu dariku, dari Kevin dan juga dari seseorang yang mengenalmu.”


Aretha mengernyit kening.


“Siapa?”


“Ah, nanti kamu juga tahu siapa orang itu.


“Baiklah Aretha aku hanya ingin menunjukkan hadiah pernikahan yang kita berikan sekali lagi selamat atas pernikahanmu.”


“Terima kasih banyak, Jo. Tolong sampaikan pada seseorang yang misterius itu dan juga Dokter Kevin.”

__ADS_1


“Oke, aku akan sampaikan nanti. Jaga kesehatan, Tha.”


Aretha hanya berikan anggukan pelan dan panggilan itu pun berakhir.


“Kamu mau makan dulu atau mandi dulu?”


Ken datang dengan membawa troli makanan tepat di depan pengantin baru yang duduk di sofa panjang.


Aretha tidak menjawab, wanita itu bangun dari duduknya dan berjalan menuju tirai putih.


Di gesernya pintu tersebut angina laut pun menerpa wajahnya yang pucat.


“Ya Tuhan indah sekali,” ucap Aretha seraya memejamkan matanya sejenak.


 Ini adalah tempat terindah di mana saat ini Aretha berada.


“Kalau boleh tahu berapa harga sewa kamar di sini?”


Aretha bertanya pada seseorang di belakang, tanpa menoleh.


Bila harganya murah dia ingin menyewanya untuk dirinya sendiri biar Anshell yang berada di dalam kamar ini seorang diri.


“Ngapain kamu tanya harga sewa disini hah?” Anshell berseru keras, dia sudah tahu jalan pikiran istrinya itu.


Aretha kembali menarik nafas dengan udara yang segar di sore hari ini.


“Aku hanya ingin menyewa kamar untuk diriku sendiri.”


Satu alis Anshell terangkat.


 “Aku ingin pisah kamar denganmu. Aku punya sedikit uang untuk menyewa kamar yang paling murah karena aku butuh ketenangan.”


Anshell menatap Aretha marah.


“Maaf, Nyonya Stone. Semua kamar di sini tidak ada yang tersisa, semua full disewa oleh beberapa orang yang tengah berlibur juga di Labuan Bajo,” jawab Ken, sigap.


“Kalau begitu saya permisi, Tuan dan Nyonya. Pesan Tuan sudah saya antarkan semua.”


Anshell mengangguk tahu, dia meminta Ken untuk membawa beberapa pakaian dari butik ternama.


Baik Anshell dan juga Aretha tidak punya banyak pakaian untuk tiga hari kedepan.


“Apa ada hal lain lagi yang masih anda butuhkan, Tuan?” tanya Ken, lagi.


“Tidak, terima kasih. Aku akan menghubungi bila perlu apa-apa.”


“Baik, Tuan. Saya permisi, dan selamat berbulan madu, Mr dan Mrs Stone,” ucap Ken seraya pamit undur diri dari dalam kamar tersebut.


Anshell mengayunkan langkahnya mendekat dimana Aretha berdiri di pagar pembatas balkon kamarnya.


Aretha masih betah menatap lurus keindahan yang disajikan di depan matanya.


Anshell melingkarkan tangannya di pinggang Aretha dan membawa gadis kampung itu ke dalam dekapannya.


Awalnya, Aretah sempat menolak pelukan hangat Anshell tetapi, sekian detiknya akhirnya dia mengalah dan membiarkan Anshell memeluknya.


“Apa kita bisa memulai dari awal lagi, Re? Hanya ada kamu dan juga aku saja?” bisik Anshell seraya keduanya sama-sama menatap lurus ke depan.


Aretha menghembuskan perlahan.


 “Apa kamu yakin bisa, An? Di mana hatimu masih ada wanita sepuluh tahunmu itu?


“Bukannya kamu sangat mencintainya?” balas Aretha, keras.


Dia harus tersadar segala bentuk manis dari Anshell yang semuanya itu, PALSU.


Anshell berbuat seperti ini tidak lain hanya ingin hal dan juga untuk mendapatkan satu organ tubuhnya.


“Aku yakin kamu bisa membuatku jatuh cinta lagi padamu?”


Aretha berbalik badan menatap Anshell lebih dekat lagi.


“Begitukah?”


Anshell manggut-manggut, membenarkan. Aretha menarik sudut bibirnya ke samping.


 “Tapi, sayang. Aku sudah tidak minat lagi untuk membuatmu jatuh cinta padaku, An.”


Aretha menarik napas sejenak, lalu tersenyum manis untuk sang suami.


“Disini, aku hanya istri selembar kertas. Sekeras apapun aku berjuang, aku hanya hanya istri kontrakmu. Jadi—”

__ADS_1


__ADS_2