CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Menawarkan Kebaikan!


__ADS_3

“Nggak usah banyak drama kamu pakai nangis-nangisan kayak gini.


“Apa kamu akan menjual air matamu agar membuatku iba dan mengasihi kamu?”


Aretha diam dengan air mata yang terus berdarah.


“Habiskan makananmu dan kamu bukannya tidak ingin bukan berakhir di lemari kaca aku pajang nanti?”


“Astaga,” ucap Ken seraya mendekat.


Pria itu membuang nafas sejenak seraya memejamkan mata seketika. “Lo, yah—”


Ken kembali membuang nafasnya, dia bingung harus bicara bagaimana pada pria di depannya itu. kenapa Anshell begitu kejam.


“Lo dari tadi bentak-bentak istri lo terus, apa lo nggak punya hati, Shell?” kata Ken membela Aretha yang sejak dia datang wanita itu terus menundukkan wajahnya.


“Lo sudah perkossa istri lo sendiri sampai itu kasur lo darah semua?” seru Ken seraya menatap tak kala bengisnya dari tuannya sendiri.


“Lo nggak usah ikut campur di sini, Ken. Ini urusan gue!”


“Ya, ini memang urusan lo, tapi apa lo nggak punya hati Anshell! Bahkan dia sampai bergemetar begitu dan itu karena lo!”


Ken mengusap wajahnya kasar, dia harus berkata apa pada Jordan yang selalu menitipkan Aretha padanya.


“Lo bakal menyesal nanti, Shell! Camkan itu!” kata Ken seraya melangkah menuju dimana Aretha berada.


Anshell melirik tajam. “Lo sudah hubungi Gerry untuk mengatur kepulanganku dari sini?”


Ken yang hendak berjongkok pun kembali menaikan tubuhnya.


“Gerry tidak bisa mengatur kepulangan dengan cepat ke Singapore. Private jat kamu dan semua crewnya sudah di sekap oleh Jordan dan akan dikembalikan dua hari lagi!” kata Ken yang sudah menghubungi Gerry.


“Sialan, Jordan!” decak Anshell murka.


Dia langsung menghubungi Jordan dan meminta kepulanganya di percepat semnetara Ken kembali berjongkok untuk melihat keadaan Aretha yang terus menundukan wajahnya sembari memeluk kedua lututnya.


“Tha…” panggil Ken pelan.


Ken menyibakan rambut Aretha untuk melihat wajah wanita itu.


Sumpah demi apa kalau sampai wajah Aretha lebam karena dipukul iblis itu, dia akan menghubungi Jordan untuk mengatakan langsung pada Aaron Stone.


Orang yang bisa menghentikan kebiadabaaan Anshell hanya ayahnya sendiri. Anshell selalu tunduk dengan Aaron Stone.


Punggung Aretha mundur ke belakang dengan posisi yang sama menunduk.


“Ini aku Ken…”


“Pergi,” tolak Aretha.


“Tha, kalau kamu terluka tolong katakanlah. Aku akan menolongmu dari kejamnya iblis seperti Anshell.


“Aku akan berbicara pada Jordan untuk membicarakan masalah ini. Ini sudah keterlaluan, Tha.


“Aku ingin melihatmu. Apa Anshell memukulmu? Kalau sampai pria itu memukulmu aku sendiri yang akan membongkar semua ini,” ancam Ken.


Aretha terdiam sejenak, kalau rencana Anshell sampai terbongkar hingga pada kedua orang tuannya, nasib Agitalah yang akan jadi taruhannya di sini dan Aretha tidak mau.


“Aku mohon, hanya Aaron Stone lah yang bisa menghentikan sikap Anshell,” bujuk Ken lagi.


Perlahan Aretha menaikan kepalanya lalu menyampirkan anak rambut yang menghalangi wajahnya.


 “Anshell tidak memukulku,” kata Aretha, tubuhnya bergetar kembali.


Ken berseru lega. “Maafkan tuanku, Tha.”


Aretha kembali menundukan kepalanya. “Kamu tidak harus meminta maaf untuk dia.”


“Tolong siapkan tim mu untuk malam ini juga. kita akan melakukan tes itu,” kata Anshell memberikan perintah pada Kevin.


Mendengar hal itu, Aretha semakin ketakutan. Ken mencoba menggenggam tangan Aretha untuk tenang dan tidak harus takut.

__ADS_1


Sialnya, wanita itu malah menjerit keras dengan ketakutan yang membuat Ken sontak terkejut.


Anshell buru-buru menghampiri Aretha dan menatap Ken yang berdiri menenangkan Aretha.


“Kenapa lo sampai buat dia kayak gini, Shell?”


Suara Ken terdengar pilu ketika melihat Aretha terus menangis dan menjerit.


Anshell meraup wajahnya dan membawa Aretha ke dalam gendongannya untuk tidak berada di sana.


Aretha bisa terjun dari balkon dan itu tidak dia inginkan sama sekali.


Ken tak tega melihat keadaan Aretha, bahkan wanita itu hanya bisa ditenangkan setelah Anshell memberikan suntikan obat penenang.


Air mata Aretha tak berhenti berderai dengan tubuh yang lemah.


“Keluar lah,” usir Anshell pada Ken.


“Dan jangan kasih tahu, Jordan. Aku bisa mengatasi hal ini,” lanjutnya.


Ken dengan berat hati meninggalkan Aretha wajah bengis Anshell yang tak ingin dibantah, semakin dia memaksakan diri untuk berada di sini itu akan membahayakan Aretha.


Anshell duduk di samping Aretha ketika Ken sudah pergi.


“Jangan menangis, Re.”


Anshell menghapus air mata Aretha yang berjatuhan.


“Kenapa kamu sekejam ini padaku, An. Kenapa harus aku yang menanggung kesalahan yang tidak pernah aku ketahui dari orang tuaku.”


"Aku harus membalas pada siapa lagi, hmm? Bila kedua orang tua mu masih ada tentu aku sudah membunuhnya. Tapi...."


"Kamu jahat. Aku membencimu, An!"


“Inilah, aku, Re. Anshell Damarion Stone yang sebenarnya. Jadi kalau kamu berharap aku akan baik-baik dan melakukan kamu sebagai istri sungguhan itu, mustahil. Jadi jangan berharap besar padaku!”


“Sejahat itukah kamu padaku, An?”


“Apa kamu pikir aku bisa melupakan dendam ku begitu saja pada keluargamu, hmm?”


Anshell menarik sudut bibirnya membentuk senyuman menakutkan.


“Tidak semudah itu, Re. Aku menawarkan kebaikanku kepadamu dengan tujuan aku pun akan mencoba perlahan melupakan dendam ku perlahan.”


Tubuh Aretha lemas, bahkan dia sulit untuk menggerakan tangan dan kakinya.


“Apa kamu akan melakukan tes itu?”


“Ya,” jawab Anshell cepat.


“Tapi kondisiku masih lemah dan masih sakit, An.


“Bisakah kamu memberikan aku waktu sebentar untuk memulihkannya?” pinta Aretha.


Jujur, Aretha takut dengan seraingkan test tersebut.


“Apa kamu mau aku perkossa lagi seperti malam, hmm?”


Bola mata Aretha membulat lebar, nafasnya kembali memburu.


Sayangnya, tubuhnya begitu sulit digerakkan kalau seandainya dia bisa dia akan pergi meninggalkan kota ini dan menjauh dari Anshell.


“Aku tidak peduli dengan keadaanmu, Aretha. Kamu mau sakit bagaimanapun, kamu harus mengikuti perintahku!” tegas Anshell tak ingin dibantah lagi.


Sore hari pun tiba, semua barang-barang Anshell dan Aretha sudah diangkut oleh anak buah Ken.


Aretha yang berjalan di belakang pun, mengeryit kening ketika satu kakinya melangkah keluar.


Rasa perih di bagian bawahnya itu tidak bisa dielakan lagi yang bisa Aretha lakukan hanya menangis.


“Astaga. Kamu masih di sini hah?” seru Anshell keras membuat Aretha mengusap dadanya, kaget.

__ADS_1


“Apa kamu tidak bisa berjalan dengan cepat?” serunya lagi.


Anshell mendengus jengah sembari memandangi Aretha. Sungguh, wanita itu membuatnya kesal.


Aretha berjalan sangat pelan, melebihi siput dan juga kura-kura. Bahkan dia masih berada di dalam kamar sementara dia sudah hampir menuju pintu keluar utama.


Aretha berada di jarak yang lumayan jauh.


“Kamu menghambat kepulanganku ke Singapore, Aretha!” bentak Anshell.


“Cepat jalan!” bentak Anshell lagi.


Aretha mengangguk pelan tanpa mau melihat Anshell. Aretha menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Dia pun kembali melangkah ke depan. Sungguh, satu langkah saja pun dia sudah tidak bisa. Ini benar-benar sakit.


Bagian bawahnya lecet dan perih. Bagian bawah Aretha masih mengeluarkan darah sehingga dia harus menggunakan pembalut.


“Cepat Aretha!”


“Aku tidak bisa berjalan cepat, An. Milikku lecet dan ini bukan perih lagi tapi bercampur dengan rasa sakitku,” kata Aretha mencoba menjawab untuk membela diri.


“Ck! Banyak drama sekali, kamu!” seru Anshell geram.


Anshell kembali melangkah keluar, lagi lagi Aretha masih saja belum keluar dari dalam kamarnya.


“Arethaaaaa….” Teriak Anshell keras di dalam ruangan tengah.


Mau bagaimana lagi, untuk berlari pun dia sudah tidak sanggup lagi.


Aretha menghapus air matanya dan kembali mencoba berjalan cepat mengabaikan rasa sakit yang semakin menjalar ke perutnya.


Kedua mata Aretha bertemu dengan Anshell yang kembali masuk ke dalam.


Pria itu dengan wajah bengisnya menarik tangan Aretha untuk berjalan mengikuti langkahnya yang cepat.


Jelas, tubuh Aretha akan jatuh karena rasa sakit yang sudah tidak bisa ditahan lagi hingga pantattnya mendarat lebih dulu ke atas lantai granit bunyi degupan yang terdengar blup.


Sengatan kesakitan itu tidak bisa dielakan lagi.


Aretha menangis sejadi-jadinya dengan kedua tangannya memegangi perutnya yang amat teramat sakit. Darah segar kembali mengalir dari kedua kakinya.


“Jangan cengeng, Aretha. Aku tidak suka sikapmu yang cengeng dan manja itu!”


Aretha mengangkat wajahnya menatap Anshell. “Sumpah, An. Ini sakit sekali. Aku tidak mau bermanja-manja pada iblis sepertimu, An.


“Kenapa kamu tidak membantuku agar kau bisa berjalan cepat. Jadi aku tidak menghambat waktumu,” kata Aretha.


“Apaah? Membantumu?”


Anshell berkacak pinggang. “Bila kamu tidak mau membantuku sampai ke yacht mu setidaknya kamu membantuku membawakan kursi roda agar aku bisa duduk. Sumpah, aku kakiku sakit untuk digerakan.”


“Ck! Belum apa-apa dramamu luar biasa, Aretha!”


Aretha menundukan wajahnya. Dia sudah tidak ingin berdebat lagi dengan Anshell yang keras kepala dan juga brengsek.


Ken terbelalak, pria itu lekas menghampiri Aretha.


“Dasar biadaaaap kamu, Shell!” seru Ken seraya berjongkok di depan Aretha.


“Kamu pendarahan lagi?”


Aretha diam. “Maafkan aku menggendongmu, Tha. Biar kamu cepat sampai ke yacht.”


Anshell tak peduli, pria itu berlalu pergi begitu saja meninggalkan kedua orang itu. Ken menggendong Aretha dengan darah segar terus menetes.


“Wajahmu pucat sekali, Aretha. Aku akan memanggil Anshell untuk memberikan obat.


Aretha menggeleng pelan. “Mungkin mati lebih baik Ken daripada aku hidup pun rasanya aku tidak sanggup menjadi bulan-bulanan Anshell.”


“Sssttt jangan berkata seperti itu, justru kamu harus kuat, Aretha. Demi Nenek dan juga adikmu. Kamu harus kuat untuk mereka.”


Aretha menghapus air matanya.

__ADS_1


“Bila aku mati, bolehkan aku meminta padamu untuk menjaga nenek dan juga adikku?”


__ADS_2