CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Gossip


__ADS_3

“Apa kamu sudah pulang?” tanya Anshell di dalam panggilan telephonenya.


Aretha tersenyum manis seraya merapikan meja kerjanya. Anshell menghubunginya.


“Ini aku mau pulang,” jawab Aretha.


“Ya sudah aku tunggu kamu di bawah ya, sayang.”


Kedua bola mata Aretha membulat. Demi apa Anshell kembalinya sayang.


“Kamu menjemputku?” tanya Aretha, tak lepas bibirnya mengulas senyum.


Beruntung di ruangan ini Melanie sudah pulang, bisa di introgasi kalau sampai kedapatan senyum-senyum sendirian di hari yang sudah menggelap.


“Tentu aku menjemputmu, sayang. Cepatlah turun, aku menunggumu sekalian aku ingin mengajakmu makan malam. Aku lapar,” kata Anshell di bawah sana. Sikap manis Anshell membuat hati Aretha ketar ketir.


Aretha berseru senang. Jangankan di jemput, di telepon Anshell saja dia sudah kegirangan. Apalagi kini pengertiannya menjemputnya dan mengajaknya makan malam.


Namun, Aretha tidak akan senang dulu dengan perubahan Anshell kali ini. Dia sedikitnya bisa menilai kekasihnya itu, Anshell tidak bisa ditebak jalan pikirannya. Pria itu bisa dalam sekejap mata berubah tak mengenalnya.


‘Semoga ini awal yang baik,’ batin Aretha hanya bisa berdoa.


“Ya sudah tunggu aku.”


“Oke. Aku akan menunggumu. Naiklah lift khusus agar kamu segera sampai. Aku akan memberikan kodenya,” kata Anshell. Dia sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Aretha.


“Astaga, Mr Lonely, bisakah kamu bersabar menungguku di bawah? Tolong jangan gunakan kekuasaanmu di kantor ini karena aku tidak suka.”


Pria tampan di bawah sana pun ikut tertawa, sepertinya baru kali ini dia bertemu dengan gadis kampung yang tidak suka dengan bentuk kemewahan yang dia berikan.


Salah satunya, Aretha menolak apartemen untuk gadis itu tinggali. Bahkan Anshell sudah membelikan rumah untuk gadis itu tinggal bersama dengan keluarga Bebby. Tetapi, Aretha menolaknya.


“Sudah dulu aku sudah masuk ke dalam lift sebentar lagi aku akan sampai, sabar yah.”


“Ya sudah hati-hati,” ucap Anshell seraya mengakhiri panggilan telephonenya.


Aretha berjalan cepat. Dia tidak mau Anshell menunggunya lama. Dari pandangannya yang Aretha tangkap, mobil sport milik Anshell yang terparkir di depan lobby.


‘Astaga, maksudnya apa coba jemput aku di depan kayak gini?’ batin Aretha seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.


Meksi ini masih pukul delapan malam, tetapi masih ada beberapa orang yang sama baru pulang lembur dan beberapa security yang mengenalinya pun berdiri tidak jauh dari mobil Anshell.


Aretha langsung berbelok dan tidak jadi untuk masuk ke dalam membuat sang kekasih yang melihat pun bergerutu kesal.


“Benar itu gadis kampung. Apa dia tidak mengenali mobilku yang besar ini terparkir di depan?” gerutu Anshell seraya mengambil ponselnya.


Kekasihnya itu bukan langsung masuk ke dalam mobil melainkan berjalan ke depan.


[Aku tunggu di halte depan.] chat dari Aretha.


Pria itu mendengus pelan seraya melajukan mobilnya ke halte depan. Aretha pun lekas menghampiri mobil hitam pekat itu dan masuk ke dalam.


“Kenapa tadi nggak langsung masuk malah harus di sini, hmm?”

__ADS_1


“Apa kamu nggak lihat masih banyak orang yang baru pulang dan juga security berjaga di depan?”


“Terus masalahnya apa, hmm?”


Mendengar Anshell yang mengomel membuat Aretha semakin gemas.


“Di depan tadi banyak security dan juga ada beberapa orang yang sama baru pulang juga. Aku nggak mau jadi bahan gosip mereka nanti.”


Anshell menatap Aretha sejenak lalu mengecup pipi sang kekasih. “Biarin orang mau ngomong apa.”


“Aku menjaga nama baikmu, jangan sampai ada gosip tidak-tidak. Aku tidak mau sampai mendengarkan hal buruk lainnya. Aku takut disangka perebut pacar orang.”


Anshell menaikan satu alisnya menatap gadis kampung itu. “Semua orang siapa yang tidak tahu siapa kekasihmu yang sebenarnya, An. Lalisa.”


Itu benar, semua orang tahu hubungannya dengan Lalisa. Tapi, nyatanya dia dikhianati.


“Kita jalan saja, keburu malam.”


Anshell mengangguk dan melajukan kendaraannya membelah jalanan ibu kota. Butuh lima belas menit, keduanya kini berada di restoran mewah.


Anshell membawa Aretha untuk makan enak, sekalipun dia bingung dengan ekspresi wajah Aretha yang bukan langsung memakannya namun menatapnya.


“Apa kamu nggak suka?”


“Belum aku cicip mana mungkin aku mengatakan nggak suka.”


Anshell tersenyum. Bila, dengan gadis kampung itu Anshell mengaku dia jadi banyak tersenyum. “Lalu kenapa bukan langsung di cicipin malah di lihatin?”


Aretha tunjukan gigi putihnya yang rapi yang entah apa maksudnya.


“Perutku kebiasaan makan di warteg, kalau kayak gini takutnya perutku tidak akan kenyang, An.”


Jawaban Aretha langsung dibalas tawa oleh Anshell.


“Kamu boleh pesan sesukamu yang banyak kalau kamu belum kenyang,” ujarnya.


Aretha berikan gelengan pelan, tentu dia tidak mau memesan makanan yang hanya secuil namun mahalnya selangit.


Harga makanan yang di depannya ini sudah tentu dia tahu berapa harganya. Kalau di bisa di tukar, Aretha bisa makan nasi padang seratus porsi.


“Tidak terima kasih, setelah ini sebaiknya kita pulang saja, An. Aku tidak mau makan di sini lagi.”


“Loh kenapa? Tadi katanya nggak akan kenyang.”


Aretha menghembuskan napas pelan.


“Aku ingin makan nasi goreng pinggir jalan saja.”


Anshell menatap gemas, mungkin seperti ini bila berpacaran dengan gadis kampung yang terlalu berhemat sampai-sampai cukup nasi goreng saja pun sudah membuat gadis itu kenyang bukan makanan mahal yang kini dia santap.


“Ya sudahlah. Kita habiskan, lalu kita makan nasi goreng pinggir jalan.”


“Yang bener?” tanya Aretha dengan dua bola mata yang membulat lebar.

__ADS_1


Wajahnya berseri senang sekaligus tidak percaya Anshell mau makan nasi goreng pinggir jalan.


“Ya. Aku harus coba bukan nasi goreng pinggir jalan?”


Pria itu menyipitkan mata, Aretha menggeleng seolah tidak mengizinkannya.


“Kamu makan di sini saja sampai kamu kenyang, makanan pinggir jalan biasa aku makan dengan Bebby, Dygta dan Toby takutnya tidak pas di lidahmu yang kebiasaan makan di restoran kayak gini.”


Ini bukan sindiran kan? Kalau ini sindirian, Anshell akan membalasnya nanti.


“Tunggu sebentar. Toby?”


Aretha manggut-manggut, bersamaan kedua matanya menatap Anshell yang nampak bingung. Apa pria itu tidak mengenali temannya.


“Ya, Tobby.”


“Maksudmu Toby De La Mose sahabatku?”


Sepertinya dia ketinggalan informasi perihal sahabatnya yang diam-diam sudah mengenal Aretha.


“Ya. Toby sahabatmu. Siapa lagi.”


“Sejak kapan Toby dekat denganmu, sayang?” tanya Anshell, penasaran.


Kenapa playboy cap kadal itu selalu selangkah maju darinya. Apa lagi sampai Tobby makan di pinggir jalan, itu tidak mungkin dia kenal betul siapa Tobi.


“Semenjak kamu meninggalkanku di dalam mobil empat hari dan besoknya Tobby datang ke rumah Bebby.


‘Sial, Toby. Sudah lama ini aku mencari Aretha ternyata dia sudah lebih tahu keberadaan gadis kampung ini,’ batin Anshell.


“Hai malam Shell? Kamu makan di sini juga?”


Anshell dan Aretha bersamaan menatap sumber suara itu. “Ah. Ya, kita sudah selesai makan tepatnya.”


Seseorang itu memberengut lalu pandangannya turun pada wanita yang duduk saling berhadapan dengan Anshell.


“Kita pulang yuk, sudah selesai kan makanya?”


Aretha mengangguk pelan lalu berdiri. Dia pandangi sejenak pada pria yang berdiri di samping wanita tersebut, tentunya Aretha pernah melihatnya.


“Siapa dia, Shell? Apa dia penggantiku?” tanyanya, siapa lagi kalau wanita yang selalu bertanya dan terkesan kepo itu adalah Lalisa.


“Maaf, Tuan. Saya tunggu anda di depan saja.”


Anshell berikan anggukan pelan, dengan mata menatap Lalisa sejenak.


“Apa urusanmu, hmm? Bukannya kamu sudah mendapatkan pria yang kau puja selama ini bukan?”


Lalisa mengapit tangan Gavien dan menunjukkan kemesraan di depan Anshell.


“Sebagai seorang sahabat, bolehkah aku tahu?”


“Tidak penting!”

__ADS_1


Anshell memanggil pelayan dan memberikan kartunya untuk membayar makananya sementara Lalisa mengeluarkan undangan pertunangannya dengan Gavien.


“Datanglah. Aku mengundangmu di acara pertunangan kita.”


__ADS_2