CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Kegusaran Aaron!


__ADS_3

“Sudah lama tak bertemu kamu sudah semakin dewasa, Shell!”


Pria senja selaku orang kepercayaan Aaron Stone menepuk pundak Anshell diiringi senyuman.


“Sudah waktunya bukan kamu menikah dan memberikan cucu untuk kedua orang tuamu?”


Aaron mendengus pelan diringi tatapan tajam pada putra kebanggannya itu.


 “Dia sudah bertunangan dengan Lalisa putra dari Ahmad Handoko.” Aaron menarik nafas pelan seraya memijat pelipisnya.


“Wah, bagus dong. Sebentar lagi anda akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah untuk putra sulung keluarga Stone.”


Bila benar begitu, Damian Lukman ayah dari Andreas Lukman menangkap dua wajah pria yang sama sekali tidak melihat ada rasa senang, begitu juga Anshell sendiri.


Aaron memandangi putra sulungnya. “Dia bertunangan tanpa meminta izin istriku. Padahal kamu tahu, kalau Mommy mu sudah punya wanita yang pantas menjadi istrimu.”


“Siapa?”


Lagi, lagi Aaron menarik nafas. “Kamu bisa tanyakan langsung nanti pada Momy bila Mommy sudah siuman,” kata Aaron.


Tentunya, siapa wanita yang disetujui oleh istrinya harus istrinya sendiri yang mengatakannya.


 “Tadinya Mommy ingin sekali mengatakannya secara langsung bahkan Mommy mu sudah sangat senang bila kamu mau menikahi wanita pilihannya. Tetapi semua ini…”


Anshell diam seraya mengingat hal ini. Ketika otaknya sudah menangkap kejadian di mana Lalisa dan Gavien berciuman dan memutuskan hubungannya dari situ Anshell mengingat alasan Lalisa mundur karena Mommy sudah punya wanita pilihannya sendiri sebelum kecelakaan itu terjadi.


“Aku jadi penasaran dengan wanita pilihan Mommy,” kata Anshell pelan.


Aaron menatap sang istri dan bersemoga Andhita lekas siuman.


“Ya sudah kalau begitu, Dad, Uncle. Anshell pamit keluar sebentar.”


Damian berikan anggukan pelan seraya menatap kepergian keponakannya itu. Pria senja itu menatap Anditha yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.


 “Bagaimana dengan keadaan Anditha?”


Aaron lagi lagi hela nafas ikut memandangi wanita yang sangat dicintainya itu.


“Operasinya berjalan lancar semoga istriku lekas siuman.”


“Amin,” ucap Damian seraya mengusap pundak Aaron.


Damian sudah mengenal lama dengan pria yang berdiri di sampingnya itu, bahkan Damian adalah salah satu orang kepercayaan yang selama ini setia pada Aaron Stone.

__ADS_1


Tetapi, kali ini Damian melihat ada hal yang lain yang sedang dipikirkan oleh pria tersebut dan itu tentunya bukan akan kesehatan wanita yang dicintai Aaron yang terbaring belum siuman melainkan sesuatu yang lain.


“Apa anda ada masalah?”


 Perkataan Damian membuat Aaron yang berada di dunia lamunannya pun tersentak dan turut menoleh kesamping.


“Atau ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran anda beberapa hari ini, Tuan?”


Aaron mengajak Damian untuk duduk di sofa di dalam ruangan inap sang istri.


“Aku hanya sedang memikirkan putraku, Dam.”


Kening Damian mengernyit menatap Aaron. Bukannya Anshell akan segera menikah seperti yang mereka inginkan?


Lalu ada hal apalagi sampai membuat seorang Aaron Stone nampak terlihat menyimpan beban pikiran.


“Sekalipun Anshell tumbuh dewasa. Tetapi, tidak di pungkiri kalau putraku sering membuat kedua orang tuanya cemas dan juga ketakutan.”


“Akan apa?”


“Aku merasa putraku kembali kedua puluh tahun lalu. Kamu ingat bukan bagaimana putraku ketika berusia dua belas tahun, Dam?”


Damian mengangguk ingat dengan kejadian dua puluh tahun yang lalu.


Bola mata Damian mendelik. “Darren?”


“Ya. Anshell menghajar habis-habisan Darren hingga cacat. Aku takut putraku kembali seperti dulu,” ucap Aaron diiringi hembusan nafas berat.


“Belum ini Anshell berhasil membawa pendonor ginjal untuk istriku di saat aku sendiri yang sudah ikut mencari dan begitupun anak buahku.


“Selalu nihil. Tidak dengan putraku yang begitu singkat dalam beberapa hari saja dia sudah mendapatkannya.


“Aku takut ada seseorang yang Anshell ancam untuk menyerahkan satu ginjalnya dan aku tidak mau,” ungkap Aaron pada asisten pribadinya dulu yang amat Aaron percaya.


“Saya akan menyelidik semuanya, Tuan!”


Aaron mengangguk pelan dan percaya kalau Damian akan cepat mendapatkan informasi.


“Terima kasih, Dam. Sekarang ini yang bisa aku andalkan cuman kamu di saat Gerry dan Ken begitu tundak pada putraku. Aku yakin kalau putraku mengancam mereka agar tidak berbicara.”


“Anda tenang saja Tuan. Saya akan mencari tahu sekalipun Gerry dan Ken termakan ancaman Anshell.”


Aaron berikan anggukan tahu, kalau pekerjaan Damian tidak bisa diragukan lagi.

__ADS_1


“Lukamu masih basah, Aretha. Kamu belum bisa pulang.”


 Ken mencegah Aretha yang tengah merapikan pakaiannya dan bersiap untuk pulang ke apartemen.


“Tapi aku ingin pulang, Ken. Aku sudah janji pada Xandra kalau aku akan datang.”


“Astaga. Kamu mencemaskan Xandra dan mengabaikan dirimu sendiri, hah?” seru Ken tidak percaya pada wanita di depannya itu.


“Xandra sudah aku urus dengan baik, Kak. Jangan berlebihan mencemaskan orang lain karena Kakaknya sendiri saja sama sekali tidak pernah datang untuk menjenguknya,” sela Dygta.


Ken mengangguk setuju, focus Anshell pada operasi dan juga kesembuhan Anditha, Mommynya sendiri mana ada Anshell ingat dengan adiknya yang cacat dan tengah berjuang untuk pulih.


“Hah. Nggak usah jauh-jauh, deh. Jangankan peduli pada adiknya sendiri. Selama istrinya di rawat di rumah sakit atas perbuatan nya itu saja selama ini diabaikan.


“Dari zaman honeymoon, masa pemulihan dan juga serangkaian tes saja pria itu tidak datang.


“Apalagi kini Aretha sudah mendonorkan satu ginjalnya, mana ada batang hidung pria itu datang ke sini untuk melihat keadaan Aretha,” ungkap Ken, ikut geram.


Meski Anshell di sini The Boss dan di hanya orang kepercayaannya. Tetap saja perbuatan Anshell sama sekali tidak dibenarkan.


Suami macam apa hanya menghubungi nya untuk menanyakan keadaan Aretha tanpa bertemu dengan istrinya langsung.


Tentunya jawabanya, Anshell tidak peduli dengan kesehatan Aretha bukan?


Bukannya bertemu dan berbicara langsung dengan Aretha itu akan lebih afdol lagi dan membuat sedikitnya hati wanita itu merasa senang?


“Ini baru hari keempat kami baru selesai operasi. Masa pemulihan masih lama.


 “Entah satu minggu atau sampai dua minggu lagi kamu harus tetap di sini sesuai instruksi Dokter Kevin,” kata Ken seraya mengingatkan Aretha.


Dygta mengangguk setuju. “Sudahlah Kak. Masalah Xandra biar aku yang bicara kalau kamu belum bisa berkunjung lagi, Kak. Sekarang fokuskan saja pada kesembuhanmu dulu baru kamu merawat Xandra,” timpal Dygta yang dianggukan oleh Ken setuju.


Aretha mendesah pelan seraya memandangi dua pria yang duduk dengan santai.


 “Aku sudah baikan dan aku sudah sembuh. Aku ingin di rawat di rumah saja, Ken, Dygta.


“Aku bosan di rumah sakit terus dan aku ingin sekali bertemu dengan Kakakmu, Bebby. Aku rindu dengan dia,” ungkap Aretha dengan kedua mata basah.


Mungkin bertemu dan sedikit bercerita dengan Bebby akan membuat hati Aretha lega sekalipun Aretha tidak mungkin menceritakan secara detailnya.


Dia hanya butuh teman untuk berbicara karena wanita malang itu sudah tidak bisa lagi mengungkapkan rasa sakit hati dan juga kecewanya pada siapa lagi.


Aretha sudah tidak tahan dengan semua ini dan ingin lekas keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


“Aku akan hubungi Anshell kalau begitu. Kamu minta izin saja pada suamimu. Bagaimana?”


__ADS_2