
“Tuan…”
Gerry masuk ke dalam ruangan kerja Anshell dengan membawa lima map berwarna biru.
“Aku lagi tidak mood buat mengurus pekerjaan Gerry, limpahkan saja pada Jordan. Bilang pada pria itu untuk mengurus semua perusahaan” ujar Anshell seraya memijit pelipisnya yang berdenyut pusing.
Gerry mengangguk paham, pria paruh baya itu pun meletakan lima map berwarna biru tepat di depan tuannya.
“Saya ke sini bukan membawa dokumen pekerjaan, Tuan. Tapi, saya membawa document lima calon pendonor ginjal. Dua dari lama diantaranya adalah wanita yang bersedia memberikan ginjalnya dengan bayaran yang besar,” ujar Gerry.
“Harga tidak jadi masalah bagiku. Aku hanya ingin Mommyku kembali sehat itulah yang lebih penting.”
Gerry berikan anggukan paham. “Apa kau sudah menyelidiki kasus kecelakaan beruntun yang menyebabkan Mommy dan adikku terluka parah?”
Anshell mengambil map yang diletakan oleh Gerry. “Menurut saksi mata, mobil yang di Kendari Jojo mengalami rem blong hingga menabrak mobil truk muat barang bangunan hingga mengakibatkan kecelakaan beruntun.”
“Oh, ya. Lalu bagaimana dengan Jojo?”
“Jojo kritis dan sama berada di ruang operasi.”
Anshell membulatkan bola matanya, pria itu tersentak kaget dengan map terakhir.
“Dia mendonorkan ginjalnya juga?”
“Maksud Tuan, Nona—”
Aretha memeluk bocah sepuluh tahun berwajah pucat. “Tante senang kamu sudah keluar dari rumah sakit.”
Viola tersenyum lemah sementara Beby tersenyum getir. Putrinya dipaksa dipulangkan karena Dokter sudah angkat tangan. “Dokter sengaja memulangkanku, Tante.”
Aretha mendelik, pandangi Bebby yang berdiri di ambang pintu. “Maksudnya gimana, Beb? Kenapa dokter memulangkan Viola?”
Bebby mendekat dan memeluk Aretha. Wanita itu menangis di pelukan teman baiknya itu.
“Kamu akan sembuh, Nak. Ibu janji kamu pasti sembuh.”
“Bu…” lirih Viola mengusap pundak Bebby yang menangis. “Viola sudah tidak sanggup lagi. Viola nyerah, Bu. Lagian biayanya akan besar kalau Viola di rumah sakit,” kata putri gadis Bebby.
“Husshh… jangan seperti itu. Bebby pasti sembuh, Nenek yakin. Kita besok pergi ke rumah sakit negeri di kota Bandung. Kamu jangan menyerah yah, cu.”
Nek Ijah memeluk cucu satu-satunya dan juga dua wanita di sampingnya.
“Jangan menyerah Nak, Ibu mohon sama kamu. Kamu harus kuat, sudah jangan memikirkan biaya pengobatan. Ibu akan berusaha sekeras apapun agar kamu sembuh.”
Dygta menyeka air matanya mendengarkan tangisan wanita di dalam kamar bercat pink. “Ibu janji, kalau Viola sembuh. Ibu akan mengajak Viola ke Korea ketemu idola Viola di sana, ibu Janji. Tapi, kamu harus sembuh dulu Nak.”
__ADS_1
Beby menggenggam erat tangan sang putri, tangan yang begitu kecil. “Bu…”
“Tolong jangan berbicara yang lain-lain. Ibu dan Nenek sudah berencana akan membawamu ke Bandung. Kamu akan sembuh di sana. Ibu mohon, ibu tidak sanggup kehilanganmu, Nak.”
Aretha mengangguk pelan diiringi tangisan begitu juga Nek Ijah yang selama ini selalu ada bersama cucu kesayangannya dimana Bebby berkerja keras untuk mencari uang untuk pengobatan putrinya.
Pengorban seorang ibu begitu besar, bahkan demi kesembuhan sang putri yang mengidap penyakit leukimia membuat Bebby memutuskan jalan pintas untuk mencari uang yang besar untuk pengobatan Viola yang tidak sedikit.
Dengan menjadi wanita malam di Club Madam Olive lah, Bebby mampu membayar ruang inap dan obat dengan jumlah yang tidak main-main besarnya.
“Siapkan barang kalian. Kita ke Singapore,” ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar bercat pink.
Keempat wanita yang tengah menangis pun sontak kedatangan Toby yang mendadak dan sudah berdiri di depannya. “Maksudmu?”
“Aku butuh penjelasan, Beb. Tapi aku ingin kamu jelaskan setelah kita pergi ke Singapore.
"Ada salah satu teman Anshell di Singapore yang menangani penyakit seperti ini. Jadi, tolong jangan membuang waktu karena sejam lagi pesawatku harus fly,” ucap Toby tak ingin dibantah lagi.
Ini demi menyelamatkan putri, calon anak tirinya. Dia pun sama tidak mau kehilangan putri cantik yang menatapnya dengan tatapan sendu.
“Ayo, Bu. Berkemas.”
“Tapi, Nak. Kalau ke sana kan harus pakai paspor? Ibu kan nggak punya passport.”
Toby mendengus pelan, tentunya dia sudah menyiapkan semuanya ketika Nek ijah dan Beby disuruh mendatangi kantor kesehatan masyarakat untuk mengurus segala asuransi untuk Viola.
“By…” panggil Bebbey lirih. Wanita itu menatap Toby dengan linangan air mata.
Beby malu dengan bentuk kebaikan Toby selama ini. Toby memeluk keempat wanita di depannya sekalipun kedua lengan yang terbentang panjang itu tidak cukup memeluk semuanya.
“Sssstt…. Kalian nggak usah menangis. Aku akan lebih menderita bila kamu khususnya, patah semangat.”
Toby meraih tangan kecil nan pucat, pria itu tersenyum lebar. “Aku ingin kamu sembuh. Bisakah putriku bersemangat untuk berjuang hidup?”
Viola mengangguk pelan. “Terima kasih, Om.”
Toby berikan anggukan pelan. “Sekarang, ayo. Kita siap-siap.”
Nek Ijah mengangguk pelan, dia pun lekas bersiap-siap untuk pergi ke Singapore sementara Aretha ikut membantu Nek Ijah.
Bebby memeluk playboy kesayangannya. “Terima kasih banyak, By…”
Toby mengecup puncak kepala Beby seraya menggenggam tangannya. “Kesehatan Viola lebih penting, Beb. Aku sama sepertimu, aku pun tidak mau kehilangan calon anak tiriku,” ujar Toby yang diiringi tawa.
Viola pun ikut tertawa pelan. “Terima kasih, Om. Sudah sayang sama Viola dan juga Ibu.”
__ADS_1
Toby berikan anggukan pelan seraya jawaban.
Dua puluh menit kemudian…
“Kamu ikut saja. Kamu punya paspor kan?”
Aretha berikan anggukan pelan, dia punya. Anshell dulu membuatnya tanpa sepengetahuannya sama dengan apa yang pria itu lakukan ketika menjelaskan dari mana pria itu bisa mendapatkan paspor untuk keluarganya.
“Besok aku bekerja.”
“Berangkat dari sana saja, pakai pesawat pagi bareng sama Dygta. Gimana?”
“Ya, Tha. Yuk, dari pada kamu sendiri di rumah,” bujuk Beby.
Dygta membantu pria berdasi yang entah siapa itu membawa barang-barangnya, untuk sementara sampai Viola sembuh Ibu dan kakaknya akan tinggal di apartemen pria bule tersebut.
Aretha menarik nafas pelan. “Darren gimana?”
“Ah. Ya, aku terlupa. Dia sudah keluar dari ruangan operasi. Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar sekalipun—”
“Sekalipun apa?”
Toby menarik nafas pelan. “Dia akan cacat. Tulung rusuknya patas, Aretha.”
Mata Aretha melebar dengan mulut yang menganga. Toby menggenggam erat tangan Aretha. “Keluarganya akan membawa berobat keluar negeri untuk memulihkan keadaan Darren.”
“Percayalah, Darren kuat dia akan sembuh.”
Bebby memeluk Aretha. “Dia akan baik-baik saja, Tha.”
“Tapi dia seperti itu karena aku, Beb. Sumpah, aku sangat bersalah.”
“Sudahlah sebaiknya kita pergi. Dara akan menghubungiku untuk perkembangan keadaan Darren. Kita pergi sekarang yuk,” ajak Toby.
Aretha menatap rumah baru nan sederhana di depan matanya, Aretha diam sejenak untuk memutuskan apa dia akan tinggal atau ikut mereka.
Gadis kampung itu ingin menebus semua dosanya pada Darren. “Ayo…”
Aretha menarik nafas pelan, dia berikan anggukan pelan dan ikut bersama dengan Toby dan juga Bebby.
“Ka Aretha…. Bisakah kakak pulang?”
Yuk sambil nunggu bab selanjutnya, mampir dulu karya temanku, terima kasih
__ADS_1