
Sebelumnya…
“Ya Tuhan, lihatlah bagaimana Daddy mu begitu bucin pada Mommy?”
Anditah menunjukan ponselnya pada putrinya, Xandra yang melihat pun hanya bisa menjulurkan lidahnya pada sang ibu.
Xandra iri dengan keromantisan dan juga keharmonisan rumah tangga sang ibu yang selalu mesra terus sekalipun ketiga anaknya sudah besar pun.
“Daddy itu terlalu over, orang ke kantor anaknya sendiri juga di telephone in terus. Kayak nggak pernah ketemu aja di rumah,” gerutu Xandra mengomel pada Anditha.
Wanita senja itu mencolek dagu sang putri. “Ish, kamu ini sirik terus sama Mommy dan Daddy. Makanya cepat punya pacar terus menikah dan romantisan terus deh kayak Mami,” ujar Anditha seraya menggeser tombol hijau.
Wajah Aaron begitu jelas dan terpangpang di layar persegi tersebut. “Ini lagi di jalan sayang. Sebentar lagi juga sampai di rumah.”
“Lama sekali? Kalian nggak mampir dulu kan?” tanya Aaron di seberang sana.
Anditha menggeleng pelan, tidak. Sudah sore dan dia pun sudah berbelanja banyak masa iya mampir lagi.
“Dad. Mesra-mesranya itu jangan di sini, tar saja di rumah apa nggak mau sama anak sendiri?” omel Xandra.
“Makanya cari pacar Nak. Sepertinya Ceo Logan Grup cocok bersanding dengan putri kita,” ujar Aaron.
Bola mata Xandra membulat, gadis itu sontak mengambil ponsel boba sang ibu untuk berbicara dengan Aaron. “Maksud Daddy apa?”
“Aku nggak mau yah Dad ada perjodohan-perjodohan. Aku juga masih muda dan masih ingin menikmati kesendirianku. Yang harus Daddy jodohkan itu ka Anshell yang nggak nikah-nikah!”
“Ish, anak canti Daddy kalau sudah ngomong Ceo Logan Grup suka pakai toa ya Mom. Sejak dulu sampai sekarang kalian masih saja tetap kayak Tom and Jerry.”
Anditah pandangi putrinya yang mencebikkan bibirnya.
“Siapa sih yang kalian maksud? Mommy nggak tahu Ceo Logan Grup itu siapa?”
“Nah, kan. Mommy sok amnesia. Siapa lagi kalau putra dari mantan tunangan Mommy, Raden Darren Latif Hadinata.” Jawaban Aaron seolah sindiran pada istrinya di mana dulu istrinya pernah bertunangan dengan ayah dari Darren.
Anditha mendengus pelan. “Menyebalkan, Daddy kalau ungkit-ungkit masa lalu tar malam Daddy tidur di luar!”
“Ampun sayang. Enggak lagi,” jawab Aaron dengan tawa.
“Cepatlah pulang sayang, ini aku sudah ada di gerbang mansion kita.”
“Astaga, sayang. Bisakah kamu bersabar ini juga mobil jalan kok. Jojo juga bawa mobilnya agak cepat. Tunggulah.”
__ADS_1
“Loh, Jo… ada apa ini?”
“Iyah uncle Jo.”
“Kalau mobilnya nggak enak dipake berhenti saja dulu dan cek dulu atau kita naik taxi,” ujar Anditha.
“Ada apa sayang?”
“Nggak tahu mobilnya nggak enak di pake. Perasaan tadi saat kita berangkat Jojo sudah check semuanya.”
Aaron menjadi khawatir pada istri dan anaknya. “Apa si Ahmad belum service mobil kita?”
“Sudah, Tuan. Ini baru di service…”
“Awass Jo depan kamu….”
“Berhenti Jo… Saya akan menyusul istriku. Jangan memaksakan untuk jalan.”
“Sial!” umpat Jojo dalam hati.
“Merunduk Nyonya dan Nona. Rem mobilnya Blong.”
“Uncle Jo…. Awas truk bangu—”
Brag!
“Ka Anshell di sini,” seru Xandra memanggil sang Kakak yang baru saja masuk ke dalam ruangan IGD.
Anshell berjalan cepat seraya menghampiri sang adik yang berdiri di salah satu ruangan. Bibirnya ingin sekali menanyakan bagaimana keadaan Mommy dan juga adiknya.
Namun, tangannya lebih dulu menyibakan kain pembatas di mana ada dua orang dokter dan juga dua perawat dengan menangani sang adik.
“Dokter Anshell,” kata Dokter muda yang terkejut melihat kedatangan seniornya.
Anshell bergerak cepat menggulung lengan kemeja panjangnya, lalu dia ikut turun menolong nyawa sang adik. “Bagaimana keadaan adik saya?”
Pandangan keempat orang di dalam pun membulat lebar, dia tidak tahu kalau wanita cantik ini adalah adik dari Dokter Anshell.
“Jelaskan keadaan,” pinta Anshell seraya dia pun memeriksa kembali sang adik.
“Gcs berapa?”
__ADS_1
“Lima, Dok!”
“Hubungi Kevin bilang padanya saya butuh ruangan operasi segera mungkin dan panggil dokter ortopedi untuk segera ke ruangan operasi. Saya butuh semua cepat!”
“Siap, Dok.”
Anshell tak lepas pandangi sang adik yang terlihat menyedihkan dengan paha yang tertancap besi, sebagai seorang kakak tentunya dia ingin melakukan hal yang terbaik untuk menolongnya sekalipun jauh dari hatinya dia merasa sedih.
Anshell pandangi kedua tangannya. Tuhan dengan instant membalas perbuatannya pada Darren dan juga Aretha di mana dia sudah berjanji pada gadis kampung itu.
Kejadian ini seolah menyertakan akal sehatnya. ‘Apa ini balasan atas perbuatanku? Dua orang yang aku sayangi seperti ini?’
‘Lalu bagaimana keadaan Mommyku?’ batin Anshel bertanya dalam hati.
Anshell terdiam seraya mengikuti suster yang membawa Xandra ke ruangan operasi. Mendadak ingatanya beralih di mana perkataan itu mematahkan hatinya. Aretha dengan gamblangnya mengatakan menyerah.
‘Aku tidak kuat menahan semua ini, An. Aku sungguh menyerah. Aku menyerah. Aku tidak mau berharap padamu lagi.
‘Kejarlah wanita sepuluh tahun mu, bagaimana pun aku mengejarmu dan membuatmu jatuh cinta, itu tidak akan pernah berhasil bila hatimu saja tidak ada aku.’
Kata-kata Aretha terakhir sebelum Aretha benar-benar pergi dari café tersebut.
“Maafkan aku Aretha,” gumam Anshell dalam hati.
Di seberang sana rumah sakit yang berbeda, Toby dan Aretha mendorong blankar dimana Darren sudah mendapatkan pertolongan pertama.
Aretha hampir saja menyalahkan dirinya sendiri ketika Darren sudah dua kali apne.
“Jangan menangis, kita harus berdoa dan yakin kalau Darren akan selamat dan sembuh seperti sedia kala. Aku yakin Aretha. Darren pria kuat,” ucap Toby berulang kali dan itu pun tak henti pria bule itu katakana di dalam mobil ambulance.
“Aku akan sangat menyesal bila Darren kenapa-napa, By. Semua ini karena aku kan? Darren dan Anshell berkelahi gara-gara aku.”
“Sssttt…. Sudah jangan menyalahkan diri sendiri. Kita sama-sama berdoa yah, Tha,” ucap Toby seraya merangkul dan menggenggam erat sebelah tangan Aretha.
"Pasien atas nama Darren Hadinata?"
"Ya, saya Dok. Bagaimana keadaan sahabat saya...."
Yuk mampir baca karya temanku sambil nunggu bab selanjutnya.
__ADS_1