
“Wow… makannya banyak sekali, lezat-lezat lagi.”
“Kapan-kapan Kakak akan mengajakmu makan enak kayak gini,” ujar Aretha bervideo call dengan sang adik Agita.
Aretha sedikit bercerita kalau saat ini dia berada di Labuan Bajo dan juga sedikit berbohong kalau Anshell mengajaknya berbulan madu, sekalipun ya semua itu tidak benar.
“Ajak aku liburan juga ya, Ka,” kata Agita yang dianggukan oleh Aretha.
Gadis kampung itu baru saja menyuapkan spageti yang sangat lezat ke dalam mulutnya.
Dia harus makan banyak agar Agita tidak menuduhnya seperti yang tadi di bicarakan. Wajah Aretha terlihat pucat, sang adik di kampung pun cemas dengan keadaanmu.
Tapi, setelah dijelaskan kalau dia hanya masuk angin barulah adiknya itu diam dan tidak banyak bertanya lagi.
“Sudah dulu ya, Git. Ini Toby menelpon, katanya Darren ingin bicara. Tar Kaka sambung lagi.”
“Oke, meet honeymoon yah, ka. Moga cepat dapat kabar bahagia.”
“Kabar apa?” Aretha menyimpan piring yang masih setengah porsi lagi.
“Tentunya keponakanku.”
“Haish, kejauhan itu. Sudah dulu, nanti Kaka sambung,” kata Aretha seraya mengakhiri panggilan dari sang adik.
Baru saja Aretha akan menggeser panggilan dari Toby, Aretha buru-buru mematikan ponselnya ketika mendengarkan suara pintu terbuka.
Dia berpura-pura makan dengan tenang tanpa membuat pria yang baru muncul dari balik pintu itu curiga kalau Toby menghubunginya Darren ingin bicara dengannya.
Aretha mengernyit kening, wajah Anshell mendadak mengerikan. Hati Aretha pun menjadi was-was dia takut kalau Anshell mengetahui kalau Darren menghubunginya.
‘Ah, mana mungkin dia tahu kalau Darren ingin bicara? Mustahil bukan? Sudah jelas wajah yang mengerikan ini berkaitan dengan wanita pujaanya itu. Ya, ini tidak salah lagi,’ batin Aretha.
“Siapa yang menghubungimu, hmm?”
“Agita,” jawab Aretha jujur, kalau dia memang tadi berbicara dan bervideo call dengan adiknya.
Anshell mengambil paksa ponsel yang Aretha genggam erat sekalipun wanita itu memegang segelas air minum.
“Kau berani bohong padaku, hah?”
Anshell sudah melihat kalau Toby menghubunginya. Pria itu membaca pesan yang dikirim Toby kalau Darren ingin berbicara dengannya.
Tidak hanya itu, amarah Anshell semakin menjadi ketika dia melihat beberapa foto Aretha dan Derren tersimpan di galeri ponsel bututnya.
“Kapan kau foto dengan Darren hah?”
Anshell menunjukkan satu foto Aretha dengan Darren yang terlihat mesra.
Ah, bukan mesra tepatnya karena foto sengaja di ambil oleh Toby bahkan foto berempat dengan Toby dan Bebby ketika mereka berada di kontrakan kumuh beberapa waktu lalu.
“Sudah lama dan foto itu berempat bukan berdua?”
Anshell menarik leher Aretha kembali dan otomatis Aretha mengikuti gerakan pria itu yang mengangkat tubuhnya untuk bangun—berdiri.
“Apa yang kalian bicarakan, hah?”
“Apa kau memberitahukan semuanya pada Darren, kau menikah denganku? Ginjal itu?”
“An—ini sakit. Le-pas-kan!”
“Katakan padaku Aretha. Apa kau memberitahukan semuanya pada Darren?” seru Anshell keras.
“Ti-dak! An—”
“Ck! Kau pembohong!” sela Anshell cepat yang diiringi teriakan keras tepat di wajah Aretha.
Kedua mata Aretha basah, Anshell kembali berbuat kasar padanya.
“An. Sa-kit!”
“Lalu apa ini hah?” tunjuk Anshell pada ponsel persegi yang pecah.
__ADS_1
Aretha mendelik, sejak kapan Toby mengirim video padanya. Anshell menekan tanda play dan gambar itu pun muncul.
Wajah Tobi yang pertama kali muncul di layar kecil itu.
“Tha, Darren mau ngomong sama kamu. Oh, ya, apa kamu tahu, Tha.
“Pertama kali Darren siuman dari tidur panjangnya, yang di panggil si brengsek ini yaitu namamu sampai Mama Darren bingung karena putranya memanggil nama wanita yang sama sekali belum pernah putranya ceritakan, hehehe…”
Terlihat dua orang di dalam video itu tertawa begitu juga suara Darren yang terdengar serak mengumpat di dalam video berdurasi 60 detik.
Kini wajah Darren yang memenuhi layar bututnya.
‘Re—’
‘A-ku kem-bali.’ Darren tersenyum lebar di dalam video itu. ‘A-aku a-kan se-gera sem-buh.’
Aretha hanya bisa diam dan menjawab di dalam hati, melihat Darren yang terlihat kesusahan bicara, Aretha tahu kalau pria itu pastinya menahan sakit karena ulah pria brengsek yang di depannya ini.
‘A-aku ing-in me-lindung-I ka-mu da-ri Ka-ka ang-kat-ku.’
Setetes air mata pun pada akhirnya jatuh, Darren adalah pria baik sekalipun sikapnya memaksa. Tapi, pria itu tulus memberikan kasih sayang padanya. Aretha merasakan itu. ‘Ting-gal kan An-shell. Ba-hagi-lah de-nga-n ku, Re—'
‘A-aku sa-yang ka-mu.’
Anshell murka mendengarkan kalimat dari adik angkatnya. Amarah Anshell meledak sudah dan melemparkan tubuh Aretha hingga terhempas ke atas tempat tidur.
Lelaki itu tak mengabaikan jeritan keras Aretha yang terus menghalanginya di saat kedua tangannya dengan paksa membuka pakaian yang dikenakan.
Anshell dikuasai amarah. “An, aku mohon maafkan aku, An…”
Sayangnya, Anshell tak peduli dengan permohonan maaf dan ampun Aretha, dia tidak akan menghentikan gerakannya yang sudah mengunci tubuh Aretha dan menjelajah tubuh sang istri.
Ketika satu celana training sudah terlepas di tubuh wanita itu, Anshell langsung menghimpit dan naik ke atas melummat bibir manis itu dengan kasar.
Tangisan dan permohonannya begitu saja diabaikan. Aretha berteriak kencang meminta Anshell tidak perlu memaksanya bila dia ingin hak nya.
Suaminya bisa berbicara baik-baik dan melakukannya tidak sekeras dan sebrutal ini.
Di bawah sana, Anshell tak henti berusaha menekan adiknya yang besar yang selalu gagal masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa kali pria itu mengumpat kasar, karena pintu rumahnya begitu sempit dan juga kering.
“Aku tidak akan melepaskanmu, lagi jallang! Kau harus menjadi milikku. Darren tidak akan bisa mendapatkanmu!” gerutu Anshell dalam hati.
“Ssst, ah—” lirih Anshell pelan, kedua matanya meredup yang diiringi suara jeritan kesakitan Aretha di bawahnya.
Air mata Aretha tak henti berderai, ia berteriak kencang ketika benda tumpul nan besar itu terus menerobos benteng pertahannya.
Sesak dan rasa sakit bercampur menjadi satu Anshell memasukinya dengan paksa.
Punggung Aretha terangkat dengan satu tangan menahan dada Anshell, gadis itu berucap memohon pada suaminya agar berhenti dan memberi jeda sejenak.
Tubuhnya perlu beradaptasi dengan benda asing di dalam tubuhnya. Tapi, itu percuma.
Anshell terus menghujamnya keras, terus menekan hingga milik pria itu tertelan seluruhnya.
Tidak ada ******* yang memberikan kenikmatan, yang ada air mata yang terus mengalir deras karena rasa sakit yang kini bercampur dengan perih, sudah.
Aretha menghempaskan tubuhnya, kedua matanya memandangi langit-langit kamar itu dengan satu tangan yang memegang lengan Anshell yang menekan lehernya.
Kesakitan ini tidak sebanding dengan hatinya yang terluka, Anshell seperti orang kesetanan terus menekan dan menghujamnya tanpa ampun.
Pria itu menggerakkan pinggulnya cepat, kini kedua tangannya mencengkeram leher Aretha kerat, suara geraman Anshell yang hebat seolah pria itu melampiaskan semuanya—amarah di dalam dadanya pada gadis malang yang hanya menatapnya dengan linangan air mata.
Anshell memang suaminya. Tapi, bisakah pria itu dengan lembut meminta?
Tidak harus dipaksa sampai sesakit ini, karena dia sudah sadar kalau tubuhnya memang sudah dibeli dengan harga yang mahal.
Tapi, kenapa pria itu memperlakukannya seperti wanita jallang?
“Lisa—ah….” Rancu Anshell seraya memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Sakit dan sesak yang sudah tidak bisa dielakan lagi, tidak hanya tubuhnya yang remuk karena suaminya tak henti menghujamnya, tapi hatinya kini hancur ketika nama wanita itu terdengar di mana pria itu menggaulinya.
“Kau brengsek, Lis,” geram Anshell pelan.
Aretha menulikan telinganya dia tidak ingin mendengarkan suaminya terus menyebut wanita itu di mana pria itu tengah menikmati tubuhnya.
Anshell menggeram marah dengan wajah tersirah kecewa, bayangan wajah wanita cantik yang melenguuh di bawah kuasa pria, bercintta dengan hebatnya di dalam sebuah video berdurasi dua puluh menit yang entah siapa yang mengirimnya.
Seingat, Anshell. Wanita itu sudah keluar dari rumah sakit. Tetapi, kenapa wanita itu menghianatinya lagi?
Mana janji wanita itu yang ingin dinikahinya?
Yang dia dapatkan lagi-lagi kekecewaan, seseorang mengirimkan foto messum wanita itu yang tampak bahagia bersama dengan seorang pria yang berbeda tanpa busana dan tidak luput video panas yang membuat Anshell seperti iblis yang bisa menumpahkan semua itu pada gadis tidak bersalah yang tidak henti menangis.
Anshell menggeram keras seiringi amarahnya kian memuncak bersamaan dengan rasa kesal yang teramat dalam ketika melihat dan mendengar pengakuan dari adik angkatnya, Darren.
Sebenarnya, Anshell cemburu kalau gadis kampung ini di sayangi oleh pria lain sekalipun itu saudaranya sendiri.
Dia pun tidak terima ketika melihat foto keakraban Darren dengan sang istri di dalam galeri fotonya.
******* Anshell semakin hebat, tubuhnya ambruk setelah pasukan adiknya itu meledak di dalam rahim Aretha.
Tak ada raut wajah penyesalan, melihat bagaimana Aretha saat ini. Tetapi, Anshell tersenyum puas melihat banyaknya air mata yang tumpah mala mini.
Tubuh Aretha beringsut, air matanya tak henti mengalir.
Anshell membalikan tubuh sang istri dan menatapnya nyalang.
“Jangan menangisi semuanya. Hapus air mata itu dan kembali puaskan aku!”
Kejam, ya, itulah Anshell. Setelah penyatuannya yang pertama tak membuat hati pria itu iba, Anshell kembali tubuhnya terlentang dan kembali menyatukan diri dengannya lagi. Tanpa sedikit pun memberi kesempatan untuk dia menarik napas sejenak.
Anshell kembali menggaulinya dengan kasar.
“Apa kamu seperti ini karena melampiaskan kekecewaan kamu lagi pada wanita itu, An?” tanya Aretha pelan seraya memalingkan wajahnya.
“Ya,” jawab Anshell pendek.
Aretha menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, gadis itu benar-benar mengabaikan remuk tubuhnya dan sakit hatinya yang tidak bisa digantikan dengan apapun.
“Kalau begitu, tumpah kan semuanya agar kamu puas!”
“Ya—”
Anshell mengernyit dalam, bagaimana nikmatnya tubuh sang istri di bawah kuasanya ini.
“Aku tengah menumpahkan semuanya, Jallang!”
Aretha menyeka air matanya yang menghalangi matanya memandang pada jendela kaca.
“Maka bunuhlah aku, An. Hidup pun percuma rasanya bila harus menanggung kesakitan yang kamu berikan ini, An.” Aretha menggeleng, pelan.
“Aku tidak sanggup lagi,” ucap Aretha, terisak.
Diabaikannya rasa sakit yang menghantamnya bertubi-tubi bahkan dia ingin sekali menjerit keras karena tak tahan bagian bawahnya yang sakit dan perih.
“Emphs…. Re….”
Anshell menuju puncaknya, pria itu kini memanggil nama istrinya yang terdengar lembut.
Tetapi sama sekali Aretha tidak mendengarkannya bentuk lenguhaan suaminya. Dia sudah menulikan telinga dan menutup hatinya.
Gadis itu hanya bisa menangis dan menangis. Sakitnya, di saat Anshell puasa telah merenggut kesuciannya dan puas dengan tubuhnya.
Pria itu langsung memunggunginya tanpa sudi memberikan tubuhnya sehelai kain untuk menutupi tubuhnya setelah puas menyalurkan hasratnya, Anshell tertidur pulas.
‘Aku membencimu, An. Sangat. Aku membencimu,’ gumam Aretha pelan.
__ADS_1