
“Loh Bapak di sini?”
Pria itu mendengus ketika Aretha memanggilnya dengan panggilan Bapak.
“Jangan panggil saya Bapak, Tha. Saya masih muda dan saya juga bukan Bapak kamu,” tolak si Pria.
Aretha terkekeh seraya menurunkan beberapa paper bag belanjaan. Toby pun mendekat dan ikut membantu sebelum pria itu menarik kursi untuk Aretha duduk dan bergabung dengannya.
“Panggil Darren saja biar enak ngobrolnya.”
“Oke!” jawab Aretha singkat.
Toby berikan buku menu pada Aretha. “Pesen makan siang dulu, Tha. Kita sudah pesan duluan.”
Aretha berikan anggukan lalu membuka buku menu.
“Jadi kalian berdua saling kenal?” tanya Toby pandangi kedua orang di depannya.
Keduanya mengangguk, tentunya kenal. “Siapa sih yang nggak kenal sama wanita cantik di partynya Mr Lukman.
“Bahkan wanita ini hampir saja akan jadi milik gue kalau nggak abang gue duluan yang narik dia,” ujar Darren.
“Dia klien aku juga di kantor.”
Satu alis Toby terangkat pandangi Darren. “Lo dah baikan sama Xandra?”
Tahu Aretha bekerja di XS-Empire, tentunya Toby pun tahu dengan Ceo tersebut yang tak lain adik dari Anshell dan adik angkat Darren, sayangnya hubungan keduanya tidak akur.
Pria itu menarik sudut bibirnya ke samping.
“Sejak kapan lo pakai jasa perusahan Xandra, bukannya lo berdua sudah kayak kucing dan tikus kalau bertemu?” seru Toby pandangi sahabatnya.
Darren hela nafas pelan. “Kalau bukan Aretha yang datang ke kantor, aku nggak akan mau pakai jasa musuh bebuyutan,” ujar Darren, duduk dengan santai masih pandangi wajah cantik Aretha.
“Jadi Bapak, Eh. Kamu selalu menolak dan nggak mau pakai jasa kantor kami karena itu masalahnya.”
Darren mengangguk, itu memang benar. Aretha yang duduk berhadapan dengan Darren pun mendengus.
“Masalah pribadi kok di bawa-bawa sih. Kamu nggak professional tahu nggak,” sambungnya.
“Dia memang kayak gitu orangnya, Tha. Nggak professional.”
Aretha mengangguk pelan, Darren sama Anshell itu tidak ada bedanya. “Dah lah masalah itu nggak usah dibahas. Sudah basi!”
Pria itu tak ingin membahas permasalahannya dengan Xandra, dia pun mengambil kopi yang di depan lalu menyesapnya.
“Justru gue mau tanya, lo ketemu Aretha dan sudah lama sama dia kenapa nggak kasih tahu gue. Selama ini gue itu cari dia.”
“Lo mana ada hubungin gue. Lo kan super sibuk ngurus perusahan bokap lo. Lagian juga gue nggak tahu lo bakal cari Aretha,” jawab Toby ketus.
“Oh, ya. Memangnya ada hal penting apa sih By, sampai ngedadak gini ngajak ketemuannya.”
Aretha mencoba mengalihkan pembicaraan kedua pria itu, jujur dia masih penasaran akan apa yang ingin disampaikan oleh Toby.
“Nah kan, aku sampai lupa. Aku mau kasih tahu kamu pencariaan tentang paman Dany yang waktu itu Beby minta padaku.”
Bola mata Aretha sontak terkejut. “Kapan Bebby minta?”
“Kamu tidak tahu?”
Aretha menggeleng tidak tahu, seingatnya Bebby hanya meminta foto paman dany dan juga Bibinya.
Aretha tidak tahu kalau Bebby sampai sejauh ini meminta pada pria bule tampan itu.
“Dua minggu yang lalu kalau nggak salah.”
Aretha menggeser kursinya agar lebih dekat lagi dengan Toby. “Terus gimana. Apa paman Dany sudah ditemukan? Aku ingin bertemu dengannya, By.”
__ADS_1
Toby diam sejenak, pandangi Aretha. Dia tahu kalau gadis itu berharap bisa bertemu dengan pamannya, orang yang sudah membuatnya seperti ini di kejar hutangnya dan diancam dijadikan istri ke lima belas.
“By, katakan padaku. Paman Dany sudah ketemu kan?”
Pria itu bukan langsung menjawab pertanyaan Aretha, tetapi menarik nafas pelan sebelum menjelaskan pada Aretha.
“Paman Dany berhasil kabur dari orang-orangku.”
Bola mata Aretha mendelik. “Dia salah satu penjahat ternama juga di kota ini. Paman Dany mantan narapidana, Tha.”
Aretha membekap mulutnya sendiri dengan mata mendelik. “Dia sudah banyak melakukan kejahatan di sini.”
“Sepertinya lo butuh bantuan Andreas, By. Secara dia ganster ibu kota pastinya buat menangkap satu orang bagi dia itu mudah,” saran Darren yang dianggukan Aretha.
Dia teringat tentang Andreas Lukman salah satu gangster berbahaya di kota ini.
“Nanti aku hubungi dia.”
Aretha menatap Toby dalam diam seraya berpikir, selama ini dia dan Nenek tidak tahu bagaimana nasib paman dany yang bekerja di kota. Ternyata pamannya itu penjahat.
“Aku menemukan Bibi Nella istri dari Pamanmu.”
Aretha mengerjapkan kedua bola matanya lambat, gadis itu tersentak dari lamunannya. “Bi Nella?”
“Ya. Kamu tentu mengenalnya bukan?”
“Tentu aku mengenalnya. Di mana dia sekarang, By. Aku ingin bertemu dengan Bibiku.”
“Aku akan ajak kamu bertemu dengan Bi Nella, tapi kamu harus makan siang dulu setelah itu aku akan antarkan dimana Bi Nella berada.”
Aretha pun setuju, dia harus makan yang banyak sebelum pergi ke tempat di mana Bi Nella berada.
“Ya Tuhan, Bi Nella…”
Aretha menatap sedih akan keadaan wanita senja tersebut.
Aretha hendak membuka pintu tersebut, namun Darren langsung menarik tangan Aretha agar gadis kampung itu tidak bersentuhan dengan Bi Nella, sekalipun dua pria itu tahu kalau Aretha merindukan bibinya.
“Jangan mendekat, Aretha cukup di situ saja,” kata Bi Nella, lemah.
Aretha berderai air mata menatap Bi Nella. Seingatnya wajah Bi Nella sangat cantik, berkulit mulus sekalipun dulu datang ke kampung membawa seorang anak kecil.
Tetapi, setelah lima belas tahun tidak bertemu Bi Nella kelihatan sangat tua sekali.
“Ini ruangan isolasi, Aretha. Nggak ada orang yang boleh masuk apa lagi memeluknya,” kata Tobby, melihat tanda di depan ruangan tersebut.
“Kenapa Bibi jadi seperti ini, Bi?”
Wanita senja itu ikut menangis di dalam sana. “Mungkin sudah jalan Bibi, Nak…”
“Bibiku sakit apa, By?”
Pria itu pandangi gadis kampung yang nampak terpukul dengan keadaan Nella. “
“Nanti aku akan cerita padamu,” bisik Toby di telinga Aretha.
“Bicaralah dulu, aku dan Darren ketemu dokter dulu,” kata Toby yang dianggukan Aretha.
Keduanya pun berbincang hangat dengan jarak kedua wanita itu cukup jauh.
Tetapi, tidak mengurangi rasa rindu Aretha pada Bi Nella begitu juga dengan wanita senja itu.
Bi Nella, terkenal ramah dan juga baik.
“Jaga itu dengan baik yah, Nak.”
Bi Nella meminta Aretha untuk menyimpan sesuatu yang sudah tadi wanita senja itu katakana kalau barang ini adalah barang yang sangat berharga.
__ADS_1
“Aku akan menjaganya.”
Bi Nella manggut-manggut percaya. “Jangan sampai berpindah ke tangan pamanmu,” ujarnya lagi.
Aretha pandangi bingung, seraya menatap sebuah cincin berlian.
“Bibi rindu Agita, Nak,” katanya lirih seraya menatap langit-langit kamarnya.
“Nanti Aretha minta Agita datang ke sini sama Nenek. Bibi mau kan bertemu dengan Nenek?”
Air mata Bi Nella berderai, Aretha yang melihat berada di luar pun ingin sekali menghapus air mata tersebut.
“Bibi mau. Bibi ingin meminta maaf pada Nenek, Bibi banyak salah.”
Wanita senja itu menarik napas sejenak.
“Tapi, apa adikmu sudi mengakui wanita tua penyakitan ini adalah ibunya sendiri?”
“Ibu kandungnya?”
“Agita anak yang baik, pastinya dia mau menerima Bibi. Bukannya sudah waktunya bukan kalau Agita tahu siapa ibu kandungnya sendiri dan juga siapa ayahnya?”
Nella mengangguk lemah. Wanita senja itu menarik napas dalam yang terasa sakit. Lebih sakit dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Selama dia melahirkan dua orang putri, tidak ada satupun yang wanita itu urus dengan berikan kasih sayang layaknya ibu di luaran sana.
“Bila Tuhan, mencabut nafasku. Aku ingin bertemu lebih dulu dengan anak-anakku. Bibi ingin sekali bertemu dengan Dessy, putri kecilku yang pamanmu jual pada orang kaya.
Wanita senja itu menoleh ke samping dan pandangi Aretha
. “Apa Bibi punya fotonya?”
Wanita senja itu menarik napas panjang dengan kernyitan di kening.
“Semua tentang Desy ada di buku harian Bibi.”
Suster mendekat dan memintanya untuk mengambilkan buku jurnal sewaktu dulu dia menulis semua hal yang penting di sana.
Suster memberikan buku merah tersebut pada Aretha.
“Bibi tidak mau memberatkan kamu Aretha. Bibi tahu mungkin akan sulit mencari Dessy karena kejadian itu sudah sangat lama sekali. Dua puluh tahun yang lalu.”
“Bibi tidak mau merepotkan keluargamu lagi, Bibi tidak tahu bagaimana cara Bibi membalas kebaikan Nek Lastri, Ibumu dan juga kamu yang selama ini membantu menjaga Agita.”
“Jangan menyerah Bi, Aretha akan berusaha mencari Dessy. Bibi harus sehat lagi agar bisa bekumpul dengan anak-anak, Bibi.”
Nella berikan senyum lembar pada Aretha sebagai tanda terima kasih.
“Apa yang kamu baca?”
Toby menoleh ke samping di mana sejak pulang dari rumah sakit Aretha sibuk membaca buku berwarna merah tersebut.
“Buku harian Bi Nella. Dia memintaku ingin bertemu dengan Agita dan juga satu putrinya yang dijual oleh paman Dany.”
Aretha berikan foto berwarna hitam putih pada Toby, mungkin foto itu Dessy putri pertama Bi Nella yang tadi diceritakan.
“Kok wajahnya familiar ya,” kata Toby pelan.
“Aku merasa pernah melihat gadis kecil ini. Tapi di mana…”
“Boleh aku lihat.” Darren pun jadi penasaran dengan foto kecil tersebut.
Diberikannya foto hitam tersebut pada Darren, wajah tampan itu berubah menatapnya tajam.
“Kamu mengenal gadis kecil itu, Ren?”
Darren pandangi Toby sejenak lalu bergantian pada Aretha yang sama menunggu jawaban.
__ADS_1
“Ya, aku mengenalnya. Gadis ini adalah….”