CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Serangan Jantung!


__ADS_3

“Maafin Nenek ya, Nduk.” Wanita tua itu menarik napas berat nan sesak. Nek Lastri baru saja sadar.


“Nenek minta  maaf kenapa? Nenek nggak salah kok sama Retha dan Gita.”


“Tapi Nenek sudah merepotkan kalian berdua,” kata Nek Lastri, lemah.


Aretha mengusap tangan keriput Nek Lastri, orang tua satu-satunya yang Aretha punya di dunia ini.


“Jangan bilang gitu, Nek. Kita nggak ngerasa direpotin sama Nenek. Iyah kan Git?” tanya Aretha seraya mencolek tangan Agita.


Gadis Sma itu bukan langsung menjawab. Tetapi, masih berada di dunia tetangga bersama dengan pria di depannya.


Bukan tatapan romantis penuh cinta yang Aretah lihat. Tetapi, tatapan permusuhan yang dilayangkan gadis tomboy itu.


“Ya, Tuhan. Ada apa dengan dua adikku itu,” batin Aretha seraya menghela nafas pelan.


Bagi, Aretha. Dygta sudah seperti adiknya sendiri. Bahkan pria itu lebih memilih menemaninya ke kampung halaman dari pada mengantarkan keponakannya ke rumah sakit.


Alasanya, Dygta cukup simple. Dia takut dirinya menangis sepanjang jalan meski itu tidak mungkin juga.


“Padahal Dygta itu ganteng lo, Git,” bisik Aretha seraya membangunkan adiknya dari alam peperangan yang belum kunjung selesai sejak tadi.


Bola mata Agita langsung membulat. “Ck! Sekalipun dia ganteng, Ka. Aku nggak suka!” kata Agita keras.


Gadis itu terlupa kembali di mana dia berada. Nek Lastri yang mendengar pun ikut menarik napas pandangi dua cucunya tersebut.


“Jangan kelewat benci, Git. Hati-hati nanti jadi cinta loh,” sindir Aretha lagi, diiringi tawa.


Agita mendengus pelan. “Amit-amit, Ka.”


“Sudah-sudah, Nduk. Nenek pengen pulang bisa nggak? Nenek nggak betah lama-lama di sini.”


“Loh kok, pulang? Dokter tadi bilang Nek itu harus dirawat.”


Nek Lastri mendelik. “Dirawat? Nenek ini sakit apa, Nduk? Orang pingsan doang sampai dibawa ke rumah sakit kayak gini.


"Buang-buang duit, Nduk. Sana kamu bilang sama dokter. Nenek mau pulang sekarang,” kata Nek Lastri dengan susah menyampaikan keinginannya.


Nek Lastri bangun dari rebahannya dan duduk berdepanan dengan Aretha cucu pertamanya.


“Nenek ini kecapean karena kebanyakan di kebun dan juga di sawah. Nggak istirahat yang cukup jadi kayak gini.”


Nek Lastri memaksa bangun dari duduknya untuk memperlihatkan bahwa dirinya itu baik-baik saja.


“Nek, sudah sembuh. Nenek ingin pulang, Nduk,” potres Nek Lastri. Selain tidak terbiasa berada di rumah sakit, Nek Lastri pun tidak mau membebani cucunya. Apa lagi wanita tua itu tahu kalau biaya dirawat di rumah sakit tentunya mahal.


“Nenek nggak mau di rawat.”


Nek Lastri pandangi selang infus yang menggantung di tiang dimana selang tersebut menyambung pada tangannya. Dokter mengatakan kalau Nek Lastri terkena serangan jantung.


“Ya, nanti Retha coba bilang sama dokter apa boleh Nenek pulang atau nggak.”


“Ya, bilangin saja Nenek nggak mau dirawat, Nenek mau di rumah saja,” sela Nek Lastri cepat.


Aretha menggenggam erat tangan Nek Lastri. “Ya, nanti Retha sampaikan sama dokternya. Tapi, Nenek harus cerita sama Retha.


"Kenapa Nenek bisa jatuh pingsan di dapur? Apa lantainya licin?” tanya Aretha. Pandanganya tertuju pada sang adik yang menjaga Neneknya.


Awas saja kalau gadis tomboy manja itu membiarkan lantai licin sampai neneknya jatuh. Paham dengan tatapan Aretha, Agita pun tentunya membela diri.

__ADS_1


“Tiap hari aku pel ka. Nggak licin, tanya saja sama Dimas,” ujar Agita seraya menunjukan di mana Dimas berada.


Pria muda itu pun berikan anggukan pelan, dia sudah memeriksanya sendiri Nek Lastri jatuh hingga tidak sadarkan diri bukan karena terjatuh.


“Terus karena” desak Aretha.


Selama ini dia tahu kalau Neneknya sama sekali tidak punya riwayat apapun. Apa lagi ini mendadak serangan jantung di mana Nek Lastri tidak melakukan kegiatan apapun.


“Sudah-sudah. Nenek itu nggak jatuh,” Hardik Nek Lastri pelan pada dua cucunya yang berdebat dan saling beradu tatap.


“Terus Nenek kenapa bisa jatuh dan pingsan di dapur?” tanya Aretha lagi.


Nek Lastri menarik napas nan sesak seraya pandangi Aretha dengan mata yang mulai basah. “Nenek denger si Rahmat tetangga sebelah kita ngobrol, Nduk.”


“Ish, Nenek ternyata kepo juga ya,” kata Agita diiringi kekehan.


“Husstt. Nggak boleh kayak gitu. Nggak sopan,” omel Aretha.


“Mereka bilang kalau si Udin menjual kamu pada majikannya untuk jadi wanita malam apa itu benar, Nduk?”


Bola mata Aretha mendelik. “Apa si Udin segitu jahatnya pada keluarga kita sampai dia tega melakukan hal itu padamu?” tanya Nek Lastri, setelah mendengarkan pembicaraan Rahmat dengan istrinya,


Nek Lastri mendadak nyeri dada bagian kirinya hingga sadar-sadar wanita tua itu sudah di infus.


“Pak Rahmat harus di sulam bibirnya, biar nggak bergosip,” ujar Aretha kesal.


Pemuda tampan itu menghampiri ranjang Nek Lastri, siapa lagi kalau bukan Dygta.


Pria berlesung pipi kanan kiri itu duduk di tepi ranjang Nek Lastri lalu menggenggam tangan keriput itu.


“Saya bersumpah, Nek. Ka Aretha ini di sana tidak bekerja seperti itu, memang waktu pertama kali datang.


“Tapi, selama ini Ka Aretha bekerja sama saya di café sebelum seperti sekarang ini bekerja di kantor besar,” kata Dygta menjelaskan.


Mata Nek Lastri basah, mendengarkan cerita pria muda itu.


“Benar itu, Nak?”


Aretha berikan anggukan. “Kakaknya Dygta ini yang selama ini menolongku di kota Nek. Bahkan Retha tinggal bersama keluarganya.”


“Terima kasih, Cu,” ucap Nek Lastri seraya menggenggam tangan pemuda tampan di depannya.


“Ya, sudah. Kamu belum tidur, Dyg. Sebaiknya kamu tidur saja dulu. Kaka mau bertemu dengan dokter dulu.”


“Ya, kamu tidur dulu, Nak ganteng. Dari malam Nak ganteng ini belum tidur.


“Jangan cemaskan Nenek. Aretha datangi dokter saja. Nenek udah nggak sabar pengen pulang buat mengamuk sama si Undi. Tega sekali dia menjual cucuku pada majikannya.”


“Saya dukung, Nek. Nanti Dygta bantu Nenek dari samping,” kata Dygta berseru semangat sementara Aretha mendengus pelan pandangi Nenek dan juga Agita.


Ah, lagi lagi adiknya menatap sinis pada Dygta.


“Sudahlah, sebaiknya aku ke ruangan dokter dan bertanya akan kondisi Nenek,” ujar Aretha seraya keluar dari dalam ruangan inap kelas tiga.


“Ya, Tuhan. Kenapa aku bisa terlupa?” Aretha pandangi ponsel bututnya yang bergetar.


Nama Bu Melanie tercantum di layar tersebut.


“Ya, hallo Bu.”

__ADS_1


Aretha duduk sejenak di kursi tunggu setelah keluar dari dalam ruangan dokter.


Nek Lastri sudah diizinkan untuk pulang dan Aretha kini harus membayar administrasi rawat inap Nek Lastri.


“Loh. Kamu nggak masuk, Tha?”


Melanie pandangi meja Aretha yang kosong di sampingnya.


Biasanya gadis itu sudah lebih dulu datang dan sudah berada di depan komputer, tetapi kali ini jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi Aretha belum juga tiba.


“Ya Tuhan, Bu. Maafin Aretha nggak ngabarin Ibu.”


“Loh. Ada apa, Tha?”


“Saya lupa minta izin sama Bu Mel kalau saya tidak masuk hari ini Nenek saya masuk rumah sakit, Bu.”


“Ya Tuhan sakit apa, Tha? Jadi ini kamu di kampung?” tanya Melanie.


“Nek saya serangan jantung, Bu. Meski keadaanya kini membaik. Tapi, tetap saja saya cemas. Maaf aku nggak kasih kabar dulu.”


Melanie di seberang sana pun mengangguk paham.


“Ya, nggak apa-apa. Tha. Ini aku juga kerja sendiri. Aku pikir kamu telat datang.”


“Loh kerja sendiri gimana? Bukannya ada Nona Xandra?” Aretha heran.


Apa Xandra kembali diculik oleh Gavien dan menyekapnya kembali di apartemen seperti yang sudah-sudah pria itu lakukan.


“Kamu belum mendengarkan kabar, Tha?” Melanie bergosip sejenak dengan Aretha di panggilan telepon.


“Apaan, Bu?”


“Non Xandra kecelakaan Tha, sampai sekarang Nona Xandra belum sadarkan diri.”


“Ya, Tuhan. Kapan itu Bu?”


Melanie pada akhirnya bergosip perihal bosnya dan menceritakan sedikit kecelakan Xandra yang dia tahu dari beberapa sumber terpercaya.


Aretha di seberang sana pun merasa sedih. Dia tidak menyangka kalau pembicaranya itu menjadi terakhir kalinya.


“Saya besok pulang Bu. Paling besoknya lagi aku mulai masuk kerja.”


“Ya, Tha. Saya tunggu kamu juga hati-hati di sana yah.”


Aretha mengangguk itu pasti, dan tak lama panggilan telepon pun berakhir di mana Aretha kembali ke rumah Neneknya di mana semua orang kini sudah bersiap untuk pulang setelah Nek Lastri sudah diperiksa dan diberikan Pendidikan kesehatan dari dokter.


“Kamu tidur di kamar, Agita saja dulu Dyg. Istirahat dulu, besok kita pulang agak siangan ya ke kota.”


Dygta mengangguk pelan, paham. “Aku tidur di sofa depan saja ya, Ka. Males debat sama Agita.”


Aretha pandangi adiknya sejenak. “Ya, sudah kamu tidur di kamar kakak saja. Biar kaka istirahat di kamar Gita, sana. Mumpung Nenek juga istirahat.”


Dygta berikan anggukan pelan. Pria itu pun langsung masuk ke dalam kamar Aretha dan tidur di sana.


Aretha baru saja merasakan meluruskan punggungnya tidur dikamar adiknya. Baru saja dia memejamkan mata kini sudah terbangun dimana dia mendengarkan suara keras di luar sana.


“Saya nggak mau dicicil. Saya maunya kamu!”


mampir baca yuk, karya temanku...

__ADS_1



__ADS_2