CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Ancaman Anshell!


__ADS_3

“Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu semua hal ini, Aretha! Hanya enam bulan saja itu cukup bukan untukmu menjadi istri sahku!”


Bola mata Anshell tak lepas menatap manik mata yang menghunus tajam seolah dia tidak terima. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?


 “Istri dari seorang Anshell Damarion Stone—setelah itu kamu akan bebas dariku!”


“Kamu brengsek, An!”


Anshell menarik sudut bibirnya ke samping, menatap penuh benci pada gadis kampung di depannya. “Itu harga yang pantas untuk satu ginjalmu!”


Aretha semakin erat mengepakkan kedua tangannya dengan sorot mata yang semakin menghunus.


Beberapa menit dilanda keheningan, baik Anshell dan Aretha sudah tidak ada lagi satu kata yang terdengar, namun keduanya saling menatap bak keduanya berkomunikasi lewat mata.


Anshell menarik napas panjang, Aretha tidak menjawab ajakannya untuk menikah kontrak. Pria itu pun tak memusingkan hal itu karena sejatinya dia tahu bagaimana sifat Aretha yang keras kepala.


“Kamu tidak mau, hmm?”


Aretha bungkam sekalipun pandangannya tak pernah lepas pada pria di depannya.


Lelaki itu menarik napas sejenak lalu mengayunkan kakinya menuju pintu keluar.


“Baiklah kalau kamu tidak setuju. Aku tidak akan memaksa,” katanya. Lagi, pria itu selalu bersikap santai.


“Selamat atas pernikahanmu dan juga istri kelima belas dari pria tua!” sambung Anshell yang diiringi tawa.


Lelaki itu pergi begitu saja dari dalam kamar Aretha membuat isak tangis Aretha semakin menjadi.


Dua wanita MUA yang ditugaskan oleh Juragan Karto untuk mendandani cantik Aretha sekaligus mengawasinya pun kembali masuk ke dalam kamar. Mereka terkejut ketika melihat wajah cantik Aretha berlinang air mata.


“Apa semenakutkan itu kamu nggak mau menikah sama Juragan Karto, Tha? Yang saya, tahu dia orangnya baik sekalipun ya terkenal kejam di kampung kita.” Satu perias itu membuka obrolan seraya merapikan riasan.


“Kejam itu karena dia itu tegas pada orang yang nggak mau bayar hutang sih, menurutku,” jawab wanita satunya.


“Ya, bener juga sih ya. zaman kayak gini itu susah cari duit sekalinya di pinjemin ya itu suka amnesia kalau sudah ditagih.”


Aretha cukup diam dan mendengarkan saja, bagaimanapun opini mereka tentang Juragan Karto sama sekali tidak membuat hati Aretha sama tenangnya ketika Anshell datang dan menawarkan bantuan yang tidak habis pikir.

__ADS_1


“Tapi, kamu itu beruntung loh, Tha. Jadi istrinya, soalnya kan kalau kamu nggak mau tuh tinggal satu rumah dengan istrinya yang banyak itu kan bisa kamu minta pada juragan bikini rumah sendiri.”


Aretha mendengus pelan. Ia menundukan wajahnya seraya berpikir ketika dua wanita itu telah merapikan riasanya. Dadany kembali sesak ketika mengingat perkataan Anshell yang serupa ancaman padanya.


Ya, Aretha memang menolak menikah dengan Anshell dan itu yang sudah ketiga kalinya. Jujur, Aretha lebih baik menderita daripada melihat teman-temannya menderita karenanya.


‘Aku akan membawa Darren berobat agar dia pulih dengan cepat. Jepang bukan tempat yang cocok dimana dulu aku pernah menangani kasus yang serupa dengan Darren.’


‘Dia akan sembuh dalam waktu hanya dua sampai tiga bulan. Darren tidak akan cacat. Apa hal itu yang akan membuat kamu tertarik dengan ajakanku?’


Aretha mengusap kembali dengan pelan riasan di wajahnya karena air matanya tak kunjung berhenti mengalir. ‘Jawabanku tetap tidak.’


‘Ya. Aku tahu kamu keras kepala. Kamu tidak akan mudah menerima ajakan aku.’


‘Tapi aku yakin setelah ini kamu akan menerima ajakanku karena aku membutuhkan satu ginjalmu dan itu tidak akan membuat kamu mati hanya punya satu ginjal, Aretha.’


‘Aku hanya ingin kamu yang menyerahkan dengan sukarela bagian tubuhmu! Begitu juga tubuhmu. Kalau tidak—’


Dua wanita itu membawa Aretha keluar kamar di mana pengantin pria sudah tiba di kediamannya untuk proses ijab Kabul.


Aretha menunduk seraya kepalanya terus teringat dengan percakapan dengan Anshell.


‘Dia tidak akan bisa mengobati anak dari jallang itu yang mengidap penyakit leukimia. Itu artinya kamu membuat teman-teman di sekitarmu menderita.’


‘Kita masih punya banyak waktu Ka untuk bicara pada si Bule. Pastinya, pria itu tidak akan rela Kakak menikah dengan pria tua itu.’—Dygta.


‘Aku tidak sudi melihat Kakak menikah dengan Juragan Karto itu. Aku bisa nekat merusak acara ini.”


Aretha menyeka pelan air matanya ketika ia kini duduk di samping seorang pria yang tengah berjabat dengan wali dari keluarga Aretha.


Pria itu mengucapkan ijab kabul dengan lantang.


“Saya terima nikah dan kawinnya Aretha Putri Maharanie dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”


“Bagaimana para saksi, SAH?”


“Saaaahhh….” Seru semua orang yang hadir.

__ADS_1


Aretha menitihkan air mata pilu diiringi kedua matanya yang menatap pria yang kini resmi dan sah menjadi suaminya menyematkan cincin di jari manisnya.


Tidak ada rasa bahagia sedikitpun dengan pernikahan terpaksa ini sekalipun dia menikah dengan seorang pangeran tampan di samping.


Sosok pria yang dulu Aretha cintai yang kini Aretha benci dengan perubahannya yang drastic.


‘Bahagialah Aretha karena pada akhirnya impianmu terkabul,’ batin Aretha.


‘Bahagia bila hatinya ada aku dan mencintaiku. Pernikahan ini semata-mata karena paksaan di mana pria itu sukses membuatku bertekuk lutut dengan segala ancamannya.’


Dulu ini adalah impiannya bisa menikah dengan seorang pangeran tampan, tapi sekarang ini bukan lagi impiannya karena sama sekali hatinya pun tidak bahagia.


Acara pernikahan yang digelar secara meriah oleh Juragan Karto pun akhirnya selesai sekalipun tadi pagi ada kendala dan kekacauan kecil. Namun, semua itu sudah diselesaikan dengan jalan damai.


“Biar Gita yang membereskan semuanya, Kakak masuk saja ke kamar mandi yang bersih, istirahat Ka. Pasti capek kan?”


Aretha berikan anggukan pelan, bukan cape tenaga karena dia sejak tadi hanya berdiri dan duduk menyapa para tamu undangan yang semuanya kebanyakan tamu Juragan Karto.


Tetapi, cape hati melihat sang suami sibuk dengan ponselnya.


Aretha baru saja keluar dari dalam mandi seraya mengeringkan rambutnya yang basah. Sayup, sayup ia berhenti ketika mendengarkan pembicaran di teras samping kamarnya.


Sekalipun gemericik air kolam terdengar keras, telinganya begitu tajam mendengarkan suara tersebut.


“Ya, besok aku pulang ya Hone. Kamu di sana sehat-sehat saja di sana cepetan sembuh karena aku akan mengajakmu liburan.”


Aretha merapatkan tubuhnya di bilik tembok. “Kamu bebas pilih mau kemana. Aku akan ikut.”


“Jangan pesimis dong, Hone. Aku yakin kamu akan sembuh kok, sudahlah nggak usah kamu pikirkan hal itu. Aku percaya kamu akan sehat seperti semula, aku akan merawatmu.”


Aretha langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Dia tahu dengan siapa pria itu tengah berbicara.


“Wanita itu sakit?” batin Aretha bertanya dalam hati.


“Jadi dia—”


Bola mata Aretha membulat, hatinya tak terima bila satu ginjalnya ini diberikan hanya untuk kesembuhan wanita itu.

__ADS_1


yuk mampir baca karya temanku juga



__ADS_2