
“Ya Tuhan, apa kamu kesakitan, Tha? Darahmu merembes lagi di rokmu,” kata Ken seraya melihat rok yang dikenakan Aretha basah.
Ken, Aretha dan juga Anshell sudah berada di salah satu hospital terbesar di Singapore tempat di mana Anditha di rawat.
“Apa masih sakit, Tha? Aku bantu kamu ke toilet untuk berganti?” tawar Ken seraya merangkul bahu Aretha dan membawanya menuju toilet.
Ken sudah memegang satu paper bag berisi pembalut wanita dan juga dalaman wanita di mana Aretha sejak tadi tak kunjung henti mengeluarkan darah.
Wanita itu masih pendarahan, wajahnya saja pun sudah pucat dan lemas. Kejamnya Anshell tidak peduli.
“Turunkan dia!” tegas Anshell.
Ken sebenarnya lelah berdebat dengan Anshell. Aretha harus diselamatkan bahaya kalau sampai terus-terusan wanita itu pendarahan seperti ini.
“Ck! Apa lo buta, Shell? Istri lo pendarahan gini dan lo nggak peduli, hah?”
“Kata gue turunkan dia!”
“Tidak! Gue tidak akan menurunkan dia. Gue hanya nganterin dia ke toilet untuk ganti pembalut doang!”
Anshell meraih senjata apinya yang dia selipkan di punggungnya. “Turunkan dia atau kepala lo berlubang!”
Tubuh Aretha kembali bergemetar, kedua matanya menatap takut pada sang suami.
Sejak, kapan Anshell membawa senjata ke dalam rumah sakit?
“Ken… nggak apa-apa, turunkan saja,” kata Aretha lemah.
Ken membuang nafas berat, dia pun menurunkan Aretha kembali di kursi roda.
“Harusnya lo berikan lagi dia obat untuk menghentikan pendarahan, Shell bukannya diam saja begitu!” gerutu Ken, kesal.
“Nggak usah ikut campur!” balas Anshell, tak ingin dibantah lagi.
“Dorong lagi, Dokter Kevin sudah menunggunya di ruangan ujung,” perintah Anshell yang dianggukan oleh Ken.
Anshell memang kejam, dan begitulah pria itu. Suaminya itu iblis terkutuk yang tak punya hati sama sekali.
Aretha tidak diizinkan untuk beristirahat barang sejenak. Dengan keadaan nya yang menyedihkan pun entah dia masih kuat atau tidak, Anshell sama sekali tidak peduli.
Anak buah Ken membuka dua pintu bercat biru, Ken pun masuk seraya mendorong kursi roda Aretha setelah iblis itu sudah lebih dulu masuk dan bertemu dengan beberapa dokter yang sudah berdiri menunggunya.
“Apa kalian sudah siapkan semuanya?” tanyanya pada tim nya.
Malam ini juga, Anshell akan melakukan tes tersebut untuk segera mendapatkan hasilnya.
“Kita sudah siapkan semuanya, lewat sini, Dok. Dokter Kevin sudah menunggu.”
Anshell mengangguk lalu melirik Ken untuk segera membawa Aretha ke dalam ruangan tindakan. Jantung Aretha berdetak kencang keringat dingin pun mulai bercucuran.
__ADS_1
Dalam hati Aretha hanya merapal doa semoga hasil dari semau tes ini adalah negative.
Aretha masuk ke dalam ruangan tersebut, namun ketika Ken mengantarkan Alea ke depan Kevin. Pria itu langsung melotot.
“Astaga, Shell. Kamu apakan istrimu, hah?”
Kevin terkejut melihat keadaan istri dari seorang Anshell Stone.
“Nggak usah banyak tanya, Kev. Lakukan saja semuanya. Dia itu pandai bersandiwara agar tidak bisa mendonorkan ginjalnya. Padahal aku sudah membayarnya sangat mahal,” kata Anshell dengan santainya.
Dokter Kevin adalah dokter senior yang bertugas pula di rumah sakit swasta yang masih milik keluarga Stone di Singapore.
“Aku akan panggilan Prof Heru yang akan menangi ini, aku jamin Prof Heru akan kecewa bila kamu memperlakukan istrimu tidak layak seperti ini.
Tak lama, Prof Heru datang ke ruangan tersebut. Pria berusia tujuh puluh tahun bergelar profesor dokter itu pun menghampiri kedua anak didiknya.
“Mana peserta donornya?” tanya Prof Heru pada dua pria di depannya.
Kevin menunjukkan Aretha yang duduk di kursi roda dengan keadaan pucat dan lemas.
“Batalkan semuanya!” kata Prof Heru pada Kevin.
Pria itu tersenyum puas, namun di dalam hati.
“Kenapa, Dok?” seru Anshell tidak terima.
Prof Heru membalikan badannya untuk bersitatap dengan anak didik kesayangannya. “Apa kamu bukan seorang dokter?”
Pria senja itu menarik nafasnya perlahan.
“Apa kamu manusia yang punya hati, hm?”
Kening Anshell mengernyit.
“Maksud Prof, apa?”
“Ck! Kamu seperti tidak mengenyam bangku sekolah, Anshell Stone. Percuma gelar mu seorang Profesor bila kamu memperlakukan seorang wanita seperti ini, hm?”
Ada tersirat wajah kecewa yang ditunjukkan pada oleh pria senja itu. Setidaknya dia tahu kalau wanita di depannya itu adalah istri dari Anshell, anak didik kesayangannya.
Namun, cara Anshell memperlakukan wanita itulah yang membuatnya kecewa besar dini.
Anditha memang membutuhkan satu ginjal, tadi wanita itu masih bertahan kuat sampai sejauh ini.
Dari semua lima kandidat itu tidak ada satupun ginjal yang cocok, sekalipun Lalisa sendiri. Anehnya ketika Lalisa melakukan medical check up, wanita itu mendadak masuk rumah sakit.
Anshell menunduk. “Kita cari pendonor lain saja. Saya tidak bisa melakukannya!” kata Prof Heru.
“Kenapa tidak bisa, Prof? Saya ingin segera mendapatkan hasilnya sekarang juga dan menyiapkan operasinya besok,” tekan Anshell pada pria tua di depannya.
__ADS_1
Prof Heru menghembuskan nafas pelan begitu juga Kevin yang berdiri di sampingnya.
“Apa kau bukan dokter, hah? Apa sekejam ini kamu pada istrimu sendiri, hah?
“Kau sudah memperkosssa istrimu sendiri sampai dia mengalami pendarahan hebat dan kau meminta ginjalnya, hah? Manusia macam apa kamu, Anshell!
“Sekalipun uangmu banyak dan bisa membeli satu organ itu bukan tandanya kamu harus bertingkah seenaknya, Anshell!” seru Prof Heru murka.
Anshell diam seraya memandangi Aretha yang sudah terbaring lemah dan tidak berdaya lagi di atas ranjang rumah sakit.
“Istrimu harus sembuh dulu baru melakukan tes itu. Kau ingin cepat tapi kamu sendirilah yang membahayakan wanita itu.
“Jujur, aku kecewa padamu, Ansell dan aku pun menyesali perbuatanku yang sudah berkhianat pada keluarga Stone,” ungkap Prof Heru berlalu pergi meninggalkan ruang tersebut.
“Prof, ini tidak seperti yang anda bayangkan, Prof. wanita itu hanya kebanyakan drama saja,” ujar Anshell seraya menghampiri Prof Heru.
Prof Heru berbalik badan lalu menatap tajam pada pria muda di depannya.
“Begitukah menurutmu, hmm?”
“Tidak memeriksa pun aku sudah bisa mendiagnosa sendiri. Bagian bawahnya lecet bahkan kulitnya mengelupas dan darahnya tak kunjung henti bukan?
“Bila kau tidak mengatasi pendarahannya itu, maka berakhir sudah nyawanya. Istrimu akan mati karena pendarahan,” kata Prof Heru.
“Tapi, Prof!” kata Anshell seraya menahan lengan Prof Heru agar tidak pergi.
Prof Heru membuang napas. “Aku tahu nyawa mommy mu lebih penting dari apapun, hingga kau mengorbankan wanita malang itu.
"Tapi dia juga manusia Shell! Kaulah yang sudah mempersulit dirimu sendiri!
"Bukan aku sudah katakan pada Kevin dan Jordan agar membuat wanita itu moodnya baik dan mau suka rela mendonorkan ginjalnya tanpa ada paksaan.
"Melihat keadaannya mengkhawatirkan seperti ini dia tidak layak menjadi peserta donor, Shell.
“Maaf, sebaiknya kamu cari pendonor lagi saja!” jawab Prof Heru kembali melanjutkan langkahnya keluar.
“Sial!” umpat Anshell, kesal. Dia pun berbalik badan dan berjalan menuju rumah sakit.
Anshell mencengkeram leher Aretha yang terbaring lemah. Dia marah karena Aretha tidak bisa melakukan tes itu dengan cepat.
Wanita itu hanya pasrah, dia hanya menangis dan sudah lelah untuk memberontak.
“Bunuh aku saja An. Mungkin itulah yang akan membuatmu bahagia. Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua ancaman sekalipun kamu akan mengawetkan jasadku untuk dipamerkan pada keluargaku.
“Jujur, aku sudah tidak sanggup, lebih baik aku menyusul kedua orang tuaku,” kata Aretha pelan, penuh harapan kalau dia ingin mati.
Dia sudah tidak ingin lagi hidup di dunia ini karena kemana dia pergi, pria itu pastinya akan mengejarnya seperti apa yang diucapkannya.
Anshell bukan melepaskan cengkeramannya melainkan mengeratkan cengkramannya pada leher Aretha.
__ADS_1
Wajah yang pucat itu seketika memerah, Aretha kesulitan bernafas.
“Kamu memang lebih baik mati, Aretha!”