
“Nona ini berlebihan. Saya malu,” ucap Aretha seraya duduk di karpet bulu empuk milik bosnya.
Semua makanan yang dia bawa sudah di tata di atas meja kecilnya di mana jendela besar itu menghubungkan dengan pemandangan malam yang begitu indah dari atas lantai tiga.
“Kamu malu sama siapa?”
Xandra menatap heran sekretarisnya. Gadis itu pun mulai duduk saling berhadapan dengan semangkuk bakso yang tadi mereka beli.
Tidak hanya bakso, tetapi jajanan lain pinggir jalan pun berada di atas meja panjang tersebut.
“Sama keluarga anda, Nona.”
“Panggil saya Xandra. Jangan bawa embel-embel Nona, sepertinya usia kita juga nggak jauh berbeda bukan?” sela Xandra cepat.
Aretha diam pandangi gadis cantik yang kini telah mengganti baju, Xandra begitu lahap memakan bakso pinggir jalan.
“Mulai detik ini kamu akan jadi temanku!” kata Xandra tak mau dibantah lagi.
Gadis itu butuh seorang teman, mengingat sahabat terbaiknya sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Apa lagi kini tidak ada sosok yang bisa dipercaya lagi. Melihat Aretha yang datang ke apartemen diminta oleh Gavien, dia percaya kalau sekretaris barunya itu bisa dipercaya.
Bola mata Aretha sontak membulat sempurna. “Dan jangan lagi kamu panggil aku Nona bila kita sedang bersama seperti ini.
"Di luar kantor pun jangan. Kamu boleh panggil aku Nona di jam kerja. Apa kamu paham?” tanya Xandra seraya pandangi Aretha.
Wanita itu hanya diam tidak mengangguk apa lagi menjawab, entah apa yang sedang di pikiran sekretaris barunya itu.
Aretha membuang nafas pelan. “Ya, sudah kalau begitu. Tapi, bolehkah setelah ini aku pulang?”
Xandra berikan gelengan, tidak. Tentu, dia ingin lebih dekat mengenal Aretha.
“Makanlah baksonya keburu dingin nggak enak,” ujar Xandra yang dilagukan oleh Aretha.
Baru seumur hidupnya dia tidur diatas kasur yang sangat empuk ini. Aretha pandangi ke samping di mana Xandra sudah terlelap.
Dia bangun dari duduknya dan berjalan menuju balkon kamar Xandra.
“Stttt…”
Aretha menoleh ke kanan lalu berganti ke samping, dia tertawa melihat siapa yang yang ada di sampingnya itu.
“Kenapa belum tidur hmm? Apa kamu nggak bisa tidur?” tanya Anshell.
Aretha menggeleng pelan, dia memang tidak bisa tidur.
“Apa kamu memikirkan aku, hmm?”
“Jangan kepedean, An,” kata Aretha pelan seraya melirik ke belakang, takutnya Xandra bangun.
“Kamarku di sebelah datanglah. Aku kangen, sayang…”
Aretha berikan pelototan. “Jangan ngawur. Aku nggak mau ketahuan kedua orang tuamu. Malu.”
“Nggak apa, jadi kan kita bisa dinikahkan,” ujar Anshell dengan terkekeh.
Aretha mengerjapkan mata lambat ketika pria itu begitu nekat naik ke atas pagar.
“Mau apa?”
__ADS_1
“Pindah ke situ… aku ingin memelukmu.”
“An… ini tinggi loh… jangan nekat… Nanti jatuh An..."
“Ssstttt…. Jangan berisik, kamu akan membangunkan Xandra dan kedua orang tuaku,” kata Anshell lalu pria itu meloncat.
“Astaga. Kamu ya, nekad sekali sih hm…”
Anshell memeluk Aretha. “Aku masih kangen kamu,” bisik Anshell.
Pria jangkung itu mendekatkan wajahnya tak lama menyesap bibir manis Aretha.
“An…” Aretha menolak, dia tidak enak harus berciuman ini dirumah kedua orang tua Anshell.
“Mereka sudah tidur,” bisik Anshell.
Pria tampan itu pun membawa Aretha untuk duduk dan keduanya kembali saling berpagutan di sofa santai balkon kamar Xandra.
“Sayang…” panggilan itu membuat hati Aretha berbunga bunga.
Apalagi dia memeluk Anshell dengan jarak yang dekat seperti ini di sofa panjang.
Anshell membelai rambut panjang Aretha.
“Apa kita menikah saja? Aku tidak sabar menginginkan kamu, Re…”
Aretha menengadahkan kepalanya ke atas dan pandangi Anshell.
“Kamu menikahiku hanya untuk hal itu?”
“Salah satunya itu. kamu ingin halal bukan?”
Dia memang ingin halal, tetapi bila pria itu hanya ingin tubuhnya saja. Aretha tidak mau.
Anshell diam seraya menghela nafas pelan.
“Tapi aku bisa belajar mencintaimu.”
Aretha pandangi Anshell. “Apa kamu akan mengajakku menikah di bawah tangan?”
Pukul enam pagi, Aretha sudah berada di dapur dan menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang.
Menurut, kepala asisten rumah tangga di mansion ini. Mereka bisa sarapan oat atau sandwich jadi Aretha menyiapkan beberapa menu sarapan orang bule.
“Astaga…. Aku mencarimu kemana-mana ternyata ada disini?”
Aretha berikan senyuman. “Pagi Xan…”
“Pagi… kenapa menghilang? Aku cariin kamu loh tadi diatas,” ujar Xandra dengan bibir yang memberengut.
Aretha berikan segelas orange jus dan juga sandwich kesukaan Xandra. “Ini kamu yang buat?”
“Iyah.”
“Kenapa harus repot-repot sih, Tha. Kamu kan bukan pembantu di sini.
"Nanti aku omelin tuh Bu Darmi izinin tamuku memasak.” Xandra menatap wanita senja di depan sana.
“Sudah jangan salahkan dia, saya kok yang memaksa.”
__ADS_1
“Morning… ada apa nih ribut-ribut.”
“Ini, Aretha yang buatin sarapan pagi sebanyak ini,” ujar Xandra menunjukkan menu sarapan kesukaan keluarga Stone.
“Ya, ampun, Nak. Jangan, kita sudah punya chef juga yang masakin loh.”
Andita ikut duduk. “Nggak apa-apa, Nyonya. Lagian saya juga bingung pagi-pagi ngapain.”
“Kamu sih bangunnya kecepetan.”
Andita mengangguk pelan. “Ya, sudah kamu duduk dan sarapan bersama. Mommy tunggu Daddy sama Anshell dulu.”
Xandra berikan anggukan, tetapi dia sudah menggigit sandwich buatan Aretha yang begitu lezat.
“Tha… coba kamu panggilin Anshell di kamarnya. Kalau belum bangun bangunin saja.
"Dia kalau di sini malas minta dibangunin terus nggak kayak di apartemen sendiri pastinya bangun pagi,” ujar Andita yang sudah paham dengan kebiasaan putranya.
Aretha mendelik, dia membangunkan Anshell sama saja dia masuk ke dalam kandang buaya.
Semalam saja, dia begitu susah membujuk pria itu untuk pergi.
Semalam Anshell dengan betah tidur di sampingnya di sofa panjang kamar Xandra seraya memeluknya.
Jangan sampai gawangnya jebol duluan setelah semalam Anshell sudah memintanya yang lebih bahkan pria itu mengajaknya menikah di bawah tangan, alias menikah siri.
Di sinilah Aretha kini berada di dalam kamar Anshell, pria itu tertidur dengan pulas di ranjang besarnya.
“Ini gara-gara Xandra. Aku harus gimana membangunkan kakaknya?”
“An….”
Aretha menepuk pundak Anshell seraya menatap lebih dekat lagi. Dari dekat Anshell begitu tampan dan rupawan tanpa cela sedikitpun.
“An…” seru Aretha, tersentak kaget.
Pria itu menariknya dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
“Bangun, An… kamu disuruh sarapan.”
Aretha mencoba melepaskan pelukan Anshell, tetapi pria itu mengeratkan pelukannya.
“Aku boleh nggak sarapan kamu dulu, hmm?”
“An…”
Anshell mengecup kening Aretha lalu menatap wajah cantik Aretha sekalipun gadis kampung itu tidak bermake up sama sekali, Aretha cantik alami.
“Kita nikah yuk…”
Aretha menarik napas dalam. “Menikah itu bukan hanya ingin kamu menyalurkan hasrat saja, An.
"Menikah itu bukan untuk mainan yang entar kamu kambuh Lalisa kamu dengan seenak udelmu itu cerai aku.
"Hati kamu ini masih ada dia dan aku tidak sanggup kalau menikah hanya karena pelampiasanmu saja.
"Aku juga ingin bahagia, An. Aku juga ingin memiliki kamu seutuhnya tidak mau dibagi oleh siapapun itu.”
“Aku sudah katakan bukan kalau aku akan belajar mencintaimu, Re. Apa kamu tidak percaya padaku?” tanyanya Anshell.
__ADS_1
Aretha menarik napas seraya pandangi mata sapphire di depannya.
“Kalau aku meminta menikah secara sah di depan kedua orang tuamu, menjadikan aku istri sahmu. Apa kamu sanggup?”