
“Bacalah lalu tanda tangani!”
Aretha mengangkat wajahnya lalu pandangi pria yang sudah kehilangan sopan santunya. Anshell melempar map biru itu tepat di wajahnya.
Wajah tampan nan bengis itu tersirat kebencian yang amat nyata, padahal Aretha tidak tahu atas tuduhan Anshell pada orang tuanya.
Tetapi, Aretha percaya penuh kepada kedua orang tuanya bahwa mereka adalah orang tua yang baik dan tidak punya hati jahat seperti apa yang dituduhkan padanya.
“Buka map itu dan cepat tanda tangani apa kamu tuli, hah?” seru Anshel.
Sejenak, ia menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.
Tak ingin banyak berdebat dan juga tak ingin menangisi pria kejam itu, sejujurnya dia lelah menghadapi iblis kejam seperti Anshell.
‘Aku tahu isi dari map yang kamu berikan An,’ batin Aretha. Tidak lain map itu berisi surat perjanjian mereka.
Dengan santainya, Anshell duduk saling berhadapan dengan sang istri, satu kaki yang disilangkan di atas tumpuan kaki satunya.
“Enam bulan sepertinya sangat singkat untukmu. Bagaimana kalau kita perpanjang kontrak kita jadi satu tahun!”
“Sehari pun aku sudah ingin mati daripada mengikuti permainanmu, An!”
Anshell menarik sudut bibirnya ke samping. “Dan aku tidak ingin kau mati lebih dulu sebelum aku puas membuatmu menderita!”
Manik hitam itu menatap Anshell. “Apa kamu sudah tidak punya hati, An?”
“Apa kau tuli dengan apa yang sudah aku katakan padamu sebelumnya, hah? Apa aku harus mengulanginya?” sahut Anshell cepat diiringi gemeretak giginya.
“Bacalah semuanya baru kau tanda tangan. Bila kau tidak mendatanginya aku akan menyeret adikmu agar dia ikut menanggung perbuatan orang tuanya!”
Aretha menatap sendu, benar-benar dia merindukan Anshell yang dulu dia kenal, tapi kini rasa rindu itu berubah menjadi kebencian seperti yang pria itu lakukan padanya.
“Tolong jangan libatkan adikku dan juga Nenekku yang tidak tahu apa-apa di sini.”
Anshell tertawa puas dalam hati, mudah untuk mengancam gadis kampung di depannya ini. “Baiklah. Jadi menurut padaku!”
Anshell menarik napas sejenak untuk berbicara dengan Aretha. “Aku akan jelaskan dan sekali lagi aku ingatkan kau, Aretha.
“Kau akan tinggal di penthouse tanpa pembantu.”
Aretha diam seraya memandangi tiga lembar kertas yang berada di pangkuannya.
“Kau harus merapikan semua sudut ruangan di penthouse.
"Aku tidak suka rumahku berdebu dan kabar baiknya, kau tidak harus menyiapkan sarapan pagi bahkan makan malam untukku karena aku akan makan malam di luar tanpamu!”
Aretha masih diam, gadis itu menutup map tersebut dengan satu tarikan nafas pelan. Semua itu tidak ada masalah untuknya, dia sudah terbiasa merapikan rumahnya.
“Di dalam rumah aku suamimu jadi kau harus menghormati ku, tetapi diluar sana kau bukan siapapun, tetapi pembantuku!”
Pandangan Aretha langsung menuju pada manik mata indah di depannya. Adakah kata-kata yang tidak menyakitkan yang harus dia dengar?
Aretha akui kalau dia memang mencinta Anshell sepenuh hatinya, tapi tidakkah pria itu seperti ini? Sekejam ini padanya?
“Jadilah istri yang baik di dalam rumah dan juga di luar sekalipun aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai istriku!”
Aretha bungkam seraya berpikir dalam diam, jauh di dalam sana hatinya menangis, tetapi dia hanya bisa diam dan tidak ingin menangis di depan Anshell.
__ADS_1
Semakin, dia menangis. Pria itu semakin puas melihat air matanya. “Kau sudah baca nominal uang yang akan kamu terima setiap bulannya?”
Kedua mata Aretha mencari beberapa poin ke bawah, setelah dia kembali membuka map tersebut. Bibirnya langsung mengatup ketika melihat nominal uang yang diberikan Anshell padanya.
“Aku harap kau pandai memakai uang untuk kebutuhan makanmu karena aku tidak akan memberikan satu sen pun bila uang itu habis!” ungkap Anshell.
Bukan masalah nominal yang jadi Aretha permasalahkan di sini, karena dia masih bisa bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan juga keluarganya di kampung.
Gaji Aretha bekerja di kantor Xandra pun sudah cukup besar dan sekali lagi masalah uang Aretha tidak masalah.
“Masalah nenek dan adikmu sudah langsung akan mendapatkan haknya sesuai perjanjian kita, jadi kamu tidak harus repot mentransfer uang karena aku akan mentransfer sejumlah uang untuk mereka hidup.”
“Bisakah poin terakhir di ke lima di hapuskan?”
Sebelah alis Anshell terangkat. “Kau tidak mau?” balik Anshell bertanya dengan tatapan seringaian.
“Ya. Aku tidak setuju, An. Pernikahan ini adalah pernikahan kontrak dan aku hanya selembar istri kontrakmu. Hapus poin kelima karena aku tidak mau,” tolak Aretha.
Gigi Anshell bergerak, pria itu bangun dari duduknya.
“Sekalipun kau istri kontrakku. Aku menikahimu secara sah di mata agama dan juga hukum, jadi—”
Anshell berikan manik mata yang berkobar api kebencian pada gadis kampung di depannya itu. “Aku berhak atas tubuhmu.
"Aku adalah suamimu dan kau harus bisa melayaniku di atas ranjang dengan baik. Bukannya itu tugas seorang istri yang baik, hmm?”
Udara, oksigen kemana? Kenapa mendadak menghilang begitu saja membuat Aretha kehilangan pasokan oksigen kedalam paru-parunya.
“Aku minta kau melayaniku, mulai sekarang!”
“Kalau kau tidak mau melayaniku, maka anakmulah yang akan menggantikannya. Bagaimana?”
Anshell kembali menegakan kepalanya untuk melihat ekspresi Aretha. Benar saja bukan, kalau gadis air mata yang sejak tadi ditahan-tahan oleh gadis kampung itu akhirnya kini lolos juga.
Ya, air mata Aretha membuat dia senang. Anshell ingin gadis itu menangis atas semua bentuk sikap dan lisan nya yang tajam
“Bagaimana kalau kita memulainya hm?”
Tubuh Aretha menegang, mendadak suhu tubuhnya ikut dingin seiring permintaan Anshell.
“Tidak salahnya kita mencoba di kamar belakang? Pesawatku ini tentunya ada kamar untuk kita pergunakan. Come on. Aku sudah tidak sabar dari dulu ingin bercintta denganmu, Aretha.”
“Tapi An. A-Aku—"
Tak lama private jet Anshell tiba di tujuan dan mendarat dengan selamat di salah satu bandara. Anshell tersenyum lebar, dia sudah tidak sabar ingin segera turun dan langsung menuju rumah sakit.
Lalisanya menunggu kedatangannya di sana.
“Cepatlah. Aku ingin segera pergi,” pinta Anshell pada Aretha yang masih duduk.
“Kamu pergi saja lebih dulu, bukannya aku harus ke rumah sakit diantar Ken?”
Anshell mendesah pelan, itu benar. Ken akan mengantarkan Aretha langsung ke rumah sakit. Tapi, kini tujuan Anshell dan Aretha pun sama, satu tujuan ke rumah sakit.
Jadi, dia ingin pergi bersama-sama dengan Aretha. Tak ingin mendengar ocehan gadis kampung, Anshell menarik tangan Aretha agar lekas bangun dan turun.
Dia sudah tidak sabar ingin menghubungi Lalisa kalau dia sudah sampai dan akan langsung ke rumah sakit.
__ADS_1
“Lepaskan, aku bisa turun sendiri tidak usah kamu tarik-tarik aku seperti ini.”
Anshell berikan senyuman tipis itu pun hanya beberapa detik.
“Ya, aku tahu itu. Tapi, beberapa hari kedepan aku ingin memperlakukanmu dengan baik agar semua serangkaian tes pun berjalan lancar dan ginjalmu cocok untuk aku ambil!”
Aretha mendesah lelah dengan jawaban yang selalu sama. Dia hanya pasrah dan mengikuti pria itu yang menariknya seperti anak kambing untuk segera keluar.
Anshell meraih tangan Aretha yang sempat terlepas untuk digenggam ketika menuruni anak tangga.
Anshell malah dikejutkan atas penolakan Aretha yang malah lebih dulu turun melewati dirinya begitu saja tanpa ada satu kata.
Aretha mulai mengacuhkannya dan sejak di pesawat pun wanita itu lebih banyak diam setelah dia menandatangani surat perjanjian hingga surat perceraian pun sudah disiapkan oleh Anshell sendiri.
Sungguh amazing sekali pria satu itu yang telah menyiapkan semuanya secara sempurna.
“Kau mengabaikanku, Aretha?” teriak Anshell, tak terima.
Pria itu dengan cepat menuruni anak tangga dan mengejar Aretha. Ditariknya lengan Aretha dengan cengkeraman keras membuat wanita itu tersentak.
Tubuh kurus Aretha pun tertarik cukup kencang hingga menabrak bidang dada Anshell.
“Sebenarnya maumu apa sih, hah? Aku diam salah, aku banyak bicara salah!” balas Aretha. Dia jadi bingung sendiri dengan pria labil itu yang entah maunya seperti apa.
“Tapi, aku tidak suka diacuhkan seperti ini, paham?!”
Aretha menyentakan tangan Anshell lalu menarik napas dalam-dalam.
“Terserah kamu, An!” jawab Aretha seraya berjalan menuju mobil yang sudah menjemputnya.
Aretha mendadak menghentikan langkahnya sejenak, kedua matanya menangkap pemandangan yang asing di sekitarnya ketika Aretah sendiri sudah melangkah menuju mobil yang terparkir di depannya.
Tidak hanya, Aretha yang bingung dengan sekelilingnya dan juga orang-orang di depannya.
Tapi, Anshell pun tersadar ketika melihat sekelilingnya bukan landasan yang biasa ia temui.
“Ini bukan Changi?” ucap Anshell.
Bola matanya memandangi beberapa orang yang berdiri rapi dengan pakaian putihnya.
“An, kita di mana?” tanya Aretha seraya berjalan menghampiri Anshell yang termangu.
“Entah.”
“Welcome to Komodo Airport Mr and Mrs Stone,” sapa seorang pria paruh baya menyambut kedatangan tamu vvip.
Lima orang itu berjalan menghampiri pasangan pengantin baru yang hendak berbulan madu.
“Komodo Airport?” ulang Ansell bersamaan dengan Aretha. Keduanya pun saling bersitatap.
“Kami dari pihak hotel akan melayani Mr dan Mrs Stone berhoneymoon tiga hari kedepan,” ucap salah seorang manager hotel.
“Honeymoon?” kata Aretha seraya pandangi pria yang berdiri tegak dengan rahang yang mentetat.
“Kita di Labuan Bajo, An?”
__ADS_1