CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Tempat Pegadaian


__ADS_3

" Stone cold , stone cold


you see me standing but i'm dying on the floor


stone cold , stone cold


maybe if i don't cry , i won't feel anymore


stone cold , baby


God knows i tried to feel happy for you "


Suara Demi Levato menggema dalam kamar bernuansa biru itu . Zalia yang masih betah dengan selimutnya berusaha meraih ponselnya yang berdering karena ada panggilan.


" hmmm haloo.... "


Ucap Zalia masih dengan suara seraknya khas orang bangun tidur tanpa melihat siapa yang menelpon.


" halo,, selamat pagi nona .


Apa sekarang kau masih di tempat tidur ? "


Sapa orang yang menelpon Zalia.


" hmmm.... ini siapa ? "


" ini aku Arden


tempat pegadaian waktumu sebagai bayaran untuk mengganti kamera yang kau rusak dua hari lalu "


" oh astaga !! ".


Seru Zalia kaget sambil mendudukan dirinya saat menyadari siapa gerangan yang menelpon dan mengganggu waktu tidurnya di hari minggu.


" maaf pak, saya tidak tau kalau bapak yang menelpon"


Sambung Zalia lagi dengan kesadaran penuh.


" apa menurutmu wajahku sudah sangat tua ?


lagipula aku bukan bapakmu. Panggil aku Arden, tanpa embel-embel pak atau bapak "


Kata Arden dengan kesal.


" maafkan saya tapi apa tidak sopan jika saya hanya memanggil nama anda ? "


" ya sudah , panggil aku ka Arden "


Karena tidak mau berdebat, akhirnya Zalia mengiyakan perkataan Arden,


" baiklah ka Arden " ,


" oh ya ada apa menelponku pagi-pagi ?


apa hari ini aku sudah bisa membayarnya dengan waktuku ? "


Sambung Zalia bertanya pada Arden.


" kedengarannya kau sudah tidak sabar lagi untuk menghabiskan waktumu bersamaku he he "


Ucap Ardan sedikit terkekeh.


" bu ... bu ... bukan seperti itu "


Sanggah Zalia tidak setuju dengan pernyataan


Arden barusan.


" saya hanya ingin cepat membayarnya dan kebetulan hari ini saya tidak punya kesibukan apa-apa "


Sambungnya menjelaskan.


" ok baiklah kalau begitu.


Hari ini aku harus menghadiri acara ulang tahun pamanku di rumahnya jadi aku mau kau menemaniku.


Bagaimana , bisa kan ? "


Tanya Arden penuh harap pada Zalia karena acara seperti ini selalu membuatnya bosan dan terkadang kesal karena mendengar ocehan keluarga besarnya tentang jodoh yang entah tersesat di mana.


" ok. Jam berapa ? "


" jam tujuh malam karena sekalian makan malam bersama keluarga .

__ADS_1


Kirim alamatmu nanti aku akan menjemputmu sekitar jam enam ".


" ok "


Jawab Zalia singkat dan langsung mematikan sambungan telponnya.


Diapun langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebab perutnya juga sudah bereaksi meminta jatahnya sebab jam sudah menunjukan pukul delapan lewat dua puluh menit.


Selesai mandi, Zalia langsung mengirimkan alamat rumahnya pada Arden.


Di tempat lain Arden yang saat itu ada di apartemen pribadinya tersenyum bahagia tatkala sebuah pesan dari Zalia masuk ke ponselnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya sehingga senyuman bahagia itu enggan beranjak dari wajah tampannya padahal Zalia hanya mengirimkan sebuah alamat rumah..


Sesuai pembicaraan sebelumnya saat jam sudah menunjukan pukul enam terlihat mobil mewah Arden memasuki halaman rumah Zalia.


Zalia terlihat begitu sangat cantik malam itu mengenakan gaun brokat selutut berwarna hitam dengan rambut yang diurai ditambah dengan sedikit sapuan make up di wajahnya. Zalia yang hendak dijemput sudah bersiap di teras rumah yang lumayan mewah itu sebab Arden baru saja menghubunginya dan mengatakan bahwa dia sudah berada di depan pagar rumahnya.


Melihat mobil Arden berhenti, Zalia langsung saja mendekat dan membuka pintu mobil kemudian masuk dan duduk di samping Arden yang saat itu duduk di balik kemudi karena tak memakai jasa sopir.


Arden menggelengkan kepalanya saat melihat apa yang dilakukan Zalia. Matanya terus menatap Zalia hingga gadis itu duduk dan memakai sabuk pengamannya.


' benar-benar gadis yang mandiri '


kata Arden dalam hatinya sebab gadis di hadapannya itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan gadis-gadis di luar sana yang masuk mobil saja harus dibukakan pintu terlebih dahulu.


" kenapa melihatku seperti itu "


Tanya Zalia heran karena melihat tatapan Arden.


Karena Arden tak kunjung menjawab pertanyaannya membuat Zalia berpikir sejenak kemudian menganggukan kepala seolah mengerti apa yang ada di pikiran pria tampan yang duduk di sampingnya itu lalu berkata:


" aku tidak semanja yang kak Arden pikirkan.


Selama masih bisa kulakukan sendiri maka akan kulakukan. Tidak semua pria diharuskan untuk membukakan pintu mobil jika harus bepergian dengan wanita "


Mendengar penuturan Zalia , Ardenpun tersenyum kemudian kembali fokus pada benda berbentuk lingkaran yang ada di depannya.


" kita berangkat sekarang "


Ucap Arden seraya membawa mobil miliknya keluar dari halaman rumah gadis itu. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang berdiri di balik jendela dan memandang kepergian mobil itu hingga menghilang di balik pagar tembok. Ada sedikit senyum yang terbit di wajah orang itu.


Dua puluh menit berkendara akhirnya tibalah mereka di kediaman Edward Fransiskus. Ya, yang berulang tahun hari ini adalah ayahnya Zayn.


Saat keduanya tiba di halaman belakang rumah Zayn di sana sudah terlihat lumayan ramai.


Keduanya menjadi pusat perhatian dari hampir seluruh orang yang hadir.


Ardenpun menghampiri Edward dan memberi ucapan selamat ulang tahun pada pria yang hari ini genap berusia enam puluh tahun itu. Mereka saling berpelukan dan tak lupa juga dia menyapa Zayn yang ada di samping sang paman.


Melihat ada gadis cantik di sebelah Arden, Zayn berucap dengan nada dinginnya :


" calon kaka ipar nih ? "


Belum sempat Arden menjawab , Felix yang menghampiri merekapun ikut berkomentar :


" wah ... wah ...wah ... Ada kejutan ni buat kita.


Papi pikir tulang rusukmu sudah dibawa lari sama kucing he he he "


Zalia yang mengerti arah pembicaraan kedua pria di depannya hendak memprotes tapi langsung dihentikan oleh Arden dengan memegang lengan Zalia.


Zaliapun hanya pasrah tapi matanya sedikit melotot ke arah Arden.


" ka Ard . . . . . "


Suara Aretha dari arah belakang membuat semuanya menoleh. Melihat sang adik kesayangan Ardenpun langsung memeluknya.


" hallo my litle baby "


Ucap Arden dengan menyebut nama panggilan kesayangannya pada sang adik.


" kaka tidak mau memperkenalkan gadis cantik yang kaka ajak ke pesta ulang tahun paman malam ini ? "


Kata Aretha sambil melirik gadis cantik di samping kakaknya.


" ini Andary, dia teman baruku "


Sambung Arden menjelaskan sambil melihat ke arah Zalia yang tersenyum kaku.


" halo paman , halo nona , halo tuan salam jumpa dan salam kenal saya Andary"


Kata Zalia sambil tersenyum ke arah Edward , Felix ,Zayn dan juga Aretha secara bergantian.


" ka Ard, apa Aretha boleh pinjam Andary ?

__ADS_1


kasian mami sendirian di mejanya "


Tanya Aretha minta izin pada kakaknnya sambil menunjuk ke arah sang mami yang sedang tersenyum ke mereka.


" silahkan "


Kata Arden singkat dan memberi izin pada adiknya.


" ayo "


Ajak Aretha seraya menggandeng tangan Zalia.


Setelah mereka pergi, Felixpun angkat suara untuk menggoda sang putra :


" itu beneran cuma teman kamu atau akan jadi calon menantu papi ? "


Arden mau menjawab tapi langsung dipotong oleh Zayn dan menyinggung tentang perasaan Arden pada mantan kekasihnya yang sudah putus hampir lima tahun lalu :


" asal paman dan ayah tahu ya,,,,, kakakku yang tampan ini belum move on dari si ibu dokter ".


" apa'an si kamu Zayn, ada-ada saja deh.


Jangan sok tahu... kamu sendiri bagaimana ?


sampai hari ini kamu belum pernah terlihat dekat dengan wanita manapun selain mami dan Aretha "


Melihat Zayn yang diam membuat Edward yang tahu tentang trauma Zayn pada wanitapun berkata :


" sudah . . sudah ... jangan berdebat lagi lebih baik kita nikmati makan malamnya , ayo "


Ajak Edward dan langsung berjalan menuju salah satu meja bundar yang ada di sudut kolam renang diikuti oleh Felix dan dua pria dewasa yang masih betah menjomblo itu.


Sementara itu di meja yang lain Aretha memperkenalkan Zalia pada maminya.


" mami,, ini temannya ka Ard "


Ucap Aretha pada Carlyn.


Carlyn tersenyum ke arah Zalia dan langsung berdiri dari duduknya diapun kemudian memeluk Zalia.


Mendapat pelukan dari wanita yang berusia sudah lebih dari setengah abad itu, hati Zaliapun tiba-tiba terasa hangat sehingga dia tersenyum dan berkata, :


" selamat malam tante,, saya Andary temannya ka Arden " .


Selepas pelukan itu, ketiganyapun kembali duduk.


Carlyn mempersilahkan Zalia untuk menikmati jamuan makan malam yang sudah terhidang di depan mereka.


Ketiganyapun makan bersama sambil bercakap-cakap.


Alhasil,, Zaliapun menceritakan cerita sebenarnya tentang mengapa dia bisa ada di pesta malam ini bersama Arden setelah mendapat berbagai pertanyaan dari Aretha. Tawapun menghiasi perbincangan ketiga wanita cantik itu.


" jadi ceritanya, malam ini ka Arden jadi tempat pegadaian ? ha ha ha "


Ucap Aretha tanpa bisa menahan tawanya.


" bisa jadi "


Sambung Zalia singkat sambil tertawa pula.


Ketiganyapun kembali tertawa bersama.


Malam itu mereka semua yang hadir terlihat bahagia.


Setelah selesai acara semuanyapun terlihat meninggalkan kediaman Edward dan Zayn.


Begitu juga dengan Arden dan Zalia mereka terlihat berpamitan pada Edward kemudian pergi dari rumah itu. Ardenptn kembali mengantar Zalia pulang ke rumahnya.


~


~


~


~


~


~


Semoga suka sama ceritanya.


Ikuti terus dan jangan lupa like dan votenya ya...

__ADS_1


__ADS_2