
“Honeymoon?” kata Aretha seraya pandangi pria yang berdiri tegak dengan rahang yang mentetat.
“Kita di Labuan Bajo, An?” tanya Aretha.
Bolehkah Aretha senang kalau ia sekarang berada di Nusa Tenggara Timur, Labuan Bajo dan bukan di Singapore seperti apa yang pria itu inginkan untuk bertemu dengan Lalisa?
“An…” kata Aretha, pelan.
Gadis kampung itu menengadahkan kepalanya ke atas seraya menghalau sinar matahari yang menyengat menerpa wajahnya.
Tinggi tubuhnya yang hanya sebahu sang suami membuat Aretha harus mendongak ke atas untuk memandangi sang suami yang sejak tadi diam.
Sayangnya, pria itu hanya diam dan tak lepas kedua matanya memandangi sekitarnya.
Mungkin Anshell tengah berpikir siapa yang sudah merubah rute perjalanan ke Singapore jadi ke Nusa Tenggara Timur?
“An—” panggil Aretha, lagi.
Sejenak, pria itu menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.
“Sialan. Ini kalau tidak ulah Jodan pasti ulah si Kevin!” gerutu Anshell, kesal.
Diraihnya ponsel pintarnya untuk menghubungi sahabatnya. Firasatnya seolah tahu siapa yang sudah melakukan semua ini. Anshell yakin semua ini adalah ulah Jordan.
“Ya, Shell.” Panggilan Anshell terhubung dengan Jordan.
Tetapi, si pemanggil itu masih diam di ujung sana.
“Shell…” panggil Jordan lagi, dia baru saja tiba di kantor setelah sampai di ibu kota.
Tentunya karena Anshell sedang berhoneymoon bersama dengan istri, dia harus bersemangat bekerja mengurus tiga perusahan yang Anshell miliki.
“Hallo, Shell,” panggil Jordan lagi.
Diamnya si pemanggil membuat Jordan tertawa pelan. Dia tahu kalau sahabatnya di ujung sana pasti tengah murka padanya.
“Apa lo sudah sampai di tujuan dengan selamat, Shell?” tanya Jordan lagi dan lagi sekalipun pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh sahabatnya.
Jordan tertawa, dia tahu bagaimana di ujung sana wajah sahabatnya yang menyeramkan.
Dia tahu, Anshell pasti tengah marah besar. Jordan pandangi pria paruh baya yang hanya menatap dengan hembusan nafas.
“Saya tidak ikut campur masala Tuan dengan Tuan Anshell. Saya pun tidak mau kena amuk tuan Anshell,” kata Gerry pelan.
Jordan berikan anggukan paham. “Kalau lo nggak mau ngomong, gue mau balik kerja, Shell.
“Gue masih banyak kerjaan yang harus gue selesaikan di sini,” kata Jordan melalui panggilan suara yang masih berjalan.
“Apa lo yang sudah merubah rute perjalanan gue, hah?”
Jordan disana, pura-pura terkejut seolah dia melihat Anshell berada di depannya.
“Kevin nggak tahu menahu. Jadi ini pasti kerjaan lo bukan?” seru Anshell, terdengar marah.
Ya, tentunya pria itu marah. Bagaimana sejak dalam perjalanan di udara pria itu sudah berkhayal banyak.
Anshell ingin bertemu dengan Lalisa dan memeluk wanita yang tengah sakit di sana. Tapi, ini….
Semua angan-angan setinggi langit itu mendadak gagal karena ulah sahabatnya.
“Lo sobat gue yang paling brengsek tau, nggak?!”
Anshell semakin geram, praduganya benar kalau Jordanlah pelakunya.
Dari suara tawa yang terpingkal di sambungan telephonenya, Anshell ingin sekali pulang dan membuat pelajaran pada Jordan.
“Lo kurang kerjaan sampai lo merubah rute perjalanan gue, hah?” tanya Anshell geram, pasalnya pertanyaannya ini di jawab dengan tawa.
__ADS_1
Jordan dengan santai duduk di single sofa ruangannya, wajahnya berbinar senang mendengarkan pria itu sudah tiba dan marah seperti ini.
Ya, dialah yang melakukan semua ini. Harapan Jordan, semoga Anshell bisa berbaikan dengan dendamnya pada gadis malang itu.
“Kapan lagi coba gue ngerjain, lo, Shell.”
“Ah, sialan lo, Jo!” umpat Anshell keras di ujung sana.
Dadanya naik turun seiring pria itu bernafas cepat. Pria itu seolah tidak takut dengan bentuk tindakannya ini.
“Nggak usah marah-marah kayak gitu, dong Shell. Gue sengaja lakuin ini semua karena kapanlagi lo ajak Aretha liburan berdua. Eh—”
“Honeymoon berdua. Bersenang-senanglah menikmati waktu berduaan lo dengan istri lo.
“Sumpahnya, gue kelewat senang karena pada akhirnya dari kita berenam lo duluan yang sudah melepas lajang.”
“Ck! Tapi bukan seperti ini caranya, Jo! Ah, sialan lo!”
Jordan tertawa lepas.
“Cuman tiga hari doang Bos. Dari remaja sampai sekarang kan lo sibuk terus kerja tuh.
“Nggak salahnya bukan mencoba menikmati waktu singkat lo berlibur dengan Aretha? Nggak usah monton kerja terus karena lo nggak kerja pun lo sudah kaya, Shell!”
Bisa dibayangkan oleh Jordan sendiri, bagaimana bengisnya wajah sahabatnya di ujung sana.
Coba, dia mengalihkan panggilan video call, sayangnya Jordan tidak berani.
Wajah Anshell sudah bisa digambarkan bagaimana mengerikan sekalipun dia tidak melihatnya secara langsung.
Sementara Anshell pun sudah dikuasai amarah yang tak tertahankan lagi, sedari tadi dia sudah tidak sabar ingin lekas sampai Singapore untuk bertemu dengan Lalisa.
Tapi, sekarang dia terjebak oleh sahabatnya dan berada di Labuan Bajo.
“Gue nggak mau tahu, lo suruh Gerry mengatur ulang kepulangan gue sekarang!
“Lo nggak akan bisa pulang, Shell. Sorry,” sahut Jordan cepat.
Satu alis Anshell terangkat ke atas. “Gue sudah menahan Gerry, anak buah lo dan juga crew pesawat lo!”
“Apaah?” seru Anshelll keras. “Ya, private jet lo akan ada di sana sampai tiga hari kedepan, namun tanpa pilot dan crewnya.
“Gue sudah memblok semua penerbangan atas nama lo bila lo nekad akan pergi. Sorry, shell lo nggak biasa pulang,” kata Jordan penuh cemas.
Dia tidak ingin membangunkan sang iblis yang bersemayam di tubuh sahabatnya.
Tetapi, dia tidak ingin rencana pun gagal sekalipun konsekuensinya begitu besar.
“Jo!” seru Anshell keras.
“Santai, santai Bro.”
“Sialan, lo Jo!” umpat Anshell, muak dengan sahabatnya.
“Nikmatilah, Shell. Honeymoon lah lebih dulu dengan sang istri. Tidak salahnya bukan membuat istri lo itu bahagia sebelum melakukan serangkaian tes tersebut?
“percaya deh sama gue, Aretha pasti akan senang dan menyerahkan satu ginjalnya dengan ikhlas,” kata Jordan dan itulah keinginannya.
Dia ingin Aretha ikhlas menyerahkan satu organ tubuhnya tidak dengan paksaan karena pria itu telah membayar hutang Aretha sebesar lima milyar.
“Tiga hari donag, tar gue suruh crew lo jemput lo di bandara yang sama!”
Rahang Anshell mengetat hingga sampai terlihat tonjolaan syaraf urat lehernya.
“Ck! Apa lo sudah bosan hidup, Jo?”
“Hehehehe… tentu gue pengen panjang umur, Shell. Gue juga pengen nyusul lo menikah gitu, sayangnya gue nggak punya calonnya!” kata Jordan terdengar curhat.
__ADS_1
“Baik-baik ya sama Aretha, Shell. Buat tiga hari ini honeymoon lo berkesan gitu, Shell.”
Ya, sebagai sahabat terbaiknya, tentunya dia ingin Anshell dan Aretha hidup rukun dan bahagia.
“Persetan dengan anak pembunuh itu, Jo!” seru Anshell, sudah tidak bisa membendung lagi amarahnya.
“Suruh crew itu balik ke sini dan antar gue ke Singapore atau—”
“Gue buat keluarga lo jatuh miskin semiskin miskinnya! Tidak ada orang satupun yang akan membantu keluarga lo dan juga lo, tentunya,” ancam Anshell tak main-main.
Jordan bukannya takut, namun pria itu malah tertawa. Jujur, ada satu hal yang dia khawatirkan disini perihal hal ancaman itu misalnya.
Tetapi, bukan Jordan bila dia tidak punya sesuatu yang bisa membuat Anshell bungkam dan juga menurut padanya.
Pria itu menarik nafas sejenak. “Hh, baiklah. Kalau itu maumu, terserah, Shell. Tapi—”
Ada nada terjeda yang Anshell dengar dari panggilan telephony itu.
“Gue akan aduin semuanya pada bokap lo, Aaron Damarion Stone tentunya.”
Anshell mengumpat keras di ujung sana dan itu terdengar oleh Jordan yang di sini tersenyum penuh kemenangan.
“Bagaimana ya, kalau Aaron Stone mengetahui kalau putra sulung Pewaris Kerajaan Stone Company menikah secara diam-diam tanpa restu kedua orang tuanya?”
Tangan Anshell terkepal erat, Aretha yang mendengarkan perdebatan mereka pun tidak bisa berkata-kata lagi.
Yang Aretha lakukan saat ini hanya menguping pembicaraan Anshell dan Jordan.
“Ck! Lo mengancamu gue, Jo?” geramnya.
“Hah, iya. Sekali-kali lo memang harus di ancam, Shell. Gue tahu sekali, bagaimana murkanya seorang Aaron Stone bila mengetahui hal ini semua.
“Menikah diam-diam dimana keadaan Mommy mu masih terbaring lemah di rumah sakit.
“Bagaimana kecewanya mommy kamu ketika mendengarkan putra kesayangannya membuatnya kecewa.”
Lagi lagi Jordan tersenyum kemenangan. “Dan gue yakin, Shell.
“Sebelum lo buat gua dan keluarga gue jadi gembel di luaran sana. Ketahuilah, lo akan lebih gembel daripada gue.”
“Ditendang dari kartu keluarga, di buang secara tidak hormat—"
“Dan lo bener-bener sengsara, Shell!”
Jordan memberikan ancaman yang paling sadis bila Anshell tidak mau menuruti keinginannya untuk honeymoon dengan Aretha.
Sekalipun tiga perusahan besar di dirikan oleh Anshell Damarion Stone tanpa campur tangan Aaron Stone.
Ketahuilah, seorang Aaron Stone dengan mudah membalikan semua kejayaan apa yang putranya pegang dengan sekejap mata.
“Sialan lo, Jo!”
“Hahahaha…. Selamat honeymoon ya, Shell. Ah, aku senang kalau akhirnya hari ini aku memenangkannya.”
Di sana Jordan tersenyum senang sekalipun Anshell tidak melihatnya.
“Berikan aku kabar gembira setelah berbulan madu, Shell. Berikan gue keponakan yang tampan dan cantik,” ungkap Jo seraya mengakhiri panggilan telephonenya.
“Haaah…. JORDAN SIALAN!” pekik Anshell keras.
“Mari ikut bersama dengan kami, Mr dan Mrs Stone. Kami sudah menyiapkan yacht pribadi untuk menuju ke hotel kami,” kata sang manager hotel pada sepasang pengantin baru.
“An—” Aretha menyikut lengan Anshell.
“Bagaimana ini, An….” Kata Aretha lagi.
“Ck! Honeymoon sialaan dan Jordan sialan!”
__ADS_1