
Zayn Adelard Fransiskus ( 32 tahun )
Zalia Andary Thomas ( 20 tahun )
anaknya tante jahat
( namanya kok sama ya dgn adiknya Zayn ,,, )
suka-sukanya Author dong..😀😀
sssttt. . . . . .
Biar ada yang bisa jadi umpan supaya kepancing konfliknya nanti..... ( emangnya ikan 😃😃 )
Aretha Shylfani Endisyen ( 20 tahun )
Arden Stephandy Endisyen ( 34 tahun )
semoga suka ya....
ini sekedar bayangan dari author saja.
jangan lupa like dan votenya.....
~
~
~
~
~
Dua puluh tahun kemudian......
Sekarang Zayn sudah menggantikan sang ayah menjadi CEO di perusahaan mereka. Begitupun dengan Arden.
Kedua CEO tampan dari dua perusahaan besar itu tetap menjadi sahabat bahkan sudah seperti saudara.
Aretha, yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik masih tetap mendapat perhatian dari dua kakak tampannya. Meski dibesarkan di keluarga kaya raya Aretha tumbuh menjadi gadis yang mandiri skalipun kadangkala dia harus bermanja-manja pada kedua kakaknya itu..
Bagaimana dengan Zalia Andary Thomas ??
Diapun tumbuh di keluarga yang cukup berada tapi kurang kasih sayang. Seorang papa yang tegas dan sedikit kejam karena seorang ketua gang mavia tapi kendati demikian papanya tetap menyayanginya apalagi saat dia sudah mulai beranjak dewasa perhatian papanya semakin jelas di matanya .
Lalu kakak perempuan bernama Vinda Andhyni Thomas yang hanya tahu berdandan dan sedikit egois yang berprofesi sebagai model.
Di tambah lagi sosok mama yang tidak adil dan pilih kasih yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan sang kakak .
Zaliapun tumbuh menjadi gadis yang pendiam dan susah untuk bergaul. Sekalipun semua kebutuhannya terpenuhi tapi hatinya terasa hampa.
Meski dia selalu dikelilingi oleh para bodyguard suruhan papanya namun Zalia tetap merasa kesepian.
Banyak lelaki yang mencoba untuk mendekatinya tapi saat mereka tahu pekerjaan papanya, maka satu per satu dari mereka mundur dengan teratur.
Sehari-hari dia menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa disalah satu universitas ternama di kota Jakarta tempat mereka tinggal.. hari-harinya hanya dia habiskan di kampus , perpustakaan dan kamar tidurnya.
Sangat monoton bukan ??
Hari ini dia sedikit sial karena Vinda melupakan sepatu yang harus dipakainya dalam pemotretan.
Alhasil disinilah dia sekarang setelah dipaksa mamanya untuk mengantarkan sepatu milik Vinda.
Berada di salah satu studio pemotretan milik perusahaan yang dipimpin oleh Arden.
Saat sudah menyerahkan sepatu milik Vinda,, Zalia bergegas untuk segera meninggalkan tempat itu.
Karena terburu-buru kakinya tanpa sengaja tersandung pada salah satu kabel yang melintang di lantai yang hendak dilewatinya.
Bruk...
Bruk...
Prak....prak...
Terdengar bunyi benda jatah di lantai.
Ya, itu bunyi tubuh Zalia yang terjungkal ke lantai serta bunyi salah satu kamera yang terhubung dengan kabel yang menyandung kaki Zalia.
Sontak semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke sumber suara dan langsung berlari ketika melihat salah satu kamera utama untuk pemotretan sudah jatuh dan berserakan di lantai.
__ADS_1
" mata kamu di mana ? "
Bentak seorang pria brewok pada Zalia
" ma..ma..maafkan saya pak.
Saya benar-benar tidak sengaja "
Ucap Zalia dengan suaranya yang bergetar.
" maaf . . . maaf ,
enak skali kamu bilang maaf.
Kamu tahu berapa harga kamera ini ?
gajiku setahun saja sebagai fotografer belum tentu bisa membelinya. Haah .. "
kata si brewok masih dengan nada marahnya.
Zalia hanya menunduk ketakutan sambil meremas ibu jari tangan kirinya. Saat Zalia mengangkat kepala, pandangannya beradu dengan Vinda tersirat harapan dalam tatapan mata Zalia semoga Vinda mau menolongnya, Tapi Vinda tetaplah Vinda dengan sikap egoisnya. Vinda malah sibuk dengan make-up diwajahnya tanpa menghiraukan Zalia yang masih setia mendengarkan omelan si pria brewok.
Dari arah pintu nampak seorang pria tampan yang masuk ke ruang pemotretan karena kebetulan lewat di depan ruangan dan mendengar keributan yang terjadi. Siapa lagi kalau bukan sang CEO, Arden Stephandy Endisyen.
Melihat kedatangan orang nomor satu di perusahaan mereka, sontak membuat semua kru dan para model langsung berdiri dan menundukkan kepala memberi hormat. Si pria brewok yang tadinya marah-marah langsung terdiam. Vindapun yang tadinya cuek, kini senyam-senyum tebar pesona ke arah Arden.
" ada apa ini,, kenapa ribut-ribut ? "
tanya Arden santai tapi masih dengan nada dinginnya.
Si brewokpun menjawab :
" gadis ini menjatuhkan kamera kita bos "
Mendengar ucapan si brewok yang terdengar memojokkan dan seakan menuduhnya sengaja menjatuhkan kamera membuat Zalia mengarahkan pandangannya ke arah Arden sambil menggelengkan kepala.
" maaf pak,, saya benar-benar tidak sengaja.
Kaki saya tadi tersandung "
Sambung Zalia dengan ekspresi wajah yang terlihat memohon.
Melihat ekspresi wajah gadis manis di depannya Arden sedikit menyunggingkan senyumnya.
' sepertinya boleh juga gadis ini ' , batin Arden sambil memikirkan suatu rencana di otaknya.
" ok baiklah jika seperti itu kejadiannya.
Ucap Arden seakan memberi jalan keluar yang sebenarnya adalah jalan buntu sebab kamera itu salah satu kamera terbaik dan sangat mahal yang pemesanannya tidak hanya membutuhkan waktu satu hari saja.
" hah ??? menggantinya hari ini juga ?? "
tanya Zalia panik. Sebab untuk membeli kamera semahal itu uang tabungannya pasti tidak akan cukup dan itu artinya dia harus meminta uang pada mamanya.
Oh my God...... minta uang pada sang mama bagai meminta datangnya musim hujan selama enam bulan penuh di gurun pasir.. Mustahil !!!
" bagaimana ? apa kamu sanggup ? "
tanya Arden lagi karena melihat si gadis malah membuatnya menunggu.
Zalia tampak berpikir keras dan tidak tahu mau berkata apa lagi. Ujung-ujungnya hanya menggelengkan kepala yang bisa dilakukannya.
Senyuman pun langsung menghiasi wajah Arden walau hanya sesaat dan langsung diganti dengan ekspresi wajah dinginnya.
" kalau begitu ikut saya sekarang ! ".
Perintah Arden dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Zaliapun langsung mengikuti langkah si pria dingin ke arah lift.
Dalam hatinya Zalia berharap agar dia bisa diberi kesempatan untuk sedikit bernegosiasi dengan si pria salju di depannya.
Sesampainya mereka di ruangan Arden yang berada di lantai lima belas, Zalia terpaku dan menghentikan langkahnya di pintu ruangan itu saat membaca nama Arden yang tertulis di meja kerjanya.
' gawat segawat-gawatnya kalau begini.
Ternyata dia CEO-nya '.
Batin Zalia yang kembali melanjutkan langkahnya mendekati Arden yang berhenti tepat di depan meja kerjanya dan langsung berbalik menghadap Zalia.
" apa kita boleh berkenalan ? "
tanya Arden spontan dan hal itu malah membuat Zalia menahan tawanya. Alhasil, kedua pipi Zalia malah menggelembung bagai ikan Buntal yang diserang musuh..
" ada yang lucu ? "
tanya Arden lagi dengan sedikit kesal.
" hmmm ??? maaf pak.... "
__ADS_1
ucap Zalia sedikit menyesali kelakuannya barusan.
" nama saya Andary pak "
sambungnya lagi menyebut nama tengahnya.
Toh, itu juga masih bagian dari namanya pikir Zalia.
" oh,, Andary ...... "
ucap Arden mengulang nama si gadis.
" bagaimana dengan kamera yang kau rusakan tadi ? "
tanya Arden membuat Zalia kembali pada kenyataan yang harus dihadapinya setelah sesaat tadi sempat lupa karena harus menahan tawanya.
Zalia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
" sebenarnya untuk sekarang ini saya tidak punya cukup uang buat beli kamera seperti yang rusak tadi. Tapi saya janji untuk menggantinya tapi tidak sekarang... Bisakah saya diberi sedikit waktu untuk mengumpulkan uangnya ? ".
Ucap Zalia sedikit menawar dan bernegosiasi dengan pria salju di depannya yang sama sekali tak menunjukan tanda-tanda bahwa dia ingin berbagi senyum dengan gadis manis ini.
Arden berpikir sejenak memikirkan rencana awalnya tadi saat di ruang pemotretan.
" hmmm, bagaimana jika aku berbaik hati padamu hari ini dengan caraku ? "
" maksudnya ?? "
" bagaimana kalau kamera itu tidak perlu kamu ganti tapi dengan satu syarat ? "
" benarkah ?
apa syaratnya ? "
" gantikan dengan waktumu sebanyak empat kali "
kata Arden memberi syarat kepada Zalia sebagai ganti kamera yang tidak sengaja dijatuhkan olehnya tadi.
" terus apa yang akan saya lakukan dalam empat kali waktu tersebut ? " tanya Zalia sedikit penasaran saat mendengar syarat yang cukup aneh itu.
" nanti kamu akan tahu saat waktunya tiba.
Yang pastinya setiap aku minta, kamu harus siap "
" ok ,, baiklah saya setuju "
kata Zalia tanpa pikir panjang.
" satu kali waktumu aku hargai dengan dua puluh lima persen harga kamera tadi.. jadi,, sebelum empat kali waktumu yang kuminta kamu penuhi maka hutangmu belum lunas "
ucap Arden sedikit mengancam.
" ok kalau seperti itu.... Deal ? "
Zalia berucap sambil menyodorkan tangannya ke arah Arden.
" ok deal "
jawab Arden tanpa membalas uluran tangan Zalia.
Gadis itupun menarik kembali tangannya dengan malu-malu karena tak terbalaskan.
" kalau begitu apa aku bisa mendapatkan nomor ponselmu sekarang ? "
Zaliapun berpikir sejenak lalu menyebutkan nomor poselnya yang langsung disimpan oleh Arden di ponsel miliknya.
" kalau begitu, apa saya sudah boleh pulang pak ? "
tanya Zalia lagi.
" ok, silakan nona Andary, sampai jumpa di waktumu yang pertama "
mendengar hal itu Zaliapun menundukkan kepalanya seraya berpamitan dan langsung keluar dari ruangan si pria gunung salju itu.. Arden sendiri tidak mengalihkan pandangannya dari punggung Zalia sampai gadis itu keluar dari ruangannya dan pintupun tertutup kembali..
~
~
~
~
~
~
~
Penasaran ???
__ADS_1
ikuti terus ya .....
jangan lupa like dan votenya..