CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Kekecewaan Anditha


__ADS_3

“Dari calon mantu kesayangan Mommy tentunya.”


Uhuk….


“Lalisa?” tanya Anshell seraya mengusap dadanya tersedak air minum.


“Ck! Wanita pujaanmu itu bisanya apa, hah? Daddy nggak yakin kalau wanita yang kamu banggakan itu tidak bisa membuat makanan lezat,” gerutu Aaron kesal.


Anditha tersenyum lebar, wanita senja itu menatap senang pada sang suami.


Anshell kembali menenggak air minumnya dan yang dikatakan oleh Aaron memang benar adanya.


Selama sepuluh tahun ini, Anshell tidak pernah dibuatkan masakan kesukaan dari wanita sepuluh tahun kecintaan itu dan ini calon istri yang mana.


Bukannya yang keluarganya tahu kalau ia sudah bertunangan dengan Lalisa?


“Ini dari Aretha?” tanya Anditha pada sang suami.


Byur…


Anshell menyemburkan air di dalam mulutnya yang hendak saja ditelan, saking terkejutnya mendengarkan nama itu membuat air itu pun keluar dan membasahi kemejanya diiringi tersedak hebat.


Anditha menepuk punggung sang putra kesayangan yang tersedak hingga air itu tidak hanya keluar dari mulut tetapi juga dari hidungnya sementara Aaron mendengus jengah karena putranya itu sudah kewalatan cari muka di depan istrinya.


Aaron mengangkat pantatnya dan menggeser duduk di sebelah putranya dan ikut membantu menepuk punggung Anshell setelah menyingkirkan dengan lembut tangan istrinya.


Di pukulanya keras punggung sang putra sulung hingga pria itu mengaduh.


“Dad. Kayaknya dendam banget sama Anshell. Ini bukan mengusap lembut kayak Mommy, tapi ini sudah penyiksaan, Dad.”


“Ck! Sungguh Daddymu ini kesal sama kamu. Anshell. Seminggu ini kamu buat Daddy emosi,” ungkap Aaron.


Anshell menaikan satu alisnya memandangi Aaron Stone. “Kenapa sih Dad?”


“Pakai tanya kenapa, hah? Apa kamu tidak sadar diri atau pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya kamu itu sengaja hah?”


Lagi lagi Anshell mengeryit, tidak paham. “Kenapa kamu tumben seminggu ini nggak ngantor dan nggak turun ke pasien?


“Seperti biasanya. Bukannya selama ini kamu sibuk, hah?”


Aaron seolah mengungkapkan kekesalannya. Seminggu ini Aaron cemburu melihat putra bangkotannya selalu dekat dan menempel terus dengan istrinya hingga membuat Aaron tidak bisa punya waktu berduaan dengan sang istri.


“Daddy itu terlalu cemburuan sih sama anak sendiri.”

__ADS_1


“Sudah tau Daddy mu ini orang cemburuan, pake tanya. Makanya kamu itu cepat menikah biar nggak ganggu


“Daddy mu terus, biasanya kamu itu susah dicari bahkan menghilang seenak jidatmu, sekarang mendadak sok alim dan sok perhatian di depan Mommy Mu itu.”


“Haish, serba salah Anshell ini sih, Dad. Aku perhatian sama Mommy salah.


“Anshell kerja terus nggak ingat Mommy juga salah, nanti Daddy ngomel lagi kayak kemaren gak pernah inget kalau Mommy Mu itu sakit,” kata Anshell seraya mengikut perkataan Aaron.


Anshell mendesah pelan. “Sebenarnya Anshell itu harus bagaimana sih Dad.


“Anshell sudah number satukan Mommy saja Daddy masih ngomel,” gerutu Anshell kesal.


“Bekerja seperti biasanya dan datang menjenguk Mommy mu sewajarnya, Anshell Damarion Stone.


“Bukan setelah Mommy mu siuman kamu seenak jidatmu membawa koper untuk menginap di ruangan Mommy hingga membuat Daddymu kesal dengan tingkah lakumu itu!


“Yang Daddy kesal in itu kamu seminggu ini betah berada di dalam kamar inap Mommy mu dan sama sekali tidak keluar walau hanya mencari udara,” omel Aaron membuat Anditha terkekeh.


“Bahkan kamu tidak pernah melihat keadaan adikmu yang beberapa bulan di rumah sakit.”


Anshell mendengus pelan, namun juga tidak memungkiri kalau perkataan Aaron itu benar.


Saking terfokus pada kesehatan Anditha, Anshell jadi terlupa dengan adiknya yang sama mengalami kecelakan bahkan adiknya lumpuh. Entahlah bagaimana keadaan adiknya itu sekarang ini, mengingat hal itu membuat Anshell merasa bersalah.


Anshell kembali menatap Aaron setelah kembali dari lamunannya.


“Siapa yang Daddy maksud itu?”


Aaron lagi lagi mendengus pelan seraya menggendong sang istri untuk berbaring di tempat tidur.


“Tentunya siapa lagi kalau bukan calon wanita pilihan Mommy mu. Calon menantu yang tepat untuk keluarga kita,” ucap Aaron seraya berikan kecupan di bibir sang istri.


“Ah, ya. Mom. Anshell teringat sesuatu. Sebenarnya siapa wanita calon istri Anshell.


“Apa Mommy sengaja waktu itu berbicara pada Lalisa kalau Mommy akan menjodohkan Anshell dengan wanita pilihan Mommy dan meminta Lalisa mundur?”


Anditha menatap sang putra, cintanya yang tulus dan begitu besar pada wanita itu menjadi putranya itu buta dan pertanyaan Anshell ini seolah wanita itu membalikan fakta agar putranya marah padanya.


“Jadi gini, Nak. Mommy awalnya tanya sama Lalisa, kemana dibawa kemana hubungan kalian yang sudah pacaran itu?


“Seorang Ibu wajarkan meminta kepastian pada pacarmu itu? mengingat umurmu itu sudah tidak muda lagi, Shell?”


Anshell bungkam. “Tapi, jawaban Lalisa kalau dia tidak siap untuk tahun ini atau satu atau dua tahun kedepan.

__ADS_1


“Dia belum siap dengan jangka waktu yang entah berapa tahun akan siap dipersunting olehmu.”


Anditha menjeda sejenak seraya menatap sang putra kesayangannya. “Apa kamu akan selamanya menunggu cinta wanita itu dan siap untuk kamu nikahi, hm?” tanya Anditha.


“Kamu boleh jatuh cinta pada wanita manapun yang kamu cintai. Tapi, tolong pakai logika mu dan juga hatimu.


“Bila wanita itu sudah tidak mau, untuk apa kamu terus mempertahankan? Mengemis cinta seperti di dunia ini tidak ada wanita lain dan wanita baik seperti dia, Nak?”


Perkataan Anditha seolah tamparan keras bagi Anshell dan lagi, Anshell hanya diam tidak bisa menjawab perkataan Anditha.


“Apa kamu tidak tahu betapa Mommy kecewa padamu, Shell? Bertunangan dengan wanita itu tanpa kamu meminta restu pada wanita yang sudah mengandung dan juga melahirkanmu ini?”


Bola mata Anshell mendelik menatap Anditha begitu juga menatap Aaron.


“Daddy sudah menceritakannya pada Mommy?”


“Sudah. Daddy tidak bisa memberitahukan kabar ini pada istriku tercinta.


“Prinsip Daddy dan Mommy mu itu tidak ada dusta diantara kita berdua. Apapun yang terjadi pada putra dan putriku, Mommy mu berhak tahu, Anshell Damarion Stone,” tegas, Aaron.


Mimik wajah Aretha nampak sedih memandangi Anshell yang begitu tega bertunangan tanpa seizin dan restu darinya.


“Mom… aku…”


“Mommy harus bagaimana lagi? Bahkan Mommy sangat berharap kamu bisa menikah dengan wanita pilihan Mommy dan hidup bahagia. Tetapi, kini—”


Anditha menjeda, Aaron mengusap lembut punggung sang istri. “Mom…”


“Sudahlah. Mungkin pilihanmu itu lebih baik dari pilihan Mommy. Bahkan wanita itu sudah bertunangan dengan Gavien Mahendra dan kenapa jadi putraku yang bertunangan dengan—”


Anshell mendekat dan memeluk Mommy. Andhita mengusap lembut lengan sang putra diiringi senyuman.


“Maafkan, Anshell Mom sudah mengecewakan aku.”


“Sekalipun Mommy berat kamu memilih wanita itu. Tapi, Mommy merestuimu, Nak.


“Mungkin kamu belum berjodoh dengan wanita pilihan Mommy.”


Aaron ikut mendengus pelan dan Ia pun sama seperti Anditha sama-sama tidak setuju dengan pertunangan yang terkesan mendadak.


“Terima kasih, Mom. Mommy memang terbaik.”


Anditha tersenyum. “Lalu kapan kalian menikahnya, hm?”

__ADS_1


__ADS_2