
Anshell menatap lekat seiring dua sudutnya membentuk senyuman. “Kenapa kamu begitu membenci Aretha,” tanya Anditha.
Lelaki itu memalingkan wajahnya di mana jemari lentik sang ibu merapikan helai rambut yang menghalangi pandangannya. Tak luput senyuman lembut itu membuat hati Anshell ikut melembut ketika kembali menatapnya.
“Apa Aretha melakukan kesalahan padamu sampai segitunya kamu membencinya, hm?
“Yang Mommy lihat dan tahu kalau gadis itu wanita baik-baik bahkan sudi menolong adikmu,” kata Andhita seraya menunjukkan kegusarannya.
Namun, lagi lagi Anshell hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Anditha yang menunggu jawabannya.
Anshell kembali memeluk ibunya agar emosi di dalam hatinya meredam bersamaan dengan kebingungan hati yang entah kenapa dia menjadi seperti ini.
Benar kata Anditha, sebenarnya kesalahan apa yang sudah diperbuat oleh Aretha sampai hati dia berkata dan bersikap kasar pada istrinya sendiri.
“Kamu tidak ingin bercerita pada Mommy mu ini, Nak?”
“Biarkan aku memelukmu sebentar Mom. Ini sangat tenang,” lirih Anshell kembali memohon.
Alis Anditha terangkat, pandangannya menatap sang suami yang sama-sama saling bersitatap. Dari sorot mata teduhnya seolah isyarat agar tidak terlalu memaksakan keinginan tahunya.
“Apa kamu ada masalah dengan Lalisa?” tanya Andhita justru bingung.
Namun, jika Anshell seperti ini tentunya tidak lain karena wanita yang dicintai putranya itu.
“Ehm. Tidak. Aku baik-baik saja dengannya.”
Anditha mengusap punggung sang putra yang masih betah memeluknya.
“Jika kamu baik-baik saja. Kapan kamu akan menikahinya?”
Anshell tak melepaskan pelukannya, lelaki itu masih ingin dipeluk sang ibu.
“Dengarlah, Nak. Mommy ingin melihat putra kesayangan Mommy ini bahagia, hidup bersama dengan wanita yang dicintainya begitu pun kalian saling mencintai tidak ada yang namanya cinta sesaat apalagi memainkan perasaan orang lain,” ucap Anditha yang membuat Anshell mengernyit bingung.
“Mencintaimu dengan tulus dalam suka dan duka sampai kalian menua bersama,” sambung Anditha.
“Mommy tidak suka dengan pilihanku?”
Anditha melirik. “Bukan begitu.”
Ingin hati Anditha menolak karena ia tidak suka dengan Lalisa yang selalu membuat putranya bodoh seperti ini. Tapi, itu cukup di dalam hati saja karena Anditha tidak ingin membuat putranya bersedih.
“Mommy akan menerima wanita manapun asal dia mencintaimu dengan tulus seperti kamu mencintainya.”
“Apa Aretha calon menantu kesayangan Mommy?” tanya Anshell pelan.
Tak lama pelukan itu terlepas bergantian dengan Anshell menatap sang ibu.
“Ehm,” jawab Anditha pendek seraya menepuk pelan punggung tangan putranya.
“Mommy menyayanginya, bahkan Mommy berharap Aretha menjadi bagian keluarga kita. Dia wanita yang baik dan pantas menjadi istrimu,” ungkap isi hati Anditha.
Anditha berkedip teringat sesuatu. “Ah, ini bukan hasutan agar kamu memilih Aretha, tidak.
__ADS_1
“Bagaimana pun wanita yang kamu pilih sebagai istri. Tentunya, Mommy akan menerimanya dengan baik,” sambungnya.
Wanita paruh baya itu menarik nafasnya, merasa lega berbicara berdua dengan putranya seperti ini.
“Sekalipun kamu tidak berjodoh dengannya. Bisakah kamu mendatangi Aretha dan meminta maaf dengan perkataanmu tadi, Nak?”
“Dia anak yatim, Anshell. Tuhan sangat membenci orang yang menyakiti hati anak yatim. Apalagi jika kamu membuat anak yatim itu menangis. Tuhan pasti akan murka sekali padamu,” lanjut Anditha.
Bahkan air mata Aretha tak terhitung lagi menangisi karena sikap dan kekejamannya.
“Sekalipun dia bersalah?” gumam Anshell membuat kening Andhita mengernyit.
“Apa Aretha melakukan kesalahan padamu, Nak?” balik Anditha bertanya.
Anshell terdiam. Lagi, Anditha mengusap pipi Anshell dengan lembut.
“Jika dia berbuat salah padamu. Tolong maafkanlah, karena tidak ada manusia yang sempurna pastinya setiap manusia punya salah dan pernah berbuat salah termasuk Aretha.”
Mata Anshell berembun, perkataan Andhita mampu menggetarkan hatinya.
“Apa Mommy memaafkan orang yang sudah membunuh kakek dan juga adikku?”
Aaron menoleh pada Anditha, lelaki itu mendengarkan pembicaraan perihal kematian ayah mertua dan juga putranya yang meninggal. Bapak tiga anak itu mendadak curiga pada putra sulungnya.
Anditha dengan santai tersenyum lembut seraya menggenggam erat tangan sang putra.
“Tentu Mommy sudah memaafkan orang itu. Dia pun sudah meminta maaf pada Mommy dan mengakui kesalahanya.
“Bagi Mommy, hukuman yang didapatkan oleh orang itu pun cukup berat dan Mommy pun tidak ingin berlarut-larut menyimpan dendam, Nak.”
"Lebih baik kita mengikhlaskan apa yang sudah terjadi sekalipun ini berat untuk kita. Tapi, bukannya semua ini sudah menjadi suratan takdir setiap orang?”
Jika Anditha sudah memaafkan pembunuh itu, lalu kenapa Anshell masih menyimpan dendam pada Aretha?
Padahal sudah jelas bukan Aretha yang melakukan ini melainkan orang tuanya.
“Setelah pulang dari rumah sakit. Mommy akan menyiapkan pesta pernikahanmu dengan Lalisa secara besar-besaran.”
Anditha menatap sang suami, wajah sedih wanita itu kini berganti dengan kebahagiaan.
“Sayang, tolong hubungi dokter dan katakan padanya kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?
“Aku ingin sekali menyiapkan pesta pernikahan untuk putra kesayanganku,” ucap Anditha sangat antusias.
Lain halnya dengan Anshell yang terdiam seribu bahasa setelah mendengarkan penuturan sang ibu.
‘Apa aku harus memaafkan perbuatan orang tua mu Retha atau membalas dendam yang besar ini sekalipun orang tuaku sudah memaafkan ibumu?’ batinnya.
Di sisi lain, Xandria berdiri dengan nafas yang terpenggal—mengejar kepergiaan Aretha yang mendadak menghilang begitu saja.
Menurutnya, Aretha baru saja keluar dari ruangan rawat ibunya namun, ia sudah kehilangan jejak.
“Ya Tuhan, kemana larinya Kak Aretha? Apa dia pulang ke rumah atau sudah sampai di rum—”
__ADS_1
Xandria menjeda seraya teringat sesuatu. Mereka saat ini masih berada di Singapore bukan di Indonesia.
Selama ini Xandria tidak tahu tempat tinggal Aretha berada karena yang ia tahu Arethalah yang sering datang berkunjung ke rumahnya atau pun ke rumah sakit dimana Xandra di rawat.
“Ah, sebaiknya aku bertanya saja pada Xandra pasti dia tahu di mana Aretha tinggal. Secara Xandra kan bossnya Aretha,” kata Xandra berbicara sendiri.
Satu tangannya lekas mengambil ponsel genggamnya untuk menghubungi kembarannya. Baru saja menscroll mencari number sang kembaran dari arah belakang seseorang menepuk pundaknya hingga membuat gadis itu tersentak kaget.
“Astaga, Kak Anshell. Nggak ada kerjaan banget sih ngagetin orang, hah?” omelnya.
Anshell mendengus pelan, matanya ikut mencari keberadaan istrinya.
“Bukannya kamu mengejar wanita itu. Lalu kemana dia?”
Xandria mendengus. “Wanita, wanita. Dia punya nama, Kak. Nama bagus-bagus masih aja manggil Kak Aretha dengan panggilan wanita atau dia?” protes Xandria.
“Ck! Bawel sekali adikku ini. Tidak usah kamu ingatkan pun aku tahu nama wanita itu!”
Xandria berikan bibir lima centinya pada Anshell. “Terus ngapain sekarang Kakak tanya Kak Aretha? Bukannya tadi Kakak sudah membentaknya dan meminta untuk enyah dari hidup Kakak, hah?” omel Xandria, ikut geram.
Lagi, lagi Anshell mendengus. “Kakak di suruh Mommy buat minta maaf sama dia,” jawab Anshell ketus.
Matanya sibuk dengan ponselnya namun, telinganya mendengar adiknya komat kamit yang ikut memarahinya.
Anshell menggeser tombol hijau lalu meletakan benda pipih itu di telinganya.
“Apaah?” seru Anshell saat Ken memberikan laporan.
Aretha tidak ada lingkungan rumah sakit dan anak buahnya pun memberitahukan jika Aretha belum kembali ke apartemen.
Xandria melirik ke samping. “Temukan istriku atau kau tanggung sendiri resikonya!” ancam Anshell tak main-main.
Tanpa sadar perkataan itu membongkar rahasianya sendiri di samping gadis yang terlihat syok ketika mengetahui secuil kebenaran yang baru saja di dengarkan.
Mau serapat dan serapih apapun rahasia yang disimpan bahkan Anshell mengancam semua orang kepercayaannya untuk tutup mulut.
Namun, nyatanya tanpa sadar lelaki itu sendirilah yang sudah membeberkan rahasia yang mampu didengar oleh adiknya, Xandria.
‘Istri?’ batin Xandria memandangi kepergian sang kakak.
Nafasnya naik turun seiring syok mendengarkan apa yang baru saja gadis itu dengar.
‘Jadi, Kakakku diam-diam sudah menikah?’ tanya Xandria pada dirinya sendiri.
Mau bertanya pada orangnya pun keburu lelaki itu menghilang dari pandangannya.
Mendadak otak Xandria menyisakan banyak pertanyaan. Kenapa kedua orang tuanya tidak tahu hal ini jika Anshell diam-diam sudah menikah. Bukannya seorang Aaron selalu mengawasi putra dan putrinya dalam bergaul tapi kali ini….
“Daddy kayaknya kecelongan,” batin Xandria.
“Jika benar begitu. Lalu siapa wanita yang kini menjadi kakak iparku?”
Xandria menatap ponselnya yang tersambung dengan sang kembaran. Di sana ia mendengar suara Aaron yang tengah menghubungi seseorang.
__ADS_1
“Aku bilang sama Daddy atau aku selidiki dulu kebenaran ini?”