
“Kamu baik-baik saja, An?” tanya Aretha menatap bingung pada pria itu.
Anshell bukan menjawab, dia malah begitu saja pergi meninggalkannya dan masuk ke dalam mobil.
Aretha mendengus pelan seraya pandangi sikap Anshell yang berubah aneh lagi. entah kenapa kalau setiap hal yang berhubungan dengan wanita itu, Anshell akan seperti ini.
“Penasaran, sebenarnya ada apa lagi sih, heran. Cowok-cowok deritanya galau melulu. Apa nggak malu sama tuh jabatan Ceo dan seorang dokter?” gerut Aretha dalam hati.
Tak ingin Anshell murka, Aretha pun bergegas pergi dan masuk ke dalam mobil sport hitam tersebut.
Satu hal yang membuat Aretha menatap bingung. Anshell seperti orang bodoh yang entah apa masalahnya. “Ah, ini nggak bisa di diemin. Aku harus bicara sama tuh pria alay. Kalau sudah ketemu Lalisa mendadak lemot kayak kerupuk disiram air panas,” gumam Aretha dalam hati.
Aretha mengusap tangan Anshell perlan tanpa mengejutkan pria itu. “An…” Aretha memanggil pelan, dan mengusap punggung tangan Anshell.
“Apa kamu butuh waktu untuk sendiri?” tanyanya.
Lelaki jangkung itu mengangkat pandangannya, Anshell menggeleng tidak.
“Sepertinya ini tidak akan berhasil, Re…” kata Anshell terdengar pilu.
Anshell merasa tidak bisa melupakan Lalisa, otak dan hatinya sudah dikuasai oleh wanita itu. mendengarkan Lalisa bertunangan dengan Gavien, mendadak sakit hati.
“Otakku dan hatiku masih dikuasai wanita itu, Re. Ini tidak akan berhasil.”
Aretha menatap pria yang tengah patah hati. “Kan kita belum mencobanya bukan, An? Kenapa kamu pesimis gini sih. Aku yakin aku bisa membuatmu jatuh cinta begitu juga kamu,” ucap Aretha.
Pede dulu saja, karena dia pun tengah berjuang untuk mendekati Anshell.
Aretha meletakan tangan Anshell di pipi nya mengusap lembut lalu mengecup punggung tangan pria itu. “Aku yakin kamu pasti bisa.”
Anshell diam sejenak diiringi mata menatap gadis kampung. “Lalisa bertunangan, Re. Dia bertunangan dengan pria itu. Kamu tahu bukan siapa pria itu?”
Aretha mendengus pelan. ‘Jadi Anshell seperti ini karena gara-gara si kutu kupret itu tunangan? Astaga, sungguh memalukan pewaris Stone sampai galaunya gak ketulungan,’ decak Aretha cukup dalam hati.
Meski Aretha tidak yakin dia bisa menggantikan posisi wanita itu, tetapi mendengarkan Anshell seperti orang kehilangan membuat Aretha kesal juga.
“Lalisa bertunangan dengan musuhku, Retha. Dia bertunangan dengan Gavien, pria itu sudah banyak melakukan kecurangan selama ini.”
Aretha diam mendengarkan lebih dulu sebelum unek-uneknya meledak. Tetapi, mengingat pria itu. Aretha teringat dengan Xandra. Pria yang tadi bersama dengan Lalisa itu adalah pria yang sama sewaktu Xandra memintanya untuk menghadang Anshell bila kakanya masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
“Apa Nona Xandra ada hubungan dengan pria itu?” batin Aretha bertanya.
Bila, benar begitu. Apa Nona nya tengah patah hati mendengarkan kabar ini?
“Astaga, An. Kamu ini memalukan sekali. Kenapa kamu cengeng banget sih baru denger Lalisa tunangan sudah kayak gini. Kalau mu sedih, lalu guling-guling di tanah itu nanti kalau wanita sepuluh tahun itu sudah menikah beneran!” omel Aretha, meledak sudah unek-unek yang ditahan sejak tadi.
Mendengarkan pria itu begitu lemah, Aretha jadi kesal sendiri. Astaga, sumpah demi apa rasanya dia ingin menjambak rambut pria itu agar tersadar.
“Kamu itu, laki. An. Malu, jangan lebay kayak gini. Wanita di luaran sana itu banyak bukan hanya Lalisa doang. Inget, An.
"Kamu itu sudah diputusin karena Lalisa nggak cinta sama kamu, tolong jangan kayak anak SD kamu, lebay kayak gini baru saja di undang ke pesta pertunangan bukan?” amuknya.
Si pelaku hanya diam, dia terkejut dengan makian Aretha. Sedikitnya dia sadar dengan perkataan Aretha yang begitu tajam itu.
“Kalau dia sudah putusin kamu dan dia kan bertunangan dengan kamu, tandanya kamu itu bukan jodohnya. Astaga, sudah kode kalau Lalisa itu bukan jodoh kamu, masih saja berharap. Heran, deh aku.”
Anshell bukan marah pada gadis kampung yang terus mengomel padanya, tetapi dia tertawa pelan.
“Tolong jangan malu-malu in seorang Pewaris Stone, An. Kamu itu harus kuat dan jangan memperlihatkan kelemahanmu, semakin melihat kamu seperti ini, dia semakin senang mempermainkan hatimu,” sambungnya lagi.
“Sudah tahu jodohmu itu aku, masih saja kamu berharap banget sama si kutu kupret it—”
Anshell membungkam mulut Aretha yang terus mengomelinya dengan bibirnya. Dia mulai tersadar dengan perkataan gadis kampung ini.
“Sudah ngomelnya, hmm?”
“Hehehe… kamu sudah patah hatinya, hmm?”
Anshell mengangguk pelan, diiringi tawa pelan. Aretha pun menyesap bibir seksi Anshell. Perlahan, ciuman itu berganti dengan saling berpagutan.
Merasa, tempat yang tidak mendukung mereka berciuman di dalam mobil, Aretha pun membuka seat belt dan berpindah ke sisi samping kanan tanpa melepaskan pagutannya.
Aretha melepaskan pagutannya, dimana gadis kampung itu duduk di atas pangkuan Anshell.
“Jangan lagi galau berlebihan seperti tadi, oke?”
Anshell mengangguk, paham. “Jangan bicarakan tentang si kutu kupret itu, oke?” tanya Aretha yang dianggukan Anshell, mengerti.
Aretha melukis senyum seraya menangkupkan wajah tampan sang pangeran.
__ADS_1
“Di sini hanya ada aku dan kamu. Jadi, jangan bicarakan dia. Kamu itu pria, kamu harus kuat, patah hati boleh tetapi jangan berlebihan dan jangan lebay.”
Aretha mengusap lembut pipi Anshell. “Kalau dia sudah memutuskan mu, berarti dia memang tidak mencintaimu. Dia memilih pria itu, berarti dia memang tidak ada lagi cinta sekalipun kamu dan dia pernah bersama.
“Aku pun tidak tahu kita berjodoh atau tidak. Tetapi, aku akan berusaha menyingkirkan nama si kutu itu dari hati kamu.”
Anshell tersenyum manis, Aretha pun kembali menyesap bibir seksi sang pangeran. Pikiran Aretha hanya satu, percaya diri saja dulu sekalipun dia tidak tahu akan berjodoh dengan Anshell atau tidak. Dia hanya tidak ingin pria itu terus lebay seperti ini. Anshell begitu lemah pada wanita, apalagi wanitanya Lalisa.
Anshell memundurkan kursi joknya nya agar posisi mereka lebih nyaman. Tangan kecilnya meremas pelan rambut Anshell.
“Thank’s Retha,” bisik Anshell di telinga gadis kampung itu.
Aretha menatap Anshell. “Harus tegas pada dirimu sendiri sekalipun kamu berhadapan dengan Lalisa. Kamu harus kuat dan jangan mudah patah hati mendengarkan perkataan. Semakin kamu terlihat patah hati, dia semakin senang melihatmu menderita, An,” kata Aretha lagi dan lagi.
Dia tidak akan berhenti menasehati Anshell. “Apah, hmm? Kenapa tanganku di tepuk kayak gitu?”
“Tanganmu ini nakal, main masuk ke dalam baju saja.”
Aretha bangun dari duduknya untuk kembali ke bangku samping, tidak enak di tempat parkir dia seperti ini.
Aretha membulatkan mata. “Kenapa?” Kini giliran Aretha bertanya, pria itu menahan nya seolah tidak mengizinkan Aretha untuk pindah. “Kamu begitu seksi, sayang.”
“Cie, dah berani panggil sayang. Tadi, nangis-nangis cuman dengar si kutu tunangan. Huuhh… cemen!”
Anshell memeluk erat tubuh kurus Aretha, kedua tangan jahilnya pun menggelitik tubuh kurus itu hingga sang empunya pun memohon ampun.
“I want you, Re…” bisik Anshell ditelinga Aretha.
Aretha mengerlingkan sebelah matanya dengan senyuman menggoda. Sudah jangan di tanya kenapa dia selalu sebar-bar dan kadang suka senekat ini. Semua ini tentunya pria itu yang mengajarkannya.
“After married, kamu boleh unboxing.”
“Hah?” seru Anshell. Kalimat yang dibencinya pun akhirnya kembali diucapkan.
“Astaga. Apa nggak bisa sekarang aku unboxing kamu, Re?” protesnya.
Aretha mendengus pelan. “Emangnya aku barang pake di unboxing hah?”
“Makanya halalin dulu baru boleh unboxing, enak saja. Main unboxing sekarang!” omel Aretha keras.
__ADS_1
Anshell terkekeh, dia tidak salah pilih meminta Aretha untuk membantunya melupakan Lalisa, perkataan Aretha benar. Dia seharusnya tidak lemah pada wanita itu.
“Ya, sudah deh. Aku halalin kamu sekarang, gimana kalau kita ke rumahmu. Aku akan bilang pada kedua orang tua mu, bagaimana?”