
“Morning, Nak.”
Anditha menyapa Anshell dan juga Aretha yang baru saja turun bersamaan.
Melihat keduanya Anditha senang, seandainya Aretha menantunya pasti alangkah senangnya hati wanita senja itu.
Anditha menginginkan putra kesayangannya itu segera menikah.
Tentunya dengan wanita yang Andita restui.
“Morning too, My Queen,” ucap Anshell seraya mengecup pipi Anditha.
Aaron yang melihat itu langsung melotot tajam pada putra bangkotannya itu.
“Istri Daddy, Nak. Tolong jangan manja-manja kayak gitu, Daddy nggak suka.”
Anshell mendengus pelan. “Istri Daddy itu, Mommyku,” jawab Anshell sengit.
Aaron mendengus pelan. “Ya, tapi tidak harus seperti itu, Daddy melihatnya jijik.
“Kamu kalau mau kiss mendingan cari istri gih sana biar kamu bebas mau ngapain juga.
“Nggak rugiin Daddy kan,” omel Aaron sepagi ini pria senja itu marah kalau putranya selalu manja.
Baginya tidak ada satupun pria yang mencium istrinya sekalipun itu istrinya sendiri.
“Astaga sudahlah. Kita ada tamu masa iyah harus mendengarkan perdebatan kalian berdua.
“Ayo, duduk. Kita sarapan bersama,” pinta Anditha seraya berjalan mendekat Aretha lalu menggenggam tangannya untuk duduk di samping Xandra.
“Tolong dimaklumi, drama pagi hari memang seperti ini, Daddyku itu udah bucin banget sama Mommy jadi kayak gitu,” bisik Xandra pada Aretha.
Tapi, bagi Aretha itu bukan drama, dia senang dan juga salut pada Mr dan Mrs Stone di usianya yang menginjak kepala enam mereka tetap romantis dan juga mesra.
Pandangan Aretha bertemu dengan Mr Stone, ayah dari Anshell yang entah sejak kapan menatapnya dirinya.
Tatapan itu membuat Aretha malu, dia pun menundukan kepalanya.
‘Astaga, nggak malam nggak pagi kenapa Xandra nggak henti makan? Dia kelihatan kayak nggak makan satu tahun saja,’ batin Aretha menatap sejenak keanehan pada bosnya itu.
“Di makan, Nak. Ini juga kan kamu yang buat,” ujar Anditha pada beberapa menu makanan di depannya.
“Yah, Nyonya,” jawab Aretha diiringi senyuman.
“Jangan panggil Nyonya. Panggil saja Mommy kayak Anshell dan Xandra, oke?” ucap Andita yang langsung dianggukan Aretha.
Aaron pandangi sang putra dalam diam, biasanya putra bangkotannya itu selalu banyak bicara bila sudah bertemu dengan istrinya.
Ya, Anshell cenderung bawel bila sudah bersama Andhita. Tetapi, kini putranya mendadak diam dan raut wajahnya pun terlihat kesal.
“Oh ya. Xan. Hari ini Aretha nggak sibuk-sibuk amat kan?”
Xandra menaikan wajahnya menatap sang ibu tercinta. “Tanya langsung saja sama orangnya.”
“Ish, kamu kan bosnya.”
“Emangnya ada apa, Mom?”
Andhita tersenyum lebar seraya pandangi Aretha. “Mommy ingin shoping dengan Aretha. Boleh, ya?”
Bola mata Aretha mendelik. “Mommy ingin diantar Aretha perginya.”
Xandra manggut-manggut. “Oke.”
“Anter Mommy shopping, Tha,” ujar Xandra seraya memberikan tepukan pada Aretha.
“Ya, Nona,” jawab Aretha pasrah.
Kalau boleh berpendapat, Aretha ingin menolak ajakan shopping dengan Mrs Stone.
Pekerjaanya di kantor cukup banyak mengingat dia harus ikut menindak lanjuti proyek Logan Grup setelah seminggu Xandra tidak masuk kerja.”
__ADS_1
“Xandra. Kalau di sini itu jangan panggil Nona. Saya nggak mau…”
“Tapi—”
“Nggak ada tapi-tapian,” hardik Xandra cepat.
“Tidak apa, Nak. Xandra benar, jangan memanggil dengan panggilan itu Mommy pun sama nggak suka di panggil Nyonya,” imbuh Andita.
Anshell hanya diam sebagai pendengar setia di sini, sekalipun kedua matanya pandangi kanan dan depan di mana keluarganya perlahan mulai akrab dengan Aretha.
Bukannya seharusnya Anshell senang kalau gadis kampung itu bisa dekat dengan keluarganya, terutama Andita?
Entah lah, Anshell pun tidak mendapatkan jawabannya satu pun. Apa dia senang atau tidak. Satu hal yang masih terus mengganggu moodnya hari ini adalah niatnya yang ingin mengajak Aretha menikah.
Tapi, gadis kampung itu malah menolaknya karena dia ingin menikah di depan kedua orang tuanya dan istri sah yang diakui negara. Itu tidak mungkin bukan?
Mengingat bibit bebet dan bobotnya tidak sesuai dengan keluarga Stone.
Kedua orang tuanya pun pasti tidak akan setuju kalau seorang pewaris Stone menikah dengan orang miskin seperti Aretha.
Satu hal lagi, Anshell tetap sama. Hatinya belum ada Aretha di dalamnya melainkan masih ada Lalisa.
Keinginannya menikahi gadis kampung itu secara siri tujuannya hanya ingin melakukan hubungan suami istri secara halal, hanya itu saja. Secara kasar, hanya untuk menjadi pelampiasan.
“Kayaknya baju ini cocok deh buat kamu kerja, Nak.” Andita mengangkat satu pakaian formal untuk Aretha.
Wanita senja itu mengangkatnya lalu meletakan pakaian itu setelah dirasa cocok di tubuh Aretha.
Aretha tersenyum lebar, sudah sejam lamanya dia berada di mall dan menemani Mrs Stone berbelanja.
“Nona, Xandra pasti suka. Selera anda pas dengan selera anak muda,” kata Aretha pandangi deretan pakaian khusus wanita yang berjajar rapi.
Deretan yang di pegang Anditha adalah salah itu produk terbaru mereka yang hanya ada lima model yang sama di dunia.
“Kata siapa untuk Xandra, Mommy beliin buat kamu kok.”
Perkataan Anditha membuat Aretha tersentak kaget. Gadis kampung itu membulatkan kedua matanya.
Anditha berbalik badan lalu menghela napas pelan.
“Jangan Nyonya dong, Tha. Mommy. Serasa Mommy ini lagi belanja sama pengawal cantik.
“Tapi, sayangnya kamu itu bukan pengawal Mommy, melainkan kamu anak Mommy. Anak Mommy sendiri.”
Mulut Aretha sontak menganga, demi apa wanita senja itu mengakui dirinya sebagai putrinya?
Aretha tidak sedang bermimpi bukan?
Aretha memang anak yatim, kedua orang tuanya meninggal ketika dia masih kecil.
Mendengarkan perkataan Anditha membuatnya sedih dan juga terharu. Baru pertama kali dalam hidupnya ada orang yang sudi mengakui dirinya sebagai putrinya.
Putri yang tidak dilahirkan dari rahim wanita senja itu sendiri.
“Orang tuamu pasti bangga punya anak secantik kamu, selain kamu pintar di kantor kamu juga pandai memasak.
“Daddy sampai memuji masakanmu itu loh sekalipun ya pria itu gengsi buat bilang sama kamu,” kata Andita dengan senyuman.
Hal itu benar, Anditha tidak bohong. Aaron suka dengan sarapan pagi yang dimasak oleh Aretha.
“Keluargamu tinggal di mana, Nak?” tanya Anditha dengan kedua tangannya yang sibuk memilih model dan warna pakain untuk Aretha.
“Sukabumi, Mom.”
Anditha menatap sejenak gadis itu yang mendadak diam. “Kalau kamu libur suruhlah keluargamu datang ke kota.
“Mommy akan menyambutnya dengan baik,” ucap Anditha seraya memberikan beberapa pakaian formal untuk Aretha kenaikan.
“Kedua orang tua saya sudah meninggal, Mom. Saya hanya tinggal dengan nenek dan juga adik saja di kampung.”
Anditha mendelik, wanita senja itu langsung memberikan Aretha pelukan.
__ADS_1
Mungkin diamnya gadis itu karena teringat dengan keluarganya yang sudah tidak ada.
“Maafkan Mommy ya, Nak. Mommy tidak tahu kalau kedua orang tuamu mudah meninggal.”
Anditha mengecup kening gadis kampung itu, mendadak hatinya ikut sakit mendengarkan kalau gadis yang dipeluk ini adalah anak yatim.
“Nggak apah, Mom.” Aretha berikan senyuman sementara Anditha mengurai pelukannya.
“Coba semua pakaian ini, Mommy ingin lihat kamu memakai ini.”
“Ini nggak salah Mom sebaiknya ini?”
Anditha berikan anggukan pelan. “Ya, harus. Mommy ingin melihat kamu memakainya, pasti cantik.”
Aretha dengan berat hati bangun dari duduknya dan mencoba pakaian yang dipilih Anditha satu persatu.
Sejam sendiri Aretha dan Anditha berada di boutique langganan Andhita mencoba beberapa pakaian dan juga heels untuk Aretha bekerja.
“Duh, Mommy minta maaf ya, Nak. Kita nggak jadi makan siang, ini si Daddy ngajak makan di kantor.
“Ya, sudah Mommy antar kamu ke kantor Xandra lalu baru Mommy ke kantor Daddy,” ucap Anditha tidak enak.
“Nggak apah, Mom. Nggak usah diantar saja, soalnya Aretha juga mau ketemu temen dulu. Tadi chat ngajak makan siang.”
Anditha menatap sedih. “Beneran nggak apah?”
Aretha berikan gelengan, dia malah yang tidak enak harus diantar ke kantor putrinya.
“Nggak apah.”
“Ya, sudah kalau begitu Mommy pamit ya, Aretha pulangnya hati-hati atau Mommy telephone Jojo saja ya buat jemput kamu nanti?”
“Nggak usah Mom, Aretha bisa pulang sendiri kok. Mommy nggak usah khawatir.”
“Ya, sudah kalau begitu kamu harus tetap hati-hati ya.”
Aretha berikan anggukan pelan. “Terima kasih buat semuanya, Mom.”
“Sama-sama, Nak,” ucap Anditha seraya mengecup pipi kanan dan kiri Aretha.
“Hati-hati ya, Mom,” ucap Aretha seraya melepaskan genggaman tangan Anditha.
Sejenak Aretha berdiri memandangi mobil yang membawa Anditha keluar dari lobby mall setelah benar-benar pergi Aretha kembali melanjutkan langkahnya menuju suatu tempat.
“Ya, hallo…” jawab Aretha seraya menoleh ke samping kanan dan kiri.
“Aku sudah di luar, cafenya sebelah mana ya, By?” Aretha janji makan siang dengan Toby, pria itu ingin mengatakan sesuatu hal yang penting.
“Cafenya dekat Pak Kumis, Tha. Sampingnya gitu,” balas Toby di panggilan telephonenya.
Aretha mencari keberadaan pria bule tersebut seraya berjalan lurus pada deretan beberapa café di sampingnya.
Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika matanya menangkap sesuatu.
Aretha syok. Gadis itu terdiam seraya memandang dengan ponsel yang masih terhubung dengan Toby.
Sebelah tangannya terkepal ketika melihat sosok pria yang mengajaknya menikah, tetapi seperti ini…
Anshell ada di sana, pria itu berciuman di tempat umum bersama dengan, LALISA.
“Kamu sampai mana, Tha?” Pertanyaan Toby menyadarkan Aretha dari lamunannya.
Dia menyusut sebening kristal yang jatuh di pelupuk matanya.
“Bentar lagi aku sampai, tunggu aku ya, By. Sudah dulu,” kata Aretha seraya mengakhiri panggilannya.
Dia masih berdiri di tengah-tengah dua orang tersebut, sayangnya Anshell tidak melihatnya ke depan di mana dia berada.
Aretha menarik napas panjang lalu sekian detiknya menghembuskan perlahan.
Gadis kampung itu menepuk keras dadanya yang terasa sesak agar pikiran dan hatinya tersadar kalau pria itu tidak akan begitu mudah melupakan sosok wanita itu.
__ADS_1
“Sepertinya aku harus menyerah, An.”