CINTA & DENDAM

CINTA & DENDAM
Istri Kontrak!


__ADS_3

“Jadi kamu sudah paham sampai di sini! Tidak ada waktu lagi untuk kamu duduk manis menikmati jadi istri Anshell Stone.


“Kamu harus segera memberikan ginjal itu, apa sampai sini kamu paham?!” seru Anshell dengan nada keras.


Dia tidak peduli lagi dengan perkataan yang bisa melukai hati wanita itu sama sekali tidak setelah dia tahu kalau Aretha adalah anak pembunuh.


 Aretha memalingkan wajahnya dan menatap pemandangan jalanan luar dari jendela kaca tersebut. Sekuat hati dia menahan air matanya agar tidak menangis sekalipun dadanya terasa sesak.


Bolehkah Aretha membenci wanita itu yang selalu diagungkan oleh sang suami?


Ya, Anshell adalah suaminya sekarang. Suami sah, menurut agama dan juga hukum sekalipun pernikahannya mereka hanya dilandasi dengan sebuah perjanjian yang sudah di setujui oleh keduanya.


Bila Aretha boleh meminta pada Anshell, bisakah pria itu tidak mengucapkan nama wanita itu lagi di hadapannya?


Sumpahnya, hanya mendengarkan nama itu keluar dari mulut Anshell, dadanya sesak. Sesak karena wanita itu begitu hebatnya bisa mempengaruhi Anshell lagi.


Pria itu selalu terjebak dikubangan yang sama dan akan bersikap bodoh sekalipun pria itu tahu kalau Lalisa dengan terangnya mengatakan tidak mencintainya secara gambling, tetapi Anshell tak pernah sadar.


Bahkan pria itu pun tahu status Lalisa kini yang sudah bertunangan dengan pria lain yang rival bisnisnya.


“Kamu selalu terjebak dilubang yang sama, An. Logikamu tidak pernah sampai bila bertemu dengan wanita sepuluh tahunmu itu,” kata Aretha pelan namun dalam.


“Anehnya, ingatanmu itu begitu tajam ketika wanita itu mengatakan kalau dia tidak mencintai kamu. Bahkan kamu pun tahu kalau wanita itu sudah bertunangan dan kamu sendiri pun datang dan mengucapkan selamat pada wanita itu.”


“Dia calon istri orang, tapi kamu begitu sangat peduli padanya dan juga tergila-gila pada wanita yang sudah memberikan kamu luka,” ungkap Aretha seraya menoleh ke samping di mana wajah Anshell begitu menakutkan.


Dada Anshell naik turun seraya pria itu menarik nafas yang memburu, sudah jelas bukan bila perkataan gadis kampung bukanlah sindiran lagi, melainkan hinaanya untuknya dan juga Lalisa?


Tatapan tajam yang menghunus itu menandakan pria itu sangat murka bahkan ingin sekali detik ini pun Anshell membunuh gadis kampung sudah berani merendahkan dan menghina Lalisanya bila Anshell tidak ingat kalau dia butuh ginjal dari wanita bodoh itu.


“Apa kau kini akan berperan sebagai istri yang baik, hah?”


Aretha menarik napas dalam-dalam lalu kembali menoleh ke samping. Manik mata indah sang suami masih sama.


Anshell marah besar padanya. Aretha tahu kalau perkataan itu menyakitkan untuk sang suami karena dia sudah berani dan lantang.


“Ya, seharusnya begitu bukan?” Ada nada terjeda, Aretha menarik napas dalam-dalam.


“Sebagai istri yang baik untukmu, aku harus bisa berperan baik di sini sekalipun aku sadar kalau pernikahan kita hanya sebuah perjanjian.


“Aku hanya, mengingatkan hal itu saja, An. Takutnya kamu akan kembali terluka dengan bentuk rasa manis yang diberikan oleh wanita pujaanmu itu.”


Kedua tangan Anshell terkepal erat dengan tatapan nyalang pada sang istri.


“Setiap manisnya cinta palsunya itu selalu membuatmu bersikap bodoh dan hilang kecerdasanmu bila menyangkut Lalisa.


“Segala macam cara akan kamu halalkan untuk wanita pujaanmu.”


Anshell mencengkram dagu Aretha kasar hingga kepalanya otomatis mendongak ke atas.


“Kau siapa berani berkata seperti itu padaku, hah?”


Aretha mengingis. “Sa-sakit, An.”


“Siapa suruh kau begitu lancang menghinaku dan juga Lalisaku!”


 Anshell menghempaskan dagu itu dengan kuat hingga tubuh Aretha terjerembab ke samping menabrak keras pintu mobil.

__ADS_1


 “Sekali lagi kau berani berkata seperti itu, aku pastikan kau akan hidup lebih menderita lagi, Aretha! Camkan itu!” ancam Anshell tak main-main.


Dada Anshell naik turun sering pergerakan pria itu mengatur nafasnya yang memburu.


Siapa yang terima bila wanita kesayangannya dan tercintanya dihina sekalipun yang menghinanya wanita yang belum genap dua puluh empat jam dinikahi secara sah.


“Aku peringatkan kau untuk terakhir kalinya Aretha! Disini kau hanya istri kontrakku.


“Istri selembar kertas perjanjian yang akan segera kau dapatkan beberapa menit lagi!” tegas Anshell pada Aretha.


Bila Anshell tidak membutuhkan ginjal itu, sumpah demi apapun dia tidak akan pernah mau menikahi Aretha, kini Lalisanya telah kembali dan yang Anshell inginkan setelah Lalisanya kembali adalah, menikahnya seperti janjinya dulu pada seseorang untuk menjadikan wanita itu sebagai ratunya.


Mobil SUV hitam pekat itu memasuki landasan udara, privat jet milik Anshell sudah terparkir rapi dan siap lepas landas.


Setelah mobil itu berhenti, Gerry lekas turun dan membuka satu persatu pintu penumpang.


Anshell lebih dulu keluar dan merapikan setelan jasnya, pria itu mendengus kesal melihat tiga orang yang berjalan menghampirinya.


“Apa ada kabar duka sampai kalian membawa buket bunga dengan kompak, hah?”


Anshell tidak suka dengan ketiga orang yang berjalan mendekat dengan membawa buket bunga.


“Sure. Gue punya kabar duka.”


Anshell berikan senyuman sinis. “Kemarin sahabatku sudah tidak perjaka lagi.”


 “Ya, kehilangan keperjakaan untuk pertama kalinya,” sambung seseorang di sampingnya.


“Ck!” decak Anshell yang diiringi dengusan kesal.


“Oh—Anshell Damarion Stone, selamat atas pernikahan kalian,” ucap salah satu pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Ck! Galak amat lo dah married juga. Ini ketahuan lo belum di kasih jatah atau belum mengambil jatah,” ledeknya dengan tawa.


“Sialan, lo!”


“Hai Aretha,” sapa si pria berjas abu-abu seraya mengayunkan langkahnya menghampiri Aretha.


Tentunya, dia kenal dan ingin mengucapkan atas pernikahannya dengan Anshell.


“Kamu—” seru Aretha pelan dengan bola mata yang mendelik ketika mengenal pria di depannya itu.


“Ya, aku. Apa kamu masih ingat?”


Aretha berikan angukan pelan, tentunya dia ingat. Pria yang tersenyum manis itu adalah salah satu dari enam pria di pesta Mr Lukman.


“Aku Jordan. Kita memang pernah bertemu beberapa kali, tetapi aku yakin kamu tidak tahu namaku bukan?”


Jordan memberikan buket bunga untuk Aretha. “Selamat atas pernikahanmu dengan sahabatku,” ucap Jordan tulus.


Jordan orang yang paling senang mendengarkan kabar bahagia ini sekalipun ya, hanya pernikahan kontrak.


Dari kelima temannya, hanya dia yang tahu kalau Anshell resmi menikah gadis kampung dimana kedua orang tua Anshell tidak mengetahui kalau sang pewaris menikah tanpa sepengetahuan apalagi restu dari orang tuanya.


Jordan mengambil sesuatu dari saku jasnya, lalu menyerahkan bungkusan kecil yang sejak tadi dia simpan untuk di serahkan pada Aretha.


“Maafkan aku yang terlalu sibuk tidak menghadiri pernikahan kalian.

__ADS_1


“Tapi, aku tidak lupa dengan sedikit hadiah kecil atas pernikahan kalian.”


Jordan menarik tangan Aretha dan meletakan bungkusan kecil itu di tangannya.


“Terima karena aku tulus memberikan kado ini.”


“Terima kasih, banyak.”


“Selamat atas pernikahannya Mrs Stone.”


Pria itu pun memberikan buket mawar pink untuk Aretha.


“Perkenalkan saya, Kevin sahabat suamimu di rumah skait.”


Pria itu mengulurkan tangannya dan disambut ramah oleh Aretha.


“Tidak afdol rasanya kalau sahabat menikah kita tidak memberikan hadiah,” ujar Kevin menoleh pada dua pria di sampingnya.


“Aku yakin seorang Mr Stone akan mampu memberikannya untukmu. Tapi, ini hadiah untukmu, Aretha.”


“Terima kasih banyak, Tuan Kevin.”


“Ah—call me Kevin saja,” tolak Kevin tidak suka dengan embel-embel Tuan. dia hanya seorang dokter biasa.


“Dan selamat atas pernikahan anda Mrs Stone.


“Saya Ken, salah satu orang kepercayaan Anshell sekali mulai hari ini saya yang secara resmi—” pria itu menarik napas dalam-dalam.


“Menjadi bodyguard sehari-harinya,” jawab Ken pasrah.


Dia diminta datang ke Bandung hanya untuk menjadi seorang bodyguard untuk menjaga Aretha?


Terlalu berlebihan bukan bila seorang Anshell yang katanya ingin membuat Aretha menderita namun pria itu menyuruh secara langsung kaki tangannya untuk menjaga Aretha?


“Sudahlah berbasi basinya. Gue harus cepat sampai Singapore, kalau kalian mau masih betah di sini silahkan.”


Anshell berjalan lebih dulu menaiki private jetnya, namun dihadang oleh Jordan dan juga Kevin.


“Lo mah nggak asik, Shell. Nggak ada acara party segala, nikah mendadak kayak gini.


“Dah ketemu lo malah main kabur saja? Apa sebegitu lo nggak tahan mau honeymoon?” ujar Kevin.


“Nggak ada honeymoon! Gue ingin lo cepat mengurus semua tes itu!”


“Ck! Keterlaluan lo! Setidaknya lo itu ajak istrimu honeymoon agar moodnya baik kan itu juga bagus untuk hasil tes nya nanti.


“Percaya deh sama gue, kalau masih ada waktu,” bujuk Kevin yang dianggukan oleh Jordan setuju.


“Tidak usah! Nggak penting karena mala mini gue nggak mau buang waktu gue yang berharga ini.”


“Ayolah, Shell.”


Anshell mendengus pelan. “Lo berdua nggak usah kekanak-kanakan.


“Dia hanya istri kontrak gue, dan pernikah ini pun sudah jelas hanya sebuah persyaratan buat gue jadi wali penuh gadis kampung itu untuk menyerahkan satu ginjalnya!” seru Anshell keras seolah menekan setiap kalimatnya.


Aretha menoleh ke samping dan pandangi Anshell.

__ADS_1


“Wali?”



__ADS_2