Cinta Adinda

Cinta Adinda
Sebelas


__ADS_3

** Hari Terakhir **


Selesai dari pantai Rendy membawa mobil ketempat pusat perbelanjaan oleh-oleh untuk dibawa pulang.


Mereka berkeliling melihat apa saja yang dijual ditempat itu dan apa saja yang cocok mereka beli untuk oleh-oleh pulang nanti.


Dinda hanya membeli beberapa makanan kecil untuk dibawanya pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan Febri temannya dikantor.


"Ini saja belanjaan kamu?" Tanya Rendy tak percaya, biasanya wanita sering kalap kalau sedang berbelanja.


"Saya kan baru seminggu kerja Pak, jadi belum terima gaji. Saya gak bawa persediaan uang yang banyak Pak" Ucap Dinda jujur.


"Sana pilih oleh-oleh yang lain untuk keluarga kamu nanti biar sekalian saya bayar sama punya saya. Tolong carikan juga oleh-oleh untuk Angga. Nanti dia ngambek kalau tidak saya bawakan oleh-oleh."


Dinda membeli beberapa Kaos oblong yang bergambarkan karikatur kota ini untuk kakak dan Angga, tas sandang untuk kakak iparnya dan febri. Kain khas kota ini untuk Mamanya ditambah beberapa makanan khas oleh oleh kota ini untuk teman kantor yang lain. Rendy memperhatikan tingkah Dinda. Padahal dia sudah membebaskan Dinda untuk berbelanja sepuasnya dan dia yang akan membayarnya tapi wanita ini hanya membeli seperlunya saja.


Rendy merasa aneh ternyata masih ada wanita yang tidak doyan berbelanja. Rendy membayar semua belanja mereka setelah itu mereka kembali ke hotel.


"Nanti malam saya akan ajak kamu makan kesuatu tempat yang sangat terkenal dikota ini. Jam 7 kamu sudah siap ya" Ajak Rendy.


"Baik Pak. Saya harus memakai baju yang bagaimana Pak. Saya takut salah kostum nanti akan mempermalukan Bapak disana" Dinda teringat kata kata Rendy pada saat kemarin Rendy mengajaknya ke pesta.


"Santai saja senyamannya kamu. Ini bukan acara resmi kog"


Baru pukul 4 sore Dinda baru selesai shalat ashar, masih ada waktu untuk istirahat sebentar. Ternyata Dinda kelelahan karena baru pulang dari pantai akhirnya dia tertidur sampai menjelang adzan maghrib. Dinda buru buru mandi dan shalat maghrib setelah itu Dinda bersiap siap untuk pergi makan malam terakhir dikota ini bersama Rendy Bos beku nya.

__ADS_1


Jam 7 Dinda sudah siap berdandan dan keluar dari kamarnya tepat saat Rendy juga keluar dari kamarnya. Mereka berjalan keluar hotel menuju mobil. Rendy membawa Dinda kesebuah tongkrongan makan yang ramai pengunjungnya mungkin karena malam minggu pengunjungpun kebanyakan pasangan remaja yang sedang pacaran.


Disini disediakan aneka macam makanan tradisional khas kota ini dan disusun secara prasmanan. Pengunjung tinggal mengambil makanan yang mereka mau kemudian menaruhnya ke piring mereka setelah itu baru dihitung salah satu karyawannya.


Tempat makan yang unik dan sederhana. Dinda baru kali ini pergi makan ke tempat seperti ini.


Mereka mencari meja yang kosong kemudian memesan minum dan mulai makan.


"Gak nyangka Bapak mau makan ditempat seperti ini, saya kira Bapak hanya makan di restaurant mewah. Disini tempatnya sederhana dan lebih merakyat?" ujar Dinda


"Ini tempat makan yang paling ramai dan terkenal dikota ini Din. Kamu lihat kan tadi cari meja yang kosong aja sulit sekali"


"Iya Pak, banyak sekali pengunjungnya. Kog Bapak bisa tau tempat seperti ini?"


"Sepertinya asik ya Pak" Dinda menyeruput minumannya.


"Salut lihat Bapak yang hidup dengan kemewahan mau bepergian seperti itu"


"Itu masa masa pencarian jati diri Din belum banyak tuntutan hidup dan tekanan keluarga. Setelah kuliah saya harus mengikuti keinginan keluarga. Kuliah dan jurusannya sudah ditentukan walau saya tidak menyukainya. Saat itu saya jadi pembangkang saya bergaul dengan teman yang salah, mulai mengenal klub malam, minuman beralkohol dan wanita"


Dinda diam mendengarkan cerita Rendy.


"Sampai saya tamat kuliah keluarga saya memaksa saya untuk kerja di perusahaan keluarga yang saat itu dipimpin oleh Papa saya. Saya juga tidak bisa menolak tapi hanya 2 tahun saja. Saya muak menjadi boneka mereka akhirnya saya keluar dari perusahaan dan rumah Papa dan membangun sendiri perusahaan saya. Awalnya sangat sulit sekali dan hampir gagal pada saat itulah saya bertemu Angga. Dia membantu saya bangkit kembali sampai sekarang ini"


"Tapi berkat kerja keras kan Bapak berhasil dan sukses seperti sekarang ini"

__ADS_1


"Yah seperti yang kamu lihat, sekarang keluarga baru bisa mengakuinya. Setahun belakangan ini mereka meminta saya kembali kerumah Papa tapi saya menolak, saya sangat nyaman tinggal sendiri di apartemen lagian perusahaan Papa juga sekarang sudah dipegang kakak saya. Biar dia saja yang mengelolanya saya tidak tertarik"


"Tapi komunikasi Bapak masih baik kan dengan keluarga?" Tanya Dinda.


"Iya, tapi saya masih dicap pembangkang. Saya hanya datang saat acara besar keluarga saja. Saya jarang berkunjung kerumah Papa"


"Jangan gitu donk Pak, gimana pun Bapak itu adalah seorang anak. Saya yakin walaupun Bapak di cap keras dan pembangkang Orangtua Bapak sangat sayang kepada Bapak. Buktinya mereka meminta Bapak kembali pulang kerumah"


Dinda mencoba memberi semangat akan sikap protesnya Rendy pada keluarganya.


"Kalau saya hal yang paling tinggi dalam hidup ini selain Tuhan ya keluarga Pak. Hanya mereka yang saya punya. Mama memang berasal dari keluarga yang berada tapi Dia bertemu dengan Papa saya dan jatuh cinta. Dia bersedia meninggalkan semua kehidupan mewah dari keluarganya demi menikah bersama Papa saya. Mama tidak pernah menerima bantuan dari keluarganya karena dia sangat menghargai suaminya. Walau kakaknya, Papanya Mbak Andin bulak balik menawarkan bantuan tapi Mama menolak secara halus. Kami hidup sederhana dan sekolah dengan modal beasiswa tapi kami bahagia. Walau 3 tahun lalu Papa meninggal dan Mama sakit, Mama tetap tidak mau menerima bantuan dari Papa Mbak Andin. Saya dan Kakak saya yang mengurus Mama sendiri sampai sekarang ini. Keluarga paling utama Pak, kalau bukan kita yang menyayangi orangtua siapa lagi Pak. Suatu saat orangtua kita akan tua dan sakit sakitan, mereka sangat membutuhkan kita untuk merawat mereka"


Rendy terdiam mendengar cerita Dinda.


Setelah selesai makan mereka jalan menuju alun-alun kota. Berkeliling menikmati malam minggu yang ramai, malam terakhir mereka dikota itu. Besok pagi mereka harus pulang ke kota asal mereka.


Dinda melihat ada penjual bandrek di tepi jalan.


"Bapak suka bandrek?"


Rendy mengangguk.


"Kita minum disitu yuk, selain minuman sehat juga bisa menghangatkan badan. Sangat cocok diminum malam malam begini" Dinda menunjuk kearah penjual bandrek tersebut.


Malam ini mereka sangat menikmati suasana kota ini dan bisa mengobrol santai bahkan Rendy bisa terbuka menceritakan tentang keluarganya yang tidak banyak orang yang tau. Mereka terlihat semakin akrab dan dekat tanpa mereka sadari.

__ADS_1


__ADS_2