
Bertemu Denganmu
Hari Jumat Pagi dikantor Rendy
"Hari ini jadwal kita bertemu dengan perwakilan dari para demonstran kemarin Bos" Lapor Angga.
Karena Dinda belum bisa masuk kerja, sementara Angga yang menggantikan Dinda menyusun dan membacakan agenda kerja Rendy.
"Jam berapa jadwalnya Ga?" tanya Rendy.
"Jam 2 Bos, karena hari ini hari Jumat kita undur waktunya siang hari saja biar lebih leluasa" ucap Angga.
"Oh iya Bos saya juga sudah mencari sebab mengapa para pendemo kemarin menuntut hak mereka"
"Apa informasi yang kamu dapatkan?" tanya Rendy.
"Ternyata mereka di propokatori oleh orang-orang dari utusan Pak Frengky untuk menuntut ganti rugi lebih tinggi dari perjanjian sesuai undang-undang" jawab Angga.
"Terjawab sudah kecurigaanku, ternyata memang Frengky dalang dari semua ini, dan aku rasa tragedi dikantornya itu merupakan rencana mereka. Frengky bekerjasama dengan Lisa untuk menghancurkanku" ucap Frengky.
"Kumpulkan semua bukti-bukti bahwa Perusahaan Bima Corp melanggar perjanjian kerjasama bahkan telah berbuat curang" perinta Rendy pada Angga.
Siang harinya perusahaan Baskara Corp sengaja mengundang perwakilan para demonstran untuk bertemu disebuah ruang pertemuan privat sebuah Restourant.
Mereka membuat kesepakatan akan membayar ganti rugi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena sesuai isi dari undang-undang tersebut sebenarnya sudah menguntungkan para penduduk yang lahannya terkena area pembangunan. Hanya saja mereka terkena hasut dari luar untuk menuntut lebih dan orang luar tersebut adalah suruhan dari orang orang frengky.
Pertemuan masih berlangsung sampai jam 6 sore. Angga keluar dari ruang rapat untuk pergi ke toilet.
Pada saat dia sedang berjalan ke arah toilet tiba-tiba tanpa sengaja dia melihat Febri dengan seorang pria sedang berbincang-bincang. Mereka terlihat sangat akrab dan mesra. Angga melihat beberapa kali Febri tersenyum dan tertawa saat bersama pria itu.
Siapa pria itu dan apa hubungan Febri dengan Pria itu? Apakah pria itu orang yang Febri suka? Angga teringat pembicaraan mereka terakhir di mobil pulang dari apartemen Rendy. Febri bertanya tentang perjodohan.
Mungkin dia Pria yang Febri maksud. Angga melanjutkan langkahnya menuju toilet, tapi mengala dadanya terasa nyeri. Rasanya ada yang sakit dan menghimpit hatinya.
Sementara di meja Febri dan Sang Pria.
"Apakah kamu yang bernama Abdi Kurniawan?" tanya Febri pada seorang pria yang sedang duduk sendiri.
"Kamu Febri?" ucap pria tersebut
"Iya, maaf saya terlambat. Saya pulang kantor
jam 5 dan ternyata agak sedikit macet tadi menuju kesini" jawab Febri.
Flashback On.
__ADS_1
"Feb, nanti sore jam 5 kamu jumpai Abdi anak temannya Papa itu di Restourant Cempaka ya" ucap Papa saat sarapan pagi.
"Lho kog mendadak Pa" tanya Febri.
"Ketepatan nak Abdi sedang ada perlu ke Jakarta, jadi sekalian ketemu sama kamu. Kan gak ada salahnya kalian lebih cepat berkenalannya. Jumpai aja dulu, ngobrol-ngobrol dan berteman. Kalau cocok ya lanjut" ujar Papa membujuk anaknya
Flashback Off.
"Jadi kamu wawan, anaknya Om Mirza?" tanya Febri setelah obrolan mereka sebelumnya.
"Iya, masak kamu lupa Feb" jawab pria yang dikenal Febri bernama Wawan.
"Ya jelas lupa lah wan, kita kan sudah lama banget gak ketemu. Terakhir ketemu pas SMP" Febri mengingat bahwa keluarga Om Mirza pindah keluar kota. Sebelumnya keluarga mereka memang sering bertemu karena Papanya bersahabat dengan Om Mirza Papanya Wawan.
"Gak nyangka ya Feb bisa ketemu lagi, aku pangling tadi pas lihat kamu. Gak kenal lagi wajah kamu" Wawan tersenyum kepada Febri.
"Aku juga gak kenal wajah kamu wan. Dulu kan kamu badannya kecil, pendek. sekarang ternyata besar gini" Febri tertawa becanda.
Wawan adalah teman kecilnya dulu yang sudah lama tak jumpa. Ternyata orang yang dimaksud Papanya adalah Wawan. Ya tentu Febri kenal karena mereka berteman. Tapi soal perasaan, hatinya sudah terkunci.
"Dulu kan masih kecil.Gitu beranjak remaja aku rajin olahraga makanya badanku seperti sekarang ini. Kamu kerja dimana Feb?" tanya Wawan.
"Aku kerja di Perusahaan Baskara Corp" jawab Febri.
"Iya lagi pembangunan Hotel dan jalan Tol. Alhamduillah"
"Kamu apa kegiatannya sekarang? Kata Papa kamu udah jadi pengusaha?" tanya Febri
"Ah aku masih pengusaha kelas Provinsi Feb belum bisa go nasional" Wawan merendah.
"Udah mantap itu, aku aja cuma seorang karyawan kantoran Wan" Mereka ngobrol panjanf tentang masa kecil dan masa sekolah dulu.
Terkadang tertawa karena cerita lucu pada waktu kecil. Tapa Febri sadari ada sepasang mata yang melihatnya dari kejauhan. Mata yang terlihat penasaran tetapi juga menyiratkan kesedihan.
Pertemuannya dengan Wawan hari ini sangat menyenangkan, ntah mengapa Febri sangat senang bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak bertemu.
Seperti bernostalgia kembali mengenang masa sekolah dulu karena dari TK, SD mereka satu sekolah, pas SMP Wawan sekolah di sekolah lain kemudian pertengahan SMP keluarganya pindah keluarga kota dan saat itu mereka hilang kontak dan tak berhububgan.
Mereka hanya berbicara tentang masa lalu, tidak ada yanh mau memulai pembicaraan kedepan. Baik Febri atau Wawan hanya sepakat kalau ada waktu lain kali mereka akan bertemu lagi.
Tak lupa juga mereka saling bertukar nomor handphone. Agar lebih mudah untuk berkomunikasi.
Tak terasa waktu cepaf berlalu setelah makan malam pukul 9 mereka sepakat untuk berpisah. Karena Wawan memang sudah ada janji dengan rekannya yang lain dia meminta maaf tidak bisa mengantar Febri pulang kerumah.
Febri pulang kerumah dengan menaiki taxi.
__ADS_1
******
Perusahaan Baskara Corp sudah selesai melakukan negoisasi sampai pukul 6 sore. Pada saat hendak pulang dan keluar dari Restourant tersebut Angga sempat melihat kearah Febri ternyata mereka masih betah ngobrol di Restourant itu.
Dengan hati yang berat Angga meninggalkan restourant itu. Angga mengantarkan Rendy pulang ke apartemen setelah itu baru dia pulang ke apartemennya.
Di apartemen Rendy.
Dinda terlihat sudah sangat segar dan sehat. Setelah selesai shalat maghrib Dinda memasak makanan favourite suaminya, rendang padang.
Saat dia sedang sibuk di dapur sayup sayup Dinda mendengar pintu apartemennya berbunyi dan tak lama kemudian Rendy masuk.
"Wangi banget sayang, kamu masak apa?" tanya Rendy.
"Aku masak rendang daging kesukaan kamu" Dinda tersenyum pada suaminya.
"Kamu sudah shalat maghrib Mas? tanya Dinda
"Sudah tadi dijalan singgah di mesjid sama Angga" jawab Rendy
"Mandi sana Mas biar segar. Sebentar lagi aku ke kamar nyiapin baju kamu"
"Makasih sayang" Rendy mengecup pipi istrinya setelah itu melangkah ke kamar lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dia keluar dari kamar mandi dan sudah melihat baju beserta pasangan hidupnya telah tersusun rapi diatas tempat tidur. Istrinya sudah menyiapkanya.
Setelah memakai bajunya Rendy shalat Isya kemudian keluar menuju dapur dan sudah tak sabar untuk menyicipi masakan istrinya.
Makan malam hari ini sangat lezat karena masakan favourite Rendy dimasak penuh cinta oleh istri tercintanya.
Karena kasihan melihat istrinya terlalu capek, Rendy mempersilahkan istrinya untuk istirahat dikamar sementara biarlah dia yang membersihkan semua piring kotor di dapur.
Kemudiam Rendy menyusulnya ke kamar, sudah lama tidak bermanja dan bermesraan dengan isteinya. Seminggu ini urusan kantor sangat penat. Rendy ingin sekali mencarger kekuatannya malam ini.
Rendy melihat istrinya sedang menyisir rambutnya setelah melepas mukena selesai shalat Isya.
Dinda mengikat rambutnya keatas memperlihatkan leher jenjangnya yang sangat menggugah hasrat Rendy malam ini.
"Sayang.... kamu wangi sekali malam ini" ucap rendy sambil memeluk istrinya dari belakang kemudian dia mencium leher jenjang istrinya yang dari tadi sudah sangat menggoda.
"Malam ini aku ingin memulihkan tenagaku" ucapnya pada istrinya kemudian Rendy meraih bibir istrinya mengecupnya lembut dan lama perlahan tapi pasti semakin hangat dan panas.
Dinda menyambutnya dengan sangat manis seolah memang ingin menyalurkan semangat pada suaminya yang sedang letih. Dinda tau seminggu ini suaminya sudah mengalami sesuatu yang berat dikantornya. Biarlah malam ini dia melayani suaminya dengan penuh kasih.
Rendy melepaskan penat dan kerinduannya pada istrinya yang telah tertahan lebih dari seminggu. Dengan pelan dan lembut takut anaknya di dalam tersakiti mereka sama-sama meraih kepuasannya malam ini.
__ADS_1