
TAMAT
Rendy dan Dinda sampai diapartemen jam 6 malam. Mereka mandi dan shalat maghrib bersama.
Setelah itu mereka berbaring diatas tempat tidur karena lelah seharian menghadiri acara pernikahan Angga dan Febri.
Rendy mengurut kaki istrinya yang lelah berjalan seharian ini.
"Pegal ya sayang?" tanya Rendy.
"Iya Mas padahal aku pakai flat shoes lho" ucap Dinda.
"Namanya juga kamu lagi hamil sayang, kan capek bawa anak aku kemana-mana" Rendy terus memijit betis Dinda.
"Eh Mas, kira-kira Angga dan Febri sedang apa ya sekarang?" tanya Dinda.
" Yang jelas mereka saat ini sedang honeymoon sayang, menikmati kejutan yang kita berikan" jawab Rendy.
Rendy dan Dinda pun tertawa bersama membayangkan wajah Angga dan Febri melihat isi koper yang mereka persiapkan.
HAHAHAHAHA
PEMBALASAN YANG SEMPURNA!!!!
****************************ooo***********************
1 bulan kemudian
"Hoek.... "
"Yang kamu kenapa, dari tadi muntah-muntah terus" ucap Angga bingung.
"Nggak tau Mas, kepalaku pusing sekali" jawab Febri.
Angga memijit kepala Febri berusaha membantunya untuk mengurangi rasa pusing dan mualnya.
"Kalau seperti ini kamu gak usah masuk kantor ya, istirahat dirumah saja" perintah Angga.
Angga membawa istrinya kembali ke tempat tidur. Febri berbaring untuk menetralkan keadaan perutnya yang dari tadi seperti diaduk aduk.
"Tapi maaf ya sayang, aku gak bisa temani kamu dirumah, nanti jam9 ada meeting penting. Aku harus temani si Bos, Dinda kan sudah gak boleh lagi ikut meeting diluar karena perutnya yang sudah semakin besar" ucap Angga.
Febri menutup matanya mencoba melawan pusing kepalanya.
"Aku telp Mama aja ya biar Mama yang temani kamu disini"
"Gak usah Mas, aku bisa kog sendirian. Sebentar lagi juga hilang pusingnya" jawab Febri.
"Tapi aku gak tenang kalau harus ninggalin kamu sendirian" ucap Angga.
"Gak apa-apa Mas, beneran kog. Sebentar lagi juga sembuh. Aku cuma kecapekan mungkin karena beberapa hari nemani kamu lembur dikantor aku jadi masuk angin"
Febri menolak tawaran suaminya karena tidak mau merepotkan orangtuanya.
Angga berjalan ke dapur kemudian membuat bubur untuk Febri. Setelah bubur selesai dimasak dia membawanya ke kamar bersama segelas air hangat dan obat pusing.
"Kamu bisa bangun sayang, ni aku buatkan bubur. Kamu makan dulu ya setelah itu minum obat" Angga melirik jam di dinding sepertinya masih sempat waktunya dia nyuapin istrinya yang sedang sakit, setelah itu baru dia bersiap untuk berangkat ke kantor.
Febri menghabiskan semua bubur yang dibuat Angga didalam mangkuk kemudian dia meminum obat pusing dan kembali berbaring.
Angga segera bersiap siap mandi dan memakai pakaian kantornya. Dia melihat istrinya sudah terlelap diatas tempat tidur.
Angga tak sampai hati membangunkan istrinya yang sedang tidur, dia mencium kening istrinya dengan lembut kemudian melangkah keluar dari apartemennya dan berangkat ke kantor.
__ADS_1
Karena jalanan macet hari ini Angga telat sampai dikantor.
Angga langsung masuk keruangan CEO nya dimana didalamnya sudah ada Dinda yang sedang menyerahkan beberapa berkas untuk rapat jam 9 nanti.
"Kamu terlambat Ga?" tanya Rendy.
"Gak seperti biasanya kamu seperti ini, biasanya kamu selalu datang tepat waktu" ucap Dinda.
" Iya maaf Bos, istriku lagi sakit" jawab Angga lesu.
"Febri sakit, sakit apa?" tanya Dinda.
"Tadi pagi begitu bangun tidur kepalanya pusing dan muntah-muntah. Untuk shalat subuh aja harus ditempat tidur. Dia gak sanggup berdiri" jawab Angga.
Dinda yang mendengar penjelasan Angga tersenyum bahagia.
"Mungkin Febri hamil kali Ga, kamu bawa dia ke dokter kandungan secepatnya" perintah Dinda.
"Topcer juga kamu ya Ga, gak sia-sia kejutan yang kami berikan" Rendy tertawa setiap mengingat serangan balasan mereka dimalam pertama Angga dan Febri.
"Gimana gak berhasil Bos, koper kami isinya begituan semua. Gak ada baju yang pantas untuk dipakai. Mana tempatnya terpencil kami gak bisa beli baju baru disana. Ya terpaksa seminggu didalam kamar terus. Namanya pengantin baru, suasananya sangat mendukung ya mau ngapain lagi kalau gak gitu-gituan" Angga menjawab dengan pasrah teringat Bos dan istrinya ini telah sukses membalaskan dendam mereka.
"Hahahahahaha...." Rendy dan Dinda tertawa mendengar cerita Angga.
Mereka sudah membayangkan apa yang dilakukan pasangan suami istri itu dihari pernikahan mereka. Bahkan Rendy dan Dinda sengaja memblokir nomor mereka agar mereka tidak bisa menghubungi Rendy dan Dinda selama satu minggu.
"Ya udah Ga, bawa aja istri kamu ke dokter kandungan tempat Dinda priksa" usul Rendy.
"Eh sekalian aja Mas nanti sore jadwal kita priksa juga, udah gak sabar mau lihat jenis kelamin anak kita" ucap Dinda penuh semangat.
"Kamu daftarin sekalian ya Ga, biar kita bareng ke dokternya" perintah Rendy.
*****
"Sayang...." Panggil Angga ketika masih melihat Febri terbaring ditempat tidur.
"Ya Mas... sssst..." jawab Febri sambil meringis.
"Masih sakit?" tanya nya
"Iya, masih pusing"
"Sekarang kamu siap-siap, kita ke dokter" ajak Angga.
Febri yang seharian ini mengalami pusing dan muntah-muntah tak bisa lagi menolak, dia mencoba bangun dari tidur dan dibantu Angga berganti baju.
Angga membimbingnya masuk ke dalam mobil setelah itu mereka menuju praktek dokter kandungan.
Febri melihat pamplet dokter kandungan di depan ruang praktek merasa heran mengapa suaminya membawanya kesini.
"Mas kita kog ke sini?" tanya Febri.
"Tadi pagi aku cerita sama Dinda dan Bos tentang yang kamu alami, Dinda bilang kemungkinan kamu hamil" jawab Angga.
Febri memikirkan kata-kata suaminya dan menghitung-hitung hari sepertinya memang iya, tapi Febri tidak berani terlalu berharap biarlah hasil pemeriksaan dokter nanti yang membuktikannya.
Saat menunggu antrian masuk Febri melihat Dinda dan suaminya Bos Beku itu sudah lebih dulu menunggu didepan ruang praktek dokter.
"Gimana Feb, sudah lebih baik?" tanya Dinda.
Febri terlihat pucat dan tidak bertenaga.
"Belum Din, masih pusing dan mual" jawab Febri.
__ADS_1
"Ibu Adinda Putri Aulia" panggil perawat.
"Ya" jawab Dinda
"Kami duluan ya Feb"
Dinda dan Rendy berdiri dan masuk kedalam.
"Selamat sore bu, gimana keadaannya. Ada keluhan dikehamilan yang sudah memasuki usia 22 minggu? tanya dokter.
"Alhamdulillah keluhan yang berat tidak ada dok, dinikmati aja prosesnya" jawab Dinda.
Dokter tersenyum mendengar jawaban Dinda.
"Kita lihat dulu keadaan bayinya ya, silahkan naik bu" dokter memerintahkan Dinda untuk naik keatas tempat tidur praktek.
Kancing rok Dinda dilonggarkan dan baju kemejanya dibuka beberapa kancing paling bawah kemudian perawat mengoleskan gel keperut Dinda.
Saat-saat seperti inilah yang paling ditunggu tunggu Rendy dan Dinda, mereka bisa melihat keadaan anaknya didalam perut Dinda.
"Detak jantungnya bagus, anaknya juga aktif. Mau tau jenis kelaminnya Pak Bu?" tanya Dokter menawarkan.
"Boleh dok" jawab Rendy.
"Anak Bapak laki-laki, nih tugu monasnya udah kelihatan" Dokter melingkari bagian yang dimaksud dilayar monitor.
"Alhamdulillah sebenarnya apapun jenis kelaminnya yang penting anaknya sehat dok" Ucap Rendy.
Setelah mereka selesai pemeriksaan, kini giliran Angga dan Febri yang diperiksa.
"Ada yang bisa saya bantu Pak, Bu?" tanya dokter
"Istri saya dari tadi pagi kepalanya pusing dan mual-mual dok seharian" jawab Angga.
"Kapan terakhir haidnya Bu?" tanya dokter kepada Febri.
"Bulan lalu, mm.. 5 minggu yang lalu dok" jawab Febri sambil mengingat-ingat.
"Maksud kamu Feb, sebelum kita nikah?" tanya Angga.
"Iya saat kita nikah aku baru bersih Mas" jawab Febri.
"Baik, kita periksa dulu ya" ujar dokter.
Febri naik keatas tempat tidur dan membuka baju dibagian perutnya saja. Dokter meletakkan alat keperut Febri dan tersenyum ketika melihat kelayar monitor.
"Selamat Pak, istri Bapak sedang hamil" ucap dokter tersebut.
"Alhamdulillah" jawab Angga sangat senang.
"Dan kejutan selanjutnya anak Bapak dan Ibu kembar, lihat dilayar ini ada dua titik. Bentuk bayinya belum kelihatan karena masih terlalu dini usia kehamilan Ibu. Sekali lagi selamat ya Pak, Bu" Dokter tersenyum melihat kearah mereka.
Setelah keluar dari ruang praktek dokter Angga sudah sangat tidak sabar untuk melaporkannya pada Rendy.
"Bos... Bos... " panggilnya antusias.
"Istri saya hamil, Febri hamil Bos, anak kami kembar" ucapnya sangat gembira.
Dinda dan Rendy tersenyum dan tertawa bersama mendengarnya.Rencana mereka sukses besar dan membuahkan hasil.
"TIDAK SIA SIA KAMI MENGURUNG KALIAN DI VILLA TERPENCIL SELAMA SEMINGGU TANPA BUSANA YA GA, KAMU MEMANG TOPCER" ucap Rendy tertawa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆END☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1