Cinta Adinda

Cinta Adinda
Delapanpuluh Satu


__ADS_3

Memperjuangkanmu Part 3


Perawat baru saja keluar dari kamar rawat inap Febri untuk mengantarkan makan malamnya.


Angga masih setia menyuapi Febri makan karena Febri belum diperbolehkan duduk dan sangat sulit jika harus makan sendiri dalam keadaan berbaring.


Sembari makan tiba-tiba Febri teringat sesuatu.


"Eh Pak, ada yang mau saya tanyakan soal kejadian di Villa" Febri tiba-tiba teringat sesuatu.


"Kamu mau tanya apa?" ucap Angga sambil memberikan makanan ke mulut Febri.


"Gimana ceritanya Bapak dan Pak Rendy bisa ada di villa, mengapa kalian tau kalau kami disembunyikan disana?" tanya Febri.


"Kami menyusul kalian ke Rumah Sakit dan memeriksa cctv disana, kami melihat kalian dibawa menggunakan mobil jeep, kami melacak plat mobilnya dan mendapatkan alamat villa itu. Ternyata itu villa keluarga Ivan." jawab Angga.


"Lho kog bisa?" Febri kembali bertanya.


"Lisa itu simpanan Papanya Ivan dan Ivan yang membawa kami ke Villa. Kamu mau tau kabar lain yang sangat mengejutkan?" tanya Angga.


"Apa Pak?" tanya Febri penasaran.


"Lisa yang menabrak Papa Dinda"


"Serius Pak, gimana ceritanya?"


"Tiga tahun yang lalu Lisa menabrak Papa Dinda sampai meninggal, dia meminta bantuan Papa Ivan sehingga tidak ada yang tau dia pelakunya. Untuk menutupi itu Papa Ivan sengaja memutuskan hubungan Ivan dan Dinda. Ivan dijodohkan dengan wanita lain"


"Jahat bener si Lisa itu kayak nenek sihir, tapi ya sudahlah namanya juga gak jodoh Pak. Dan ternyata jodoh Dinda malah Pak Rendy mantan pacarnya Lisa" ucap Febri.


Bubur yang ada di piring sudah habis dimakan Febri.


Febri membersihkan bibirnya dengan menggunakan tisu.


Suasana kamar kembali sepi dan mereka sama-sama merasa serba salah setelah tadi sempat menyinggung tentang jodoh.


Angga sudah tidak tahan dengan suasana canggung seperti ini, malam ini semua harus selesai.


"Feb saya ingin menanyakan sesuatu" ucapnya memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Tentang apa Pak?" Febri bertanya balik.


"Tentang kata-kata kamu saat terakhir saya mengantar kamu pulang kerumah" jawab Angga.


Jantung Febri mulai tak karuan, rasanya saat ini juga dia ingin bersembunyi, tapi tidak bisa, duduk saja dia belum dapat izin.


"Mmm... jangan terlalu difikirkan Pak. Malam itu mungkin saya terbawa suasana saja, baru selesai makan malam di Cafe dengan suasana romantis, jadi perasaan saya sedikit melankolis pengen dapat perhatian manis tapi ternyata bau amis hehehe" Canda Febri garing, Angga udah pasang wajah serius dari tadi.


"Beberapa hari yang lalu saya sangat sulit mengartikan kata-kata kamu dan setelah saya bisa mengartikannya beribu pertanyaan timbul dalam fikiran saya, apa yang harus saya lakukan" Angga mulai berbicara tentang perasaannya.


"Jujur sampai beberapa hari yang lalu saya masih bingung dengan fikiran yang ada diotak saya mengapa tidak bisa bekerjasama dengan hati saya. Dan saya belum bisa menyimpulkan sinyal apa yang dikirimkan hati saya kepada otak saya. Saya belum menemukan jawabannya" Angga menarik nafas panjang.


"Tapi setelah saya melihat kamu terluka dan tidak sadarkan diri, saya menemukan jawaban itu. Saya tidak bisa kehilangan kamu. Melihat kamu terluka hati saya sakit. Saya menyukai kamu Feb" ucap Angga jujur.


Febri menatap kedalam manik mata Angga sangat dalam mencari kejujuran dan keseriusan kata-kata Angga. Dia menemukannya, Angga memang benar-benar serius mengatakannya.


Ternyata mimpi indahnya jadi kenyataan. Memang suara Anggalah yang dia dengar selama dia tidak sadarkan diri.


Tak terasa airmata Febri menetes ke pipi, terharu dan bahagia mendengar ungkapan hati Angga.


"Aku tau kamu tidak mau pacaran kan, jadi malam ini izinkan aku melamar kamu. Maukah kamu menjadi istriku" Pinta Angga sambil dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku celannya.


Angga menatap dalam kearah Febri, menunggu jawaban yang akan diberikan Febri.


"Saya mau Pak" jawab Febri malu sambil menyeka airmatanya.


"Alhamdulillah, terimakasih Feb" ucap Angga.


"Cincinnya kamu pasang sendiri ya, kan belum muhrim" ucap Angga tertawa.


"Uh dasar... Simpan aja, besok kasi didepan Papa dan Mama ya" pinta Febri.


Angga menatap Febri dengan penuh tanda tanya.


"Pak, boleh saya bercerita sesuatu?" tanya Febri.


Angga menjawabnya dengan anggukan.


"Saya dijodohkan dengan anak sahabat Papa saya dan pria itu adalah Wawan teman kecil saya. Saya belum memberikan jawaban pada Papa saya tentang perjodohan ini apakah saya menerima atau menolaknya. Papa bilang dia tidak ingin memaksa saya untuk menikah. Saya diperbolehkan membawa orang lain jika saya sudah punya calon" Febri bercerita tentang perjodohannya.

__ADS_1


"Waktu itu saya bingung memberi jawaban apa, saya tidak bisa menerima perjodohan ini karena saya tidak mempunyai perasaan apapun pada Angga, dia hanya saya anggap sebagai teman kecil. Tapi saat itu saya juga belum mempunyai calon"


Febri memberi jeda sebentar kemudian dia melanjutkan kata-katanya.


"Sebenarnya sudah lama saya menyukai Bapak, malah saya sempat hampir berhenti menjadi pengagum rahasia Bapak. Tapi semenjak saya berteman dengan Dinda, saya jadi lebih sering ketemu Bapak, bisa mengenal Bapak dan bisa lebih dekat dengan Bapak"


Febri istirahat sebentar untuk menarik nafas panjang.


"Saya pernah kan cerita pada Bapak tentang perjodohan dan saya sangat tidak setuju kalau harus pasrah menerima jodoh kita. Saya ingin berjuang mendapatkannya dengan usaha saya sendiri. Saat ini saya belum bisa mengatakan bahwa Bapak adalah jodoh saya. Saya akan mengatakan Bapaklah jodoh saya setelah Bapak menggenggam tangan Papa saya dalam ijab kabul. Jadi maukah Bapak berjuang dengan saya menuju hari itu?" tanya Febri.


"Terimakasih Feb, kamu mau memberi kesempatan kepada saya untuk ikut berjuang bersama kamu. Saya mau berjuang berasama kamu menuju hari dimana saya akan menggenggam erat tangan Papa kamu dan mengucapkan dengan lantang ijab kabul kita" jawab Angga.


Mereka tersenyum bersama. Akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega ternyata perasaan mereka sama. Semoga Tuhan melihat ikhtiar mereka untuk memberikan jalan mereka untuk berjodoh.


"Sekarang Bapak makan dulu, Bapak pasti belum makan kan? Dari tadi cacingnya demo tu minta diisi" goda Febri.


"Kedengaran ya?" tanya Angga malu.


"Nggak. Saya cuma bercanda lho Pak?" Febri tertawa karena sudah berhasil ngerjain Angga.


"Kamu jangan panggil Bapak lagi donk, gak enak dengarnya" ucap Anga.


"Aku panggil Mas aja ya, biar lebih romantis seperti Pak Rendy dan Dinda haha" Febri sudah kembali ceria lagi.


"Ya udah Mas Angga makan dulu ya nanti kemalaman makannya" ucap Febri sembari tersenyum.


Angga pun tersenyum mendengar kata-kata Febri kemudian dia membuka bungkusan yang ada di meja didepan sofa dan mulai makan dengan lahapnya. Tiba-tiba saja selera makannya bertambah dan dia jadi lebih semangat malam ini.


Mengumpulkan kekuatan untuk berjuang bersama besok agar mendapat restu dari orangtua Febri.


Febri yang melihat Angga makan dengan lahapnya merasa sangat senang sekali dan masih tidak percaya. Berulang kali dia mencubit tangannya dan kesakitan untuk menyadarkannya bahwa dia sedang tidak bermimpi saat ini.


Besok Febri akan menjawab permintaan Papanya dan menolak perjodohan ini karena sekarang Febri sudah mempunyai calon. Calon suami...


************ooooooooooooooooooooo***************


Maaf ya para pembaca, Rendy dan Dinda kita sembunyikan dulu ya. Kita kelarkan dulu urusan Angga dan Febri agar mereka bisa tidur dengan tenang.


😘😘😘😘😘😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2