Cinta Adinda

Cinta Adinda
Delapanpuluh Tiga


__ADS_3

Tuntutan Untuk Lisa


Satu Minggu Setelah Kejadian Penculikan Dinda


"Mas, aku mau main kerumah Mama, sudah seminggu istirahat dirumah aku bosan, sekalian lihat anaknya Mas Nanda Mas. Sejak lahir aku belum pernah lihat ponakan aku karena Mas larang keluar rumah" Dinda cemberut.


"Kata dokter kamu harus istirahat dulu sayang pasca peristiwa penculikan kamu. Mama, Mas Nanda dan Mbak Lila juga mengerti keadaan kamu setelah kita cerita lewat telpon" Rendy mencoba membujuk istrinya yang ngambek.


"Sekarang kita jadi kerumah Mama atau tidak ni, dari tadi ngambek melulu" Rendy sedikit mengancam karena istrinya masih merajuk.


"Jadi donk, aku udah kangen Baby Salsa" Dinda segera bersiap-siap dan tak sabar untuk menjenguk ponakannya tersayang.


Rendy dan Dinda sudah dalam perjalanan menuju kerumah Mama Dinda.


"Mas singgah ke toko baby shop di depan ya, kita belum kasi sesuatu untuk baby Salsa" ucap Dinda antusias.


Sebenarnya sangat mudah untuk menyenangkan hati istrinya ini tidak perlu emas dan berlian cukup membawanya jalan -jalan walaupun hanya kerumah orangtuanya bukan keluar negeri tapi Dinda sudah sangat senang sekali, seperti saat ini.


Dinda sedikit kalap berbelanja hari ini untuk ponakannya. Dia membeli kereta dorong, box bayi, baju, sepatu, selimut bahkan pernak pernik untuk anak perempuan seperti bandana dan pita rambut dan semuanya berwarna pink.


Rendy sampai repot membawa semua belanjaannya dan memasukkannya kedalam mobil. Tapi demi mood istrinya yang lagi hamil seperti roller coaster yang naik dan turun dengan cepatnya lebih baik dia menuruti semua keinginan ibu hamil satu ini. Dari pada Dinda ngambek dan nangis terisak isak bahkan sampai ngesot ngesot (lebay kan).


Setelah berbelanja perlengkapan bayi mereka langsung menuju rumah Mamanya.


"Assalamu'alaikum Mama" Ucapnya hendak berlari masuk kedalam rumah. Untung saja Rendy segera menahannya dan Dinda pun tersadar.


"Sayang... kamu lagi hamil jangan lari-lari nanti jatuh" ucap Rendy.


"Eh iya Mas, maaf" jawab Dinda.


Dinda masuk kedalam rumah mencium dan memeluk Mama dan Kakaknya.


Rendy mengikutinya dari belakang sambil mengeluarkan semua belanjaan mereka tadi.

__ADS_1


"Banyak sekali belanjaanya Ren?" Tanya Nanda membantu Rendy yang terlihat kesusahan.


"Iya Mas kado buat baby Salsa. Tuh Tantenya kalap Mas pas belanja pengen diborong semua isi toko" ucap Rendy tertawa dan disambut juga dengan tawa oleh kakaknya.


"Terimakasih Tante, baby Salsa pasti sangat senang sekali" ucap Lila yang baru keluar kamar sambil menggendong bayinya.


"Cuantiknya anak Tante ini" Dinda mencium pipi Baby Salsa tak berhenti sampai baby Salsa terbangun dari tidurnya.


"Dinda jangan cium seperti itu dia baru tidur lho kasihan Mbak kamu dari tadi gendong melulu" Mama Dinda melarang anaknya mengganggu cucu pertamanya itu.


"Gemes Ma, Baby Sa ndut dan putih sekali kayak Mbak Lila" jawab Dinda.


Dinda menyingkat nama Salsa menjadi Sa biar gampang manggilnya.


Setelah asik bercengkrama dengan ponakannya akhirnya Baby Sa dibawa Lila kekamarnya untuk tidur dengan tenang tanpa gangguan dari Dinda.


"Jadi gimana Ren perkembangan kasus Lisa?" tanya Mas Nanda.


"Mama sangat terkejut mendengar cerita kamu kalau ternyata dialah yang menabrak Papa sampai meninggal" Ucap Mama sambil menangis karena sedih mengenang alm. suaminya.


"Rendy akan memastikannya sendiri, Lisa harus mendekam dipenjara dalam waktu yang lama" ucapnya.


"Kalau Frengky gimana Ren?" Kali ini Nanda menanyakan tentang kasus Rendy.


"Rendy kami tuntut dengan kasus penculikan, percobaan pemerkosaan dan penggelapan dana ganti rugi pembangunan jalan Tol" jawab Rendy.


"Mereka berdua memang pantas di penjara" ujar Dinda.


"Kapan kasusnya berjalan?" tanya Mas Nanda kembali.


"Tuntutan sudah kami jalankan mas, semua bukti sudah berada ditangan polisi. Mungkin minggu depan sudah mulai sidang. Saya tidak mau berlama lama, secepatnyalah mereka mendapat ganjaran atas perbuatannya sendiri" Rendy sangat serius dengan perkataannya.


"Mama mau ikut ya saat sidang, Mama ingin melihat wajah wanita yang sudah menabrak suami Mama" Airmata Mama keluar karena sedih.

__ADS_1


"Iya Ma, nanti Rendy akan menjempur Mama dan Mas Nanda. Nanti kita akan sama-sama berangkat ke pengadilan" janji Rendy pada mertuanya.


"Mama jangan terlalu sedih, akhirnya wanita itu akan menerima hukumannya Ma. Kita kan sudah mengikhlaskan kepergian Papa, jadi Mama jangan menangis lagi, nanti Mama sakit" Dinda menenangkan hati Mamanya yang sedang sedih.


*********


Dirumah Febri


Setelah seminggu Febri dirawat dirumah sakit akhirnya Febri diperbolehkan pulang. Angga yang membawa Febri beserta orangtuanya kembali ke Jakarta.


Papa Febri sebelum balik ke Jakarta sudah menyampaikan permohonan maafnya kepada sahabatnya tentang pembatalan perjodohan mereka. Dan karena dari awal mereka telah sepakat tidak ada pemaksaan dalam perjodohan ini keluarga Wawan menerimanya dengan lapang dada.


Febri juga sudah menyampaikan kepada Wawan bahwa dia hanya menganggap Wawan hanya sebagai teman masa kecilnya tidak lebih. Dan Febri sudah menyampaikan pada Wawan bahwa Angga adalah calon suaminya. Wawan menerimanya dengan sangat baik bahkan Wawan dan Angga berjanji untuk ketemu dan ngopi bareng saat di Jakarta.


Febri sampai dirumahnya dan masih diberi libur untuk waktu pemulihan selama seminggu.


"Feb, Mas pamit pulang dulu ya. Mungkin seminggu ini kita akan jarang ketemu karena Mas akan sibuk mengurus tuntutan kepada Lisa dan Frengky. Kamu juga nanti akan dipanggil ke pengadilan. Siapkan mental kamu ya" ucap Angga


"Iya Mas, aku akan bersaksi yang sebenarnya agar Lisa dihukum dengan hukuman yang seberat beratnya"


"Pa, Ma, Angga pulang dulu ya" Angga pamit dan menyium tangan kedua orangtua Febri. Dia sudah mengganti panggilannya kepada calo mertuanya itu. Kata Pak Wardhana biar Angga terbiasa.


"Kamu hati-hati ya Ga" ucap Mama Febri mengingatkan.


"Iya Ma, oh iya Pa, Ma, kalau boleh Angga minta pengertiannya. Bisakah acara lamaran kami dilakukan setelah semua masalah selesai. Agar lebih tenang dan fokus ngurusnya" Angga meminta izin kepada calon Mertuanya.


"Iya gak apa-apa Ga, kami mengerti kog. Kamu urus dulu pekerjaan kamu ya" jawab Pak Wardhana.


"Terimakasih Pa" Angga pun pamit pulang karena hari sudah mulai larut malam.


Sesampainya di apartemen Angga langsung masuk keruang kerjanya menyialkan semua berkas yang sudah dia tinggalkan selama satu minggu menjaga Febri di Bandung. Setelah itu Angga mencetak email yang berisi bahan-bahan tuntutan untuk Lisa dan Frengky kemudian mempelajarinya.


Kedepannya akan menjadi hari yang sibuk dan melelahkan untuknya karena harus bulak balik keluar masuk kantor polisi dan pengadilan untuk mengurus kasus Lisa dan Frengky.

__ADS_1


Angga harus mempersiapkan tenaganya.


__ADS_2