
Memperjuangkanmu Part 2
Pagi-pagi sekali Angga sudah memberi pesan kepada Rendy
Angga
Bos, Febri sudah sadar kemarin sore.
Bos Besar
Syukurlah. Kamu urus semua keperluannya sampai dia benar-benar sembuh total.
Angga
Baik Bos
Bos Besar
Sampaikan salam saya dan istri saya padanya.
Angga
Ok
Bos Besar
Jangan lupa tujuan utama kamu, jangan sampai sia-sia saya menyuruh kamu tinggal disana.
Angga
Iyaaa Boooos
Bos Besar
Awas kalau pulang masih jomblo!
Iiiih semenjak menikah Bos nya ini mengapa makin bawel ya. Angga kembali mengetik pesan terakhir untuk Bos nya itu.
Angga
Ashiiaaaap!!!
Setelah itu Angga menutup hpnya dan bangkit dari tempat tidurnya.
Angga berjalan menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya kemudian memakai pakaian dan menikmati sarapan pagi yang dia pesan untuk diantar ke kamar.
Angga sarapan pagi dibalkon yang menghadap kearah rumah sakit. Sambil menyantap sarapan paginya hari ini Angga terus memikirkan rencana yang akan dia lakukan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Febri dan mengambil hati keluarganya.
Setelah Angga selesai sarapan dia segera turun ke bawah kemudian berjalan menyeberang menuju rumah sakit tempat Febri di rawat.
Didepan rumah sakit Angga melihat ada penjual bubur ayam dia teringat Febri. Pasti Febri belum bisa makan yang keras karena baru operasi, fikirnya.
Angga membeli beberapa bungkus bubur ayam untuk Febri dan orangtuanya.
Didepan pintu kamar Febri dirawat Angga bertemu dengan Pak Wardhana. Angga kemudian menyapanya.
"Bapak mau kemana?" tanya Angga.
__ADS_1
"Saya mau kedepan Nak Angga, mau mencari sarapan" ucap Papa Febri.
"Tidak perlu Pak, ini sudah saya bawakan tadi pas mau kesini sana beli sarapan didepan untuk Bapak dan Ibu" Angga menunjukkan beberap bungkusan yang dia pegang.
"Wah jadi ngerepotin Nak Angga ini"
Mereka berdua masuk kedalam kamar Febri.
"Kog cepat banget perginya Pak, jadi beli sarapannya?" tanya Mama Febri.
"Gak jadi Ma, Nak Angga udah belikan untuk kita"
Ibu dan Bapak sarapan aja dulu biar gantian saya yang jaga Febri.
Angga memberikan bungkusan yang dia bawa kepada Mamanya Febri. Kemudian Mama dan Papanya sarapan berdua di sofa dalam ruangan itu.
Angga duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur Febri.
"Kamu udah dibolehkan makan?" tanya Angga
Febri menjawab dengan anggukan.
"Udah makan?" tanya Angga lagi.
Febri menggelengkan kepalanya.
"Aku ada beli bubur ayam, kamu mau?" tanya Angga dan Febri mengangguk tanda mau.
Angga mengatur letak tempat tidur Febri agar Febri bisa lebih enak makan. Febri belum diperbolehkan duduk tegak dia hanya berbaring tetapi kepalanya sedikit dinaikkan. Ini dikarenakan luka operasi Febri masih baru dan belum kering.
Febri mulai makan dari suapan Angga.
Orangtua Febri hanya diam saja dan saling padang melihat interaksi anaknya dengan atasannya itu. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka. Nanti akan mereka tanyakan pada Febri.
Febri malu-malu mendapatkan perhatian dari Angga sampai dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Febri hanya terdiam sambil sesekali melirik kearah Angga.
Tak berapa lama mereka kedatangan tamu, ternyata tamu tersebut adalah orangtua Wawan.
Tok..tok..
Pak Wardhana membuka pintu melihat siapa yang mengetuk pintu kamar.
"Wardhana..." sapa tamu yang datang.
"Mirza" jawab Papa Febri.
Mereka kemudian saling berpelukan.
"Sudah lama ya kita gak ketemu, padahal sekarangkan kamu udah tinggal dekat dari Jakarta" ucap Wardhana.
"Maklumlah masih ada beberapa kesibukan jadi aku belum sempat main kerumah kamu di Jakarta"
Mirza dan istrinya masuk ke kamar rawat inap Febri untuk menjenguknya.
"Sayang maaf ya Tante baru bisa datang sekarang, kemarin Wawan kabarin Tante tapi Tante dan Om lagi diluar kota" ucap Mama Wawan sambil memeluk Febri.
"Iya Tante, tidak apa-apa, silhakan duduk Om, Tante" ucap Febri mempersilahkan mereka duduk.
__ADS_1
Saat mereka hendak duduk tiba-tiba Mirza melihat orang yang tidak dia kenal ada diruangan itu.
"Ini siapa Dhan?" tanya Mirza.
"Oh ini atasan Febri dikantor, beliau masih disini untuk memantau perkembangan kesehatan Febri" jawab Wardhana.
Angga berinisiatif memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan saya Angga Pak" sapa Angga dan mereka pun saling berjabat tangan.
Angga kembali merasa asing berada disini, dia jadi sedikit canggung dan serba salah karena posisinya belum jelas disini.
Sepertinya dia harus segera memperjelas posisinya dihati Febri.
Angga merasa gerah didalam karena dari tadi dia hanya diam saja dan menjadi pendengar budiman antara Papa, Mama Febri dan temannya itu yang Angga tau adalah orang tua Wawan, pria yang dijodohkan dengannya.
Angga segera mendekati tempat tidur Febri dan menyamperinya.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Angga
"Nggak" jawab Febri.
Febri tidak tau harus berkata apa pada Angga. Dia masih merasa malu setiap mengingat kejadian hari Jumat malam kemarin saat dia mengungkapkan perasaannya pada Angga.
Mereka hanya saling diam, menyaksikan orangtua Febri bernostalgia dengan teman lamanya.
Karena suasana yang semakin canggung antara dia dan Febri akhirnya Angga pamit keluar. Sepertinya dia harus menghirup udara segar diluar sana.
Seketika dia kehabisan oksigen dan merasa kepanasan berada di dekat Febri padahal kamar tersebut AC nya sangat dingin.
"Feb saya keluar sebentar ya, ada yang mau saya cari" ucap Angga.
"Iya Pak" jawab Febri singkat.
Angga keluar dari ruangan Andin dirawat, kemudian dia masuk kedalam mobil dan keluar dari area rumah sakit berkeliling kota Bandung mencari angin untuk menyegarkan otaknya yang sedang keras berfikir.
Satu jam kemudian Om Mirza dan istrinya pamit pulang dan berjanji akan berkunjung kembali menjenguk Febri. Tak lupa mereka juga sedikit menyinggung rencana kunjungan keluarga mereka yang direncanakan satu bulan lagi.
Satu bulan lagi keluarga Wawan akan berkunjung kerumah Febri di Jakarta untuk membicarakan rencana perjodohan antara Febri dan Angga.
Febri yang mendengar perkataan Om Mirza terkait kunjungan ke Jakarta merasa sedih dengan nasibnya. Tinggal menghitung hari, dia sudah pasrah. Mungkin inilah akhir perjuangannya cintanya.
Febri membuang nafas dengan kasar.
Angga kembali ke rumah sakit dan masuk keruangan Febri saat hari sudah mulai senja. Dia membawa beberapa bungkus roti dan makanan lainnya.
"Pak, Bu ini kunci kamar kalian. Saya sudah memesan kamar di hotel depan. Silahkan Bapak dan Ibu istirahat biar saya yang jaga Febri malam ini" ucap Angga.
"Baiklah Nak Angga, kami titip Febri ya, kalau perlu sesuatu langsung hubungi Bapak ya" jawab Pak Wardhana.
Papa dan Mamanya Febri kemudian meninggalkan kamar Febri dan berjalan menuju hotel depan untuk menginap malam ini.
Kini hanya tinggal Angga dan Febri berdua diruangan itu. Mereka jadi saling canggung dan serba salah.
Malam ini aku harus meluruskan semua permasalahan antara kami. Aku tak tahan lagi suasana seperti ini. Febri yang dulu ceria dan banyak cerita kini lebih banyak berdiam diri saat bersamanya.
Angga rindu Febri yang dulu...
__ADS_1