
RS. Kasih Ibu
Rendy sekencang mungkin berlari kearah mobil diikuti Angga dibelakangnya.
"Cepat Ga, kita ke RS. Kasih Ibu. Kamu bawanya ngebut ya biar kita cepat sampai" Perintah Rendy.
"Baik Pak, tapi sebaiknya Bapak tenang dulu dan tetap berdoa. Semoga Bu Bos dan calon debaynya sehat" Angga berusaha menenangkan Rendy yang terlihat sangat khawatir.
Ya Tuhan... tolong selamatkan istri dan anakku. Aku sangat menyayangi mereka dan tidak sanggul kehilangan mereka. Doa Rendy dalam hati.
Fikirannya tidak bisa tenang rasanya dia ingin segera terbang menuju istri dan anaknya yang ada didalam kandungan.
Mobil melaju menuju RS. Kasih Ibu dengan kencang.
****
Dinda dan Febri sampai di RS. Kasih Ibu diantar oleh pemilik restourant. Dinda langsung diberikan pertolongan pertama di UGD. Febri menunggu diruang tunggu.
Setelah mengantarkan Dinda kerumah sakit pemilik restourant izin pamit dan Febri mengucapkan terimakasih karena telah mengantarkan sahabatnya itu.
Selang beberapa menit Rendy dan Angga terlihat berlari lari dari arah parkiran. Mereka melihat Febri sedang menunggu diruang tunggu.
"Feb, bagaimana keadaan Dinda?" Tanya Rendy
"Sedang diperiksa Pak, sebaiknya kita menunggu Pak. Tadi saya tidak diperbolehkan menemani" ucap Febri.
"Gimana ceritanya Dinda sampai jatuh Feb?" Rendy mengintrogasi Febri.
"Dinda hendak ke kamar mandi tiba-tiba saja dia terpleset dan jatuh Pak dengan posisi terduduk mengakibatkan pantatnya terhempas" jawab Febri.
Sebenarnya tadi sebelum Dinda melangkah Febri tak sengaka sempat melihat seorang wanita yang sepertinya sengaja mencurahkan air ke lantai tapi karena sangkin paniknya Febri tidak memperhatikan wanita itu lagi. Dia hanya fokus membantu dan membawa Dinda ke rumah sakit.
Dan dia juga tidak begitu yakin dengan apa yang dia lihat sehingga Febri tidak berani mengatakannya kepada Rendy. Dia tidam yakin kejadian jatuhnya Dinda karena unsur sengaja atau murni kecelakaan. Febri tidak bisa menuduh tanpa bukti dan saksi. Karena kejadiannya sangat cepat sekali.
"Keluarganya Ibu Dinda" Panggil seorang perawat.
"Ya Sus, saya suaminya" Rendy segera berdiri dan menghampiri perawat tersebut.
"Bapak silahkan menemui dokter yang menangani pasien tersebut ya Pak. Silahkan"
Rendy mengikuti sang perawat menuju ruangan dokter yang tadi memeriksa Dinda.
Sementara Febri dan Angga langsung menghampiri Dinda yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
"Selamat Siang Dok, saya suaminya Dinda" sapa Rendy
"Silahkan duduk Pak" ucal dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya dok?" tanya Rendy segera karena dia sudah sangat tidak sabar.
__ADS_1
"Syukurnya Ibu Dinda dan anak yang ada dalam kandungannya tidak apa-apa Pak. Pendarahan yang terjadi karena benturan tubuh Ibu Dinda yang jatuh dengan posisi duduk di lantai" ucap dokter menjelaskan.
Rendy menarik nafas lega dan bersyukur istri dan calon anaknya selamat.
"Ibu Dinda perlu istirahat beberapa hari, tidak boleh berjalam dulu ya. Tadi saya memberi beliau obat penenang agar Ibu Dinda bisa istirahat. Nanti saya akan kasi resep vitamin dan obat untuk penguat kandungan"
"Terimakasih Dok" Rendy menjabat tangan dokter tersebut kemudian undur diri.
Rendy melakukan pendaftaran administrasi agar Dinda bisa segera dipindahkan ke kamar rawat inap.
Dinda dipindahkan keruangan Super VIP dengan fasilitas terbaik.
Rendy melihat istrinya masih tertidur dengan wajah pucatnya. Dibelainya kepala istrinya dan mencium keningnya. Sayang... terimakasih kamu sudah menjaga diri kamu dan calon anak kita.
Rendy kemudian menghubungi keluarganya dan mertuanya dan mereka akan segera datang menjenguk.
Karena hari sudah mulai senja, Rendy menyuruh Angga untuk mengantarkan Febri pulang kerumahnya.
"Ga, tolong antarkan Febri pulang ya" Pinta Rendy
"Iya Bos" jawab Angga.
"Sekali lagi terimakasih ya Feb, kami sudah menyelamatkan istri dan anak saya. Kalau tidak ada kamu disana aku tidak bisa membayangkan hal yang terburuk" Rendy menatap wajah Febri.
"Biasa aja Pak, kayak sama siapa aja. Dinda kan teman saya Pak. Sudah sewajarnya saya menolong dia"ucap Febri.
"Saya pamit pulang ya Pak" Febri pamit kepada Rendy kemudian melangkah keluar kamar Dinda di rawat.
"Iya Bos saya mengerti, saya permisi dulu ya Bos" Angga pergi menyusul Febri diluar.
Satu jam kemudian Mama Dinda datang bersama kakak iparnya.
"Assalamu'alaikum nak" sapa Mama Dinda ketika masuk ke kamar.
"Wa'alaikumsalam Ma" Rendy mencium tangan Mama mertuanya dan kakak iparnya.
"Bagaimana keadaan Dinda sekarang?" Mama mendekat ke tempat tidur, membelai lembut wajah anak kesayangannya itu kemudian menciumnya.
"Alhamdulillah Dinda dan anak kami tidak apa-apa Ma. Karena jatuh terpeleset mengakibatkan benturan. Itu yang membuat Dinda sempat pendarahan, tapi sekarang sudah membaik Ma. Dinda sedang dibius agar bisa istirahat" jawab Rendy menjelaskan.
"Syukurlah Ren Dinda baik dan calon anak kalian baik-baik saja" ujar Nanda yang dari tadi mendengarkan cerita Rendy.
"Salam dari Lila, kami tidak mengajak dia ke sini. Maklum perut Lila sudah semakin besar agak sulit bergerak cepat sementara tadi kami buru-buru pergi ke rumah sakir. Besok kami akan kemari lagi" ucap Nanda pada adik iparnya.
"Tidak apa kak yang penting Mbak Lila sehat" Rendy tersenyum pada kakak iparnya.
Dinda perlahan membuka matanya karena dia mendengar ramai suara orang-orang yang dia kenal.
Dinda menatap sekelilingnya, dia melihat suami, Mama dan kakaknya.
__ADS_1
"Mas kamu sudah datang" tanya Dinda.
"Sudah sayang, Mas disini" Rendy segera mendekat kesisi istrinya yang barusan sadar.
"Apa yang kamu rasakan hem..?" tanya Rendy dengan penuh kelembutan.
"Tadi perutku sakit sekali tapi sekarang sudah mendingan" jawab Dinda.
Mama menggenggam tangan Dinda.
"Sayang... Kamu istirahat aja ya jangan banyam fikiran. Kami semua disini kog menemani kamu" Senyum Mamanya itu sedikit mengurangi rasa sakitnya.
Dinda memegang pelan perutnya.
"Gimana calon anak kita Mas?" tanya Dinda
"Alhamdulillah sayang, dia baik-baik saja di dalam. Sepertinya dia anak yang kuat dan tidak cengeng sama seperti Mamanya" Rendy berusaha menghibur Istrinya.
Dinda merasa sangat bersyukur dan kemudian memperhatikan kakaknya yang hanya datang berdua saja dengan Mamanya.
"Mbak Lila mana Mas?" tanya Dinda pada kakaknya.
"Mbakmu dirumah. Tadi kami terburu buru ke rumah sakit, kasian Lila tidak leluasa bergerak cepat karena perutnya yang sudah semakin besar. Jadi dia kami tinggal saja, besok kami akan ke sini lagi" hibur kakaknya.
"Mas aku lapar dari tadi siang aku belum makan" Ucap Dinda.
"Ya Allah sayang kasian banget kamu" Rendy terkejut mendengar istrinya belum makan dari siang. Padahal belakangan ini nafsu makannya sangat besar. Pasti saat ini dia sangat lapar sekali.
"Kamu mau makan apa sayang? tapi kata dokter sementara ini kamu makan yang lembut lembut dulu ya" tanya Rendy.
"Bubur ayam mau nak?" tanya Mamanya dengan lembut.
"Mau Ma, Dinda mau bubur ayam. Dua porsi ya Mas" Dinda melirik kearah suaminya dan tersenyum malu karena permintaannya.
"Kamu jangan malu-malu kan yang makan memang dua orang jadi porsinya harus lebih banyak" ucap Rendy.
Saat Rendy hendak mencari makanan tiba-tiba kakak iparnya menahannya.
"Biar Mas aja yang beli, dekat sini ada bubur ayam favourite Dinda" ujar Nanda.
"Baiklah Mas, ini kunci mobil saya" Rendy memberikan kunci mobilnya kepada kakak iparnya.
"Gak usah Ren, naik motor lebih peraktis dan lebih cepat" ucap Nanda.
"Terimakasih ya Mas" ucap Rendy.
Malam itu mereka semua akhirnya makan bubur ayam. Kata Nanda itu adalah bentuk senasib sepenanggungan mereka pada Dinda.
Tentu saja itu hanya candanya karena bubur ayamnya memang enak dan karena tidak mau ribet membeli makanan yang lain makanya Nanda membeli bubur ayam sebagai menu makan malam mereka.
__ADS_1
Nanda dan Mamanya segera pamit pulang setelah makan malam. Mereka naik sepeda motor, khawatir dengan keadaan Mamanya, oleh sebab itu mereka tidak bisa berlama lama. Padahal Rendy sudah menawarkan mobilnya untuk dibawa Nanda tapi mereka menolak.
Malam itu Rendy dan Dinda tidur di kamar rumah sakit.