Cinta Adinda

Cinta Adinda
Limapuluh Delapan


__ADS_3

Bedrest


Dinda terbangun saat mendengar adzan subuh. Dia lihat suaminya masih tertidur di tempat tidur disampingnya.


Rendy memesan kamar Super VIP, kamar yang terbesar di Rumah Sakit ini dengan fasilitas 2 tempat tidur, sofa, TV, kulkas dan kamar mandi.


Demi istri dan anak tercinta pastinya Rendy tidak akan perhitungan.


"Maas... Mas... bangun Mas" panggil Dinda


"Ya Sayang, kamu butuh sesuatu?" tanya Rendy terlihat wajah terkejutnya yang terbangun mengira Dinda membutuhkan sesuatu.


Semalaman ini Rendy bersiaga menjaga istrinya.


Dia sangat takut kalau Dinda merasakan sakit lagi atau membutuhkan sesuatu.


"Nggak, aku cuma mau bilang, udah adzan. Mas shalat subuh gih" ucap Dinda mengingatkan suaminya untuk shalat subuh.


Rendy segera turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Sebenarnya dia sudah sangat gerah karena dari kemarin belum mandi dan ganti baju.


Karena panik dan terkejutnya dia sehingga tidak bisa berfikiran normal. Sampai-sampai dia tidak kefikiran untuk mengambil baju ganti.


Setelah shalat subuh Rendy mengirimkan pesan kepada Angga.


Rendy


Ga, nanti kamu jemput Febri terus singgah ke apartemen saya ya. Tolong bawakan beberapa baju ganti untuk saya dan Dinda.


Angga


Baik Bos.


********


Rumah Febri


Angga yang baru saja menerima pesan dari Bosnya segera mengirimkan pesan kepada Febri. Febri yang baru selesai mandi dan shalat mendengar hp nya bergetar ternyata ada pesan yang masuk.


Asisten Tampan


Kamu bersiap ya, jam 7 saya jemput dirumah. Kita ke rumah Pak Rendy kemudian ke RS


*F**ebri*


Ngapain ke apartemen mereka Pak?


Asisten Tampan


Mengambil baju ganti mereka


Febri

__ADS_1


OK Pak 👌


Untung hari ini hari minggu masih libur. Jadi Febri tidak perlu repot untuk bersiap ke kantor.


Febri memakai baju santai dan nyaman, memakai bedak dan lipstik yang tipis kemudian memakai parfum, Febri siap menunggu kedatangan Angga.


Sesuai janji mereka Angga sudah sampai jam 7 pagi di depan rumah Febri. Febri langsung masuk ke mobil Angga setelah itu mobil bergerak menuju apartmen Rendy.


Sesampainya di apartemen Rendy, Angga menekan tombol sandi dan pintu pun terbuka.


"Waow... Bapak benar-benar asisten yang baik ya sampai tau nomor sandi Pak Rendy" Febri tampak memuji Angga.


"Cepat kamu masukkan beberapa baju ganti untuk Pak Rendy dan Dinda" perintah Angga.


"Ih Bapak jutek banget, entar jauh jodoh lho Pak" Febri mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.


Dingin lagi, padahal kemarin pas si Bos mau nikah mereka sempat menjalin kerjasama yang baik untuk mengerjain Bos mereka itu sampai ber TOS ria. Masak asisten ini lupa? tanya Febri dalam hati.


Aku akan mencairkan hatimu yang beku pak. Membuat hidup kelammu menjadi lebih berwarna dan wajah datarmu akan kubuat menjadi bergelombang.


Duh gimana buat wajah bergelombang ya? Febri memukul kepalanya bingung.


Febri segera mengambil koper dan menyusun beberapa baju ganti untuk Dinda dan Rendy beserta pakaian dalamnya yang tersusun di walk in closet mereka.


Semua yang dibutuhkan sudah masuk semua ke dalam koper. Sebelum berangkat Febri bertanya kepada Angga.


"Pak kita apa gak perlu bawa makanan untuk mereka? Dinda kan lagi hamil Pak, suka kelaparan. Kasian anaknya" ucapnya.


"Ya sudah kamu bawakan saja beberapa makanan yang tersedia di kulkas" ucap Rendy.


"Ih si Bapak pelit ah, masak kasi makanan untuk jenguk orang sakit ambilnya dari rumah orang tersebut. Gak gitu juga kali Pak" ucap Febri.


Angga terdiam mendengar ocehan Febri.


Iya juga kenapa aku mendadak begok ya. Ini karena gadis ini nih dari tadi berkicau aja kayak burung.


"Ya sudah kita beli aja di jalan, nanti singgah di supermarket"


"Tanya Pak Rendy sekalian Pak, mau dibawain apa untuk sarapan pagi?" Febri memberikan saran.


Angga mengambil hp nya dan menelpon Rendy.


"Bos, kami sudah di apartemen Bos, pakaian sudah siap kami susun. Bos mau sarapan pagi apa?" Tanya Angga memberi saran.


Rendy yang sedang menyuapi istrinya sarapan roti pagi ini tiba-tiba mendapat ide.


"Saya mau makan nasi goreng Ga, tapi harus kamu yang masak, sepertinya saya sedang ngidam ini" Rendy tersenyum puas.


"Mas kog jahat banget sih, kasian Angga dikerjain. Kita udah ngerepotin dia untuk ambil pakaian kita masak harus masak nasi goreng lagi mas untuk sarapan pagi?" Dinda protes lihat tingkah istrinya.


"Biar aja sayang, hitung-hitung balas dendam pada mereka berdua karena dulu mereka sudah ngerjain kita waktu malam pertama pernikahan kita" ucap Rendy dengan senyuman.

__ADS_1


Dinda jadi ikutan tersenyum dan akhirnya tertawa ngebayangin Angga pakai celemek sedang masak didapurnya.


"Mas boleh aku tambahin gak balas dendamnya biar lebih sempurna?" tanya Dinda


"Apaan?" Rendy balik bertanya.


"Kamu kirim pesan ke dia minta foto sebagai bukti kalau memang benar dia yang masak" ucap Dinda


"Iya juga ya sayang pasti seru" Mereka pun tertawa bersama.


Rendy mengambil hp nya dan mengirimkan pesan.


Rendy


Jangan lupa kirim foto kamu masak pakai celemek.


Angga yang membaca pesan Rendy merasa sangat kesal.


"Sial mereka ngerjain aku ni, nyesal aku nelpon dia tadi" gerutu Angga.


"Kenapa Pak, kog Bapak bicara sendiri?" tanya Febri.


Angga menunjukkan isi pesan Rendy


"Si Bos minta dibawakan nasi goreng tapi harus aku yang masak udah gitu dia minta foto lagi" ucap Angga dengan nada kesal.


Febri tertawa mendengar dan membaca pesan Rendy.


"Sabar Pak, namanya lagi ngidam Pak, kasian kalau tidak ditepati anak mereka nanti ileran" jawab Febri.


"Lagian biar cepat, nanti saya bantuin deh" Febri menawarkan bantuan.


Angga dan Febri mulai menyiapkan bahan-bahan makanan. Bumbu nasi gorengnya Febri yang siapkan tinggal Angga yang memasaknya.


Tak lupa Angga memakai celemek dan mulai memasak. Febri mengambil beberapa foto dengan pose yang lucu.


Foto saat Angga meringis kena percikan minyak. Foto Angga yang sedang kepanasan kena pinggiran wajan dan terakhir foto angga yang sedang


measak nasi goreng sambil memegang sutil, terlihat Angga sangat tampan disitu.


Refleks Febri membuang pandangan. Ingat Febri jaga pandangan! ucapnya dalam hati.


Setelah itu Febri mengirim ketiga foto itu ke nomor Rendy.


Setelah semua bahan masuk Febri menyuruh Angga memberi sedikit garam dan menyicipi nasi gorengnya.


Rasanya sangat enak, bumbu yang diracik Febri pas sesuai selera. Setelah makanannya sudah masak Angga menyimpannya di wadah. Febri membersihkan dapur yang kotor karena peperangan Angga tadi.


Mereka bekerjasama menyelesaikan tugas. Angga jadi berfikir jauh. Begini kali ya kalau sudah menikah. Bisa masak bareng di dapur dengan mesra. Romantis juga, jadi pengen cepat cepat nikah. ucap suara hati Angga.


Setelah selesai semua mereka pun langsung menuju kerumah sakit tanpa singgah lagi ke supermarket karena waktu hampir siang.

__ADS_1


__ADS_2