
Memperjuangkanmu part 1
Rendy dan Dinda sudah balik ke Jakarta dijemput supir sore tadi. Tinggal Angga yang masih bingung harus berbuat apa untuk memperjuangkan cintanya. Angga mengacak acak rambutnya.
Angga masih saja duduk dibangku yang tersedia di koridor ruang rawat inap. Dia merasa menjadi penggangu dan menjadi orang asing yang kesasar jika berada di dalam.
"Feb... Kamu sudah sadar Nak, syukurlah" Mama Febri sedikit berteriak senang melihat anaknya sadar dari biusnya.
Semua orang yang ada didalam kamar segera menghampiri Febri.
Angga yang mendengar teriakan Mama Febri segera masuk ke kamar dan melihat Febri disela-sela celah yang kosong dari kerumunan anggota keluarga Febri.
Dia tidak enak hati harus berlari mendekati Febri padahal kalau ditanya keinginan hatinya ya seperti itu. Seandainya saja dia bisa menjadi orang pertama yang dilihat Febri saat dia siuman alangkah senangnya hati Angga.
"Ma... aku dimana?" tanya Febri pada Mamanya.
"Kamu dirumah sakit sayang" jawab Mamanya sambil membelai lembut kepala anaknya yang tertutup jilbab.
Febri berusaha bangkit tapi bagian tengah tubuhnya terasa sangat sakit.
"Ups..ssss" Febri meringis merasakan sakit dibagian perutnya.
Akhirnya Angga yang tidak tahan hanya melihat dari jauh, dia segera mendekati Febri.
"Kamu jangan bergerak dulu, kamu baru selesai menjalani operasi besar dan kamu mengeluarkan banyak darah sebelumnya" ucap Angga.
"Pak Angga..? Dinda dimana Pak, bagaimana keadaannya?" tanya Febri saat dia sadar dengan apa yang terjadi di Villa.
"Alhamdulillah Dinda tidak apa-apa berkat kamu yang menolongnya" jawab Angga.
"Syukurlah, dimana mereka sekarang?" Febri balik bertanya.
"Mereka sudah pulang ke Jakarta sayang, tadi mereka titip salam pada kamu" Mama Febri mencoba menenangkan anaknya yang masih saja terus bertanya.
Febri melihat sekelilingnya.
"Papa, Mama kenapa bisa ada disini?" tanya Febri.
"Tadi siang Papa dikabari dari kantor kamu kalau kamu sedang dirawat di rumah sakit ini karena luka tusuk. Papa dan Mama yang mendengar kabar itu langsung berangkat kesini" jawab Papa Febri.
"Orang kantor? Mengapa mereka bisa tau kabar ini?" Febri bingung dengan ucapan Papanya.
"Aku yang menelpon bagian HRD meminta data keluarga kamu, dan menyuruh mereka menghubungi keluarga kamu untuk mengabarkan berita ini Feb" Angga menjelaskan semuanga kepada Febri.
Febri menatap kearah Wawan.
__ADS_1
"Wawan... Kamu disini juga?" tanya Febri.
"Iya, Om Dhana menghubungiku dan memintaku duluan melihat keadaan kamu di rumah sakit" jawab Wawan.
Febri melirik kearah Angga, dia melihat penampilan Angga yang sangat acak-acakan tidak seperti biasanya. Ada apa dengan Pak Angga, mengapa dia bisa seperti ini? tanya Febri dalam hati.
"Sekarang kamu istirahat saja ya, jangan terlalu banyak bertanya dan berfikir" ucap Mamanya.
Pak Wardhana, Angga dan Wawan duduk kembali ke sofa sedangkan Mama Febri duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur Febri.
Fikiran Febri kembali menerawang ke peristiwa di Villa. Lisa yang berlari menuju kearah Dinda membawa pisau yang ada ditangannya kemudian menusukkannya kearah Dinda.
Febri yang bisa membaca gelagat Lisa langsung mencoba mendahuluinya, maksud hati ingin merebut pisau yang ada ditangan Lisa tapi ternyata pisau itu malah menancap diperutnya.
Seketika Febri merasa sakit yang luar biasa diperutnya, dan saat dia memegang perutnya darah mulai menetes. Febri semakin lemah dan mulai hilang kesadaran.
Tapi dia sempat mendengar suara Dinda menangis karena melihat dirinya yang tidak sadarkan diri dengan luka perut yang sangat dalam.
Setelah itu samar samar dan semakin jauh dia mendengar suara Angga memanggil manggil namanya.
Pak Angga? apakah dia ada dilokasi kejadian, bagaimana bisa? bukannya mereka ada di Jakarta sedangkan Dinda dan Febri diculik oleh Frengky dan Lisa dan dibawa ke Bandung.
Apakah Pak Angga yang menyelamatkannya? Febri bertanya dalam hati.
"Feb.. aku mohon Feb... bertahanlah. Aku akan melamar kamu seperti yang kamu mau. Bertahanlah Feb demi aku. Feb... aku sayang kamu"
Aku bermimpi atau apa ya? Mengapa aku mendengar Pak Angga berkata begitu padaku? Benarkah yang aku dengar itu?? Apa alam bawah sadarku yang terlalu berhalusinasi karena ingin mendengar Pak Angga berkata seperti itu? ucap Febri masih dalam hati.
Setelah itu aku tidak sadarkan diri dan tak mendengar suara apapun lagi.
Kemudian aku bermimpi aku sedang berada ditaman bunga yang indah sekali. Aku berlarian kesana kemari mengejar kupu-kupu. Sayup-sayup aku mendengar suara orang memanggilku.
Aku mendengar dia menangis memintaku bangun dan lagi-lagi aku mendengar dia berkata akan melamarku.
"Feb... bangun Feb.. sadarlah... Aku akan melamar kamu"
Kata-kata itu lagi yang aku dengar dan itu seperti suara Pak Angga. Apa karena aku begitu mengharapkan dia membalas perasaanku sampai aku terus mendengar kata-kata itu.
Tapi entah mengapa saat itu hatiku sangat hangat seperti ada seseorang yang sedang menggenggam tanganku dengan erat dan begitu hangat (romantis kan mimpiku).
Aku mencari-cari dari mana asal suara itu tapi tak juga kutemukan sampai aku kelelahan.
Febri melirik kearah Angga yang tengah mengobrol dengan Papanya dan Wawan. Sesekali dia melihat Angga juga tengah meliriknya dan mata mereka bertemu, mengunci dan saling tatap.
Deg... ser....
__ADS_1
Jantung Febri berpacu kencang. Duh segitunya ya pengaruh obat bius ini. Kenapa jantungku jadi goyang dangdut didalam sana. Apa dia gak turut prihatin temannya yang lain sedang terluka karena sayatan pisau.
Febri memegang dadanya.
Tenang jatung... jangan kau berpesta pora didalam sana. Nanti bisa-bisa aku dioperasi lagi karena serangan jantung, umpatnya dalam hati.
Febri mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia tidak mau ketahuan lagi sedang mencuri pandang kepada Angga.
Waktu berlalu berganti malam. Wawan pamit untuk pulang.
"Om, Tante aku permisi pulang dulu ya, besok aku akan kemari lagi" Ucap Wawan pada orangtua Febri.
"Feb, aku balik ya. Kamu yang semangat biar cepat sembuh" Wawan tersenyum memberi semangat.
"Yuk Ga aku pulang dulu. Kapan-kapan kita ngobrol sambil ngopi ya" sapanya pada Angga dan dibalas Angga dengan senyuman.
Sebenarnya Angga sangat mensyukuri Wawan pulang, biar disini hanya tinggal dia dan calon mertuanya saja yang menjaga Febri. Ehm... calon mertua... soraknya dalam hati.
Kalau nyamuk huus... pergi sana, mengganggu saja. Angga sekarang dalam misi mencuri hati orangtua Febri untuk memperjuangkan cintanya. Soal jodoh semoga hasilnya tidak mengecewakan. Doa Angga dalam hati.
"Pak, bu kalau butuh bantuan jangan segan-segan minta saja kepada saya. Saya selalu ada 24 jam selama Febri dirawat disini" ucap Angga.
"Iya nak Angga, maaf kalau kami jadi merepotkan nak Angga" ucap Papa Febri.
"Ah tidak Pak, ini sudah tugas saya" sudah tugas saya sebagai calon menantu Bapak, gitu maksudnya teriak Angga dalam hati.
"Biar kita tidak ikutan sakit karena menjaga Febri, gimana kalau kita bergantian saja menjaga Febri dirumah sakit Pak?" Angga memberikan tawaran kepada keluarga Febri.
"Maksud nak Angga?" tanya Pak Wardhana.
"Malam ini biar saya saja yang menemani Febri dikamar ini, Bapak dan Ibu bisa saya pesankan menginap dihotel depan rumah sakit" ucap Angga.
"Duh apa gak terlalu berlebihan Nak Angga?" tanya Mama Febri yang mendengar pembicaraan Angga dengan suaminya.
"Nggak kog Bu, bukannya tadi siang Pak Rendy sudah menyampaikannya. Semua keperluan Febri dan keluarganya dia yang tanggung" Angga mengingatkan pesan Rendy tadi kepada orangtua Febri.
"Besok sajalah Nak Angga, malam ini biar kami saja yang jaga Febri dirumah sakit, kamu saja yang tidur dihotel, agar bisa istirahat yang nyaman. Dari cerita kalian tadi siang sejak kemarin kalian sibuk mencari Dinda dan Febri yang sedang diculik. Pasti Nak Angga belum ada istirahat dari kemarin?" Mama Febri menyuruh Angga untuk istirahat.
"Iya Pak Angga, Bapak istirahat saja. Malam ini Mama dan Papa saya yang tidur disini, besok baru gantian" ucap Febri.
Akhirnya karena permintaan Febri dan keluarganya seperti itu jadilah Angga yang tidur dihotel malam ini.
Angga keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju hotel yang ada tepat didepan rumah sakit.
Setelah cek in Angga masuk ke kamar hotel yang dia pesan, membersihkan tubuhnya kemudian istirahat dan tidur. Hari ini memang sangat melelahkan.
__ADS_1