Cinta Adinda

Cinta Adinda
Limapuluh Empat


__ADS_3

Terjawab sudah


Pagi-pagi sekali Rendy sudah bangun, mandi dan shalat subuh setelah itu baru Rendy membangunkan Dinda untuk gantian mandi dan shalat.


Saat Dinda melangkah ke kamar mandi Rendy menghentikan langkahnya.


"Sayang, coba kamu tampung pipis kamu disini setelah itu letakkan benda ini didalamnya seperti ini" Rendy memberi contoh kepada Dinda.


Dia sengaja membuka bungkusnya agar Dinda tidak mengetahui itu alat apa. Sebenarnya kalau Dinda sudah benar-benar sadar pasti dia tau apa maksud suaminya. Tapi karena rasa kantuk yang masih kuat dia rasakan membuat Dinda tidak bisa berfikir dengan baik.


Dinda melakukan apa yang diperintahkan suaminya kemudian memberikan wadah beserta testpack yang diberikam suaminya tadi, setelah itu Dinda kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Rendy membaca cara pakai alat yang ada dihadapannya. Setelah menunggu beberapa saat terlihat jelas garis di bagian tengah benda tersebut. Dan garisnya ada dua.


Rendy langsung bersujud syukur setelah itu dia melompat lompat kegirangan. Ternyata apa yang dikatakan mertuanya benar, saat ini Dinda sedang hamil.


Rendy segera membuang isi wadah itu dan menyimpan alat tes kehamilan. Dia tidak ingin Dinda mengetahui apa rencananya. Dia sangat yakin Dinda tidak sadar dengan apa yang dilakukannya tadi. Karena pada saat Dinda keluar kamar mandi untuk menyerahkan wadah tadi mata Dinda sedikit terpejam itu artinya Dinda belum seratus persen sadar.


Rendy menyusun rencana untuk kejutan selanjutnya.


Lihat saja sayang kamu pasti akan senang sekali dengan kejutan ini.


Pagi ini Rendy berangkat ke kantor dengan sangat semangat. Senyumannya tak pernah hilang dari bibirnya. Dinda jadi merasa heran dengan sikap suaminya itu. Dan Rendy jadi lebih perhatian diperjalanan ke kantor Rendy bulak balik bertanya apa Dinda mau makan apa.


Dikantor juga sama Rendy sangat hiperprotektif padanya. Jam 9 Dia memanggil Dinda masuk keruangannya menyuruhnya tidur seperti yang beberapa hari ini Dinda lakukan. Biasanya Dinda yang datang sendiri ke ruangan Rendy tapi hari ini Rendy yang memanggil dan menyuruhnya tidur diruangan istirahat pribadi Rendy yang didalamnya ada tempat tidur yang biasa digunakan Rendy untuk menghilangkan penat dan lelah saat dia ada dikantor.


Dinda lebih suka tidur disofa, dia tidak pernah menggunakan ruang istirahat suaminya itu walau dia adalah istri dari pemilik perusahaan ini. Entah mengapa Dinda merasa tidur di sofa membuatnya lebih nyaman karena ada Rendy yang menemaninya tidur. Dia juga bisa menemani Rendy yang sedang bekerja di depan meja kerjanya.


Siang harinya Rendy bertanya pada Dinda mau makan apa padahal setiap hari itulah tugas Dinda sebagai istri merangkap sekretaris.


"Sayang siang ini kamu pengen makan apa?" tanya Rendy.


"Mas aku kog pengen soto medan ya" ujar Dinda pada suaminya.


"Baik. Kamu tetap aja disitu tiduran, tunggu sebentar ya aku mau keruangan Angga ingin menyampaikan sesuatu yanh penting" Rendy kemudian melangkah keluar menuju ruangan Angga dan meninggalkan istrinya sendiri yang sedang mengantuk di ruangan kerjanya.


"Ga coba kamu pesankan soto medan dua porsi dan rujak ulek tapi buahnya mangga mentah ya" Air liur Rendy rasanya sudah menetes membayangkannya.


"Untuk siapa rujaknya Bos?" tanya Angga.


"Untuk saya tiba-tiba kog saya pengen banget ya" jawab Rendy.


"Bos ini seperti orang hamil aja pakai ngidam" celoteh Angga.


"Oh iya Ga, tolong atur jadwal ketemu dengan Meri teman sekolah saya dulu yang sekarang sudah berprofesi sebagai dokter kandungan" perintah Rendy pada Angga.


"Dokter kandungan, siapa yang hamil Bos?"


"Istri saya lah, siapa lagi. Gak mungkin saya kan yang hamil?" suara Rendy terdengar kuat dan tegas tapi sedikitpun Angga tidak takut.

__ADS_1


"Pantesan pengen rujak, eh tapi kog si Bos yang ngidam makan mangga muda padahal yang hamil istrinya?" tanya Angga heran.


Rendy yang baru tersadar juga merasa heran


"Iya kenapa saya yang pengen makan mangga muda ya. Eh tapi kamu jangan bilang istri saya ya. Dia tidak tau" Perintah Rendy.


"Asshiaaap Bos" Angga tertawa bahagia.


Rendy meninggalkan ruangan Angga dan kembali keruangannya melihat istrinya yang kembali tertidur.


Angga menggenggam hpnya kemudian memesan makanan yang dipinta Rendy tadi setelah itu Angga menelphon dokter kandungan yang dibilang Rendy tadi dan mendaftarkan nama Dinda disana sesuai dengan perintah Rendy.


Tak lama soto ayam dan rujak sampai. Angga mengantarkannya keruangan Rendy. Dinda yang terbangun karena mencium wangi soto yang ada dihadapannya langsung mengambil makanan itu dan menyantapnya.


"Siapa yang pesan rujak Mas?" tanya Dinda


"Mas yang pesan, pengen" jawab Rendy singkat.


"Kayak orang hamil aja, ngidam" ledek Dinda


Mereka melanjutkan makan siang bersama dan menikmati kebersamaan mereka siang itu.


Sore harinya Rendy mengajak Dinda kepraktek dokter kandungan.


"Mau apa kita kesini Mas?" tanya Dinda


Mereka langsung masuk keruangan dokrer tanpa menunggu antrian karena Rendy sudah janjian sebelumnya untuk menghindari menunggu terlalu lama.


"Hai Ren, lama tak pernah berjumpa. Ini istri kamu?"


Dokter Meri menyapa mereka ramah ketika sudah masuk keruangan prakteknya


"Iya Mer" Mereka saling berjabat tangaan.


"Mery" ucap dokter itu memperkenalka diri


"Dinda" Dinda menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Silahkan Nyonya Rendy naik keatas tempat tidur" ucap Mery padanya.


"Lho Mas?" tanya Dinda keheranan.


"Iya sayang tidak apa-apa kamu hanya diperiksa saja" ujar Rendy


Dinda yang tak enak membantah perintah suaminya itu segera naik keatas tempat tidur.


"Sekarang coba buka bajunya lima kancing dari bawah" perintah dokter Meri.


Dinda membuka kancing kemejanya sesuai permintaan dokter Meri.

__ADS_1


"Kapan terakhir kamu menstruasi?" tanya Meri ramah.


"Emm..." Dinda mencoba mengingat.


"Sepertinya saya sudah telat dua minggu" jawab Dinda yang terkejut setelah mengingatnya. Bagaiman dia bisa lupa. Mungkin karena belakangan ini terlalu sibuk sehingga dia melupakan hal itu.


Meri mengoleskan gel di kulit perut Dinda kemudian menjalankan alat alat diatasnya dan melihat kearah monitor.


"Jadi Rendy ini adalah janin yang ada didalam rahim istri kamu" Meri menandai satu titik di monitor.


"Alhamdulillah" Rendy sangat senang mendengarnya.


"Maksud dokter" tanya Dinda.


"Kamu hamil enam minggu Dinda, selamat untuk kalian" dokter Meri tersenyum kepada Dinda.


"Alhamdulillah" Dinda terharu mendengarnya.


"Apa kondisinya baik-baik saja Mer?" tanya Rendy


"Kondisi istri kamu dan janinnya baik. Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan penguat kandungan, jaga kesehatan si ibu jangan terlalu capek dan makan yang teratur" ucap dokter Meri.


"Tapi saya tidak ada mengalami mual dan pusing dok?" tanya Dinda.


"Bagus itu, sedikit lho wanita yang seperti itu. Biasanya di trimester pertama banyak wanita yang mengalami mual dan muntah-muntah. Ada yang ringan, ada juga yang berat itu sering dan wajar dialami wanita hamil. Biasanya sering dialami pagi hari. Itu yang dinamakan Morning sickness" Meri menjelaskan panjang lebar.


"Apa dalam kondisi seperti ini aman untuuuuk... yah kamu ngertilah" tanya Rendy. Dia sangat takut gairah Dinda yang meningkat belakangan ini menggangu janin yang ada di perutnya.


"Boleh, asal dilakukan dengan lembut dengan posisi yang nyaman. Tapi jaga waktunya juga jangan terlalu sering nanti bisa janinnya kontraksi dan perut istri kamu kram" Jawab Meri.


"Masih ada yang aku pertanyakan Mer, aku heran beberapa hari ini mengapa aku lebih suka makan makanan yang asam seperti mangga muda, biasanya wanita hamil kan yang suka?" tanya Rendy masih belum puas.


"Itu wajar terkadang ada suami yang merasakan ngidam bahkan suami juga yang mengalami mual dan pusing" jawab Meri.


Mendengar hal itu Rendy sangat bersyukur dia tidak mengalaminya.


"Ada lagi yang mau ditanyakan Pak Rendy?" tanya dokter Meri sambil tersenyum.


"Cukup Mer, Terimakasih" jawab Rendy.


"Baiklah, ini resep untuk ditebus dan ini hasil USG nya" Meri memberikannya kepada Rendy. Dinda mengancing kemeja yang dia pakai setelah perawat dokter Meri membersihkan gel yang ada diperutnya.


"Terimakasih dok" ucap Dinda.


"Sama-sama. Ingat pesan saya ya jaga kesehatan, minum vitamin secara teratur dan satu lagi minum susu hamil jangan lupa datang kembali bulan depan untuk checkup selanjutnya" Meri berpesan.


"Baik dokter"


Rendy dan Dinda menjabat tangan dokter Meri kemudian mereka berpamitan dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2