
Kabar Gembira
Hari senin adalah hari yang sangat padat di kota Jakarta. Lalu Lintas padat dan macet.
Menghindari hal itu Dinda berangkat lebih pagi diantar kakaknya naik sepeda motor.
Sebenarnya Rendy sudah menawarkan diri untuk menjemput Dinda tapi Dinda menolaknya halus. Arah rumah mereka berlawan, Dinda tidak mau merepotkan Rendy. Lagian mereka belum resmi menikah, Dinda tidak mau ada gosip tidak enak dikantor. Biarlah tetap seperti biasa sampai acara pernikahan mereka diumumkan.
Dinda sampai seperti biasa karena tadi dia cepat berangkat jadi tidak sempat terkena macet dijalan. Seperti biasa Dinda menyiapkan kopi panas diataa meja Rendy.
Sebentar lagi kamu akan menjadi suamiku Mas, setiap aku menyiapkan kopi pagi hari aku akan mendapat pahala karena sudah melayani suamiku. Dinda tersenyum manis membayangkannya.
Rendy yang datang dari arah belakang diam diam memperhatikan Dinda. Dinda tidak menyadari kedatangan Rendy.
"Kenapa kamu pagi pagi udah senyum senyum sendirian?" Tanya Rendy dengan wajah datar.
Huuuh masih sama, wajah kamu masih saja seperti itu Mas. Aku tidak tau apakah kamu suka atau marah dengan memasang wajah begitu. Bisik Dinda dalam tadi.
"Eh nggak Mas tadi ada semut lari-lari di cangkir kopi ini" Dinda menjawab asal.
Rendy mengerutkan dahinya. Wanita aneh, bisa ya dia tersenyum melihat semut lari. Lagian aku belum pernah lihat semut lari itu sekencang apa? semutkan jalannya selalu santai dan akan berangkulan setia bertemu dengan temannya.
Angga yang ada dibelakang mereka teekejut mendengar panggilan Dinda yang sudah berubah dari Bapak menjadi Mas. Waaah ada berita yang dia lewatkan.
"Apa saya gak salah dengan Din, barusan kamu panggil Pak Rendy dengan sebutan Mas?" Angga melirik penasaran.
"Kamu gak salah dengar Ga, mulai jumat kemarin Dinda sudah aku naikkan pangkatnya dari sekretaris menjadi calon istri" Ucap Rendy tanpa ekpresi.
Angga pura-pura memegang jantungnya.
__ADS_1
"Oooh aku sangat terkejut mendengarnya. Tolong beri aku oksigen, aku baru saja kena serangan jantung dan aku sulit bernafas"
Dinda refleks memukul lengan Angga.
"Lebay ah kamu?" ucap Dinda
"Aku ketinggalan berita terpanas minggu ini dikantor kita yang tercinta ini. Ternyata aku akan turun tahta dari istri pertama menjadi istri kedua. Sementara kamu yang dulunya adalah istri kedua sekarang naik level menjadi istri pertama. Teganya kau melengserkan jabatanku Din? Tapi kita masih bisa bekerjasama kan Din? Kamu masih maukan memiliki madu seperti aku?" Goda Angga.
Rendy yang mendengar pembicaraan mereka berdua tersenyum lucu melihat tingkah Angga.
"Ada ada saja kamu Ga, sejak kapan kalian menjadi madu? Dan kapan aku menikahi kalian berdua?" Rendy jadi tertawa lepas, lucu mendengar kata-kata madu.
Angga dan Dinda yang jarang melihat Bos mereka itu tertawa jadi takjub melihat pertunjukan yang baru saja Bos nya tampilkan. Pagi-pagi Rendy sudah tertawa lepas. Mood yang bagus ya Bos bisik Angga dalam hati.
"Iya Pak Bos, saat Dinda baru kerja disini aku sudah jelaskan. Aku yang sebagai asisten Bos adalah istri pertama karena aku yang paling banyak menemani Bos dikantor atau lapangan. Sedangkan Dinda istri kedua yang akan menemani Bos kalau aku berhalangan" Angga berkata polos.
"Sudah sana, keluar kalian. Mulai kerja!" Perintah Rendy serius dan wajahnya sudah kembali seperti biasa datar.
Angga dan Dinda keluar ruangan CEO mereka.
"Din serius ni kabar yang aku dengar?" Tanya Angga penasaran, dia masih tidak percaya karena Angga tidak pernah melihat Bos nya itu memberikan perhatian lebih kepada Dinda atau tingkah laku seperti menyukai Dinda baik secara diam-diam atau terang-terangan.
"Iya Ga, minggu lalu Mas Rendy melamar aku, katanya Papanya sakit keras dan meminta beliau untuk segera menikah. Dan Pak Rendy tidak punya calon istri yang akan diajak nikah sama beliau. Saat ini katanya wanita yang dekat dengan dia hanya aku makanya dia memintaku mau menikah dengannya" Jawab Dinda.
"Dan kamu menerimanya? Terus si Ivan sang mantan pacar kamu yang belakangan ini kembali mengejar ngejar kamu bagaimana?" Angga bertanya serius. Karena dia sudah merasa dekat dengan Dinda, sudah menganggap Dinda sebagai temannya. Dinda wanita yang baik dan manis tidam sulit untuk berteman dengannya.
"Yah karena itu juga aku menerima lamaran Mas Rendy. Biar Ivan gak ngejar-ngejar aku lagi. Kalau aku sudah menikah pasti dia akan mundur karena menganggap dia tidak punya peluang untuk kembali lagi padaku. Dia pria yang sudah menikah, aku tidak mau dianggap sebagai pelakor" Dinda terlihat sedih.
"Tapi perasaan kamu bagaimana Dinda? Apa alasan itu saja sudah kuat untuk menerima lamaran Pak Rendy? Apa Pak Rendy bilang kalau dia menyukai kamu?"
__ADS_1
"Belum Ga, dia cuma bilang kalau dia mau menikahi aku karena permintaan Papanya itu. Aku juga belum tau bagaimana perasaanku padanya. Biarlah semua berjalan seperti ini Ga. Kalau memang Mas Rendy jodohku aku ikhlas" Dinda menarik nafas panjang.
"Niatku menjadi istrinya untuk ibadah, mudah-mudahan Allah menghadirkan cinta diantara kami" ujar Dinda.
"Kamu memang wanita yang baik Din dan sholehah. Aku akan selalu mendoakan dan mendukung hubungan kalian berdua" Angga berkata dengan tuluas.
"Oh iya aku masuk dulu ya Ga keruangan si Bos. Aku belum membacakan jadwal dia hari ini. Nanti dia bisa marah" ucap Dinda
"Sama calon istri kog galak?" Cibir Angga.
"kerja harus profesional Ga, jagang bawa urusan pribadi" Dinda berlalu dari hadapan Angga. Angga pun kembali keruangannya.
Tok... Tok...
"Permisi Pak jadwal Bapak hari ini...." belum siap Dinda bicara Rendy sudah memotongnga.
"Bapak? kenapa panggil Bapak lagi?" Rendy protes tanpa melihat kearah Dinda. Dia sedang menatal layar monitor untuk mengecek email.
"Maaf ini kan sedang bekerja Pak dan kita sedang dikantor" Dinda memberu alasan.
"Kalau hanya kita berdua atau sedang bertiga dengan madu kamu itu, kamu boleh panggil Mas" Rendy selalu tersenyum jika teringat cerita Angga soal madu.
"Baik Mas" jawab Dinda.
"Hari ini tidak ada jadwal meeting mas. Hanya ada beberapa berkas dan email yang harus Mas periksa dan tanda tangani" Dinda membacakan jadwal kerja Rendy hari ini.
"Berarti hari ini agak senggang ya, nanti siang jam 3 kita keluar memesan baju pernikahan kita. Kita hanya punya waktu seminggu. Aku rasa seorang perancang mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkannya" Rendy berkata tegas kalau sudah berhubungan dengan perencanaan. Apapun itu dia selalu tanggapi dengan serius.
"Baik Mas" Dinda berbalik kemudian keluar menuju meja kerjanya.
__ADS_1