Cinta Adinda

Cinta Adinda
Delapanpuluh Dua


__ADS_3

Restu


Papa dan Mama Febri sampai di kamar rawat inap Febri tepat pada saat Febri sedang sarapan pagi dan masih disuapin oleh Angga. Mereka melihat Angga sangat sabar dan telaten mengurus Febri dirumah sakit.


Hari ini Febri sudah diperbolehkan untuk belajar duduk tetapi hanya diatas tempat tidur.


"Nak Angga, ini kami belikan sarapan untuk kamu" ucap Mama Febri.


"Iya bu, terimakasih" jawab Angga.


Setelah Febri selesai makan, gantian Febri yang menyuruh Angga makan makanan yang dibelikan orangtua Febri.


"Mas makan dulu nanti keburu makanannya dingin" ucap Febri.


"Iya" Jawab Angga.


Angga mengambil bungkusan yang dibelikan orangtua Febri dan memakannya.


Papa Mama Febri mendengar kata-kata Febri tidak seperti biasanya, mereka semakin penasaran dengan hubungan antara anaknya dengan atasannya itu.


Tak lama kemudian setelah Angga selesai makan, Febri memberikan kode kepada Angga untuk membicarakan rencana mereka tadi malam kepada Papa dan Mamanya.


"Pa, Ma, kami mau berbicara sesuatu, bisa Papa dan Mama mendekat sebentar" pinta Febri kepada orangtuanya.


Papa dan Mama Febri mendekati tempat tidur anaknya.


"Pa soal perjodohan, Papa bilang Papa gak mau kan maksa Febri?" Febri menatap wajah Papanya menunggu jawaban.


"Iya tapi dengan syarat" jawab papanya terpotong.


"Dengan syarat Febri harus membawa calon Febri untuk bertemu Papa, ya kan?" tanya Febri pada Papanya.


Pak Wardhana membernarkan perkataan anaknya.


"Maaf Pak kalau saya memotong, saya ingin menyampaikan pada Bapak dan Ibu sayalah calon suami Febri" ucap Angga.


Papa dan Mama Febri terkejut dan menatap wajah Febri dan Angga bergantian meminta penjelasan.


"Kemarin Febri belum bisa menolak permintaan Papa karena Febri belum mempunyai calon. Tapi saat ini calonnya sudah ada" ucap Febri.


"Feb maksud Papa kamu tidak harus memaksa Nak Angga untuk mau menjadi calon kamu hanya karena ingin mengelak dari perjodohan yang Papa tawarkan" Papa Febri sepertinya salah pengertian.


"Febri tidak memaksa saya Pak, saya yang sudah melamarnya kemarin malam" jawab Angga.


"Ketika melihat Febri terluka kemarin saya sadar akan perasaan saya, saya tidak ingin kehilangan Febri. Dan ketika saya mendengar Febri akan dijodohkan dengan teman masa kecilnya rasa takut kehilangan itu datang kembali. Saya benar-benar takut kehilangan kesempatan. Oleh sebab itu tadi malam saya melamar Febri. Tapi Febri meminta saya melamarnya didepan Bapak dan Ibu. Jadi bolehkah saya melamar anak Bapak dan Ibu?" tanya Angga.


Pak Wardhana yang tidak menyangka akan ditanya seperti itu jadi sedikit kikuk.

__ADS_1


"Mm.. Ka.. kalau Bapak ya terserah anaknya saja Nak Angga. Selama anak saya bahagia dengan pilihannya saya akan mendukungnya" jawabnya sambil menatap kearah putrinya itu.


"Pa, maaf mungkin perkataan Febri tidak sesuai dengan harapan Papa. Febri selama ini hanya menganggap Wawan sebagai teman saja tidak lebih. Berbeda dengan Mas Angga. Ternyata kami merasakan hal yang sama. Bolehkan Febri memilih menikah dengan Mas Angga Pa?" tanya Febri dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tentu boleh nak, dari awal Papa kan sudah bilang pada kamu. Papa tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan siapapun. Papa hanya memberi jalan untuk menjodohkan kamu dengan Wawan bukan memaksa menikah dengannya" Pak Wardhana membelai punggung anaknya.


Mama Febri kemudian memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang... Sama siapapun kamu menikah kami tidak akan melarangnya asalkan pria pilihan kamu itu benar-benar menyayangi kamu. Kamu putri kami satu-satunya, kebahagian kamu yang lebih utama nak" ucap Mama Febri dan mereka menangis bersama.


"Apakah artinya lamaran saya diterima Pak?" tanya Angga.


"Iya Nak Angga, kami menerima lamaran kamu. Tolong jangan kecewakan hati kami ya. Bahagiakanlah Febri putri kami satu-satunya" ucap Pak Wardhana sambil menepuk bahu Angga.


"Alhamdulillah" Angga mengucap syukur dengan sangat lega.


"Kalau begitu bisakah Bapak menerima cincin saya ini dan memakaikannya pada putri Bapak?" pinta Angga.


Pak Wardhana pun tertawa dan menerima cincin tersebut kemudian memakaikannya dijari putrinya.


Baik Febri ataupun Angga merasa sangat-sangat bahagia hari itu karena mereka sudah mendapatkan restu dari orangtua Febri.


"Kalau sudah begini gak baik lho kalau dilama-lamakan, nanti banyak setan yang mengganggu. Niat baik itu baiknya disegerakan" ucap Pak Wardhana.


" Iya Pak, setelah kita kembali ke Jakarta saya akan membawa keluarga saya berkunjung kerumah Bapak untuk secara resmi melamar Febri" Angga meyakinkan calon mertuanya itu kalau niatnya memang tidak main-main lagi.


Febri tersenyum kepada Angga.


"Tapi Pa bagaimana dengan Om Mirza dan Wawan?" tanya Febri.


"Nanti Papa akan bicarakan dengan Om Mirza, lagiankan perjodohan kamu belum sampai tahap serius. Kami sepakat tidak akan ada kata memaksa dalam perjodohan ini. Kalau salah satu anak tidak setuju maka perjodohan dibatalkan" ucap Pak Wardhana.


"Syukurlah kalau begitu" Febri lega mendengarnya.


"Tapi kamu kemarin sudah pernah ketemu dengan Wawan di Restourant Cempaka, apa kalian tidak membicarakan mengenai perjodohan?" tanya Angga.


"Lho.. kog Mas Angga tau kami ketemuan di Restourant Cempaka? Yeee... kamu diam-diam memata-matai aku ya, sepertinya ada yang cemburu" Febri mencoba menggoda Angga.


"Mm.. Nggak, kemarin pas ada meeting dengan para demonstran jalan tol di Restourant itu, aku gak sengaja lihat kamu dan Wawan disana" jawab Angga.


"Ooo.. Aku dan Wawan hanya bertemu biasa saja layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Kami hanya bertanya kabar, pekerjaan dan cerita tentang masa lalu saat kami masih sekolah dulu. Jadi kamu jangan cemburu ya Mas" Febri tertawa melihat wajah cemberut Angga.


Papa dan Mama Febri tertawa melihat tingkah anaknya.


Setelah acara melamarnya selesai Mama dan Papa Febri kembali duduk duduk santai di sofa sambil menonton tv. Sementara Angga masih setia menemani Febri duduk di tempat tidur.


Angga mengambil kursi dan meletakkannya disebelah kiri tempat tidur Febri kemudian mengupas kulit jeruk dan memberikan isinya kepada Febri.

__ADS_1


Febri menerima jeruk itu dan memakannya satu persatu sambil memperhatikan bentuk cincin yang baru diberikan Angga.


"Dimana dan kapan Mas membeli cincin ini?" tanya Febri penasaran.


"Kemarin siang pas orangtuanya Wawan datang menjenguk. Mas takut kehilangan kesempatan, Mas langsung pergi mencari cincin itu dengan mengelilingi kota Bandung ini. Akhirnya ketemu cincin yang menarik perhatian Mas. Kamu suka?" tanya Angga.


"Suka" jawab Febri.


Malam ini giliran orangtua Febri yang menjaga dirumah sakit.


Setelah Angga balik ke hotel, Febri segera mengambil hpnya dan mengirim pesan pada Dinda


Febri


Aku dilamar.... 😘😘😘😘


Febri mengirim foto jari manisnya yang memakai cincin pemberian Angga.


Dinda


Serius beb, siapa yang lamar ni, Angga atau Wawan?🤔


Febri


Angga dunk 😍


Dinda


Alhamdulillah, selamat ya say. Aku turut bahagia.


Cepat sembuh donk, biar cepat pulang. Aku kangen 😙😙😙


Febri


Aku juga kangen kamu dan calon debay. Hati-hati ya Din, jaga kesehatan kamu


Sementara Angga yang sudah kembali ke hotel segera memberikan laporannya kepada Rendy.


Angga


Bos berhasil!


Rendy mengirimkan foto mereka tadi bersama Papa dan Mama Febri setelah acara lamaran dadakan.


Bos Besar


Good job 👍

__ADS_1


Dasar Bos Beku beruang kutub, jawab pesan kog singkat amat. Kasih selamat kek, kasi nasihat atau kasi duit sekalian buat modal nikahan. Umpat Angga dalam hati.


__ADS_2