
Gaun Nikah
Tok... tok..
"Kita jadi perginya Mas? Sudah jam3 ini" Tanya Dinda
"Oh iya aku lupa, kamu baru ingatin sekarang" Rendy mematikan komputernya kemudian memakai jas dan mengambil tas kerjanya.
Mereka berjalan menuju mobil dan pergi ke butik langganan Mamanya Rendy. Sebelumnya mereka singgah kantor percetakan milik teman Rendy dan memesan undangan pernikahan mereka yang sangat cantik. Walau hanya untuk beberapa rekan dan klient saja tapi Rendy tidak mau memesan yang sembarangan. Undangan itu harus paling bagus.
Setelah memilih undangan yang mereka suka baru mereka melanjutkan perjalanan ke butik temannya Mama Rendy.
Mobil berhenti disebuah gedung yang besar dan terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama terdiri dari berbagai jenis kain dengan beragam warna untuk bahan baju pengantin.
Mereka naik ke lantai 2 dengan memakai lift. Di lantai 2 ini banyak terlihat berbagai macam gaun pengantin yang dipasang pada manekin. Yang terakhir adalah lantai 3 dimana dilantai ini tersapat ruang sang perancang busana, ada juga ruang jahit, ruang untuk memotong pola dan juga ruang pernak pernik seperti payet dan mutiara dan yang paling utama dan besar adalah ruang ganti untuk para pelanggan mencoba dan memilih gaun yang akan mereka beli.
Rendy dan Dinda langsung dipersilahkan untuk duduk diruang ganti. Disitu terdapat sofa yang besar dan juga cermin disetiap dindingnya.
Dinda dan Rendy duduk menunggu sang perancang busana datang.
"Hai sayang... akhirnya kamu menikah juga" Seorang wanita yang sebaya dengan usia Mama Rendy keluar masuk dan mulai memberi salam.
Rendy menerima uluran tangannya diikuti Dinda.
Saat Dinda menyalam wanita tersebut.
"Dinda tante" ucap Dinda
"Panggil aja Tante Martha sayang, ini calon istri kamu Ren?
Rendy tersenyum mengiyakan.
"Cantik dan anggun sekali" ucapnya kemudian.
"Tante tadi sangat terkejut mendapat telephone dari Mama kamu, katanya kamu datang mau memesan gaun pengantin" Tante Martha memandang tubuh Dinda ratia ujung kepala sampai kaki.
"Gaun seperti apa yang kamu inginkan sayan?" Tanya nya pada Dinda.
"Grace bawa gambar gaun hasil design kita" Tante Martha memanggil salah satu pegawainya.
Tak lama kemudian wanita yang dipanggil Grace itu datang dengan membawa majalah besar ditangannya dan menyerahkan majalah itu ke Dinda sesuai intruksi Tante Martha.
__ADS_1
Dinda memilih tiga gaun yang akan dia coba. Tante Martha memberi kode kepada Grace untuk segera turun kebawah mengambil gaun yang dimaksud.
Lima menit kemudian Grace datang dengan membawa ketiga gaun tersebut. Dinda masuk keruang ganti dan memakai gaunnya satu persatu.
Ketiga gaun tersebut semuanya berwarna putih. Dinda memang menginginkan gaun pernikahan warna putih, dia merasa warna putih itu bersih dan suci sesuai dengan makna pernikahan yang suci.
Gaun pertama ternyata terlalu glamour, terlalu banyak renda dan payet sehingga gaunnya terasa sangat berat ketika dipakai. Dinda menggelengkan kepala kepada Tante Martha yang artinya tidak suka.
Gaun kedua kembang dan ujung gaunnya terlalu panjang sehingga kalau Dinda berjalan ujung gaunnya akan terseret sepanjang satu meter. Dinda tidak suka, menurut dia sangat berlebihan.
Dinda menyukai sesuatu yang sederhana tapi terlihat anggun seperti gaun yang ketiga Gaun berwarna putih itu menggunakan renda dibagian dada sampai perut dipayet dengan mutiara yang mengkilau. Dibagian bawahnya polos dan panjangnya hanya sampai mata kaki.
Dinda menyukai gaun yang ketiga. Rendy juga setuju dengan alasan Dinda memilih gaun itu.
Sekarang Dinda sedang berbicara dengan Tante Martha mengenai jilbab untuk menutup kepalanya. Dinda meminta hiasan jilbabnya memakai mahkota kecil dan sedikit binga melati putih yang tersusun rapi di jilbabnya. Tante Martha sangat mengerti dengan keinginan Dinda.
Tinggal makeup artis. Tante Martha merekomendasikan Make up artis rekanan butiknya yang sering dia pakai untuk menghias pelanggannya saat pesta pernikahan dan lainnya.
Dinda melihat contoh gambar hasil dari makeup artis tersebut. Dinda suka dengan gaya makeup yang natural tetapi memunculkan aura kecantikan dari wajah terkesan alami dan tidak norak.
"Dari semua yang kamu pilih tadi sayang tante dapat menyimpulkan kamu itu suka sesuatu yang sederhana tapi berkelas. Tante sangat suka semua pilihan kamu" Puji Tante Martha kepada Dinda.
Dinda hanya tersenyum mendengarnya.
Padahal bukan tidak mungkin Rendy akan mengabulkan semua permintaannya walaupun gaun yang dia pesan terbuat dari berlian dan permata tapi Dinda tidak memintanya.
Saat Dinda masuk keruang ganti untuk memakai bajunya semula Tante Martha berbincang dengan Rendy.
"Dia wanita yang baik sayang, sederhana tapi cantik. Persis seperti Mama kamu" Ucap Martha.
"Hanya dengan memakai gaun yang biasa saja tapi bisa membuat gaun itu terlihat mewah dan berkelas" Pujinya lagi, dan Rendy mendengarkan pujian itu denga tersenyum.
"Jaga dia jangan sampai terlepas, zaman sekarang sulit menemukan wanita seperti itu. Jangan kamu sakiti hatinya karena kalau sekali saja hatinya tersakiti akan sangat sulit menyembuhkannya" Rendy akan mengingat nasehat Tante Martha dengan sangat baik.
Mereka selesai memilih gaun dengan bermacam aksesoris pendukungnya. Tak terasa waktu sudah malam mereka keluar dari butik itu pukuk 7 malam.
Rendy melajukan mobilnya kearah rumah Dinda tapi sebelumnya mereka singgah kesebuah restourant pilihan Rendy.
"Kita singgah makan dulu ya Din" ajaknya.
Mereka masuk kedalam restourant dan tak sengaja bertemu Ivan klient perusahaan mereka.
__ADS_1
Ivan yang melihat Dinda datang bersama Rendy sangat semangat menyapa mereka.
"Pak Rendy" Panggilnya.
Kemudian mereka berjabat tangan.
"Senang bertemu dengan Bapak, mau makan Pak? Bagaimana kalau kita gabung saja?" Ajak Ivan.
Ivan yang saat itu datang sendiri mengajak Rendy dan Dinda duduk dimeja yang sama.
"Sendiri saja Pak Ivan?" Tanya Rendy.
"Tadi tidak Pak, saya baru bertemu klient dia buru-buru pulang karena mendapat kabar kalau anaknya sakit. Sehingga saya ditinggal sendiri. Bapak dan Mbak Dinda baru bertemu klient?"
"Oh tidak, kami tadi ada sedikit urusan diluar karena sudah malam saya hendak mengantarkan Dinda pulang kerumahnya tapi sebelumnya kami makan dulu berhubung saya sudah lapar" Rendy menjawab pertanyaan Ivan.
"Silahkan pesan makananya Pak?" Ivan menawarkan Rendy untuk melihat dan memilih menu.
"Saya steak jamur dan koppi latte" pelayan mencatat menu yang Rendy pesan.
Kemudian Rendy menoleh kearah Dinda.
"Kamu?" tanya nya pada Dinda.
"Saya steak beef dan jus jeruk" Dinda menyebutkan pesanannya.
saat pelayan menanyakan pesanannya pada Ivan, Ivan menjawab pesanannya sama dengan yang dipesan Dinda.
Dinda terkejut dan merasa tidak nyaman dengan adanya Ivam disini. Mungkin Rendy tidak memperhatikannya tapi dari tadi Ivan selalu melirik kearah Dinda.
Mereka menikmati makan malam bertiga, karena ini bukan pertemuan urusan kantor jadi mereka tidak membahasnya disini.
"Oh iya mumpung bertemu disini, saya sekalian mengundang Pak Ivan untuk datang keacara pernikahan saya minggu ini dirumah orangtua saya. Bukan pesta besar hanya syukuran sederhana karena Papa saya sedang sakit. Undangan nanti akan menyusul dikirim ke kantor Bapak, Din jangan lupa kamu kirim undangan ke kantor Pak Ivan ya" Rendy mengingatkan Dinda untuk mengingatnya.
"Baik Pak" Jawab Dinda
Karena Dinda dan Rendy berbicara dengan Formal seperti seorang atasan dan bawahan Ivak tidak curiga bahkan tidak menyangka bahwa Rendy akan menikah dengan Dinda.
"InsyaAllah saya datang Pak, saya tunggu undangannya" ucap Ivan.
Karena waktu terus berjalan Rendy pamit pulang kepada Ivan alasannya dia tidak enak membawa anak gadis orang sampai larut malam.
__ADS_1
Ivan tersenyum mendengar candaan Rendy.
Dinda pun sampai kerumah setelah diantar Rendy sampai halaman rumahnya tapi karena sudah larut malam Rendy tidak sempat singgah lagi.