
Bertemu kembali
"Papa sakit Ren. Sudah 4 hari diopname di RS. Papa ingin bertemu kamu. Dia ingin menyampaikan sesuatu"
"Kamu tau apa yang mau dibicarakan Papa? Aku malas mengunjungi Papa. Nanti dia pasti menyampaikan sesuatu yang membuat telingaku sakit" Ucap Rendy.
"Sekeras apapun hati dan peraturan yang dibuatnya, dia tetap Papa kita. Kamu ingat itu!"
Kali ini suara Ronald terdengar sangat tegas.
"Papa sudah tua Ren dan dia sudah sakit-sakitan. Kapan lagi kamu membalas kasih sayang Papa dan Mama. Walau Papa keras tapi sebenarnya itu untuk kebaikan kita juga dan dibalik semua itu dia sangat sayang kepada kita hanya saja mungkin dia tidak terlalu memeperlihatkannya" Tatapan mata Ronald terlihat sedih mengingat keadaan orangtua mereka.
"Kali ini saja kamu mengalah tolong temui Papa dan kamu dengarkan apa yang dia katakan" Ronald membuat permohonan kepada adiknya itu.
"Baiklah nanti pulang kerja aku akan mengunjunginya" akhirnya Rendy merubah keputusannya.
Ronald terlihat sangat senang akhirnya adiknya mau mendengar kata kata nya. Dia pun tersenyum dan terlihat mulai santai berbicara dengan adiknya itu.
"Oh ya sejak kapan selera kamu berubah dalam menerima sekretaris baru? Cantik sih tapi biasanya sekretaris kamu penampilannya selalu waw dan sexy kali ini memakai jilbab" Goda kakaknya.
"Yang penting kerjanya bagus dan bertanggung jawab" Rendy membela diri.
Kakaknya tersenyum melihat tingkah adiknya, walau dari mimik wajahnya tidak terlihat tapi ada sesuatu yang berubah dari adiknya. Menurutnya sekarang adiknya terlihat lebih lembut buktinya dia berhasil membujuk adiknya itu yang sebelumnya dibayangkannya agak sulit dan alot.
Adiknya ini sebenarnya baik tapi sangat keras dan kuat pendiriannya. Biasa akan sangat sulit meminta atau membujuk sesuatu yang Rendy tidak suka. Dari kecil seperti itulah sifat Rendy dan Ronald sangat tau itu. Mungkin karena sifatnya itu jugalah yang membuat Rendy berhasil seperti sekarang ini. Rendy pekerja keras dan gigih dalam mencapai apapun yang dia inginkan.
"Aku tidak bisa berlama lama disini masih ada jadwalku yang lain. Aku tunggu kamu di Rumah Sakit ya. Salam sama sekretaris barumu itu, kalau bawa dia juga menjenguk Papa ke RS aku rasa gak masalah. Papa pasti akan senang melihatnya" Ronald keluar ruangan Rendy sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Dasar kakak sialan. Dinda kan cuma sekretaris aku, ngapain juga aku bawa bawa dia mengunjungi keluarga bisa bisa Dinda salah mengartikannya lagi.
***
Jam sudah menunjukkan angka 11 siang Rendy dan Dinda sudah bersiap siap menuju mobil. Mereka dijemput supir dan berjalan ke tempat tujuan.
Untung mereka sudah memperhitungkan waktu menuju ke Restourant itu sehingga mereka bisa sampai pas waktunya sesuai kesepakatan dengan klientnya.
Mereka diarahkan oleh karyawan Restourant untuk masuk keruangan privat lebih tertutup yang sering digunakan untuk meeting saat makan siang.
Sambil menunggu client datang Dinda permisi pergi ke toilet.
"Selamat siang, saya dari PT. ABC, perkenalkan saya Ivan dan ini sekretaris saya Dewi"
Rendy berdiri menyambut kedatangan clientnya dan menerima uluran tangan Ivan kemudian mereka bersalaman.
"Saya Rendy, silahkan duduk Pak Ivan" ucap Rendy.
"Tidak masalah saya juga baru datang. Saya berdua bersama sekretaris saya dia lagi ke toilet sebentar lagi datang"
Dinda masuk ke dalam ruang rapat dan betapa terkejutnya dia melihat sosok clientnya tersebut. Ivan yang melihat kedatangan Dinda juga sangat terkejut.
Ini Dinda kan, sekarang dia memakai jilbab aku hampir tidak mengenalinya. Akh... semakin cantik dan dia merindukannya. Ivan adalah cinta pertama Dinda yang putus karena restu orang tua. Saat ini Ivan sudah menikah dan Dinda tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Kejadian itu sudah lama, itu kejadian 3 tahun yang lalu saat Dinda juga baru kehilangan Papanya dan Mamanya yang sedang sakit. Masa lalu yang pahit yang sangat sulit Dinda lupakan.
"Maaf Pak saya lama" Dinda duduk disebelah Rendy tanpa berani menatap kedepan.
"Perkenalkan Pak ini sekretaris saya Dinda" Rendy mengenalkan Dinda kepada Ivan.
__ADS_1
Ivan mengulurkan tangannya dan Dinda menyambutnya berusaha pura-pura tidak mengenal pria yang ada di depannya ini.
Sebelum membicarakan tentang kerjasama mereka memesan makanan dulu karena ini waktunya makan siang. Ivan sering mencuri pandang kearah Dinda tapi Dinda tidak menghiraukannya. Dinda berusaha bersikap biasanya.
Setelah selesai makan baru mereka memulai pembicaraan tentang kerjasama mereka. Kali ini Rendy ingin memperluas bisnisnya dan dia mencoba untuk membangun sebuah hotel. Perusahaannya bekerjasama dengan PT. ABC untuk perencanaan pembangunan awal. PT. ABC adalah perusahaan yang bergerak dibidang arsitek, Perusahaan ini akan memberikan gambar rancangan hotel sesuai dengan konsep yang diinginkan clientnya yang tak lain adalah Bascara Corp.
Rendy sudah memberikan konsep bangunan hotel yang dia impikan dan sepertinya Ivan mengerti apa yang dimaksudkan Rendy. Walau sebenarnya Ivan sangat sulit untuk konsentrasi dihadapan Dinda tapi dia harus bekerja profesional. Dinda juga sama, tapi saat ini dia sedang bekerja. Dia tidak mau masalah pribadi mengganggu pekerjaannya yang berakibat fatal. Kalau ada saja point yang terlewatkan olehnya, dia takut Rendy tidak bisa mentolerirnya dan dia tidak ingin itu terjadi. Dinda baru dua minggu bekerja di Baskara Corp.
Meeting selesai jam 4 sore tetapi karena waktu kerja tinggal 1 jam lagi dan dipastikan kalau kembali ke kantor saat jam pulang kerja seperti ini pasti jalanan macet dan sampai kantor malah sudah lewat jam kerja. Rendy menyuruh Dinda langsung pulang kerumah tanpa harus ke kantor lagi. Dia juga harus ke Rumah sakit menjenguk Papanya yang sedang sakit. Tadi Rendy sudah berjanji pada kakaknya dan dia pantang melanggar janjinya.
Untung saja lokasi meetingnya tidak jauh dari Rumah sakit dimana Papanya dirawat jadi Rendy tidak terkena macet. Jam 5 sore dia sudah sampai di Rumah Sakit dan langsung menuju ruang Super VIP.
Rendy melihat Papanya terbaring lemah. Wajahnya terlihat pucat dan terlihat memang sudah semakin tua dan lemah. Mama Rendy menyambut anak bungsunya itu dengan tangis. Rendy mencium dan memeluk Mamanya setelah itu Rendy menggenggam tangan Papanya yang sedang tertidur. Karena sentuhan Rendy membuat Papanya terbangun.
"Akhirnya kamu datang juga ya, harus aku sakit dulu baru kamu mau melihatku, masih bersyukur aku tidak mati kalau tidak mungkin mayatku yang kamu lihat" ucapan Papanya terlihat kesal dan marah. Rendy tidak menanggapi kata kata Papanya dengan serius, dia tidak mau tegang otot dengan Papanya yang sedang sakit bisa bisa penyakit Papanya semakin parah.
"Rendy keluar kota Pa seminggu dan terjun langsung kelapangan. Disana sinyalnya agak susah. Maaf baru bisa datang karena Rendy baru dapat kabar tadi pagi dari kak Ronald" Rendy berusaha mengalah demi kesehatan Papanya.
"Sayang apa kabarmu? mama rindu sudah lama tidak melihat kamu" tanya Mamanya dengan nada lembut, suara yang selama ini dia rindukan. Rendy merasa hanya Mamanya yang sayang padanya.
"Seperti yang Mama lihat, Rendy sehat Ma" jawab Rendy.
Rendy dan Mamanya duduk di sofa yang disediakan diruangan itu.
"Papa sakit apa Ma?" Tanya Rendy.
"Bembengkakan jantung sayang, Kata dokter karena usia Papa sangat beresiko untuk dilakukan operasi. Papa dianjurkan minum obat, olah raga ringan yang terarur, jaga pola makan, tidak boleh banyak fikiran dan terlalu capek" Mama menjelaskan riwayat penyamit Papa.
__ADS_1
"Rendy coba kamu mendekat ke Papa, ada yang mau Papa sampaikan. Papa tidak kuat untuk bersuara kencang"
Rendy menarik kursi dan mendekat ke samping tempat tidur Papanya. Kali ini dia benar benar melihat Papanya dalam kondisi yang lemah. Ada rasa kasihan dan sayang melihat Papanya itu menghapus perselisihannya dengan Papanya selama ini.