Cinta Adinda

Cinta Adinda
Limapuluh Sembilan


__ADS_3

Perhatian


Angga dan Febri sampai di parkiran rumah sakit. Mereka turun sambil membawa koper dan sarapan pagi buat Rendy, sambil jalanan beriringan sampailah mereka di kamar Dinda dirawat.


"Selamat Pagi Pak Bos, Bu Bos" Sapa Febri ceria.


"Eh Febri dan Angga udah datang, Mas cepatan makanan kamu sudah sampai" Teriak Dinda pada Rendy yang ada dikamar mandi.


Rendy keluar dari kamar mandi.


"Ini Bos pakaian dan sarapan yang Bos minta" Angga menyerahkan koper dan wadah makanan berisi sarapan pagi Rendy.


"Ini juga kami bawakan beberapa buah untuk cemilan mu Din" ucap Febri sambil meletakkan bungkusan dimeja samping tempat tidur.


Rendy duduk di sofa kemudian membuka bontot sarapan pagi hasil karya Angga.


"Ini layak makan kan?" tanya Rendy.


"Ish Pak Bos, Pak Angga membuatnya penuh dengan kasih sayang lho. Semua semangat dan bakatnya telah dicurahkan demi untuk menghasilkan sarapan pagi luar biasa" puji Febri pada Rendy untuk Angga.


Rendy mulai membuka wadah, mengambil sendok kemudian mulai mencicipinya.


"Wah gak nyangka kamu bisa masak Ga, enak ini" ucap Rendy.


"Mana Mas, aku pengen coba" Dinda penasaran mendengar kata kata dari suaminya.


Rendy kemudian berjalan menghampiri Dinda dan memberikan suapannga kepada Dinda. Dinda menyicipinya.


"Benar Mas, enak" puji Dinda


"Tapi masih tetap lebih enak nasi goreng buatan kamu sayang" Rendy mengedipkan sebelah matanya.


"Besok-besok bisalah Ga, aku minta buatkan lagi" Rendy mematap ke arah Angga.


Angga hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Si Bos ini memang paling bisa buat aku repot.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Keluarga Rendy sudah sampai dirumah sakit menjenguk Dinda.


"Assalamu'alaikum" sapa Mama Rendy sambil membuka pintu kamar Dinda dirawat.


Mama, Papa dan kakak Rendy serta kakak iparnya masuk kedalam.


"Wa'alaikumsalam" Jawab semua yang ada di dalam kamar serentak.


"Kami sangat terkejut mendengar kabar kamu jatuh kemarin sayang. Maaf kami baru bisa datang siang ini. Kemarin Papa sedikit tidak enak badan tapi hari ini dia tetap saja ngotot minta ikut, katanya mau lihat mantu dan calok cucunya" ucap Mama Rendy sambil memeluk dan mencium menantunya.


"Papa senang mendengar berita kamu hamil" Papa yang didorong menggunakan kursi roda berada duduk didekat tempat tidur Dinda.


"Hati-hati sayang, kalau lagi hamil jaga jangan sampai kamu jatuh lagi seperti kemarin" nasehat Mama Rendy.

__ADS_1


"Iya Ma, kemarin Dinda terburu-buru mau jalan ke toilet" ucap Dinda.


"Iya, semoga ini pertama dan terakhir kamu alami ya dan semoga kamu dan calon anak kamu yang ada didalam sini sehat" doa Mama Rendy untuk menantunya sambil mengelus perut Dinda yang masih rata.


"Aamiin. Terimakasih Ma" balas Dinda.


"Sudah berapa bulan kehamilan kamu Din?" tanya Mbak Renata.


"Sudah 6 minggu Mbak" Dinda mengalihkan pandangannya kepada kakak iparnya.


"Anak-anak gak dibawa Mas?" tanya Rendy pada kakaknya.


"Nggak Ren repot bawa mereka ke rumah sakit nanti lasak main sana sini. Kasian Dinda gak bisa istirahat" jawab Ronald.


"Gak apa-apa Mas kan jadi ramai" ujar Dinda.


"Ini Mama masakain kamu sop sayang, mudah-mudahan kamu suka ya. Kamu ada merasa mual dan pusing?" tanya Mama mertuanya penuh perhatian.


"Alhmadulillah gak ada Ma. Dinda pasti suka Ma, masakan Mama kan selalu enak" jawab Dinda.


Febri yang merasa canggung berada di ruangan tersebut bersama keluarga Rendy segera pamit pulang. Febri menatap kearah Angga dan memberikan kode agar keluar.


"Pak Rendy, Din saya pamit pulang ya. Om, tante, Mas dan Mbak semua saya permisi dulu" sapa Febri pada semua yang ada di kamar.


"Oh iya Feb, makasih ya. Maaf udah ngerepotin kamu" jawab Dinda.


"Ga, pergi sana antar Febri pulang" perintah Rendy.


Cepat banget jalanya tuh anak sama kayak bibirnya kalau lagi nyerocos. Senyum Angga membayangkan Febri yang kalau lagi bicara pasti panjang.


Febri sudah menunggu di mobil Angga yang ada di parkiran. Mereka masuk ke dalam mobil dan berjalan meninggalkan area rumah sakit.


"Kamu kog cepat banget pulangnya Feb, buru-buru, ada keperluan?" tanya Angga.


"Nggak Pak, ni kan hari libur. Saya mah santai Pak namanya juga jomblo. Saya cuma canggung aja di dalam kayak kambing congek cuma jadi pendengar didalam" jelas Febri.


"Oh iya mana tahan kamu mingkem lama. Kamu kan paling suka bicara terus" Angga menggoda Febri.


"Nah itu dia Bapak tau. Asem mulut saya kalah diam terus" Febri terkekeh dengan jawabannya.


Angga hanya geleng geleng kepala lihat tingkah wanita ini gak ada malu-malunya. Ceplas ceplos kayak terompet. Tapi lucu sih, rasanya selalu ceria kalau bersama dia.


"Kita makan dulu yuk Feb, saya lapar?" ajak Angga.


"Makan dimana Pak?" tanya Febri polos.


"Kamu sukanya apa?" Angga balik bertanya.


"Saya sukanya sih Bapak eh maksud saya terserah Bapak" Febri keceplosan. Kebiasaan yang tak bisa dicegah.


"Gimana kalau kita makan sop buntut, daerah sini ada sop buntut yang terkenal enak. Kamu mau?"

__ADS_1


tanya Angga.


"Mau Pak" ucap Febri. Buntutin Bapak aja saya mau apalagi makan sop buntut sama Bapak, batin Febri.


Mereka berhenti di depan Rumah Makan yang tampak sudah ramai pengunjung.


Angga dan Febri masuk dan mencari meja yang kosong.


"Ramai ya Pak" Febri melihat sekelilingnya.


"Jam makan siang begini selalu ramai disini Feb, dan masakan disini cepat habisnya. Jam 2 siang udah habis sopnya" ujar Angga.


"Sepertinya menu andalannya Sop Buntutnya, yang datang kesini pada pesan itu semua" Febri memperhatikan setiap meja.


Pelayan datang ke meja mereka. Angga memesan sop buntut dua porsi dan 2 es jeruk. Si pelayan mencatat semua pesanan Angga.


Selang beberapa menit pesanan mereka sudah tersedia diatas meja.


"Pelayanannya juga bagus Pak, walau ramai tapi mereka cepat menyajikan pesanan pelanggan" Febri masih memeperhatikan sekitarnya.


"Iya itu juga daya tarik yang membuat mereka betah dan nagih makan di sini. Kalau makanan lama datang sementara kita sudah lapar pasti kesal dan gak mau datang lagim Itu sudah hukum alam" jawab Angga.


"Yuk makan, keburu dingin nanti sop nya" Angga mulai menikmati hidangannya. Febri juga sama.


Hampir selesai makan tiba-tiba hp Angga berbunyi.


Rendy


Ga kamu udah jauh? Aku pengen sop buntut yang ada dirumah makan dekat rumah sakit ini.


Tiba-tiba tubuh Angga bergidik merinding. Febri aneh melihat tingkahnya.


"Kenapa Pak?" tanya Febri.


"Si Bos ini punya cenayang apa ya, kog tau kita lagi makan disini. Nih dia pesan sop buntut" ucap Angga penasaran.


"Bukan cenayang Pak, tapi sehati. Bapak dan Pak Rendy memiliki kontak batin" Febri tersenyum menggoda Angga yang terlihat kesal.


"Untung kita memang lagi makan disini, coba kalau tidak kan jauh banget balik lagi. Mau ditolak nanti dia marah bisa-bisa dipecat lagi, diikutin bikin kesal"


"Sakitnya tuh disini kan Pak?" Febri menunjuk dadanya sambil tertawa menggoda Angga. Asisten aneh fikirnya.


"Padahal tadi Mamanya Pak Angga bawa sop juga lho Pak. Ngidam kali Pak, udah turuti aja" Febri tetap tertawa melihat wajah kesal Angga.


Angga kemudian menjawab pesan Angga.


Angga


Siap Bos!


Kemudian Angga memesan sop buntut seporsi lagi tapi dibungkus. Mereka pun sudah selesai makan dan balik lagi ke rumah sakit mengantar pesanan Rendy.

__ADS_1


Angga turun sebentar mengantarkan pesanan Rendy ke kamar rawat inap Dinda, setelah itu balik lagi ke mobil dan berjalan menuju rumah Febri.


__ADS_2