
Butuh Ketenangan Untuk Berfikir Jernih
Setelah shalat Maghrib Rini masuk kekamar anak kesayangannya. Dia melihat Dinda baru saja selesai mengaji dan sedang melipat mukenanya.
Dengan lembut dibelainya rambut panjang anaknya itu.
"Sayang, kamu sudah bisa bercerita pada Mama?" tanya Mamanya.
Dinda bingung harus cerita apa pada Mamanya. Haruskah Dinda menunjukkan foto yang dia terima tadi. Belum tentu juga benar, bisa jadi seperti kata Febri itu hanya foto hasil rekayasa.
Lagian apa pantas dia cerita tentang rumah tangganya pada Mamanya. Karena tidak menemukan jawabannya Dinda hanya diam menatap Mamanya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita. Tapi sedikit mama berpesan ya sayang... Dalam rumah tangga itu pasti akan ada kerikil kerikil tajam yang terbentang dihadapan kita. Kita harus pinter melewati atau membersihkan jalan tersebut agar kaki kita tidak terluka saat melangkah. Kamu adalah anak Mama yang kuat. Masalah yang lebih berat dari yang kamu hadapi sekarang sudah kamu lalui dulu dan kamu berhasil menghadapinya. Ini hanya masalah kecil, kamu harus cegah jangan sampai menjadi besar"
Dinda tertunduk dan menangis mendengar kata kata Mamanya.
"Ingat pesan Mama sebelum kamu menikah? Setiap ada masalah segeralah selesaikan dengan cepat dan kepala dingin. Jangan disimpan sampai berlarut larut. Kunci pernikahan jujur dan saling terbuka. Ajak Rendy bicara empat mata dan dengan tenang selesai kan semua yang mengganjal dan cari kata mufakat untuk menyelesaikannya" Mamanya memeluk tubuh Dinda yang sedang menangis.
"Dalam menikah ego harus ditekan karena bisa menyebabkan pertengkaran yang lebih besar, dewasalah dalam bersikap, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu. Kamu harus kuat untuk membesarkan dan melindungi anak kamu dari kerasnya dunia ini. Seperti Mama melindungi kalian anak-anak yang Mama Sayangi"
"Terimakasih Ma" Dinda memeluk erat tubuh Mamanya menumpahkan sesak didadanya. Biarlah keluar bersama air mata agar dia dapat bernafas dengan lega.
"Dinda akan memikirkan kata-kata Mama ini tapi Dinda masih butuh waktu untuk menenangkan fikiran. Dinda belum mau bertemu Mas Rendy Ma" ucapnya.
"Iya sayang, nanti kalau dia datang akan Mama sampaikan pesan kamu ya. Sekarang kamu makan kasihan anak kamu didalam kelaparan" Mama menunjuk perut Dinda.
Mereka keluar kamar bersama sama dan makan malam bersama dengan kakak dan kakak iparnya.
__ADS_1
Kakak dan kakak iparnya sudah mendengar sedikit cerita Mamanya tentang keadaan Dinda saat dia datang tadi. Dan Mamanya sudah berpesan untuk tidak bertanya ataupun menyinggung kedatangan Dinda malam ini dirumah. Mereka seolah olah bersikap biasa saja seperti tidak ada yang terjadi.
Setelah selesai makan Dinda kembali masuk ke kamarnya mengunci pintu dan kembali menyendiri mencari ketenangan hati.
Sekita jam 9 malam mobil Rendy sampai di halaman rumah mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ma, Mas" Sapa Rendy ketika memasuki rumah mertuanya.
"Wa'alaikumsalam" Jawab keduanya, sedangkan istrinya Lila yang sedang hamil besar sudah istirahat dikamar.
"Dinda ada Ma, Mas?" tanya Rendy pelan.
"Ada dikamar. Duduk dulu Ren?" ucap Nanda.
Rendy pun duduk bersama mertua dan kakak iparnya.
"Kamu sudah makan?" tanya mertuanya.
"Mama dan Mas tidak akan bertanya tentang masalah rumah tangga kalian sebelum kalian sendiri yang berbicara. Mas yakin kamu pasti bisa dengan bijak menyelesaikan masalah kalian" ucap Nanda.
Dari kata-kata kakak iparnya ini, Rendy sangat yakin Dinda belum menceritakan apa yang terjadi dengan rumah tangga mereka. Istrinya itu ternyata sangat pandai menyimpan rahasia rumah tangga mereka.
"Nak Rendy, walaupun kamu baru beberapa bulan menikah dengan Dinda. Mama rasa kamu sudah mengenal sifat Dinda" Mama mulai bersuara.
"Dinda anak Mama yang kuat, tidak cengeng dan sangat bisa menyimpan masalahnya. Dia tidak akan mau bercerita walau kami sudah bertanya. Biasanya kami akan menunggu dia yang membuka diri. Sama seperti masalah yang kalian hadapi saat ini. Dia hanya menangis dan diam" Mama mertuanya menarik nafas panjang.
"Dia akan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, kalau memang benar-benar sulit untuk menyelesaikannya baru dia akan bercerita dan meminta bantuan kami. Dari kecil dia anak yang tidak mau merepotkan keluarga, dan dia anak yang tangguh" Mata Mama mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Sama seperti nasehat Mama kepada Dinda, Mama meminta pada kamu, selesaikanlah masalah kalian ini dengan jiwa yang tenang, dan hati yang dingin. Jangan gunakan ego, itu akan memperburuk keadaan. Mama sangat yakin kalian bisa menyelesaikannya. Untuk malam ini biarkanlah Dinda menginap disini. Dia berpesan dan meminta kamu memberikannya waktu untuk mencari ketenangan. Kamu jangan khawatir Dinda dalam keadaan sehat, nanti kalau dia sudah siap dia akan keluar sendiri. Mungkin besok saja kamu coba datang lagi ya. Mudah-mudahan Dinda sudah mau bertemu kamu" ucap Mama Dinda.
"Iya Ma, maafkan Ma. Rendy tidak ada niat untuk menyakiti Dinda. Semua hanya kesalahpahaman dan Rendy sudah menyelesaikannya. Hanya tinggal menunggu waktu Dinda mau bertemu dengan Rendy" Rendy menatap wajah mertuanya.
"Sudah semakin larut, Rendy pamit pulang ya Ma, Mas Nanda. Besok Rendy akan datang lagi. Salam buat Dinda dan Mbak Lila, Assalamu'alaikum" ucap Rendy sekaligus pamit pulang, biarlah malam ini Dinda mencari ketenangan mudah-mudahan besok dia sudah kembali seperti biasanya dan besok dia akan menjemput istrinya itu untuk kembali pulang bersamanya.
Rendy melangkah menuju mobil kemudian bergerak menuju ke apartemen mereka.
Dinda yang sayup-sayup mendengar suara mobil Rendy menjauh kemudian menangis dalam diam.
Bisakah dia melewati malam ini tanpa pelukan suaminya, tanpa kecupan dikening dan tanpa belaian lembut diperutnya.
Airmata Dinda jatuh semakin deras memikirkan suaminya. Sudahkah suaminya itu makan? sudahkah dia mandi? Apakah dia lelah?
Dinda menangis dalam doa.
Ya Tuhan... lindungilah rumah tangga kami, jauhkan dari segala marabahaya dan tunjukilah kami jalan yang benar. Aamiin.
Dinda pun tertidur karena sudah sangat lelah menangis.
***
Rendy sampai di apartemennya sekitar jam setengah sebelas malam. Di tatapnya kosong seluruh ruangan. Tidak ada suara dan senyuman istrinya yang menyambutnya pulang. Tidak ada masakan lezat dan pelukan hangat malam ini.
Rendy menangis, biarlah malam ini dia lemah.
Dia merindu... merindukan sentuhan istrinya, merindukan tawa istrinya.
__ADS_1
Rindu... rindu semua yang ada pada istrinya. Walau berat tapi biarlah dia menahan rindu ini semalam demi istrinya yang sedang menyendiri mencari ketenangan.
Dengan lemah Rendy melangkah ke kamar. Malam ini dia sangat lelah. Rendy membuka jas dan melepas dasinya kemudian naik keatas tempat tidur, berbaring dan akhirnya tertidur tanpa mandi dan mengganti bajunya.