Cinta Adinda

Cinta Adinda
Tujuhpuluh Enam


__ADS_3

Kehilanganmu


Rendy geram ketika telponnya mati. Dia baru saja mendengar istrinya menjerit. Awas saja kau Frengky kalau istriku terluka sedikit saja habis kau. Umpat Rendy dalam hati.


"Bos, polisi sudah menuju kemari" Angga baru saja mendapat info.


Sementara Ivan sudah datang dengan membawa massa berupa penduduk setempat.


Mereka berjalan menuju villa beramai ramai. Sesampainya di depan villa para penjaga yang melihat kedatangan warga segera menghalau mereka.


Rendy langsung memukul dan melumpuhkan penjaga yang berjaga diluar sebanyak 6 orang.


Setelah dibantu dengan para warga setempat, penjaga-penjaga tersebut sudah bisa diringkus dan diikat di tiang teras depan villa.


Rendy, Angga dan Ivan masuk ke dalam mencari keberadaan Dinda dan Febri ke setiap sudut ruangan, tetapi mereka tidak menemukannya.


Ivan memimpin mereka berjalan di depan menuju ke gudang belakang. Benar saja dugaannya, di depan pintu sudah berdiri 2 orang penjaga.


Penjaga yang melihat tiga orang asing masuk ke dalam villa segera berusaha menghadang mereka.


Terjadilah perkelahian yang sangat pelik. Saling pukul dan tendang dan akhirnya para penjaga tersungkur tidak sadarkan diri.


Bersamaan dengan itu mereka mendengar teriakan seorang wanita dari dalam gudang.


Akh.....


Tidaaaaaak.....


Rendy langsung melompat dari posisinya kemudian berlari kearah pintu gudang yang terkunci. Disusul oleh Ivan dan Angga yang ada dibelakangnya.


Rendy mengambil ancang ancang kemudian menendang pintu sampai pintu itu rusak.


Rendy sangat terkejut menyaksikan apa yang sedang terjadi dihadapannya.


Dia melihat Dinda yang sudah tidak berjilbab, wajah dan bajunya acak-acakan dan dia menangis terisak.


Sementara tepat di depannya, Febri terlihat sedang kesakitan karena perutnya sudah tertusuk pisau yang dipegang Lisa. Sepertinya Febri ingin menghalangi Dinda dari tusukan pisau Lisa.


Frengky yang sedang terduduk dilantai dan kesakitan memegang selangkangannya mencoba untuk berdiri dan ingin menangkap Dinda.


Rendy yang melihat kejadian itu langsung menangkap Frengky dan memukulnya tanpa ampun.


"Bajing** sudah kubilang sedikit saja kau sakiti istriku aku akan membunuhmu. Sekarang rasakan ini.

__ADS_1


Duk...duk... buk...pak... buk...


Frengky yang tidak siap dengan pukulan Rendy langsung tersungkur dan terjatuh karena tendangan Rendy.


Ivan langsung menarik tubuh Lisa dan menamparnya. Seketika Lisa terjatuh dan terduduk dilantai.


Sedangkan Angga menangkap Febri yang jatuh terkulai dalam pelukan Dinda dengan perut yang penuh darah.


Darah terus mengalir dari perutnya. Perlahan Febri mulai kehilangan kesadarannya. Samar samar dia melihat wajah Angga yang sedang menatap dan memanggil namanya kemudian mata Febri tertutup.


"Feb... bangun Feb, mengapa kamu lakukan itu Feb. Mengapa kamu menolongku huhuhu... Mengapa kamu halangi Feb..." Dinda menangis melihat Febri yang terluka.


Angga langsung menarik tubuh Febri dari Dinda dan memeluknya.


"Feb... bangun Feb.. Ini aku Angga. Jangan pergi Feb" Tanpa dia sadari airmatanya keluar dan mengalir deras.


"Feb jangan pergi, kau belum mengetahui perasaanku Feb. Aku akan melamarmu...Huuuu" Angga memeluk Febri dengan erat.


Dinda tersadar dengan keadaannya dirinya segera menyambar jilbabnya yang jatuh kelantai dan memakainya untuk menutupi kepalanya.


Rendy sudah melumpuhkan Frengky yang sudah terbaring tak berdaya. Hanya tinggal Lisa yang sedang bertarung dengan Ivan. Rendy berusaha untuk membantu Ivan.


Lisa mengambil pisau yang terlempar di lantai dan dia memegang pisaunya, mengancam pada siapa saja yang akan menyentuhnya, membuat mereka lebih berhati hati untuk menghadapinya.


"Kau tau siapa aku?" tanya Ivan pada Lisa


"Aku Ivan Setiawan anak dari Setiawan Wijaya, ini adalah Villa keluargaku. Bisa-bisanya kamu membawa orang asing kesini dan apa hakmu memakai villa ini hah?" Ivan terlihat sangat murka.


"Kau Ivan anak Mas Setiawan?" Lisa bertanya balik.


" Ya aku anaknya Setiawan, laki-laki yang telah kau hancurkan rumah tangganya. Belum puas kau menghancurkan rumah tangga orangtuaku sampai kau harus menghancurkan rumah tangga oranglaim lagi?" tanya Ivan.


"Kau Ivan... Ivan anaknya Mas Setiawan? Berarti Dinda ini pacarmu dulu? Hahahaha.... aku berhasil telah membatalkan pernikahanmu. Kau putus dengan Dinda kan? Hahahaha......" Lisa sudah seperti orang gila.


Ivan dan Dinda yang mendengar kata-kata Lisa sangat terkejut, mengapa Lisa tau hubungan mereka dulu? tanya Ivan dan Dinda dalam hati.


"Apa maksudmu?" tanya Ivan.


"Hahahaha... Kau tau kan rasa sakitnya kehilangan orang yang kau cintai? hahaha aku berhasil membatalkan pernikahanmu. Aku yang memintanya pada Mas Setiawan Hahaha..."


Ivan sangat terkejut dengan kata-kata Lisa yang terakhir.


"Dan kau Dinda bagaimana rasanya kehilangan orangtua dan setelah itu ditinggalkan kekasihmu secara bersamaan? Hahaha... ternyata hubungan kita sejak dulu sudah sangat rumit ya?"

__ADS_1


"Apa yang kamu maksud?" tanya Dinda.


"Kau tau penyebab orangtuamu meninggal? Kecelakaan? tabrak lari? Nasib kalian keluarga miskin, terima begitu saja apa yang terjadi? Hahaha... aku tidak menyesali perbuatanku dulu. Sejak dulu aku sudah berhasil membuatmu menderita hahaha" Lisa tertawa bahagia


Dinda semakin menangis mengenang kematian orangtuanya. Rendy kemudian meraih dan memeluk istrinya.


"Kau tau siapa yang menabrak Papamu? Aku.... aku yang sudah menabraknya hahahaha... aku tidak menyesal. Aku puas sudah membuatmh tersiksa karena kehilangan orang yang kau cintai hahahaha"


"Kau sudah gila" kata Rendy.


Ivan yang melihat Lisa sedang tertawa dan lengah segera menendang tangan Lisa yang sedang memegang pisau tersebut dan mengunci tubuh lisa sehingga dia tidak bisa bergerak.


"Lepaskan... lepaskan aku" teriak Lisa sambil meronta ronta.


Ivan semakin kuat mengunci tubuh Lisa hingga dia tidak bisa berkutik. Tak lama kemudian polisi datang dan menangkap Frengky yang masih lemas terbaring dilantai kemudian memborgolnya dan membawanya keluar.


Sedangkan Lisa yang masih meracau tak jelas segera diserahkan Ivan kepada Polisi dan mereka memborgol tangannya.


"Dengar Dinda kau wanita sial, Papamu sudah mati, kau ditinggal pacar dan sebentar lagi sahabatmu itu juga akan menyusul Papamu hahaha... Aku senang sekali membuatmu menderita" Teriaknya penuh dengan amarah.


Dalam dekapan Rendy, Dinda menangis dan terisak.


"Ren, wanita itu yang membunuh Papa, kamu dengar Ren. Dia juga yang menusuk Febri huhuhu" Dinda terus saja menangis.


Rendy memeluk istrinya dan mencoba menenangkannya.


"Tenang sayang.. tenang ssst... udah kamu jangan nangis ya. Febri akan selamat, sebentar lagi ambulance datang menolongnya" Rendy membelai punggung istrinya mencoba menenangkan.


Sementara Angga menekan perut Febri yang tertusuk tadi untuk mencoba mengurangi pendarahan. Wajah Febri semakin pucat dan tubuhnya menjadi dingin.


"Feb.. aku mohon Feb... bertahanlah. Aku akan melamar kamu seperti yang kamu mau. Bertahanlah Feb demi aku" Angga tak henti-hentinya memanggil nama Febri sambil menangis.


"Feb... aku sayang kamu" ungkapnya lirih.


Tak lama kemudian ambulance datang membawa Febri yang terluka parah dan sudah tak sadarkan diri.


Febri segera dinaikkan keambulance dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Angga masuk kedalam ambulance untuk menemani Febri didalam. Tangannya terus menggenggam tangan Febri memberikan semangat kepada Febri dan padanya dirinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan Febri.


"Feb... bertahanlah... aku mohon..." ucapnya.


Cintanya masih baru tumbuh sangat menyakitkan kalau harus langsung layu dan mati. Dia tak sanggup secepat itu Febri meninggalkannya, belum sempat dia menyampaikan perasaannya dan membalas cinta Febri.


Rendy, Dinda dan Ivan mengikuti mobil ambulance dari belakang menuju rumah sakit tujuan mereka.

__ADS_1


__ADS_2