Cinta Adinda

Cinta Adinda
Enampuluh Tujuh


__ADS_3

Ombak Mulai Berdatangan


Seminggu Kemudian


Suasana Baskara Corp masih penuh dengan kesibukan. Rendy dan Angga sering keluar untuk mengurus semuanya.


Rendy dan Dinda jarang sekali makan sianf bersama selama seminggu ini dan saat pulang kantor pun Dinda lebih sering duluan pulang diantar supir.


Rendy tidak mau istrinya ikut menemaninya lembur dikantor karena kondisi istrinya yang tidak boleh terlalu capek dan stres.


Hari ini seperti sebelumnya Rendy makan siang diluar bersama Angga, Dinda sangat memaklumi akan hal itu.


Sudah seminggu ini Dinda dan Febri makan siang berasama, selain makan dikantin kantor, sesekali mereka juga makan di cafe depan. Seperti haru ini Dinda dan Febri sudah menyeberang jalan menuju Cafe depan kantor.


"Kamu mau pesan apa Din?" tanya Ferbri.


"Aku mau coba menu baru cafe ini, sepertinya enak" Dinda sangat senang jika bicara tentang makanan akhir-akhir ini.


Febri dan Dinda mencoba menu baru yang disediakan cafe ini dan selang beberapa waktu makanan sudah datang. Mereka mulau menikmati makanan yang dihidangkan.


Setelah selesai makan mereka terlibat pembicaraan yang sedikit serius.


"Din aku sudah bertemu dengan pria itu?" Febri memulai pembicaraan.


"Maksud kamu pria yang dijodohkan Papa kamu itu?" tanya Dinda.


"Iya dan ternyata aku sudah mengenalnya, dia teman kecilku dulu yang sudah lama pindah keluar kota" Febri terlihat tak bersemangat.


"Trus bagaimana perasaan kamu, apakah berubah?"


"Ntahlah Din, aku hanya memanggapnya teman tidak lebih. Dari dulu sampai sekarang dia hanya teman kecilku"


"Tapi kan tidak sulit Feb menjalani rumah tangga dengan orang yang sudah kamu kenal, bukan pria asing"


"Tetap saja Din aku tidak mencintainya. Hatiku menolak, sekeras apapun aku mencobanya dia hanya teman" Febri merasa frustasi.


"Kamu harus memutuskan jangan terlalu lama. Apalagi kamu bilang pria itu teman kamu. Jangan beri dia harapan dan jangan buat dia kecewa. Aku rasa kalau kamu berkata jujur dia pasti akan menerima" Dinda memberikan nasehat kepada sahabatnya itu


Tiba-tiba hp Dinda berbunyi, tanda sebuah lesan masuk.


Dinda melihat layar hp nya ada pesan dari nomor yang tidak dia kenal.


Saat Dinda membuka hp nya alangkah terkejutnya Dinda melihat isinya.

__ADS_1


Seketika air matanya mengucur deras. Febri sampai panik melihat.


"Ada apa Din?" Refleks Febri merebut hp Dinda dan melihatnya.


Ada beberapa foto yang isinya Rendy sedang tidur dengan seorang wanita. Febri teringat tragedi Dinda terpleset. Bukankan wanita yang didalam foto ini adalah wanita yang ada di reatourant? tanya nya dalam hati.


"Din, tenang din. Kamu jangan sedih seperti ini. Nanti anak dalam perut kamu bisa bahaya. Ingat kata dokter" Febri mencoba menenangkan Dinda.


Dinda terus saja menangis.


"Kamu bisa tanyakan pada Pak Rendy. Semua bisa diselesaikan secara baik-baik. Lagian belum tentu juga ini foto asli bisa saja ini rekayasa. Zaman sekarang hal ini sudah biasa Din" Febri berusaha membuang ke khawatiran Dinda.


"Aku tidak bisa terima Feb" ucap Dinda kemudian Dinda keluar dari cafe dengan buru-buru.


Ferbi segera membayar makanan mereka dan mengejar kepergian Dinda.


Febri melihat Dinda berjalan sambil menangis dan hendak menyebrang. Tiba-tiba dari arah depan Dinda melihat mobil melaju kencang.


"Dinda Awaaaaaaaas" Teriak Febri.


Febri berlari kearah Dinda dan refleks menarik lengan Dinda sehingga Dinda mundur beberapa langkah.


Sekilas Febri bisa melihat pengendara mobil itu. Seorang wanita dan wanita itu mirip dengan wanita yang ada di foto dan restourant. Ada apa ini? Mengapa wanita ini sepertinya ingin menyakiti Dinda.


Tetapi Febri tidak bisa asal menuduh tanpa ada barang bukti


"Aku tidak bisa kembali ke kantor dengan keadaan seperti ini Feb" ucapnya sambil terisak.


Febri menepuk bahunya memberikan semangat dan dukungan.


"Tenang Din, kamu harus tenang"


"Aku mau pulang Feb, kerumah Mama. Aku gak mau ketemu dengan Mas Rendy.


"Ya sudah kamu pulang saja. Aku panggilkan taxi ya" Febri membantu Dinda.


Taxi sudah berhenti di depan mereka.


"Kami yakin bisa sendiri? tidak perlu aku temani?" Febri memberikan bantuan.


"Gak usah Feb, aku pergi sendiri aja, kamu juga harus kerja kan?" ucap Dinda.


Taxi melaju bergerak menuju rumah Mama Dinda.

__ADS_1


Ditempat Lain


"Sial gagal lagi..." ucap wanita itu sambil memukul stir mobilnya. Wanita itu adalah Lisa.


Sudah dari tadi dia mengikuti Dinda, dia melihat Dinda masuk ke dalam cafe didepan gedung Baskara Corp.


Lisa menjalankan aksinya. Dia mengimkan foto fotonya kemarin saat menjebak Rendy tidur dengannya. Walau jebakannya gagal tapi dia sempat mengambil beberapa foto yang bisa menjadi bukti untuk membuat rumah tangga Rendy berantakan.


Sesuai dengan dugaan Lisa, Dinda terlihat sangat terpukul mendapat pesan bergambar itu. Saat Dinda keluar Cafe sendirian tanpa temannya Lisa langsung mengambil kesempatan untuk menabrak Lisa.


Segera dia tancap gas dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang tapo sayang sebelum mobilnya sempat menabrak tubuh Dinda, tiba-tiba temannya datang dari belakang dan menyelamatkan Dinda.


Lisa sangat kesal, lagi lagi rencananya gagal untuk mencelakakan Dinda. Lisa menjalankan mobilnya menjauh dari lokasi tersebut. Dia takut mobilnya dikenali.


****


Dinda mematikan hp nya. Dia ingin mendapatkan ketenangan setidaknya malam ini saja dia ingin menjernihkan fikirannya agar bisa mengambil keputusan.


Taxi sudah sampai di depan rumah Mama Dinda.


Dinda masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk Mamanya dengan tangisan.


Mama yang melihat keadaan Dinda seperti ini sebenarnya sangat terkejut tetapi dia tidak mau panik, nanti akan membuat masalah semakin runyam.


"Kamu kenapa sayang?" suara Mama bertanya sangat lembut.


"Kalau kamu belum bisa cerita tidak apa, Mama akan menunggunya. Tapi kamu jangan terus menangis, kasihan anak kamu yang didalam sini" Mama mengelus perut Dinda yang sudah mulai kelihatan membuncit karena sudah masuk tiga bulan usia kehamilannya.


"Sekarang kamu istirahat dulu dikamar, ambil wudhu dan shalat. Kamu belum shalat dzuhur kan?" tanya Mama.


Dinda hanya menjawab dengan gelengan.


Dinda berjalan menuju kamarnya dan mengganti bajunya dengan baju rumahan. Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu.


Setelah itu Dinda shalat dan berdoa. Mengadu pada Tuhan tentang masalah rumah tangga yang dihadapinya. Meminta semoga Tuhan memberikan jalan keluar untuk rumah tangganya.


Sebenarnya jauh dilubuk hatinya dia percaya pada suaminya. Pasti semua itu tidak benar, suaminya sudah berubah seperti yang dikatakan keluarga dan sahabat suaminya. Tapi namanya hsti seorang istri pasti tetap merasa sakit melihat fotk suaminya seperti itu. Apa lagi kondisi Dinda yang sedang hamil membuat perasaannya lebih sensitif dari pada biasanya.


Mama Dinda masuk kedalam kamar membawa segelas teh hangat.


"Minum dulu sayang untuk mengembalikan energi kamu. Setelah itu kamu tidur aja dulu ya. Jangan fikirkan yang macam macam biar kamu lebih tenang" ucap Mamanya.


"Ma aku boleh minta sesuatu?" tanya Dinda dibalas dengan anggukan Mamanya.

__ADS_1


"Kalau Mas Rendy bertanya atau datang, aku mohon sekali, satu malam saja aku ingin menyendiri dan mencari ketenangan. Aku tidak mau di ganggu. Bisa Ma?" Dinda meminta pengertian Mamanya.


"Iya sayang nanti akan Mama sampaikan, sekarang istirahatlah" Mama pun keluar kamar, meninggalkan Dinda sendiri untuk beristirahat.


__ADS_2