
Kerumah Mama
Dinda sudah bangun sebelum adzhan subuh. Setelah selesai mandi dan shalat subuh dia membangunkan suaminya.
"Mas.... Mas.... bangun" Dinda menepuk lembut pipi suaminya tapi Rendy belum juga bangun.
"Sayang..." Dinda memanggil suaminya dengan lemah lembut kemudian mencium pipinya.
Tiba-tiba Rendy langsung membuka matanya.
"Gitu donk, kalau setiap pagi seperti itu aku pasti cepat bangun" ucap Rendy.
Rendy duduk sejajar dengan Dinda kemudian mencuri ciuman Dinda.
"Morning Kiss" Rendy kemudian berlari ke kamar mandi.
Dinda tertawa melihat tingkah laku suaminya. Ternyata suaminya itu sangat jahil.
Dinda mengambil baju suaminya dan kain sarung untuk dipakai shalat subuh. Kemudian dia berjalan ke dapur memasak sarapan pagi.
Rutinitas setiap hari bila berada dirumah. Dinda akan menyediakan kopi untuk suaminya. Setelah itu Dinda masak nasi goreng seafood dan ceplok telur.
Jam7 masakan sudah siap, Dinda memanggil suaminya ke kamar ternyata Rendy tidur lagi dengan memakai sarung shalatnya.
"Lho kog tidur lagi, sarapan yuk" Dinda menggoyang goyangkan badan suaminya.
"Mmmm... iya sayang aku ngantuk sekali" jawab Rendy.
"Katanya hari ini mau kerumah Mama ngantar oleh-oleh. Aku udah kangen sama Mama, Mas Nanda dan Mbak Lila. Sejak nikah belum pernah kesana lagi. Apalagi Mbak Lila sedang hamil. Aku ingin ketemu dia. Bangun donk Mas.." Dinda menggoyang badan Rendy semakin kencang.
"Iya.. iya.. sayang" Rendy bangun lalu mencuci wajah bantalnya kemudian menyusul istrinya kedapur.
"Sruuuppp.... aaah. Udah kangen banget sama kopi buatan kamu" ucap Rendy setelah meminum kopi yang tersedia diatas meja makan.
Dinda tersenyum sambil mengambilkan makanan Rendy.
"Kita berangkat pagi ini ya, aku udah gak sabar mau kerumah Mama" ucap Dinda dengan mata yang berbinar binar.
Rendy hanya membalas dengan anggukan sambil mengunyah nasi yang ada dimulutnya.
Jam 9 mereka sudah menuju rumah orangtua Dinda.
Karena hari ini hari minggu jalanan lancar sehingga tidak memakan waktu lama sudah sampai dirumah orangtuanya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Ma" Dinda masuk dan memeluk Mamanya.
"Wa'alaikumsalam" Rini membalas pelukan anak kesayangannya itu kemudian menyalam Rendy yang datang dibelakang Dinda.
"Mama sehat?" tanya Rendy.
"Alhamdulillah seperti yang kalian lihat"
"Mas Nanda dan Mbak Lila mana Ma?" Dinda mencari cari kakak dan kakak iparnya.
"Mereka masih dikamar sayang, kalau pagi gini Lila masih mual mual, kasihan lihatnya?" Rini sangat prihatin melihat menantunya itu.
"Apa setiap wanita hamil seperti itu ya Ma?" Tanya Dinda penasaran.
"Nggak sayang, tapi kebanyakan wanita saat hamil muda merasakan mual seperti itu di trimester pertama kehamilannya" Rini menjelaskan.
"Mama juga begitu waktu hamil kalian, untung Papa selalu sabar membantu Mama, Dia memijit mijit kepala Mama agar tidak pusing" Terlihat raut sedih Mama setiap mengenang Alm. Papanya.
Dinda menggenggam hangat tangan Mamanya.
"Oh iya ini oleh-oleh untuk Mama" Dinda menyerahkan bingkisan yang dari tadi sudah mereka siapkan.
Mama membukanya dan sangat senang sekali menerima pemberian anakn dan menantunya itu.
Tidak berapa lama Nanda yang mendengar suara ribut diluar segera keluar dari kamarnya.
Rendy yang melihat kakak iparnya datang segera menyambut dan menjabat tangan kakak iparnya.
"Sehat Mas" tanyanya memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah sehat, Lila yang lagi kurang enak badan maklumlah lagi hamil muda"
Dinda pun menghampiri dan mencium tangan kakaknya.
"Sekarang Mbak Lila udah gimana Mas?" tanya Dinda.
"Sekarang lagi tidur, biarin aja dulu Din. Kasihan badannya lemas karena muntah terus. Kata Mama kalian ke Bali?" Nanda bertanya pada Rendy.
"Iya Mas. Waktu nikah kami tidak sempat cuti karena jadwal kantor yang padat. Baru kemarin bisa kesampaian jalan-jalannya" Rendy tersenyum kepada kakak iparnya.
Rendy dan Nanda ngobrol ngobrol di depan, sedangkan Dinda membantu Mamanya di dapur memasak untuk makan siang.
"Gimana rumah tangga kamu sayang?" Tanya Mamanya sambil memutik sayur.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Ma" jawab Dinda.
"Kamu layanani dan urus suami kamu dengan baik kan?" tanyanya lagi dan dibalas Dinda dengan anggukan.
"Sebisa Dinda Ma" jawabnya.
"Serepot apapun kamu layanilah dia karena kamu akan mendapat pahala. Tidak boleh membantah dan berkata kasar"
"Iya Ma"
"Dalam berumah tangga pasti ada perselisihan bahkan sampai tua akan terus terjadi. Karena menikah itu menyatukan dua pribadi, sifat, kebiasaan, latar belakang yang berbeda. Sangat sulit menyatukannya. Jadi setiap ada perselisihan jangan sampai berlarut, segeralah selesaikan" ucap Mamanya memberi nasehat.
Dinda mengangguk tanda mengerti.
Tiba-tiba Lila datang dari arah belakang mereka.
"Ada pengantin baru rupanya datang berkunjung" Sapa Lila.
"Eh Mbak Lila, gimana Mbak udah enakan?" Tanya Dinda sambil memeluk kakak iparnya.
"Kalau menjelang siang gini udah mulai enak Din. Mbak juga gak mau bawa manja, kasian Mama kalau masak sendiri" ucapnya.
"Gak apa-apa sayang. Yang penting kamu dan calon cucu Mama sehat. Kalau masih yang ringa-ringan Mama masih sanggup kog. InsyaAllah Mama udah sehat" Jawab Mamanya.
Mereka makan siang bersama hari itu. Setelah selesai makan siang Dinda membersihkan meja makan dan mencucu piring kemudian mengajak suaminya istirahat dikamarnya dulu ketika masih gadis.
Rendy melihat kamar ini tidak begitu luas tetapi semua isinya sangat tertata rapi. Beraneka pernak pernik berwarna pink memenuhi meja hias dan lemari dikamar Dinda.
Istriku menyukai pink, pantas dia sering pakai baju yang bernuansa pink. Tambah lagi ilmu tentang dia, batin Rendy.
Setelah shalat dzuhur bersama Rendy dan Dinda tertidur diatas tempat tidur mungil Dinda yang tidak sebesar dikamar apartemen Rendy. Tetapi Rendy tidak mempersalahkannya karena dia sudah menerima Dinda dan keluarganya dengan apa adanya.
Sore harinya mereka bersiap siap untuk kembali pulang ke apartemen. Dinda dan Rendy pamit untuk pulang. Lelah mereka belum hilang karena honeymoon kemarin. Malam ini Dinda dan Rendy berencana hanya istirahat dirumah karena besok mereka akan masuk kantor kembali.
Saat menuju apartemen Rendy, Dinda mengajak Rendy singgah ke supermarket untuk belanja bumbu dapur. Seminggu yang lalu Dinda sengaja tidak membuat stok yang banyak karena mereka akan bepergian lama.
"Mas singgah sebentar ya ke supermarket untuk beli stok makanan. Persediaan dikulkas sudah menipis. Kemarin aku kan gak beli bahan makanan karena kita akan ke Bali" ucapnya.
"Ok sayang, apasih yang nggak buat kamu" Rendy tersenyum dan menepikan mobil masuk kearea parkir supermarket.
Dinda dan Rendy masuk ke dalam langsung kebagian makanan. Dinda memilih bahan bahan makanan yang akan dia masak dengan beraneka ragam makanan. Ada Ikan, ayam, aneka seafood dan tak lupa Dinda membeli daging dia ingin memasak Rendang makanan favourite suaminya itu. Beberapa macam sayuran dan bumbu bumbu masak yang lain.
Setelah selesai berbelanja Rendy dan Dinda kembali ke apartemen. Membersihkan diri mandi, shalat, makan lalu bersantai menonton tv. Saling bercanda dan tertawa.
__ADS_1