
Menghindar
Sudah 1 bulan Papa Rendy dirawat dirumah. Walau kondisinya semakin membaik tapi Pak Baskara tidak boleh banyak bergerak. Hubungannya Rendy pun semakin baik dengan Papanya. Pak Baskara sudah berulang kali menagih permintaannya kepada Rendy.
"Rendy, sudah sebulan Papa menunggu. Kapan kamu membawa calon istri kamu kesini dan mengenalkannya pada Papa dan Mama"
"Sabar Pa sedang dalam perjalanan, nanti kalau sudah sampai pasti akan Rendy bawa" Rendy mencoba berkelakar dengan Papanya.
"Jangan banyak alasan kamu, secepatnyalah kamu menikah, mungkin waktu Papa tidak lama lagi. Papa takut tidak bisa menunggunya" Ucap Pak Baskara.
"Huus... jangan gitu ngomongnya Pa, Papa pasti kuat. Kata Papa seorang Baskara tidak boleh cengeng dan lemah. Barusan Papa menunjukkan kelemahan Papa" Rendy berusaha memberi semangat pada Papanya.
Rendy semakin terdesak dengan permintaan Papa. Melihat keadaan Papanya terkadang Rendy takut tidak bisa memenuhi keinginan Papanya karena sampai sekarang memang dia belum memiliki calon istri yang akan dia kenalkan pada Papanya. Rendy tidak bisa terus terusan menghindar sementara kondisi Papanya semakin lemah.
**** Diperusahaan Baskara Corp.
Dinda sudah sampai di lobi utama perusahaan tempat dia bekerja dan berjalan keluar menuju halte Bus. Sudah habis jam kerja dan dia ingin segera pulang kerumah. Hari ini dia sangat sibuk dengan pekerjaan yang semakin kejar tayang. Semua deadline nya sangat singkat. Badannya pegal rasanya ingin segera rebahan di kamar tercintanya.
Saat sedang menunggu Bus datang tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat dihadapan Dinda.
Pengendaranya keluar kemudian menghampiri Dinda. Betapa terkejutnya Dinda melihat pria yang keluar dari mobil itu adalah Ivan.
"Din aku mau bicara sama kamu, tolong kasi aku waktu untuk menjelaskan semuanya" Ivan memohon kepada Dinda.
"Gak ada lagi yang harus dijelaskan sudah terlambat, semua sudah berlalu" Dinda ingin melangkah pergi.
"Aku tau kamu menghidar dariku Din, tapi tolong kasi aku waktu aku ingin bicara sama kamu" Ivan mencoba memegang tangan Dinda.
Dinda langsung menarik tangannya dan memegang erat tas yang sedang dia bawa. Bus yang ditunggu Dinda datang, Dinda berlari masuk kedalam Bus meninggalkan Ivan yang masih terpaku menatap kepergian Dinda.
Akh.... sial, gagal lagi bicara dengan Dinda. Ivan meremas rambutnya kasar kemudian masuk ke mobil dan pulang.
__ADS_1
--------------°°°°°°---------
Rendy membuka handphonenya dan melihat ada pesan masuk dari Danu.
Danu
Bro hari minggu datang ya kerumah acara aqiqah anak pertamaku.
Rendy
Sebelumnya Selamat sudah menjadi orangtua. InsyaAllah aku datang.
Hari minggu pun tiba Rendy berangkat kerumah Danu untuk menghadiri acara aqiqah anaknya Danu.
Disana Dia bertemu dengan Rico dan Andin istrinya yang sedang membawa putra mereka. Danu dan istrinya juga sekarang sudah memiliki anak tinggal Rendy sendiri yang masih jomblo.
"Lihat Ren, aku dan Rico udah punya anak. Kamu gak iri lihat kami begini" Goda Danu dan seperti dugaan Rendy dia pasti mendengar ocehan receh dari temannya itu.
"Pusing kog dipelihara, yah wujudkanlah biar gak pusing lagi tuh kepala atas dan kepala bawah" Danu dan Rico terkekeh melihat tingkah Rendy yang suntuk.
Akhirnya Rendy curhat sama sahabatnya.
"Papaku sakit, sebulan yang lalu dia masuk Rumah Sakit karena pembengkakan jantung. Fisiknya semakin lemah karena faktor usia dokter tidak mengajurkan operasi hanya minum obat dan jaga pola makan, tidak boleh stres dan capek. Pada saat dia terbaring dirumah sakit Papa memanggilku.
Baru kali itu dia memperlihatkan sisi lemahnya pada kami anak-anaknya. Dia yang selalu keras dan tegas tiba-tiba meminta maaf padaku ataa semua tekanan yang dia berikan padaku dan dia menarik semua tuntutannya. Dia membebaskanku untuk hidup sesuai dengan apa yang ku mau tidak ada lagi paksaan harus begini dan begitu. Tapi dia meminta 1 permintaab sebelum dia meninggal dia ingin melihat aku menikah. Katanya terserah siapapun wanita itu, berasal dari keluarga mana dia tidak akan pilih pilih yang penting wanita itu baik dan bisa mengerti aku"
Rico dan Danu mendengarkan cerita Rendy dengan serius karena mereka lihat kali ini Rendy memang benar benar bingung.
"Mau kemana aku cari calon istri yang baik? Aku tidak punya calon saat ini. Lagian para mantanku semuanya hanya bisa dijadikan pacar tapi tidak layak dijadikan istri" Rendy mengusap wajahnya kasar.
"Kalian kan tau pacar pacarku dulu hanya bisa dilihat dari wajah dan body tapi soal hati dan akhlak gak ada yang beres. Dulu aku hanya ingin mencari kesenangan saja sama mereka bukan untuk serius dijadikan istri, mereka semua matre hanya penikmat dunia. Mau jadi apa anak-anakku nanti punya Ibu seperti para mantanku itu"
__ADS_1
"Waaah... ternyata kamu sudah tobat Bro" Danu terkesima dengan perkataan Rendy.
"Sebejat bejatnya aku Dan, aku tidak akan mempermainkan pernikahan. Aku pasti akan mencari wanita yang baik untuk kujadikan istriku dan wanita yang akan melahirkan dan membesarkan anak-anakku kelak" Rendy juga baru tersadar dengan kata-katanya. Yah Dia tidak akan main-main lagi, sudah saatnya dia serius memikirkan masa depannya. Umurnya sudah 30 tahun sudah bukan waktunya lagi main main.
"Karena kamu sudah serius begini dan aku lihat kamu memang mau berubah serius dan dewasa menilai masa depan, aku baru berani memberi saran kepada kamu" Rico mulai buka suara.
"Aku yakin kamu tidak akan mengecewakan dan menyakiti wanita yang baik kan?" tanya Rico.
Rendy menatap wajah Rico dan mencoba mencari arah pembicaraan Rico.
"Yang, kamu dengar dan lihat sendiri kan Rendy serius mencari istri?" Rendy berbicara pada istrinya Andin.
Andin pun menganggukkan kepalanya.
"Kamu setuju kalau Rendy kita jodohkan sama sepupu kamu Dinda?" tanya Rico pada istrinya.
Andin menarik nafas panjang.
"Asal Mas Rendy bisa membahagiakan Dinda, Mama setuju aja Pa. Tolong ya Mas jangan kamu sakiti Dinda. Dia sudah terlalu banyak menghadapi cobaan hidup. Saatnya dia bahagia sekarang, aku gak mau kamu menambah penderitaannya" Andin mulai bercerita tentang kisah hidup Dinda.
"Dulu waktu kuliah Dinda mempunyai pacar dan mereka pacaran lama sampai mereka masing masing bekerja. Penderitaannya bermula pada saat Papanya meninggal, Mamanya sakit dan tiba-tiba pacarnya juga memutuskan hubungan mereka karena keluarganya tidak setuju dengan keluarga Dinda yang pas pasan. Mereka merasa Dinda tidak sekelas dengan keluarga mereka" Rendy yang mendengar cerita Andin merasa emosi dan marah pada pacar Dinda yang tidak dia kenal.
"Aku sangat tau pada saat itu Dinda sangat hancur. Cobaan datang bertubi tubi tapi dia menerimanya dengan tabah. Dia berhenti kerja dan fokus merawat Mamanya. Tidak egois dan memikirkan dirinya sendiri, tidak berlarut larut dalam kesedihan tapi dia semakin tabah dan sabar. Bahkan dia semakin baik, dia semakin alim dan menutup auratnya" Andin yang menceritakan kisah hidup Dinda tanpa sadar meneteskan airmata.
"Nah Bro, kamu sudah menemukan wanita yang baik sesuai keinginan terakhir papamu. Apalagi secepatnyalah bergerak" Danu memberi semangat.
"Tapi aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya An? Dan Dinda juga apa dia mau menikah denganku?" Rendy tidak yakin dengan kata-katanya.
"Kalau soal Dinda saya akan membantu Mas. Nanti saya akan bicara sama Dinda pelan-pelan yang penting Mas memantapkan hati Mas untuk menuju jenjang pernikahan. Menikah cukup sekali mas tidak ada kata main-main lagi" Andin menatap suaminya Rico meminta bantuan.
"Benar Ren, aku yakin Andin bisa membujuk Dinda karena yang kutau Andin dan Dinda sangat dekat. Walau mereka sepupu tapi sudah seperti saudara sendiri" Rico mencoba meyakinkan Rendy.
__ADS_1
"Cinta bisa dibangun seiring berjalannya waktu. Cinta bisa datang karena terbiasa Mas" Ucap Andin mengakhiri