Cinta Adinda

Cinta Adinda
Duapuluh Lima


__ADS_3

Cincin kawin


Pernikahan Rendy dan Dinda tinggal menunggu waktu. Seperti biasa Dinda akan menghidangkan kopi diatas meja kerja Rendy dan membacakan jadwal kerja Rendy hari ini.


Hari Selasa, Rendy mempunyai jadwal sidak ke kantor cabang. Rendy ingin memantau langsung kerja kantor cabang.


Rendy sudah berangkat jam 9 pagi ke kantor cabang ditemani Angga Asistennya. Satu hari ini Rendy berkeliling kesemua kantor cabangnya di jakarta. Karena lalu lintas Jakarta yang padat Rendy dan Angga tidak sempat balik ke kantor.


Dinda bekerja sendiri dikantor tanpa gangguan Rendy dan Angga. Dia melanjutkan persiapan bahan untuk Rapat Bulanan hari kamis dengan para kepala Departemen.


****


Keesokan harinya.


Hari ini Rendy punya jadwal meeting dengan klient dari PT. Amir jam9 pagi. Direncanakan sekitar jam 11 sudah selesai.


Mendengar dari Dinda bahwa setelah jam 11 jadwalnya kosong Rendy mengajak Dinda keluar saat waktu makan siang.


"Kita mau kemana Mas?" Tanya Dinda.


"Ke Mall XXI" jawab Dinda.


"Tumben makan siang nya di Mall" Dinda tak sadar bertanya seperti itu.


"Kita makan dulu setelah itu singgah ke toko perhiasan" Dinda hanya bisa ber oooo ria.


"Kita akan membeli cicin kawin" ucap Rendy.


Dinda hanya mengikuti langkah Rendy masuk kedalam gedung Mall terbesar di Jakarta. Agak sulit mengikuti langkah besar Rendy. Karena kaki Rendy panjang mungkin itu yang menyebabkan setiap langkahnya terasa sangat lebar Dinda sangat sulit mengimbanginya.


Rendy yang tersadar Dinda setengah berlari kemudian melambatkan langkahnya dan mereka berjalan sejajar mengelilingi Mall tersebut.


Rendy masuk di Cafe Nelayan dimana menunya menyediakan aneka seafood. Ketika masuk kepintu Cafe sudah tercium aroma wangi masakan. Membuat perut Dinda terasa lapar.


Dinda dan Rendy duduk diruangan privat, Rendy gak mau kali ini dia bertemu client seperti tadi malam. Rendy hanya ingin makan berdua saja dengan Dinda.

__ADS_1


Rendy memesan menu kepiting saus padang sedangkan Dinda memesan tomyan. Penerangan diruangan ini dirancang agak redup sehingga terasa sangat romantis.


Sambil menunggu pesanan mereka datang Dinda merasa salah tingkah karena cuma berdua diruangan seperti ini. Dia mengambil handphone nya dan membuka sosial media untuk menghilangkan groginya. Rendy menatap Dinda dengan tajam.


Tinggal beberapa hari lagi mereka akan menikah dan tinggal serumah. Rendy merasa tidak sabar ingin menjalani rumah tangganya. Bagaimana rasanya menjadi seorang suami? Dia yakin Dinda pasti akan melayaninya dengan baik tapi bagaimana dengan hatinya. Apakah wanita yang dihadapannya ini akan melayaninya dengan sepenuh hati dan cinta?


Dan bagaimana dengan aku? Pelan-pelan aku memang mulai menyukai sifatnya, senyumnya, wajah nya dan kelembutannya tapi bagaimana dengan cinta? Apakah aku sudah mulai mencintainya?


Rendy hanya tanya jawab didalam hati.


Tak lama pesanan datang mereka berdua menikmati hidangan yang disediakan. Dari bentuknya sudah sangat menggugah selera apalagi rasanya.


Dinda melihat kearah pesanan Rendy.


"Kamu mau?" Tanya Rendy datar.


"Ah nggak Mas, aku memang suka kepiting tapi aku tak pandai memakannya, sulit membuka cangkangnya. Lebih baik pilih menu yang lain"


Huuuh padahal suasana sudah sangat mendukung romantis gini tapi dia tetap aja dingin gak ada lembut-lembutnya. Hey... Bos beku beberapa hari kita akan menikah, aku akan menjadi istrimu berlemah lembutlah padaku. Teriak Dinda dalam hati.


Rendy membuka cangkang kepiting satu persatu dan dia mulai menikmatinya. Rasanya sangat nikmat tiba-tiba dia ingat kata kata Dinda tadi. Rendy mengambil cangkang yang besar membukanya, setelah terlihat isinya Rendy memberikannya kepiring Dinda.


"Makasih Mas" Dinda sangat senang menerima pemberian Rendy. Sebenarnya dia tidak menyangka Rendy akan berbuat manis seperti itu walaupun tetap dengan wajah datarnya tapi hati Dinda tiba tiba saja hangat. Ternyata dia perhatian denganku.


Makan siang diakhiri dengan hidangan penutup. Mereka makan puding yang manis dan lembut. Sama seperti Dinda, Rendy tersenyum dalam hati.


Selesai makan siang mereka berjalan ke toko perhiasan langganan Rendy. Ini adalah toko perhiasa paling besar di Mall ini. Beraneka bentuk perhiasan yang dipajang di stelling.


Dinda berkeliling menikmati pemandangan itu, wanita mana yang tidak suka melihatnya tapi untuk Dinda, dia hanya suka memandangnya tak pernah terfikirkan untuk memilikinya. Dia sadar keluarganya hanya keluarga pas pasan tidak mempunyai uang lebih untuk membeli perhiasan. Lagi pula Dinda memang tidak suka bermewah mewah dan berlebihan. Impiannya hanya ingin memiliki kalung mungil yang berbentuk hati dengan beberapa berlian sebagai hiasannya menambah kecantikan kalung yang ada dihadapannya.


Dinda teringat tujuan mereka kesini hanya untuk memilih cincin kawin, Dinda kembali ketempat Rendy berdiri.


"Boleh kami melihat cincin kawin yang terbaik disini?" Tanya Rendy.


Karyawan yang bertugas memberikan beberapa pasang cincin yang akan menjadi pilihan. Dinda melihatnya satu persatu.

__ADS_1


"Kamu suka yang mana?" Tanya Rendy.


"Terserah Mas saja" ucap Dinda.


"Inikan pemberian Mas untukku jadi aku mau Mas yang memilihnya sendiri. Apapun itu aku akan menerimanya tanpa protes"


Rendy memilih cincin yang cocok dengan keinginan Dinda. Kira-kira yang mana ya yang dia suka.


Pilihan Rendy jatuh kepada sepasang cincin putih yang berhiaskan 1 berlian ditengahnya, sederhana tapi terlihat mewah dan berlian itu bukan berlihan sembarangan. Itu adalah berlian terbaik.


Saat Rendy memilih cincin itu Dinda tersenyum karena dari tadi memang itu cincin yang dia perhatikan dan inginkan.


"Menurutku ini sesuai dengan selera kamu, kamu pasti tidak mau cincin yang banyak model dan hiasannya. Kamu sukanya yang simple" Ucap Rendy.


"Mas udah mulai mengerti ya selera aku" Dinda menggoda Rendy. Tapi tetap saja wajah Rendy datar. Gak apa apa deh yang penting dia baik padaku bisik Dinda dalam hati.


Karyawan toko tersebut membungkus cincin tersebut dalam wadah yang cantik khusus untuk perhiasan pernikahan. Rendy membayarnya dengan menggunakan kartu debitnya. Setelah itu mereka berniat untuk pulang kembali kekantor.


"Ada sesuatu yang pengen kamu beli" Rendy memberikan penawaran, biasanya wanita paling senang mendengar penawaran seperti ini. Para mantannya saja dulu selalu belanja dengan kalapnya kalau sudah berbelanja dengan Rendy.


Tapi Dinda memang wanita yang berbeda. Dia menolak tawaran Rendy dengan alasan ingin segera kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang gantung dia kerjakan. Bahan rapat bulanan besok masih belum selesai dia kerjakan kemudian jadwal Rendy hari jumat karena Dinda hanya bisa mengambil cuti satu hari itu disebabkan jadwal kantor mereka yang padat. Siapa suruh nikahnya dadakan mana bisa sembarangan atur ulang jadwal yang sudah lama tersusun.


Sebelum menuju parkiran Dinda permisi ke toilet. Rendy dengan sabar menunggunya. Setelah itu mereka bergerak menuju kantor dan kembali bekerja sampai waktu jam kerja selesai.


"Kamu pulang naik apa Din?" Tanya Rendy pada Dinda saat Rendy hendak melangkah pulang.


"Aku dijemput Mas Nanda Mas, tadi udah kirim pesan" Jawab Dinda.


"Maaf ya aku gak bisa ngantar karena harus secepatnya kerumah Papa ada yang mau diurus untuk acara kita hari minggu" ucap Rendy.


"Iya Mas gak apa, Mas Nanda juga udah menuju kemari, salam buat Mama, Papa ya Mas" Dinda tersenyum menatap kepergian Rendy yang tergesa gesa itu.


Dinda pun segera turun ke lobi karena Mas Nanda sudah datang dengan sepeda motornya.


"Maaf ya Mas, aku jadi merepotkan Mas seminggu ini harus antar jemput aku kekantor" Dinda merasa bersalah pada Nanda karena setelah tragedi pemaksaan yang Ivan lakukan Nanda yang selalu mengantar dan menjemputnya ke kantor. Nanda takut adiknya itu diganggu Ivan lagi.

__ADS_1


Sebenarnya Ivan masih sering menunggu Dinda di halte tapi dia tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Dinda, sejak kejadian malam itu Dinda selalu dijemput kakaknya.


"Tidak apa apa Din Mas malah sangat senang punya kesempatan jalan berdua sama adik Mas tersayang sebelum dia menikah. Nanti kalau kamu sudah menikah kamu tidak akan punya waktu lagi sama Mas pasti waktu kamu akan kamu habiskan dengan suami kamu. Sebentar lagi tanggung jawab Mas padamu akan bergeser kepada suami kamu. Mari kita nikmati masa-masa ini" Nanda menghidupkan sepeda motornya dan menjalankannya. Dinda memeluk pinggang kakaknya itu penuh dengan kasih sayang.


__ADS_2