Cinta Adinda

Cinta Adinda
Tujuhpuluh Tujuh


__ADS_3

Tak Sanggup Bila Harus Kehilangan


Ambulance masuk ke area rumah sakit. Febri langsung dilarikan ke UGD. Setelah memeriksa keadaan Febri dokter segera melakukan operasi.


"Keluarganya pasien?" tanya perawat .


"Ya" jawab Rendy, Dinda dan Angga bersamaan.


"Begini, luka pasien sangat dalam sehingga mengenai organ dalamnya. Dan organ dalam tersebut keadaannya saat ini terkoyak lebar. Ini disebabkan karena faktor ketajaman dan kedalaman pisau dan gerakan sipenusuk saat menekan pisaunya kedalam perut pasien. Kami harus melakukan operasi untuk menjahit organ tubuh yang terkoyak tadi. Tapi pasien kehilangan banyak darah sehingga kesadarannya semakin menurun" ucap Dokter


Rendy dan Angga mendengarkan penjelasan dokter dengan terdiam dan sangat serius. Sementara Dinda menangis sambil menutup mulutnya tak kuat mendengar penjelasan dokter.


Dinda merasa sangat bersalah. Febri terluka karena ingin menyelamatkannya.


"Kami membutuhkan darah B, saat ini persediaan sedang menipis karena stock darah yang ada baru kami gunakan untuk operasi sebelumnya. Sehingga darah kosong saat darurat seperti ini" Dokter mencoba menjelaskan keadaan saat ini.


"Golongan darah saya B dok. Ambil darah saya saja" ucap Angga.


"Saya juga B dok, Dokter boleh mengambil darah saya" Dinda berdiri dan mendekati dokter tersebut.


"Golongan darah saya O, kalau memang sangat dibutuhkan siapa tau bisa membantu ambil saja darah saya" Rendy pun ingin ikut mendonorkan darahnya.


"Kami lebih mengutamakan golongan darah yang sejenis Pak, silahkan Bapak ini melakukan beberapa pemeriksaan sebelum diambil darahnya dan untuk Ibu, saya lihat sepertinya Ibu sedang hamil. Wanita hamil tidak boleh mendonorkan darahnya, saya permisi" ucap dokter kemudian dokter segera pergi untuk bersiap siap melakukan operasi.


"Mari Pak kita keruangan donor darah" Ucap perawat yang tadi menemani dokter.


Angga mengikuti perawat yang akan membawanya melakukan donor darah.


Operasi Febri segera dimulai dan berjalan sekitar dua jam.


Mereka semua menunggu di depan pintu ruang operasi. Rendy terus memeluk Dinda karena Dinda tidak juga berhenti menangis. Dia merasa dialah penyebab semuanya. Karena menyelamatkannya Febri jadi seperti ini.


"Ren... Febri terluka karena menyelamatkanku hiks...hiks...Lisa ingin menusukku tapi Febri menghalanginya dengan tubuhnya. Sam... pai dia yang terluka huhuhu" Dinda berbicara sambil terisak.


"Sudah sayang... Febri tidak akan suka melihat kamu seperti ini. Kamu harus kuat agar dia tenang, jangan buat perjuangannya jadi sia-sia" Rendy terus menenangkan istrinya.


"Tapi Ren..."


"Ssst... udah sayang. Tarik nafas dan berdoa. Lebih baik kamu berdoa meminta kesembuhannya dari pada kamu terus menangis" ucap Rendy memberi semangat.

__ADS_1


Angga yang juga sedang menunggu disamping Rendy dan Dinda segera mengambil hpnya dari saku celana dan menghubungi pihak HRD untuk mencari nomor keluarga Febri. Meminta pihak HRD menghubungi keluarga Febri untuk memberi kabar bahwa Febri saat ini sedang dirawat di RS. Bandung.


Dua jam sudah berlalu, lampu operasi mati menandakan bahwa operasi sudah selesai.


Dokter keluar dari ruangan operasi


Angga yang melihat dokter baru saja keluar dari ruang operasi segera menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana dok keadaan pasien?" tanya Angga.


"Alhamdulillah operasi lancar, kami sudah bisa mengatasi pendarahan pasien dan sudah bisa menutup luka organ dalamnya yang terkena tusukan. Pasien sedang diruang pemulihan pasca operasi. Setelah 1 jam pasien boleh dibawa keruangan rawat inap" ujar dokter itu menjelaskan.


"Terimakasih dok" ucap Angga dengan sungguh sungguh. Dia sangat bersyukur Febri selamat dan operasinya sukses.


"Kamu dengar sayang, operasi Febri berhasil, Febri selamat. Sekarang dia sedang didalam ruang pemulihan. Kita tinggal menunggu dia sadar" Rendy menggenggam tangan istrinya mencoba menyalurkan semangatnya untuk istrinya.


Satu jam kemudian Febri dipindahkan keruang rawat inap. Febri ditempatkan diruang Super VVIP. Rendy sangat berterimakasih atas pengorbanan Febri kepada istrinya sehingga dia ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi Febri selama dirumah sakit ini.


Febri masih belum sadar karena pengaruh obat biusnya. Angga tak berhenti menggenggam tangan Febri selama didalam ruangan.


"Feb... bangun Feb.. sadarlah... Aku akan melamar kamu" Kata-kata itu terus diucapkan Angga.


Tapi Febri masih saja tertidur dan belum sadarkan diri.


Mungkin juga karena hatinya sudah lega melihat Febri selamat. Dinda memesan dua porsi makanan yang berbeda dan satu gelas teh hangat. Rendy dengan setia menemaninya makan.


Sedangkan Ivan sudah kembali ke Jakarta karena keberadaan dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi disini. Lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya yang sudah terbengkalai di Jakarta.


Di dalam ruangan rawat inap Febri, Angga yang sedang menunggu Febri sadar dikejutkan dengan kedatangan seorang pria.


Angga refleks melepaskan genggaman tangannya.


Kemudian bertanya pada pria yang baru datang itu.


" Anda sedang mencari siapa?" tanya Angga.


"Saya mencari Febri Setia Wardhana, apa ini ruangannya dirawat? pria itu balik bertanya.


"Iya, anda siapanya?"

__ADS_1


"Saya calom suaminya. Maaf, saya baru mendapat kabar dari orangtua Febri kalau Febri sedang dirawat disini makanya saya langsung menuju ke rumah sakit ini. Orangtuanya sedang dijalan menuju kemari" Jawab pria itu menjelaskan.


Angga sangat terkejut mendengar penjelasan pria itu. Setelah benar-benar memperhatikan wajah pria itu Angga baru ingat, pria ini yang dia lihat sedang bersama Febri di restourant kemarin.


Pria yang sedang berbincang dan tertawa bersama Febri. Pria yang membuatnya cemburu karena melihat keakraban mereka.


Kalau memang pria ini adalah calon suaminya, apa maksud Febri mengutarakan perasaannya beberapa hari yang lalu. Mengapa Febri menyampaikan isi hatinya kepada Angga? Angga jadi semakin bingung.


Dan terlebih lagi hatinya sangat sedih dan kecewa mendengar kata-kata calon suami. Rasanya Angga sudah kalah sebelum berperang.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya Pria itu.


"Saya Angga atasan Febri dikantor?" jawab Angga.


"Saya Abdi Kurniawan" ucap pria itu kemudian mereka saling berjabat tangan.


Angga menjauh dari tempat tidur Febri. Dia sadar posisinya tidak cukup kuat untuk bertahan disamping Febri. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang atasan Febri dikantor.


Wawan mengambil alih posisi Angga. Sekarang Wawan sudah berada disamping tempat tidur Febri memeriksa keadaannya kemudian duduk dikursi yang sebelumnya Angga duduki saat menemani dan menunggu Febri sadar.


"Kalau begitu saya permisi keluar dulu. Nanti saya akan kembali bersama teman saya. Silahkan Anda menemani Febri dulu disini. Saya mohon jika Febri sadar tolong hubungi saya ke nomor ini" Angga mengambil dompet dari dalam celananya kemudian mengambil kartu nama yang dia simpan didalamnya dan memberikannya kepada Wawan.


"Terimakasih. Terimakasih Anda sudah menyelamatkan dan membantu Febri" ucap Wawan.


"Jangan terlalu formal, panggil saja saya Angga, sepertinya umur kita tidak jauh beda"


"Kalau begitu panggil saja saya Wawan"


Mereka berbicara dengan ramah.


"Saya permisi keluar dulu Wan, jangan lupa pesan saya tadi ya. Hubungi saya saat Febri sadar" Angga mengingatkan sekali lagi.


"Baik Ga. Nanti akan saya hubungi" Wawan tersenyum kepada Angga.


Angga kemudian keluar dari ruangan Febri dirawat dengan hati yang sangat sedih. Dia mengambil hpnya kemudian menghubungi Rendy.


"Bos dimana?" tanyanya.


"Kami di kantin rumah sakit Ga, ada apa, apakah Febri sudah sadar?" Tanya Rendy padanya.

__ADS_1


"Belum, Bos saya kesana ya" ucapnya sambil menutup telponnya.


Angga berjalan dengan sangat gontai, hilang rasanya semua semangat dalam tubuhnya entah terbang kemana.


__ADS_2