
Kejujuran
Rendy yang baru pertama kali ini melihat Dinda menangis sesedih ini merasa tidak tega juga kepada istrinya. Dia mengambil tisu dan menghapus airmata yang jatuh dipipi istrinya.
Dinda melanjutkan ceritanya.
"Sampai mas datang melamarku dengan alasan orangtua mas sakit keras dan meminta mas agar segera menikah. Aku menerima lamaran Mas karena aku merasa ini adalah jalan keluar untukku bisa menghindar dari Ivan. Agar dia menghapus namaku dihatinya. Aku takut fitnah Mas, kalau dia terus bertemu denganku orang bisa menganggapku sebagai perusak rumah tangga, aku tidak mau itu terjadi" Dinda kembali menatap manik mata suaminya sangat dalam.
"Walau itu alasan aku menikah dengan Mas, tapi aku tidak terpaksa. Aku ikhlas, ini adalah takdirku. Mungkin Mas adalah orang yang dikirim Allah untuk menyelamatkanku. Aku tidak main-main dengan pernikahan kita karena bagiku pernikahan adalah ikatan suci"
Dinda menarik tangan Rendy lembut dan menggenggamnya.
"Aku malah berterimakasih sama Mas karena Mas sudah menyelamatkan aku dari semuanya. Nama baikku dan keluargaku terselamatkan"
Tatapan mata Rendy berubah lembut. Akhirnya Dinda berkata jujur apa alasan dia menerima lamaranku.
Aku sangat yakin dia tulus mengatakannya. Batin Rendy berkata, ada kehangatan yang menjalar menuju hatinya kemudian memacu jantungnga dengan kencang. Ntah mengapa genggaman tangan Dinda membuat hatinya bergetar dan jantungnya berdetak kencang.
"Aku juga tidak ingin mempermainkan pernikahan ini. Aku melamar kamu dengan berbagai pertimbangan. Aku sudah bertukar fikiran dan mencari saran pada teman-temanku yang membawaku pada keputusan untuk memilih kamu sebagai istriku. Sekarang kita sudah saling terbuka dengan alasan kita masing masing memulai pernikahan ini. Mari kita jalani dengan baik dan jujur serta saling terbuka jangan ada lagi yang kamu rahasiakan" Rendy tersenyum pada Dinda.
Mereka sudah merasa lega dan lebih terbuka pada hubungan ini, soal cinta biarlah datang setelahnya. Di awal mereka sudah membangun pernikahan dengan modal kejujuran hanya menunggu cinta yang datang menghiasi rumah tangga ini.
"Sekarang kita mau kemana Mas?" Tanya Dinda.
"Rumah makan, aku lapar" jawab Rendy.
Dinda pun tersenyum menatap suaminya.
Dinda sangat senang, ini adalah awal pernikahan mereka. Benar kata Mamanya setiap masalah harus segera diselesaikan tidak boleh disimpan sampai berlarut larut.
*****
Mama
Sayang nanti pulang kerja singgah kerumah ya, Mama masak makanan kesukaan kamu.
Rendy
__ADS_1
Iya Ma
Barusan Rendy mendapat pesan dari Mamanya
Rendy memanggil Dinda keruangannya melalui interkom.
"Din coba kesini sebentar" ucapnya dari sana
"Sebentar Mas" Dinda berjalan masuk keruangan suaminya.
"Ya Mas, ada apa?"
Rendy melirik jam ditangannya.
"Pulang kerja kita mampir kerumah Papa ya, tadi Mama kirim pesan kita disuruh makan malam disana"
"Iya Mas, sebentar aku siap-siap ya, komputerku belum dimatikan" Dinda kembali ke mejanya untuk mematikan komputer dan meraih tasnya.
Rendy keluar dari ruangannya dan berjalan keluar disusul Dinda dari belakang.
Mereka berangkat menuju rumah Papa Rendy dan singgah sebentar di toko roti membeli cake kesukaan ponakannya Bela. Dinda sudah rindu ingin bertemu Bela yang cantik dan manja itu.
"Makasih Tante, kog tante aku suka kue ini?" Tanya Bela.
"Uncle yang bilang sayang" Dinda mencubit pipi Bela dengan gemas.
Dinda membantu Mama Rendy yang sedang memasak di dapur.
"Ada yang bisa Dinda bantu Ma?" Tanya Dinda
"Jangan sayang kamu sana aja istirahat. Kan capek baru pulang kerja" Mama Rendy tersenyum lembut pada menantunya.
"Gak apa apa Ma. Mama masak apa?"
"Mama lagi masak rendang. Rendy sangat suka sekali makan rendang"
"Pantesan Mas Rendy sering pesan nasi padang pakai rendang" Dinda manggut manggut.
__ADS_1
Pelan-pelan dia akan ingat apa yang suaminya suka, apa yang tidak. Perlahan dia akan mencoba mengenal suaminya itu lebih dalam.
"Wah pengantin baru datang rupanya" Kakak iparnya yang baru pulang menemani suaminya Ronald menyapanya. Mereka saling berpelukan.
"Sudah lama Din?" Tanya kakak iparnya.
"Baru setengah jam Mbak" Jawab Dinda.
"Ma aku kekamar dulu ya ganti baju, sebentar ya Din" Dinda tersenyum pada Kakak iparnya dan wanita itu pergi ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju.
Rendy sedang asik bermain dengan Aksa dan Bela. Aksa mempunyai mainan baru, mobil yang pakai remote control. Aksa menjalankan mobil itu dan Bela tertawa riang melihat mobil itu berjalan sendiri.
Papa Rendy juga ikut bersama mereka duduk dikursi roda menyaksikan cucunya bermain.
"Bagaimana perusahaan kamu? Sedang mengerjakan proyek apa?" Tanya Papanya kepada Rendy.
"Aku pengen merambah kedunia perhotelan Pa. Konsepnya hotel yang nyaman untuk berlibur bersama keluarga" jawab Rendy.
"Bagus itu masa depannya. Jakarta ini kan padat, rutinitas kehidupan masyarak rata-rata rumah-kantor-rumah. Pergi pagi-pagi sekali dan pulang malam untuk menghindari macet. Waktu untuk keluarga sangat sedikit. Paling hanya hari sabtu dan minggu. Kalau mau bepergian jauh-jauh memakan waktu dan melelahkan. Jadi untuk refreshing bersama keluarga mereka cari yang dekat-dekat aja seperti menginap di hotel menghabiskan quality time bersama keluarga" Papa mulai semangat, jiwa bisnisnya bangkit kembali.
"Itu juga yang aku fikirkan Pa, makanya konsepnya kehangatan dan kenyamanan keluarga. Rencananya aku akan buat taman yang nyaman dan kolam renang yang aman lengkap dengan berbagai permainan untuk anak-anak"
"Papa senang mendengarnya, jika kamu butuh dana pergi sana minta sama kakak kamu"
"Nggak Pa, Rendy sudah mempersiapkannya dan ini adalah mimpi Rendy jika sudah berumah tangga"
"Bagaimana rumah tangga kamu? Apa dia seperti istri yang kamu impikan?"
"Dinda baik Pa, rajin masak dan keibuan. Dia sangat tau akan tugas istri dan selalu menyiapkan kebutuhanku"
Papa Rendy tersenyum dan senang mendengar cerita anaknya.
"Kamu jangan tunda tunda momongan ya. Ingat umur kamu sudah kepala tiga. Segeralah punya anak. Anak itu penguat rumah tangga" Rendy mendengarkan nasehat Papanya.
"Iya Pa"
"Luangkan lah waktu kalian, ajak dia jalan-jalan honeymoon biar kalian lebih mesra. Papa tau kamu menikahi Dinda karena permintaan Papa yang ingin kamu segera menikah kan? Cinta itu harus diciptakan dengan interaksi-interaksi kecil dalam rumah tangga, setelah itu sering-seringlah dipupuk agar tidak layu dan mati. Dengan perhatian dan kasih sayang perlahan cinta akan hadir. Setelah cinta hadir kamu harus jaga jangan biarkan orang lain memetiknya. Banyak cobaan dalam rumah tangga yang nanti akan menguji cinta kalian" Rendy akan selalu ingat perkataan Papanya karena ini adalah pelajaran berharga baginya untuk memulai rumah tangga.
__ADS_1
"Memang Papa sedikit memaksa kamu untuk menikah secepatnya. Sudah satu tahun Papa tidak pernah mendengar atau melihat kamu punya pacar sampai kakak kamu cerita ke Papa dia melihat ada wanita cantik yang kelihatannya baik bekerja sebagai sekretaris kamu. Papa sangat senang ternyata memang wanita itu yang kamu bawa dan kamu kenalkan sebagai calon istri kamu. Makanya kemarin Papa ingin pernikahan kamu segera dilaksanakan sebelum terlambat dan orang lain yang merebutnya dari kamu" Rendy tidak menyangka Papa diam diam memperhatikan dan memantaunya dari jauh. Mungkin cara Papa mendidiknya sangat keras tapi semua karena Papa sangat menyayanginya dan ingin dia berhasil. Hari ini dia semakin sadar Papanya itu sangat menyayanginya.
Mama selesai masak, Dinda membantu menyusun dan menata meja makan. Malam ini mereka makan malam dengan hangat bersama keluarga tercinta.