
Penyelamatan
"Dasar jalang!!! Apa yang kamu lakukan hah?" teriak Angga.
Ivan segera menghampiri dan memeriksa keadaan Rendy yang sudah tidak sadarkan diri.
Lisa yang terkejut dan tidak menyangka akan kedatangan Asisten Rendy bersama temannya, segera meraih bajunya untuk menutuli tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam saja.
"Memang dasar wanita penggoda, plak...." tampar Ivan.
"Sudah cukup kau menghancurkan satu keluarga, jangan kau hancurkan keluarga yang lain" ucap Ivan dengan lantang.
Lisa tidak mengerti dengan kata-kata pria asing itu dan dia tidak memikirkan hal itu. Sekarang yang dia fikirkan bagaimana dia harus lari dari ruangan ini. Usahanya gagal lagi kali ini.
Ivan dan Angga memapah tubuh Rendy yang sudah bertelanjang dada. Mereka segera keluar dari ruangan ini.
"Ingat wanita jalang, kami akan membuat perhitungan padamu. Kamu tidak akan selamat!!" Ancam Angga kepada Lisa.
Rendy keluar dari Perusahaan Bima Corp dengan bantuan Angga dan Ivan. Mereka meletakkan Rendy dikursi belakang dan segera meninggalkan perusahaan itu.
Frengky yang baru keluar dari ruang rapat mendengar para karyawan sedang sibuk membicarakan sesuatu yang menyebut nyebut nama Lisa.
Frengky segera masuk keruangannya dan melihat Lisa dengan tampilan yang sudah acak-acakan. Baju yang sudah tidak rapi, rambut yang berantakan dan makeup yang sudah luntur plus sudut bibir yang berdarah.
"Apa yang terjadi Lisa?" tanya Frengky.
Lisa duduk di sofa sambil menangis.
"Usahaku gagal lagi Freng, asistennya datang bersama seorang pria. Mereka menggagalkan rencanaku" isaknya sambil bercerita.
" Tenang Lisa, masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, hapus airmatamu dan perbaiki riasanmu. Kita mulai gencatan senjata" ucap Frengky.
Rendy menurunkan Ivan dipinggir jalan kemudian supir Ivan datang menjemputnya.
"Terimakasih Pak Ivan, Anda sudah membantu saya" ucap Angga.
"Tidak apa-apa Pak Angga. Saya sangat mengerti keadaannya" jawab Ivan.
Angga menatap kepergian mobil Ivan, hatinya bertanya-tanya mengapa Ivan menolongnya barusan. Bukankah dia dulu mantan pacarnya Dinda dan kecewa atas pernikahan Dinda, mengapa Ivan mau membantunya untuk menolong Rendy? Tanyanya dalam hati.
Angga melanjutkan perjalanannya ke apartemen Rendy. Tidak mungkin membawa Rendy kerumah sakit dalam keadaan seperti ini. Pasti Dinda akan curiga.
Rendy terbangun dari tidurnya.
"Akh... dimana aku ini?" tanyanya pada Angga
__ADS_1
"Kepalaku sakit sekali" Rendy memegang kepalanya yang masih pusing.
"Kita sedang diparkiran apartemen Bos. Tadi Lisa memberikan obat penenang kepada Bos sehingga Bos tidak sadarkan diri. Untung saya dan Pak Ivan datang diwaktu yang tepat" Angga menceritakan kejadian tadi.
"Ivan? Dimana dia sekarang, mengapa dia ikut membantu kamu menyelamatkan saya?" tanya Rendy lagi.
"Saya tidak tau Bos, pada saat saya akan pergi ke Perusahaan Bima Corp, Ivan meminta ikut" jawab Angga.
Dia teringat kata-kata Ivan saat bertemu Lisa.
Sudah cukup kau menghancurkan satu keluarga, jangan kau hancurkan keluarga yang lain. Apa maksud perkataan Ivan? Dan keluarga siapa yang sudah pernah dihancurkan Lisa?
Sungguh itu masih menjadi tanda tanya besar dalam benak Angga.
"Sebaiknya Bos mandi dan ganti baju di apartemen Bos, baru setelah itu kembali kerumah sakit. Agar Dinda tidak curiga dengan kejadian ini" Angga memberi saran.
Rendy dan Angga naik ke apartemen, kemudian Rendy mandi dan ganti baju. Rendy membaringkan tubuhnya sebentar diranjang dan memikirkan masalah yang sedang dialaminya.
Mengapa Lisa sampai senekad itu? Apakah ada campur tangan Frengky dibalik semua ini?
***
Angga meraih hpnya kemudian menekan nomor seseorang dan menghubunginya.
"Cari informasi mengenai demostrasi yang terjadi tadi siang dilokasi pembangunan Tol, kabari saya paling lama besok sudah saya terima datanya" perintah Angga pada orang yang diseberang sana.
"Ga aku pengen makan goreng pisang" Rendy memecah keheningan mereka di dalam mobil.
"Baik Bos akan kita cari" ucap Angga
"Tapi pakai bumbu pecal" pinta Rendy.
"Duh Bos di Jakarta ini dimana cari makanan seperti itu?" tanya Angga. Pusing banget ngurus Bos satu ini, belum lagi masalah kantor selesai ni udah ngurusin orang ngidam.
Please donk Bos yang hamil istrimu, kenapa kamu sih yang harus ngidam. Umpat Angga dalam hati.
"Ya udah Bos kita cari dulu tukang jual goreng pisang baru setelah itu kita cari penjual pecal" Angga memberi jalan keluar.
Akhirnya setelah mencari beberapa lama mereka menemukan kedua penjual itu. Makanan di pesan dan di bungkus.
Karena sudah malam dan Angga juga lapar, Angga memesan gado-gado dan nasi pecal juga untuk dimakan di rumah sakit.
Sesampainya mereka dirumah sakit.
"Lama banget Mas pulangnya, udah selesai urusannya" tanya Dinda.
__ADS_1
" Sementara sudah selesai tapi besok diurus lagi sayang" ucap Rendy.
"Lho Pak Angga bawa makanan?" tanya Febri
"Tau aja saya lapar" Febri tersenyum kegirangan.
"Saya yang laper ngurusin Bos ngidam" ucap Angga yang masih sebal dengan permintaan Bosnya.
Dinda dan Febri saling pandang dan melihat pada kedua pria itu. Ada apa dengan mereka?
Angga menyerahkan bungkusan makanan itu pada Febri. Febri membukanya dan meletakkannya di meja sofa. Kemudian Febri mengambil sendok dan minuman.
Perlahan dibukanya isi bungkusan. Ada 2 bungkus nasi pecal dan gado-gado. Ada satu bungkus bumbu pecal yang udah diracik kemudian satu bungkus pisang goreng.
"Ini bagaimana makannya Pak, maksudnya gimana?" tanya Febri pada Angga.
"Tuh tanya pada Bos" tunjuk Angga.
Febri menatap kearah Rendy.
"Tolong kamu potong kecil pisang goreng letakkan diatas piring setelah itu siram dengan bumbu pecalnya" ucap Rendy sambil tersenyum.
Angga merasa tidak enak melihat senyum bos nya itu. Febri melakukannya sesuai intruksi.
"Udah Pak" jawab Febri.
"Setelah itu kamu kasi sama Angga, saya ingin melihat Angga makan makanan itu" perintahnya
"Allahu Akbar... Bos yang betul ajalah ngidamnya. Masak saya makan begituan?" tanya Angga
"Gitu aja kamu langsung panik Ga? makan aja enak lho" jawab Rendy.
"Kamu tau Ga, di sebuah kota di Provinsi SU saya pernah makan makanan seperti ini, enak banget" Rendy mengambil piring yang berisi pisang tadi dari tangan Febri, setelah itu mengambil sendok kemudian dia duduk disamping Dinda dan memakan makanan yang dia inginkan itu.
Semua yang ada diruangan itu memperhatikan Rensy makan.
"Kamu mau sayang?" tanya Rendy pada istrinya.
"Serius enak Mas?" Dinda bertanya sambil menahan salivanya, melihat Rendy makan dengan sangat lahapnya membuat dia ingin merasakan makanan itu.
"Beneran enak" ucap Rendy.
Kemudian Rendy mengarahkan sendok ke mulut Dinda. Dinda memakannya.
" Iya bener enak, rasanya gurih ada rasa manis-manis dan pedas" ucap Dinda.
__ADS_1
Febri dan Angga hanya tercengang melihat tingkah pasutri itu.